Baca selengkapnya
Waktu membaca 12 Menit

EBITDA: Mengukur Kekuatan Operasional di Balik Angka Laba

EBITDA (Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization) adalah metrik non-GAAP yang mengukur profitabilitas operasional perusahaan sebelum pengaruh struktur modal, pajak, dan beban non-kas. Artikel ini membahas cara menghitung EBITDA, manfaat dan keterbatasannya, perbandingannya dengan metrik lain, serta cara menggunakannya secara tepat dalam analisa investasi dan valuasi bisnis.

 

EBITDA (Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization) adalah metrik non-GAAP yang mengukur profitabilitas operasional perusahaan sebelum pengaruh struktur modal, pajak, dan beban non-kas. Artikel ini membahas cara menghitung EBITDA, manfaat dan keterbatasannya, perbandingannya dengan metrik lain, serta cara menggunakannya secara tepat dalam analisa investasi dan valuasi bisnis.

 

Dapatkan Saham Gratis

Mulai berinvestasi di XTB dengan saham gratis

Cek promonya

Istilah EBITDA sering muncul di berita keuangan, laporan analis, dan diskusi seputar akuisisi perusahaan. Namun apa sebenarnya maknanya, dan mengapa investor maupun pemilik bisnis perlu memahaminya? Banyak yang hanya fokus pada net income, padahal angka tersebut terkadang tidak mencerminkan gambaran yang utuh. Artikel ini membahas EBITDA secara mendalam dan menjelaskan apa yang sesungguhnya diungkapkannya tentang kekuatan operasional sebuah perusahaan.

Dalam artikel ini akan dibahas definisi dan komponen EBITDA, cara menghitungnya dengan dua metode berbeda, alasan mengapa EBITDA penting dalam analisa keuangan, keterbatasan dan potensi penyalahgunaannya, perbandingannya dengan net income, operating income, dan cash flow, serta praktik terbaik dalam menggunakan EBITDA sebagai alat analisa investasi.

Melampaui Net Income: Mengapa EBITDA Diperlukan

Bayangkan sebuah perusahaan yang melaporkan net income yang solid, namun terus kesulitan membayar tagihan atau berinvestasi untuk pertumbuhan. Terdengar aneh, namun ini bukan skenario yang langka. Net income, meskipun penting, adalah hasil akhir setelah berbagai pengurangan, termasuk beban non-kas seperti depresiasi dan amortisasi, serta dampak dari keputusan perpajakan dan pembiayaan. Di sinilah metrik seperti EBITDA menjadi sangat berharga.

Apa Itu EBITDA?

EBITDA adalah singkatan dari Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization, atau laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi. Ini adalah metrik keuangan non-GAAP yang mengeliminasi beberapa beban tertentu untuk memberikan gambaran yang lebih jelas tentang profitabilitas operasional perusahaan. Anggap saja ini sebagai cara untuk melihat seberapa besar kas yang dihasilkan bisnis dari operasi intinya, terlepas dari bagaimana bisnis tersebut dibiayai, dikenakan pajak, atau bagaimana asetnya diperhitungkan dari waktu ke waktu.

Komponen EBITDA

Earnings (Laba): Biasanya dimulai dari net income dalam laporan laba rugi, atau terkadang dari operating income (EBIT).

Before Interest (Sebelum Bunga): Dengan menambahkan kembali beban bunga, dampak dari struktur modal perusahaan dieliminasi. Perusahaan yang sangat bergantung pada utang akan memiliki beban bunga yang tinggi, yang menekan net income-nya. EBITDA menghilangkan distorsi ini.

Before Taxes (Sebelum Pajak): Pajak bisa sangat bervariasi tergantung yurisdiksi, undang-undang perpajakan, dan strategi pajak tertentu. Menambahkan kembali pajak membantu membandingkan perusahaan secara global atau yang memiliki kewajiban pajak berbeda.

Depreciation (Depresiasi): Beban non-kas yang mengalokasikan biaya aset berwujud seperti mesin atau bangunan selama masa manfaatnya. Ini adalah konvensi akuntansi, bukan pengeluaran kas aktual pada periode berjalan.

Amortization (Amortisasi): Serupa dengan depresiasi, namun untuk aset tak berwujud seperti paten, hak cipta, atau goodwill. Juga merupakan beban non-kas.

Dengan menambahkan kembali item-item ini ke net income, secara teoritis diperoleh gambaran yang lebih mendekati laba kas dari aktivitas bisnis inti. Penting untuk selalu diingat bahwa EBITDA adalah proksi untuk cash flow, bukan cash flow itu sendiri.

Cara Menghitung EBITDA

Perhitungan EBITDA umumnya dimulai dari net income kemudian menambahkan kembali berbagai komponen. Namun bisa juga dihitung mulai dari revenue.

Metode 1: Dimulai dari Net Income

EBITDA = Net Income + Beban Bunga + Pajak + Depresiasi + Amortisasi

Metode 2: Dimulai dari Operating Income (EBIT)

EBITDA = Operating Income + Depresiasi + Amortisasi

Metode kedua sering lebih sederhana jika Operating Income sudah tersedia langsung di laporan laba rugi.

Contoh Perhitungan: "RetailCo Inc."

Berikut ilustrasi menggunakan perusahaan hipotesis "RetailCo Inc." untuk tahun fiskal 2023:

Revenue: $2.000.000

COGS: $800.000

Biaya Operasional (tidak termasuk D&A): $400.000

Depresiasi: $100.000

Amortisasi: $50.000

Beban Bunga: $70.000

Pajak: $80.000

Net Income: $500.000

Menggunakan Metode 1:

EBITDA = $500.000 + $70.000 + $80.000 + $100.000 + $50.000 = $800.000

Menggunakan Metode 2:

Operating Income = $2.000.000 − $800.000 − $400.000 − $100.000 − $50.000 = $650.000

EBITDA = $650.000 + $100.000 + $50.000 = $800.000

Kedua metode menghasilkan angka yang sama. Angka $800.000 ini menunjukkan bahwa sebelum bunga, pajak, dan pengurangan akuntansi non-kas, RetailCo Inc. menghasilkan $800.000 dari operasi intinya.

Mengapa EBITDA Penting dalam Analisa Keuangan

Membandingkan Perusahaan secara Lebih Adil

Salah satu manfaat utama EBITDA adalah kemampuannya memfasilitasi perbandingan "apple-to-apple" antar perusahaan. Dua perusahaan dalam industri yang sama mungkin memiliki struktur modal yang sangat berbeda, satu sangat bergantung pada utang sementara yang lain dibiayai ekuitas, atau beroperasi di negara dengan tarif pajak yang berbeda. Mereka mungkin juga menerapkan jadwal depresiasi yang berbeda untuk aset mereka.

Dengan menambahkan kembali bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi, EBITDA bertujuan untuk menyeragamkan perbandingan sehingga investor bisa fokus pada efisiensi operasional dan profitabilitas inti masing-masing bisnis, terlepas dari faktor-faktor eksternal tersebut.

Mengukur Kapasitas Melunasi Utang

Pemberi pinjaman dan investor sering menggunakan EBITDA untuk mengukur kemampuan perusahaan melayani utangnya. Sebelum perusahaan bisa membayar pokok dan bunga pinjaman, ia perlu menghasilkan kas dari operasi. Karena EBITDA adalah proksi yang kuat untuk cash flow operasional sebelum biaya pembiayaan, EBITDA yang lebih tinggi mengindikasikan kapasitas yang lebih besar untuk memenuhi kewajiban utang. Ini adalah metrik kunci dalam perhitungan rasio debt-to-EBITDA, yang umum digunakan sebagai covenant dalam perjanjian pinjaman. Perusahaan dengan rasio debt-to-EBITDA yang tinggi, umumnya di atas 3x-4x untuk perusahaan yang sudah mapan, biasanya menghadapi pengawasan lebih ketat dan suku bunga yang lebih tinggi dari pemberi pinjaman.

Valuasi dalam Merger dan Akuisisi

Dalam transaksi merger dan akuisisi (M&A), EBITDA sering menjadi angka utama yang digunakan. Pembeli umumnya menilai perusahaan target sebagai kelipatan EBITDA-nya, misalnya 6x EBITDA atau 8x EBITDA. Ini karena perusahaan pengakuisisi kemungkinan akan merefinansiasi utang target, mengintegrasikan struktur pajaknya, dan berpotensi mengubah kebijakan depresiasi. Dengan berfokus pada EBITDA, pembeli mendapat gambaran yang lebih jelas tentang kekuatan laba operasional bisnis yang diakuisisi secara mandiri. EBITDA multiple dalam transaksi M&A bervariasi dari sekitar 5x untuk industri yang sudah matang hingga 15x atau lebih untuk perusahaan teknologi bertumbuh tinggi.

Keterbatasan EBITDA: Potensi Menyesatkan

Meskipun powerful, EBITDA bukan tanpa kritik dan bisa sangat menyesatkan jika tidak dipahami dalam konteks yang tepat. Metrik ini sering dimanipulasi atau terlalu ditekankan oleh manajemen yang ingin menampilkan gambaran yang lebih positif.

Mengabaikan Capital Expenditures

Ini mungkin kritik terbesar terhadap EBITDA. Depresiasi dan amortisasi yang ditambahkan kembali oleh EBITDA merepresentasikan biaya keausan aset tetap. Aset-aset ini pada akhirnya perlu diganti, dan penggantinya membutuhkan kas nyata dalam bentuk capital expenditures (CapEx). Perusahaan dengan EBITDA tinggi mungkin terlihat profitable, namun jika tidak cukup mengeluarkan CapEx untuk memelihara asetnya, ia pada dasarnya sedang menggerus masa depannya sendiri. Ini ibarat memiliki mobil tua: bulan ini tidak perlu membeli mesin baru, namun pada akhirnya harus, dan itu adalah pengeluaran kas yang signifikan. Perusahaan padat modal seperti maskapai penerbangan dan manufaktur sangat rentan terhadap jebakan ini.

Menyembunyikan Beban Utang yang Berat

Karena beban bunga ditambahkan kembali, perusahaan dengan utang yang sangat besar masih bisa melaporkan EBITDA yang terlihat baik. Meskipun ini membantu membandingkan efisiensi operasional, hal ini sepenuhnya mengabaikan beban pelayanan utang tersebut. Jika sebuah perusahaan tidak bisa membayar bunga pinjamannya, profitabilitas operasional menjadi tidak relevan. Ini adalah masalah serius yang terlihat pada beberapa perusahaan yang sangat leveraged selama krisis keuangan 2008, di mana EBITDA mereka terlihat baik namun cash flow setelah pembayaran utang negatif, yang berujung pada kebangkrutan.

Tidak Terstandarisasi oleh GAAP

Karena EBITDA adalah metrik non-GAAP, perusahaan memiliki fleksibilitas dalam cara menghitung dan menyajikannya. Mereka mungkin menambahkan kembali biaya "non-berulang" atau "luar biasa" lainnya, menciptakan "Adjusted EBITDA" yang bisa menginflasi angka untuk membuat performa terlihat lebih baik. Selalu periksa apa yang dimasukkan atau dikecualikan perusahaan dari Adjusted EBITDA-nya. SEC mengharuskan perusahaan untuk merekonsiliasi metrik non-GAAP seperti EBITDA ke ukuran GAAP yang paling sebanding, biasanya net income, namun tanggung jawab untuk menelaah rekonsiliasi ini ada pada investor.

Menyesatkan untuk Industri Padat Aset

Untuk industri yang sangat bergantung pada aset berwujud seperti manufaktur, properti, dan transportasi, depresiasi adalah biaya ekonomis yang sangat nyata. Meskipun bukan pengeluaran kas hari ini, ia mencerminkan keausan dan keusangan aset yang akan memerlukan kas di masa depan untuk diganti. Mengabaikan depresiasi untuk perusahaan semacam ini bisa sangat melebih-lebihkan profitabilitas berkelanjutan yang sesungguhnya. Untuk bisnis yang ringan aset seperti banyak perusahaan software, depresiasi dan amortisasi kurang signifikan, sehingga EBITDA menjadi indikator yang lebih andal.

EBITDA vs. Metrik Profitabilitas Lainnya

EBITDA vs. Net Income

Net income adalah "bottom line" pada laporan laba rugi, mencerminkan berapa banyak profit yang tersisa bagi pemegang saham setelah semua beban diperhitungkan, termasuk operasional, bunga, pajak, dan depresiasi/amortisasi non-kas. Meskipun net income adalah yang pada akhirnya mendorong EPS saham, ia terkadang bisa menjadi indikator yang menyesatkan tentang kesehatan operasional harian perusahaan karena pengaruh struktur pembiayaan dan pajak.

EBITDA vs. Operating Income (EBIT)

Operating Income atau EBIT (Earnings Before Interest and Taxes) mencerminkan profitabilitas perusahaan dari aktivitas bisnis utamanya, sebelum memperhitungkan beban bunga dan pajak. Perbedaan utama dari EBITDA adalah bahwa EBIT masih mencakup depresiasi dan amortisasi. Oleh karena itu, EBIT adalah ukuran yang lebih konservatif dari laba operasional karena secara implisit mengakui biaya keausan aset yang berkelanjutan.

EBITDA vs. Cash Flow dari Operasi

Ini adalah perbedaan yang paling kritis. EBITDA adalah ukuran akuntansi, proksi untuk cash flow. Cash Flow dari Operasi (CFO), yang ditemukan pada Laporan Arus Kas, adalah ukuran kas yang sesungguhnya. CFO dimulai dari net income dan menyesuaikannya dengan item non-kas seperti depresiasi dan amortisasi, serta perubahan modal kerja seperti inventaris, piutang, dan utang usaha. CFO umumnya dianggap sebagai ukuran yang lebih superior tentang kemampuan perusahaan menghasilkan kas karena secara langsung mencerminkan aliran kas aktual dalam bisnis.

Perbedaan kunci: EBITDA mengabaikan perubahan modal kerja yang bisa berdampak signifikan pada ketersediaan kas aktual. Banyak value investor lebih suka melihat free cash flow (CFO dikurangi CapEx) daripada EBITDA untuk keputusan investasi jangka panjang.

Membaca EBITDA Secara Efektif

Analisa Tren

Lihat EBITDA perusahaan selama beberapa kuartal atau tahun. Apakah tumbuh secara konsisten? Apakah volatil? Tren EBITDA yang menurun bisa mengisyaratkan masalah operasional, peningkatan persaingan, atau melemahnya pricing power. Sebaliknya, pertumbuhan konsisten dalam EBITDA margin bisa mengindikasikan manajemen biaya yang efektif atau pertumbuhan revenue yang sehat.

Benchmarking Industri

Angka EBITDA paling bermakna ketika dibandingkan dengan kompetitor dalam industri yang sama. Apa yang dianggap EBITDA "yang baik" bisa sangat berbeda antar sektor. Perusahaan restoran biasanya memiliki EBITDA margin yang lebih rendah dibandingkan perusahaan Software-as-a-Service (SaaS) karena COGS dan biaya operasional yang lebih tinggi relatif terhadap revenue.

EBITDA Margin

Menghitung EBITDA margin (EBITDA dibagi Revenue) memberikan persentase profitabilitas yang berguna untuk membandingkan efisiensi operasional. Perusahaan dengan EBITDA margin 20% umumnya dianggap lebih efisien dibandingkan yang memiliki margin 10% dalam sektor yang sama, dengan asumsi semua faktor lain setara.

Pertimbangan Regulasi dan Pelaporan

Karena EBITDA bukan metrik GAAP, perusahaan diwajibkan oleh SEC untuk mengungkapkan cara menghitungnya dan merekonsiliasikannya ke ukuran keuangan GAAP yang paling sebanding, biasanya net income atau operating income. Ini diatur dalam SEC Regulation G.

Jika sebuah perusahaan secara menonjol menampilkan "Adjusted EBITDA" tanpa menjelaskan penyesuaian dan rekonsiliasi secara jelas, ini adalah sinyal peringatan. Selalu periksa filing 10-K atau 10-Q perusahaan untuk memahami definisi spesifik mereka dan penyesuaian pro-forma yang dilakukan. Perusahaan sering menggunakan Adjusted EBITDA untuk mengecualikan biaya satu kali seperti biaya restrukturisasi atau integrasi M&A. Meskipun terkadang legitimate, ini selalu memerlukan penelaahan yang cermat.

Penerapan EBITDA dalam Berbagai Skenario

Merger dan Akuisisi

Dalam M&A, EBITDA adalah acuan utama. Ketika perusahaan private equity atau pembeli korporat melihat target akuisisi, mereka terutama tertarik pada kemampuan operasional inti dalam menghasilkan kas. Mereka biasanya akan menempatkan struktur pembiayaan sendiri, mengintegrasikan perencanaan pajak, dan mungkin memiliki kebijakan depresiasi yang berbeda. Oleh karena itu, menggunakan kelipatan EBITDA membantu menilai nilai bisnis intrinsik yang terlepas dari variabel-variabel tersebut. Transaksi private equity untuk perusahaan manufaktur mid-market biasanya dihargai pada 5-7 kali EBITDA trailing 12 bulan.

Perusahaan dengan Leverage Tinggi

Untuk bisnis dengan utang yang substansial, seperti perusahaan dalam situasi tekanan atau industri padat modal seperti maskapai dan utilitas, EBITDA memberikan cara untuk mengevaluasi kemampuan mereka menutupi pembayaran bunga. Pemberi pinjaman sering menggunakan rasio debt-to-EBITDA sebagai metrik kunci untuk kepatuhan covenant. Jika EBITDA perusahaan mulai menurun, ini dengan cepat mengisyaratkan potensi masalah dalam memenuhi kewajiban utangnya.

Valuasi Startup (dengan Kehati-hatian)

Perusahaan tahap awal sering tidak profitable dari sisi net income karena investasi besar dalam pertumbuhan, R&D, dan marketing. Dalam kasus semacam ini, EBITDA mungkin menjadi salah satu dari sedikit metrik profitabilitas yang positif. Namun ini harus digunakan dengan sangat hati-hati. Startup jarang memiliki depresiasi atau amortisasi yang signifikan, dan beban bunga serta pajak mereka sering minimal. Oleh karena itu, EBITDA untuk startup bisa terlihat menipu meskipun perusahaan masih membakar kas dengan cepat. Untuk startup, lebih baik melihat free cash flow atau metrik operasional spesifik seperti biaya akuisisi pelanggan atau recurring revenue.

Praktik Terbaik dalam Menganalisa EBITDA

Selalu gunakan EBITDA bersama metrik lain seperti cash flow dari operasi, net income, free cash flow, dan level utang. Jangan pernah mengandalkannya secara terisolasi.

Pahami karakteristik industri terlebih dahulu karena EBITDA yang "baik" sangat bervariasi antar sektor. Teliti rata-rata industri dan lanskap kompetitif sebelum menarik kesimpulan.

Selalu periksa footnote dan rekonsiliasi Adjusted EBITDA. Apakah biaya yang dikecualikan benar-benar non-berulang, atau sebenarnya adalah fitur berulang dari bisnis yang hanya diberi label berbeda setiap tahun?

Untuk bisnis padat modal, overlay EBITDA dengan CapEx yang diperlukan untuk mendapatkan gambaran yang lebih akurat tentang kemampuan generasi kas jangka panjang perusahaan.

Analisa tren multi-tahun, bukan hanya snapshot satu tahun yang bisa menjadi anomali.

Selalu periksa level utang karena EBITDA yang tinggi kurang bermakna jika perusahaan tenggelam dalam utang. Lihat rasio debt-to-EBITDA untuk perspektif yang lebih holistik.

"EBITDA adalah filter awal yang baik untuk memahami performa operasional secara keseluruhan. Namun mengabaikan apa yang terjadi setelah pengurangan tersebut, terutama capital expenditures dan beban utang, adalah di mana investor mengalami masalah. Ini adalah waktu sprint, bukan garis finish marathon." — Diadaptasi dari peringatan dalam literatur keuangan

Kesimpulan

EBITDA, ketika digunakan dengan benar dan dalam konteks yang tepat, adalah alat yang powerful dalam toolkit analisa keuangan. Ia memungkinkan untuk melihat melampaui kompleksitas pembiayaan, pajak, dan konvensi akuntansi untuk menilai kekuatan operasional inti perusahaan. Ia sangat berguna untuk perbandingan antar perusahaan dan dalam valuasi M&A.

Namun EBITDA bukan metrik yang berdiri sendiri. Ketergantungan berlebihan pada EBITDA tanpa mempertimbangkan capital expenditures, beban utang, dan arus kas aktual dapat menyebabkan kesalahan penilaian yang signifikan. EBITDA menunjukkan kekuatan mesin, namun tidak apakah kapalnya bocor atau membutuhkan perbaikan besar.

Selalu kombinasikan dengan pandangan holistik atas laporan keuangan, yaitu laporan laba rugi, neraca, dan laporan arus kas, untuk membangun tesis investasi yang benar-benar solid.

Materi pemasaran ini bukan merupakan rekomendasi investasi atau saran strategi investasi. Informasi ini tidak menjamin kinerja atau hasil investasi di masa mendatang. Aktivitas trading melibatkan risiko kerugian finansial yang signifikan, termasuk kemungkinan kehilangan sebagian maupun seluruh modal yang diinvestasikan. Segala keputusan trading sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu.

Dapatkan Saham Gratis

Mulai berinvestasi di XTB dengan saham gratis

Cek promonya

FAQ

Tidak, EBITDA adalah metrik non-GAAP. Ini berarti perusahaan memiliki fleksibilitas dalam cara menghitung dan menyajikannya, yang mengharuskan penelaahan yang cermat dan rekonsiliasi ke angka GAAP seperti net income.

Perbedaan utamanya adalah EBITDA adalah ukuran akuntansi dan proksi untuk kas operasional, sementara Free Cash Flow (FCF) adalah ukuran kas yang sesungguhnya. FCF memperhitungkan CapEx yang dibutuhkan untuk memelihara atau menumbuhkan aset dan juga mempertimbangkan perubahan modal kerja, memberikan gambaran yang lebih akurat tentang kas yang tersedia setelah kebutuhan operasional dasar dan pemeliharaan aset terpenuhi.

Ya, ini cukup umum. Perusahaan mungkin memiliki performa operasional yang kuat (EBITDA positif) namun kemudian memiliki beban bunga yang tinggi akibat utang yang signifikan, beban depresiasi/amortisasi yang besar, atau kewajiban pajak yang tinggi, yang semuanya dapat membuat net income-nya negatif.

Karena EBITDA menyediakan cara yang terstandarisasi untuk membandingkan profitabilitas operasional perusahaan target, terlepas dari struktur modalnya, yurisdiksi pajak, atau kebijakan akuntansi untuk depresiasi dan amortisasi. Ini membantu menilai nilai intrinsik bisnis sebelum mempertimbangkan bagaimana akuisisi akan dibiayai atau diintegrasikan.

Tidak ada benchmark universal yang berlaku untuk semua perusahaan karena sangat bergantung pada industri. Perusahaan software mungkin memiliki EBITDA margin 40-50% karena kebutuhan modal fisik yang rendah, sementara toko kelontong mungkin hanya memiliki margin 5-8% karena margin profit yang tipis pada volume penjualan yang tinggi. Selalu bandingkan dengan kompetitor langsung dan rata-rata industri.

Ya. Karena non-GAAP, perusahaan terkadang melakukan "penyesuaian" pada EBITDA, seperti menambahkan kembali berbagai biaya satu kali atau non-berulang, yang dapat menginflasi angka dan membuat performa terlihat lebih baik dari yang sebenarnya. Selalu cari "Adjusted EBITDA" dan periksa rekonsiliasi detailnya dalam filing keuangan.

Tidak serta-merta. Meskipun EBITDA positif adalah tanda yang baik untuk performa operasional, ia tidak menceritakan keseluruhan kisah. Perusahaan dengan EBITDA positif masih bisa tidak sehat jika memiliki kewajiban utang yang tidak bisa dilayani, atau jika mengabaikan CapEx yang krusial untuk kelangsungan dan pertumbuhan jangka panjangnya.

19 menit

Volume dan Moving Average: Fondasi Eksekusi Trading Profesional

8 menit

Rasio P/B: Apakah Book Value Masih Relevan di Era Digital?

7 menit

ROE: Indikator Kunci Kualitas Manajemen

Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.
Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.