Investasi bisa menjadi cara utama untuk meningkatkan aset, tetapi juga hadir dengan serangkaian risiko dan jebakan. Memahami kesalahan umum dan bias kognitif dapat membantu investor mengambil keputusan investasi yang lebih terinformasi dan menghindari kerugian yang mahal. Artikel ini akan membahas tujuh kesalahan besar yang perlu dihindari dalam investasi, mengidentifikasi bias paling populer yang mempengaruhi keputusan, serta memberikan rangkuman singkat dalam bentuk nasihat praktis. Mari kita mulai.
Poin Penting
- Investasi yang sukses membutuhkan pengetahuan, disiplin, dan kemampuan menghindari jebakan umum
- Mengenali dan memahami bias kognitif dapat membantu investor membuat keputusan yang lebih rasional
- Wajar kalau investor membuat kesalahan bahkan manajer investasi paling terkenal seperti Warren Buffett, George Soros, atau Stanley Druckenmiller pun banyak melakukan kesalahan sepanjang karier mereka
- Kesalahan investasi yang umum mencakup kurang riset, keputusan emosional, serta praktik diversifikasi yang salah atau tidak dilakukan
- Belajar dari kesalahan dan bias dapat mengarah pada strategi investasi dan hasil yang lebih baik. Pelajaran dari siklus ekonomi bubble dan crash juga penting untuk dipertimbangkan
7 Kesalahan Investasi Terbesar yang Harus Dihindari
Sumber Gambar: Adobe Stock PhotosAda sekumpulan kesalahan yang sama yang terus-menerus dilakukan oleh kelompok orang yang berbeda-beda. Sebagian tidak hanya dilakukan investor baru, tetapi juga profesional dan investor berpengalaman. Investor yang sadar risiko perlu memahami bahwa investasi mungkin terlihat sederhana, tetapi tidak mudah, karena semua orang di pasar ingin menghasilkan uang dan ada sekelompok orang yang sangat pintar, terinformasi dengan baik, teredukasi, dan sangat bertekad. Namun, melakukan kesalahan-kesalahan berikut membuat investasi jadi jauh lebih sulit. Jadi, apa saja yang harus dihindari?
- Kurang Riset
Deskripsi: Berinvestasi tanpa riset yang memadai sama saja dengan berjudi. Banyak investor masuk ke saham, obligasi, atau aset lain hanya berdasarkan kabar dari orang lain atau informasi yang sangat terbatas. Akibatnya, keyakinan mereka bahwa "mereka benar" hampir selalu lemah. Pada akhirnya, mereka menjual aset dengan rugi atau menerima keuntungan yang sangat kecil.
Solusi: Lakukan riset menyeluruh, pahami fundamental aset yang Anda beli, dan tetap terinformasi (bukan berarti harus baca literatur atau berita setiap hari). Jika Anda "memasang taruhan" atau ingin berinvestasi jangka panjang, bacalah terus tentang aset tersebut dan analisis data atau komentar yang Anda lihat. Analisis laporan kuartalan perusahaan dan ikuti komentar manajemen. - Trading Berdasarkan Emosi
Deskripsi: Mengambil keputusan investasi berdasarkan emosi seperti takut dan serakah sering berujung pada membeli di harga tinggi dan menjual di harga rendah. Tentu, momen paling dramatis terjadi saat bubble investasi, ketika orang menerima valuasi sangat tinggi, atau saat market crash ketika investor menjual aset dengan diskon besar.
Solusi: Kembangkan strategi investasi yang disiplin dan patuhi, apa pun kondisi pasar. Bacalah tentang bubble dan crash historis untuk memahami sifatnya dan cara menghindari ayunan emosi tersebut. Ada banyak komentar dari investor sukses yang mengalami crash dan punya posisi di pasar saat itu—jangan ragu untuk membaca kisah-kisah mereka. - Diversifikasi yang Buruk
Deskripsi: Menempatkan seluruh uang pada satu aset atau beberapa aset yang sangat mirip akan meningkatkan risiko investasi. Di sisi lain, sebagian investor juga melakukan "overdiversification" dan akhirnya aset lemah menekan imbal hasil dari "taruhan" yang sebenarnya bagus.
Solusi: Diversifikasikan portofolio ke berbagai kelas aset, sektor, dan wilayah geografis untuk menyebar risiko. Pikirkan untuk mengumpulkan aset yang tidak berkorelasi, yang dapat meningkatkan alpha portofolio dan membuatnya kurang rentan terhadap kondisi pasar tertentu. - Mencoba Memprediksi Waktu Tertentu
Deskripsi: Mencoba memprediksi puncak dan dasar pasar sering menyebabkan peluang terlewat dan kerugian. Terutama ketika investor tidak punya cukup data yang relevan atau waktu untuk menganalisis kondisi pasar yang berubah.
Solusi: Fokus pada investasi jangka panjang dan hindari mencoba market timing. Investasi secara berkala dengan dollar-cost averaging. Jika Anda bukan day trader, jangan fokus pada pergerakan jangka pendek dan fokuslah pada sisi "yang bisa diketahui" dari investasi dan metode valuasi aset. - Mengabaikan Biaya dan Pengeluaran
Deskripsi: Biaya dan pengeluaran tinggi dapat menggerus imbal hasil investasi dari waktu ke waktu. Setiap investor aktif harus memikirkan biaya kepemilikan, terutama untuk posisi berleverage di pasar finansial.
Solusi: Perhatikan biaya pengelolaan, biaya transaksi, dan biaya lain. Jika Anda investor jangka panjang, pilih opsi investasi berbiaya rendah bila memungkinkan (saham dan ETF). - Mengekstrapolasi Kinerja Masa Lalu
Deskripsi: Berinvestasi di aset yang baru saja berkinerja sangat baik dapat berujung pada membeli di harga yang sudah terlampau tinggi. Investor sangat sering terlalu fokus pada kinerja historis dan mengekstrapolasi hasil tersebut, yang dapat menimbulkan kesalahan investasi.
Solusi: Dasarkan keputusan investasi pada analisis dan fundamental yang kuat, bukan hanya performa masa lalu. Menganalisis kinerja historis bukanlah kesalahan, tetapi mengekstrapolasi masa depan hanya dari masa lalu adalah tanda ketidaktahuan dan kadang rasa percaya diri berlebihan. - Tidak Memiliki Strategi yang Jelas
Deskripsi: Berinvestasi tanpa rencana atau tujuan yang jelas dapat menyebabkan keputusan yang tidak konsisten dan reaktif. Bahkan investor kelas dunia seperti Howard Marks menyatakan bahwa setiap investor sebaiknya punya "kompas investasi" sendiri; sekumpulan aturan dan keyakinan yang ia pegang.
Solusi: Buat rencana investasi yang jelas yang menjabarkan tujuan, toleransi risiko, dan horizon waktu Anda. Edukasi diri dan pikirkan gaya investasi yang paling cocok, sekaligus keterbatasan dan selera risiko pribadi Anda.
Bubble Teknologi Dot-Com vs Euforia AI

Grafik Nvidia sejak 1 Juni 2016 hingga 19 Juni 2024 dan Cisco sejak 19 Maret 1992 hingga 19 Juni 2024. Seperti yang terlihat, selama bubble dot-com investor membeli saham Cisco dalam euforia, karena perusahaan ini memproduksi router dan perlengkapan internet lain yang dibutuhkan ribuan perusahaan dan individu. Pada akhirnya, euforia tersebut berujung pada valuasi berlebihan dan Cisco merosot selama resesi, meskipun bisnis perusahaan sebenarnya terus bertumbuh. Grafik di atas membandingkan kinerja Cisco sejak IPO America Online dan imbal hasil Nvidia sejak 2016, ketika sahamnya naik lebih dari 250% karena tingginya permintaan GPU. Ingat bahwa mengekstrapolasi itu berisiko, dan kinerja Nvidia yang mirip Cisco bukan berarti harga sahamnya akan jatuh dengan cara yang sama. Masa depan akan menunjukkan apakah investor 2023–2024 mengulang kesalahan 1998–2000. Informasi ini tidak menjamin kinerja atau hasil investasi di masa mendatang. Segala keputusan trading sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu. Source: XTB Research, Bloomberg Finance L.P.
Bias Kognitif Populer dalam Investasi
Sumber Gambar: Adobe Stock PhotosPsikologi keuangan dan perilaku investor (Behavioural Finance) dapat membantu investor menavigasi periode ketidakpastian, ketika banyak kesalahan dibuat. Bidang ini menggabungkan psikologi dan keuangan, menjelaskan bagaimana perilaku manusia memengaruhi pasar finansial dan proses pengambilan keputusan investor. Disiplin ini membedah proses mental yang mendorong tindakan pelaku pasar, melihat interaksi emosi, cognitive biases, dan disiplin yang membentuk proses keputusan baik bagi investor ritel maupun manajer investasi profesional.
- Bias kognitif, yaitu penyimpangan dari pola pikir rasional, adalah "bayangan" yang menghantui investor, memelintir cara mereka memproses informasi dan membuat keputusan ekonomi. Diperkenalkan oleh Amos Tversky dan Daniel Kahneman, konsep bias kognitif menjadi fondasi dalam memahami sisi psikologis perilaku investasi. Bias-bias ini, sering kali terjadi secara bawah sadar, dapat mendistorsi pilihan investasi, menciptakan preferensi yang tidak logis dan prasangka yang berdampak besar pada hasil finansial.
- Prospect Theory, konsep lain dari Kahneman dan Tversky, mengguncang asumsi tradisional tentang rasionalitas dengan menyoroti pengaruh bias dan perilaku irasional dalam proses pengambilan keputusan ekonomi. Untuk melawan bias-bias ini dan memperbaiki proses pengambilan keputusan, pelaku pasar dapat menggunakan strategi manajemen risiko, menetapkan aturan transaksi, serta mencari dukungan dan akuntabilitas.
Sumber gambar: XTB.comBias kognitif adalah pengganggu sunyi pemikiran rasional, yang secara sistematis menyesatkan investor dalam penilaian mereka. Bias ini muncul dalam berbagai bentuk, di antaranya:
- Bias Konfirmasi
Deskripsi: Kecenderungan untuk mencari informasi yang mengkonfirmasi keyakinan yang sudah ada dan mengabaikan informasi yang bertentangan.
Dampak: Dapat menimbulkan rasa percaya diri berlebihan dan keputusan investasi yang buruk. - Bias Kepercayaan Diri Berlebihan
Deskripsi: Keyakinan bahwa pengetahuan atau kemampuan diri lebih baik daripada kenyataan.
Dampak: Dapat mengakibatkan aktivitas transaksi berlebihan dan pengambilan risiko yang terlalu tinggi. - Ketakutan akan Kerugian
Deskripsi: Ketakutan terhadap kerugian yang mendorong investor menahan investasi yang merugi terlalu lama.
Dampak: Dapat membuat investor enggan memotong kerugian dan memindahkan dana ke peluang yang lebih baik. - Anchoring Bias (Bias Acuan)
Deskripsi: Terlalu bergantung pada informasi awal (anchor) yang pertama kali ditemui.
Dampak: Dapat mendistorsi valuasi dan keputusan investasi. - Mentalitas Ikut-ikutan (FOMO)
Deskripsi: Mengikuti kerumunan ketimbang membuat keputusan independen.
Dampak: Dapat menyebabkan membeli di harga tinggi dan menjual di harga rendah, terutama saat bubble dan crash pasar. - Recency Bias (Bias Informasi Terbaru)
Deskripsi: Memberi bobot berlebihan pada peristiwa terbaru dibanding tren historis.
Dampak: Dapat memicu reaksi berlebihan terhadap pergerakan pasar jangka pendek. - Availability Bias (Bias Ingatan)
Deskripsi: Membuat keputusan berdasarkan informasi yang paling mudah diingat atau paling sering muncul, alih-alih seluruh data yang relevan.
Dampak: Dapat menimbulkan persepsi yang bias terhadap risiko dan peluang.
Pengambilan Keputusan dengan Emosi
Setiap investor berhadapan dengan tarik-menarik konstan antara keputusan emosional dan analisis rasional. Menjaga portofolio yang seimbang penting untuk mengelola risiko dan mengurangi dampak emosional rasa takut dan serakah terhadap keputusan finansial.
- Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence / AI) muncul sebagai "suar" rasionalitas di ranah ini, membantu menyusun portofolio investasi yang selaras dengan modern portfolio theory, yang bertujuan memposisikan investasi untuk imbal hasil optimal relatif terhadap risiko.
- Tantangannya bagi investor adalah memadukan kendali emosi dengan proses mental rasional, sehingga keputusan yang diambil didukung data pasar dan sekaligus bebas dari gangguan emosional yang bisa mengaburkan penilaian.
Prospect Theory and loss aversion
Prospect Theory mengupas lapisan-lapisan psikologis investor dan menyingkap tiga konsep utama:
- Bobot yang terlalu besar pada upaya menghindari kerugian dibanding mengejar keuntungan, yang sangat memengaruhi keputusan investasi dan cara mengevaluasi risiko
- Ketakutan akan kerugian (Loss aversion), yaitu preferensi bawaan untuk menghindari rugi daripada mengejar keuntungan setara
- Endowment effect (efek kepemilikan), kecenderungan melekat pada kepemilikan saat ini meski ada peluang lain yang mungkin lebih baik
Konsep-konsep ini saling terkait dan membentuk cara investor berpikir dan mengambil keputusan. Secara umum, investor cenderung menerima kerugian besar, tetapi justru kesulitan bertahan di posisi yang sangat untung karena ingin segera mengamankan keuntungan dan menjual aset. Memahami hal ini dapat membantu investor menganalisis "masalah" mereka sendiri di pasar dan menjawab pertanyaan penting tentang perilaku investasi pribadi.
Teknik Singkat untuk Menghindari Kesalahan Investasi
Sumber gambar: Adobe Stock Photos
Menguasai siklus pasar dan emosi yang menyertainya membutuhkan beragam alat dan teknik. Singkatnya, ada beberapa strategi yang dapat membantu:
- Jangan menginvestasikan terlalu banyak uang atau uang yang Anda tidak sanggup kehilangan
- Ingat untuk mendiversifikasi investasi
- Sadar dan pahami secara mendalam bias emosi dan bias investasi
- Pahami bahwa di balik pergerakan uang ada keputusan manusia
- Day trader dapat membuat aturan transaksi yang spesifik
- Terapkan praktik manajemen risiko yang kuat
- Cari akuntabilitas melalui sistem dukungan
- Kelola emosi saat volatilitas pasar meningkat
- Buat keputusan yang lebih rasional dan berbasis data
- Atur emosi untuk memengaruhi proses pengambilan keputusan secara positif
- Baca literatur investasi dan buku-buku yang ditulis investor sukses
Terima realitas dan kendalikan diri, karena menerima pilihan investasi dan realita dapat meningkatkan mindfulness dan kesadaran diri, sehingga lebih mampu menavigasi bear market dan bull market
- Mengamati pikiran dan perasaan tanpa menghakimi
- Menguatkan kontrol diri secara emosional
- Tetap hadir dan terlibat penuh dalam momen pengambilan keputusan
- Merespons perubahan pasar secara bijak, bukan bereaksi spontan karena impuls
Dengan mempraktikkan mindfulness, investor dapat mengembangkan kemampuan untuk membuat keputusan investasi yang lebih terinformasi dan rasional.
Nasihat Terbaik untuk Investor
Sumber Gambar: Adobe Stock PhotosAda beberapa aturan yang dapat membantu investor mencapai tujuan investasi. Tidak ada yang bisa menjamin keberhasilan, tetapi menghindari kesalahan, fokus pada edukasi, dan manajemen risiko bisa sangat membantu. Berikut beberapa nasihat dasar:
- Mengelola Risiko dan Memahami Toleransi Risiko: Mengetahui seberapa besar volatilitas yang sanggup Anda tanggung dapat mencegah panic selling saat pasar turun dan keputusan impulsif saat pasar naik.
- Investasi Konservatif: Menginvestasikan terlalu banyak dana sangat berisiko karena memicu reaksi berlebihan terhadap kerugian dan fluktuasi jangka pendek. Hal ini dapat menurunkan potensi strategis karena mengganggu rasa percaya diri dan ketenangan dalam aktivitas harian.
- Diversifikasi: Sebar investasi ke berbagai kelas aset untuk mengurangi risiko. Diversifikasi dapat menjadi penyangga terhadap kinerja buruk dari satu investasi.
- Monitoring Pasar yang Konstan: Jika Anda tidak bertransaksi di interval sangat pendek dan tujuan Anda adalah investasi jangka panjang, Anda tidak perlu melihat pasar setiap menit. Terlalu sering memeriksa portofolio dapat membuat Anda bereaksi berlebihan terhadap pergerakan jangka pendek. Buat jadwal review portofolio yang selaras dengan strategi Anda.
- Otomatisasi: Pertimbangkan penggunaan alat seperti Investment Plans: automatic rebalancing, kontribusi rutin, dan otomatisasi reinvestasi dividen untuk mengurangi godaan mengambil keputusan emosional.
- Edukasi: Memahami bahwa pasar bergerak dalam siklus naik dan turun dapat mempersiapkan Anda secara emosional dan finansial untuk menghadapi fluktuasi tersebut. Edukasi yang tepat akan membuat Anda lebih memahami aspek seperti margin of safety, risk and reward, dan siklus pasar.
- Refleksi terhadap Keputusan Masa Lalu: Secara berkala tinjau keputusan investasi masa lalu untuk memisahkan mana yang didorong emosi dan mana yang berbasis strategi. Gunakan refleksi ini untuk memperbaiki keputusan di masa depan. Ingat bahwa kualitas keputusan adalah sesuatu yang lebih dalam; keputusan yang sudah tepat pun bisa menghasilkan kerugian.
- Tetapkan Tujuan Investasi yang Jelas. Definisikan apa yang ingin Anda capai dengan investasi (misalnya pensiun, membeli rumah, membangun kekayaan). Tujuan yang jelas membantu mengarahkan keputusan dan menahan reaksi emosional.
- Kembangkan Rencana Investasi yang Solid: Susun strategi investasi berdasarkan riset yang matang dan metodologi yang teruji, bukan sekadar firasat atau rumor pasar. Tetap berpegang pada rencana untuk menjaga disiplin, tetapi susun rencana itu dengan bijak.
Kesimpulan
Investasi dapat menjadi cara yang kuat untuk menumbuhkan kekayaan, tetapi membutuhkan pengetahuan dan disiplin untuk menghindari jebakan umum. Risiko adalah bagian dari pasar finansial dan akan selalu ada, karena masa depan tidak pernah pasti. Edukasi dan pemahaman siklus pasar, serta pengetahuan tentang cognitive biases investor, bisa menjadi langkah awal yang sangat penting untuk mulai berinvestasi.
- Kurang Riset (Lack of Research) Masuk ke investasi tanpa riset memadai dapat menyebabkan keputusan yang buruk. Selalu lakukan analisis menyeluruh sebelum berinvestasi.
- Trading Berdasarkan Emosi (Emotional Trading) Mengambil keputusan berdasarkan emosi seperti takut dan serakah sering berujung pada membeli di harga tinggi dan menjual di harga rendah. Tetap berpegang pada strategi yang disiplin.
- Diversifikasi yang Buruk (Poor Diversification) Konsentrasi investasi pada satu aset atau satu sektor meningkatkan risiko. Diversifikasikan portofolio untuk menyebar risiko.
- Mencoba Memprediksi Waktu Pasar (Timing the Market) Mencoba menebak puncak dan dasar pasar sangat sulit dan sering berujung kerugian. Fokuslah pada investasi jangka panjang dan investasi rutin.
- Mengabaikan Biaya dan Pengeluaran (Ignoring Fees and Expenses) Biaya tinggi dapat mengikis imbal hasil dari waktu ke waktu. Pilih opsi investasi berbiaya rendah untuk memaksimalkan hasil.
- Mengejar Kinerja Masa Lalu (Chasing Performance) Berinvestasi hanya karena performa masa lalu bisa membuat Anda membeli di puncak. Dasarkan keputusan pada analisis dan fundamental.
- Tidak Memiliki Rencana yang Jelas (Lack of a Clear Plan) Berinvestasi tanpa rencana yang jelas membuat keputusan jadi tidak konsisten. Definisikan tujuan, toleransi risiko, dan horizon investasi.
Dengan menghindari kesalahan ini dan memahami cognitive biases yang mempengaruhi pengambilan keputusan, investor dapat memperbaiki strategi dan mencapai hasil finansial yang lebih baik.
Materi pemasaran ini bukan merupakan rekomendasi investasi atau saran strategi investasi. Informasi ini tidak menjamin kinerja atau hasil investasi di masa mendatang. Aktivitas trading melibatkan risiko kerugian finansial yang signifikan, termasuk kemungkinan kehilangan sebagaian maupun seluruh modal yang diinvestasikan. Segala keputusan trading sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu.

FAQ
Kesalahan paling umum adalah kurang riset. Banyak investor baru masuk ke suatu investasi tanpa benar-benar memahaminya. Kesalahan lain adalah mengambil keputusan hanya berdasarkan kinerja historis aset, yang tidak selalu menjadi indikator yang baik untuk hasil di masa depan (extrapolation).
Kembangkan strategi investasi yang disiplin dan patuhi, apa pun kondisi pasar. Ini dapat membantu mengurangi pengaruh emosi. Baik trader maupun investor juga harus sadar bahwa emosi sulit dipisahkan dari dunia investasi, karena pasar pada dasarnya adalah kumpulan orang yang membawa uang. Emosi seperti takut dan euforia adalah bagian dari sifat manusia, dan baik kepanikan maupun bull runs akan terus terjadi di masa depan.
Diversifikasi menyebar risiko ke berbagai aset, sehingga mengurangi dampak kinerja buruk satu investasi. Tetapi perlu dipahami bahwa menggunakan aset yang saling berkorelasi dalam diversifikasi bisa memperbesar masalah, karena investor merasa portofolionya sudah terdiversifikasi, padahal tidak.
Sebagai contoh, diversifikasi dengan membeli 8 saham teknologi bukanlah hal yang salah, tetapi itu hanya diversifikasi di dalam sektor teknologi, bukan diversifikasi terhadap risiko ketika sektor teknologi sendiri berkinerja buruk. Seperti dikatakan Ray Dalio, CEO dan manajer di Bridgewater, investor sebaiknya mencari dan menggunakan aset yang tidak berkorelasi untuk menghasilkan alpha dan kualitas diversifikasi yang lebih baik.
Diversifikasi dengan berinvestasi hanya di sektor dan aset yang pro-siklus mungkin tidak memberikan hasil yang baik saat pasar turun atau resesi. Sebaliknya, "terlalu banyak" diversifikasi juga bisa menekan hasil ketika kinerja baik satu aset "tergerus" oleh aset lain yang merugi.
Index funds (reksa dana indeks) dan exchange-traded funds (ETFs) biasanya memiliki biaya yang lebih rendah dan efektif untuk diversifikasi. Saham individu bisa jadi lebih murah dari sisi biaya (tidak ada Total Expense Ratio / TER seperti di ETF), tetapi membutuhkan lebih banyak waktu dan pengetahuan untuk analisis dan pemilihan.
Bias kognitif dapat mendistorsi proses pengambilan keputusan, sehingga menimbulkan pilihan investasi yang tidak rasional dan berpotensi merugikan. Untuk memahami topik ini lebih baik, investor sebaiknya membaca literatur tentang bias kognitif dan psikologi investasi, serta secara kritis menganalisis proses pengambilan keputusan mereka sendiri.