Short squeeze telah menciptakan beberapa peristiwa pasar paling legendaris—mengubah trader kecil menjadi miliarder dan membuat hedge fund bangkrut dalam semalam. Memahami cara kerjanya dapat memberi Anda keunggulan di pasar yang volatil. Pelajari mekanismenya, contoh historisnya, dan strategi untuk navigasi short squeeze.
Short squeeze telah menciptakan beberapa peristiwa pasar paling legendaris—mengubah trader kecil menjadi miliarder dan membuat hedge fund bangkrut dalam semalam. Memahami cara kerjanya dapat memberi Anda keunggulan di pasar yang volatil. Pelajari mekanismenya, contoh historisnya, dan strategi untuk navigasi short squeeze.
Short squeeze adalah peristiwa keuangan yang terjadi ketika harga saham melonjak secara tak terduga di luar ekspektasi pasar, menyebabkan kerugian besar bagi short sellers. Dalam artikel ini, kita akan membahas apa itu short squeeze dan bagaimana pengaruhnya terhadap pasar. Bayangkan Anda bertaruh bahwa harga saham akan turun, tetapi tiba-tiba harga melonjak tajam—memaksa Anda membeli kembali saham tersebut dengan kerugian besar. Itulah brutalnya short squeeze—salah satu peristiwa paling dramatis dan kacau di pasar keuangan.
Short squeeze telah menyebabkan beberapa pergerakan harga paling mengejutkan dalam sejarah, mengubah perusahaan yang sedang terpuruk menjadi superstar pasar dalam semalam dan membuat short sellers panik menutup posisi. Dari Volkswagen pada 2008, ketika sempat menjadi perusahaan paling bernilai di dunia, hingga fenomena GameStop tahun 2021 yang dipicu oleh trader ritel Reddit, peristiwa ini telah menciptakan dan menghancurkan kekayaan hanya dalam hitungan hari.
Tetapi apa sebenarnya short squeeze itu? Mengapa hal ini terjadi, dan bagaimana trader dapat mengidentifikasi tanda-tanda awal sebelum terjadi? Dalam artikel ini, kita akan menguraikan mekanisme short squeeze, melihat contoh terkenal, dan memahami bagaimana investor dapat menavigasi badai pasar yang tidak dapat diprediksi ini. Bersiaplah—di sinilah terjadi pergerakan harga paling ekstrem di pasar.
Key Takeaways
-
Short Sellers Bisa Terbakar – Short squeeze terjadi ketika trader yang bertaruh bahwa saham akan turun (short sellers) terpaksa membeli kembali saham pada harga yang melambung tinggi, sehingga makin mendorong harga naik. Ini reaksi berantai yang brutal dan sangat cepat.
-
Short Interest Tinggi adalah “Bahan Bakar” – Semakin banyak short sellers yang bertaruh melawan suatu saham, semakin besar potensi short squeeze. Jika porsi saham yang dipinjam untuk short sangat tinggi, lonjakan harga kecil saja dapat memicu aksi beli paksa.
-
Saham dengan Float Rendah adalah “Badai Sempurna” – Jika jumlah saham yang beredar di pasar sedikit, short sellers berebut untuk membeli kembali saham, sehingga harga dapat melesat hanya dalam hitungan jam atau hari.
-
Katalis adalah “Pemicu” – Laporan keuangan positif, berita mengejutkan, atau hype media sosial dapat memicu aksi beli besar-besaran dan menjebak short sellers.
-
Margin Call Menambah Tekanan – Ketika short sellers kehabisan dana untuk menutup kerugian, broker memaksa mereka membeli kembali saham pada harga berapa pun—mendorong harga semakin naik.
-
Ini Permainan Timing – Short squeeze bisa menjadi peluang luar biasa bagi trader yang menyadarinya lebih awal, tetapi yang terlambat bisa terjebak saat harga jatuh kembali.
-
Sejarah Berulang – Short squeeze legendaris seperti Volkswagen (2008), GameStop (2021), dan Tesla (2020) mengikuti pola yang sama: short interest tinggi, katalis mendadak, dan gelombang aksi beli paksa.
-
Tidak Semua Saham Akan Mengalami Squeeze – Meskipun short interest tinggi, tidak semua saham akan meledak harganya. Faktor-faktor tertentu harus selaras agar squeeze terjadi.
Apa Itu Short Squeeze?
Short squeeze adalah fenomena keuangan yang terjadi ketika harga saham melonjak secara tiba-tiba, memaksa short sellers menutup posisi mereka.
Peristiwa ini, yang pernah terjadi pada perusahaan seperti Volkswagen dan GameStop, menjadi tantangan besar bagi short sellers—investor yang bertaruh bahwa harga saham akan turun. Ketika short squeeze terjadi, trader bergegas menutup posisi short dengan membeli kembali saham untuk meminimalkan kerugian. Permintaan mendadak ini semakin mendorong harga naik—menguntungkan mereka yang memicu squeeze. Short squeeze terjadi ketika harga saham naik tajam di luar ekspektasi pasar. Biasanya dipicu oleh:
-
Perusahaan melaporkan hasil keuangan lebih baik dari perkiraan
-
Peristiwa politik atau ekonomi yang meningkatkan kepercayaan investor
-
Aksi beli terkoordinasi—misalnya oleh trader ritel seperti kasus GameStop
Short sellers meminjam saham, menjualnya pada harga pasar saat ini, dan berharap membelinya kembali pada harga yang lebih rendah. Namun, jika saham tiba-tiba naik, mereka dipaksa membeli kembali saham pada harga yang lebih tinggi, sehingga memicu kenaikan lebih lanjut dan menekan short sellers lainnya.
Short Squeeze: Sisi Teknisnya
Short squeeze adalah salah satu peristiwa paling dramatis di pasar saham, di mana harga melonjak hanya dalam hitungan jam atau hari, mengejutkan short sellers. Ini adalah kasus klasik hukum penawaran dan permintaan—di mana terlalu banyak trader bertaruh melawan suatu saham, dan tiba-tiba kondisi berbalik. Memahami mekanisme teknis di balik short squeeze dapat membantu trader mengenali tanda-tandanya sebelum terjadi—atau memanfaatkannya ketika itu terjadi.
1. Dasar-Dasar: Bagaimana Short Selling Bekerja
Untuk memahami bagaimana short squeeze terjadi, Anda perlu mengetahui cara kerja short selling. Strategi ini dilakukan dengan meminjam saham, menjualnya, lalu berharap membelinya kembali pada harga yang lebih rendah.
Berikut penjelasan sederhananya:
-
Langkah 1: Trader meminjam saham dari broker.
-
Langkah 2: Trader menjual saham tersebut di pasar.
-
Langkah 3: Jika harga turun, trader membeli kembali saham lebih murah, mengembalikannya, dan mengambil selisihnya sebagai keuntungan.
-
Langkah 4: Jika harga naik, trader bermasalah—karena mereka tetap harus membeli kembali saham tersebut.
Risikonya? Tidak seperti investasi biasa, di mana kerugian terbatas pada modal awal, short selling memiliki risiko tak terbatas—karena harga saham secara teori dapat naik tanpa batas. Ketika harga naik tak terduga, short sellers panik dan membeli kembali saham sebelum harga naik lebih tinggi lagi. Inilah awal terjadinya short squeeze.
2. Bahan Utama Terjadinya Short Squeeze
Tidak semua saham dengan short interest tinggi akan mengalami squeeze. Dibutuhkan “badai sempurna” dari beberapa kondisi berikut:
A. Short Interest Tinggi (Terlalu Banyak Taruhan Melawan Saham)
-
Rasio short interest mengukur berapa banyak saham float (saham beredar yang dapat diperdagangkan) yang sedang dipinjam untuk short.
-
Jika lebih dari 20% saham disortir, saham tersebut masuk zona berbahaya untuk potensi squeeze.
-
Semakin banyak orang yang bertaruh melawan saham, semakin besar risiko squeeze ketika terjadi lonjakan harga mendadak.
B. Float Rendah (Tidak Banyak Saham Tersedia di Pasar)
-
Jika jumlah saham yang tersedia sedikit, short sellers yang berebut membeli kembali saham menciptakan perang harga yang mendorong harga naik lebih cepat.
-
Saham dengan low float—yakni saham yang tidak banyak beredar—adalah yang paling rentan terhadap squeeze.
C. Katalis Mendadak (Berita, Earnings, atau Hype Sosial Media)
-
Laporan pendapatan yang kuat, rumor akuisisi, atau bahkan postingan viral di Reddit bisa memicu aksi beli besar.
-
Jika cukup banyak trader mulai membeli, short sellers dipaksa menutup posisi pada harga lebih tinggi—memicu squeeze lebih lanjut.
3. Bagaimana Squeeze Meningkat: Margin Call dan Forced Liquidation
Ketika harga saham mulai naik, short sellers menghadapi margin call—saat broker menuntut modal tambahan untuk mempertahankan posisi. Jika tidak bisa memenuhi, broker secara otomatis membeli kembali saham tersebut, semakin mendorong harga naik.
Ini seperti efek domino:
-
Harga naik → Short sellers panik → Mereka membeli saham → Harga naik lebih tinggi.
-
Margin call memicu aksi beli paksa → Siklus berulang → Harga melesat ke level ekstrem.
Inilah mengapa short squeeze sering menghasilkan grafik harga parabola—karena setiap gelombang aksi beli paksa memicu gelombang berikutnya.
4. Berapa Lama Short Squeeze Bisa Bertahan?
Durasinya bergantung pada berapa banyak short seller yang masih terjebak. Beberapa short squeeze hanya berlangsung beberapa jam, sementara yang lain—seperti short squeeze Volkswagen yang terkenal pada 2008—dapat mendorong harga saham naik selama berhari-hari sebelum momentum memudar.
Setelah sebagian besar posisi short ditutup dan pembeli baru tidak lagi masuk, harga saham biasanya jatuh kembali dengan cepat, meninggalkan investor yang masuk terlambat terjebak dengan saham yang harganya terlalu mahal.
5. Short Squeeze Paling Ekstrem dalam Sejarah: Volkswagen 2008
Salah satu short squeeze paling terkenal terjadi ketika Porsche secara diam-diam membeli saham Volkswagen dalam jumlah besar, sehingga hanya 6% saham yang tersisa untuk diperdagangkan. Short seller yang bertaruh melawan VW tiba-tiba terjebak tanpa jalan keluar, mendorong harga saham melonjak sekitar 350% hanya dalam dua hari. Untuk sesaat, Volkswagen menjadi perusahaan paling bernilai di dunia.
Kesimpulan
Agar sebuah short squeeze mencapai potensi maksimalnya, beberapa faktor kunci harus ada:
-
Jumlah posisi short yang tinggi – Semakin banyak pihak yang bertaruh melawan saham tersebut, semakin eksplosif potensi squeeze-nya.
-
Ketersediaan saham yang terbatas – Jika pasokan saham ketat, permintaan dapat melonjak tajam.
-
Pemicu mendadak – Diperlukan suatu peristiwa yang mengejutkan pasar dan memicu aksi beli.
-
Margin call dan aksi beli paksa – Gelombang kepanikan terakhir yang mendorong harga saham ke level ekstrem.
-
Short squeeze ibarat menyalakan korek api di ruangan penuh bensin —cukup satu percikan untuk memicu ledakan.
Cornering the Market
Di pasar keuangan, istilah cornering the market sering memicu kekaguman sekaligus kontroversi. Pada dasarnya, strategi ini melibatkan seorang investor atau sekelompok pihak yang menguasai posisi dominan dalam suatu aset—baik saham, komoditas, maupun obligasi—untuk memanipulasi pasokan dan mengendalikan harga. Tujuannya adalah menciptakan kelangkaan buatan, mendorong harga naik, dan memaksa pelaku pasar lain berada dalam posisi lemah tanpa pilihan selain membeli pada harga yang sangat tinggi. Konsep ini berkaitan erat dengan short squeeze.
Bagaimana Cara Kerja Market Cornering?
Secara teori, mekanisme market cornering terlihat sederhana, tetapi dalam praktiknya sangat sulit dilakukan. Biasanya proses ini terjadi dalam tiga fase utama:
1. Fase Akumulasi
Langkah pertama adalah secara diam-diam mengakumulasi porsi besar dari aset yang tersedia. Ini sering dilakukan secara bertahap agar tidak memicu kecurigaan. Dalam komoditas, ini bisa berarti membeli pasokan fisik (seperti perak, minyak, atau gandum). Dalam saham, ini berarti membeli persentase besar saham yang diperdagangkan publik, sehingga membatasi pasokan di pasar.
2. Tekanan Pasokan (Supply Squeeze)
Setelah cukup banyak aset dikuasai, investor mulai memperketat pasokan yang tersedia. Pada tahap ini, trader yang memiliki posisi short berada dalam masalah. Mereka perlu menutup posisi, tetapi menghadapi pasokan yang semakin menipis, sehingga harga melonjak tajam. Hal ini memicu aksi beli panik dan lonjakan nilai yang cepat serta sulit dikendalikan.
3. Likuidasi Paksa & Realisasi Keuntungan
Ketika kepanikan meluas, trader yang berada di sisi yang salah bergegas membeli kembali aset tersebut pada harga berapa pun untuk menutup posisi mereka. Ini memungkinkan pihak yang menguasai pasar mulai menjual kepemilikannya dengan keuntungan besar. Tantangannya adalah melepas posisi tanpa memicu kejatuhan harga yang drastis.
Upaya Market Cornering
Meskipun terdengar seperti strategi yang sempurna, sejarah dipenuhi dengan kisah sukses spektakuler sekaligus kegagalan besar dalam upaya market cornering.
-
Hunt Brothers & Silver Squeeze (1980)
Nelson dan William Hunt mencoba menguasai pasar perak dengan membeli perak fisik dan kontrak futures dalam jumlah besar. Harga melonjak dari sekitar $6 per ounce menjadi hampir $50. Namun, intervensi regulator dan persyaratan margin yang agresif menyebabkan kejatuhan brutal, menghapus miliaran dolar kekayaan. -
Piggly Wiggly Short Squeeze (1923)
Pendiri jaringan ritel Piggly Wiggly, Clarence Saunders, mencoba menguasai saham perusahaannya sendiri untuk menghukum short seller. Awalnya harga saham melonjak, tetapi bursa mengubah aturan permainan. Strateginya runtuh, dan Saunders bangkrut. -
Copper King & Skandal Sumitomo (1990-an)
Yasuo Hamanaka, trader di Sumitomo Corporation, mencoba mengendalikan pasar tembaga global dengan menimbun pasokan besar. Ia berhasil memanipulasi harga selama bertahun-tahun, tetapi akhirnya skemanya terbongkar, menyebabkan kerugian $2,6 miliar dan hukuman penjara.
Meskipun ide menguasai penuh suatu aset keuangan terdengar menggoda, kenyataannya jauh lebih berbahaya. Regulator, pesaing, dan bahkan hukum penawaran–permintaan dapat menggagalkan upaya market cornering. Risiko utamanya meliputi:
-
Tindakan regulator – Bursa dan otoritas memantau manipulasi pasar dan dapat memberlakukan penghentian perdagangan, denda, hingga tuntutan pidana.
-
Perangkap likuiditas – Jika investor menguasai terlalu banyak aset, menjualnya tanpa menjatuhkan harga menjadi hampir mustahil.
-
Reaksi publik dan institusi – Ketika harga melonjak secara tidak wajar, otoritas dan institusi sering turun tangan untuk menghentikan praktik tersebut.
Contoh Short Squeeze Bersejarah
Piggly Wiggly (1923)
Salah satu short squeeze paling awal tercatat terjadi pada 1923, melibatkan jaringan supermarket AS Piggly Wiggly. Pendiri Clarence Saunders melihat banyak investor melakukan short selling atas saham perusahaannya dan memutuskan untuk melawan dengan membeli seluruh saham yang tersedia. Lonjakan permintaan mendadak ini mendorong harga saham melonjak tajam dan menyebabkan kerugian besar bagi short seller. Namun, regulator kemudian menghentikan perdagangan saham tersebut, sehingga Saunders tidak dapat sepenuhnya memanfaatkan strateginya.
Volkswagen (2008)
Pada Oktober 2008, Volkswagen sempat menjadi perusahaan paling bernilai di dunia akibat short squeeze. Porsche, yang secara bertahap meningkatkan kepemilikannya, mengumumkan bahwa mereka menguasai 74% saham dengan hak suara. Pengumuman ini menyisakan hanya 6% saham untuk diperdagangkan, memaksa short seller berebut membeli saham dan mendorong harga ke level ekstrem sebelum akhirnya runtuh.
GameStop (2021)
Mungkin contoh modern paling terkenal, short squeeze GameStop pada awal 2021 dipicu oleh trader ritel dari forum Reddit r/WallStreetBets. Gelombang aksi beli terkoordinasi mendorong harga saham GameStop naik lebih dari 100 kali lipat hanya dalam satu bulan. Banyak investor institusi dan hedge fund lengah, menyebabkan kerugian miliaran dolar bagi pihak yang melakukan short selling.
Tesla (2020)
Tesla juga mengalami beberapa short squeeze, dengan salah satu yang paling menonjol terjadi pada 2020. Banyak investor meragukan kemampuan Tesla mempertahankan pertumbuhan pesatnya, sehingga posisi short sangat tinggi. Namun, kinerja keuangan yang kuat dan meningkatnya permintaan kendaraan listrik mendorong harga saham dari sekitar $300 ke atas $450, memaksa short seller keluar dari posisi mereka.
Pelajaran dari Sejarah
-
Short squeeze sangat sulit diprediksi – Bahkan trader dan hedge fund berpengalaman bisa terkejut ketika dinamika pasar berubah cepat.
-
Likuiditas sangat penting – Ketika saham menjadi langka, harga dapat melonjak tajam saat short seller berebut menutup posisi.
-
Regulator dan bursa dapat turun tangan – Seperti pada Piggly Wiggly dan GameStop, otoritas kadang bertindak untuk menstabilkan pergerakan ekstrem.
-
Trader ritel bisa menang (tetapi timing adalah segalanya) – Sebagian investor meraup keuntungan besar, sementara banyak lainnya merugi ketika gelembung pecah.
-
Pemain besar bisa memanipulasi pasar – Kasus VW oleh Porsche menunjukkan bagaimana raksasa keuangan dapat merekayasa pergerakan pasar, meski berisiko berbalik arah.
Short squeeze adalah salah satu tontonan paling dramatis di pasar keuangan, menciptakan volatilitas ekstrem, perpindahan kekayaan besar, dan terkadang kekacauan ekonomi. Meskipun menghasilkan keuntungan legendaris bagi sebagian trader, short squeeze juga menghancurkan kekayaan dengan cepat. Pelajaran utamanya? Pasar bisa tetap irasional lebih lama daripada kemampuan trader untuk tetap solvent.
Cara Mengantisipasi dan Bereaksi terhadap Short Squeeze
Short squeeze sering terjadi ketika suatu saham memiliki posisi short yang sangat tinggi dan tiba-tiba memperoleh momentum tak terduga. Untuk mengidentifikasi potensi kandidat short squeeze, trader perlu memantau:
-
Rasio short interest – Persentase saham yang di-short dibandingkan total float dapat menunjukkan potensi squeeze.
-
Volume perdagangan – Lonjakan volume yang tiba-tiba bisa menjadi sinyal squeeze yang akan datang.
-
Relative Strength Index (RSI) – Indikator ini membantu mengidentifikasi apakah saham berada dalam kondisi overbought atau oversold.
Saat menghadapi short squeeze, investor sebaiknya tetap tenang dan menghindari keputusan terburu-buru. Bereaksi berlebihan terhadap lonjakan harga justru dapat menyebabkan kerugian yang tidak perlu.
Fakta Menarik
Kerugian Kapas Jesse Livermore: Livermore terpukul oleh short squeeze kapas, sebuah kekalahan langka yang membantu mendorong trader terkenal itu menuju kebangkrutan.
Squeeze Piggly Wiggly: Clarence Saunders melakukan cornering pada sahamnya pada 1923, menjebak short seller—hingga perdagangan dihentikan, memaksanya mengalami kerugian yang menghancurkan.
Pelajaran GameStop: Squeeze GameStop pada 2021 menunjukkan bagaimana trader ritel, yang bergerak bersama, dapat mengalahkan hedge fund dan memicu lonjakan harga bersejarah.
Dampak Low-Float: Short squeeze berdampak lebih keras pada saham low-float, ketika jumlah saham yang terbatas memaksa short seller membeli kembali dengan cepat, mendorong harga naik tajam.
Sinyal Short Interest: Ketika short interest melampaui 30% dari free float, katalis kecil pun dapat memicu aksi beli paksa dan menciptakan squeeze yang bergerak cepat.
Akumulasi Tersembunyi: Banyak squeeze terbentuk secara diam-diam ketika volume naik, pasokan mengetat, dan short seller menambah posisi yang merugi—yang justru menjadi bahan bakar lonjakan mereka sendiri di kemudian hari.
FAQ

FAQ
Short squeeze adalah peristiwa keuangan yang terjadi ketika harga saham suatu perusahaan melonjak secara tak terduga, sehingga memaksa short seller menutup posisi mereka. Lonjakan permintaan yang tiba-tiba ini semakin mendorong harga saham naik, menciptakan pergerakan pasar yang cepat dan sering kali ekstrem.
Short squeeze terjadi ketika harga saham naik tajam berlawanan dengan ekspektasi pasar. Ini dapat dipicu oleh: Hasil keuangan yang lebih baik dari perkiraan yang mengubah sentimen investor.
Berita politik atau ekonomi yang positif yang memperkuat prospek perusahaan. Aktivitas investor ritel yang terkoordinasi, seperti kasus GameStop pada 2021, ketika komunitas online secara kolektif membeli saham untuk mendorong harga naik dan menekan short seller keluar dari posisi mereka.
Ketika short seller bergegas keluar dari posisi mereka, mereka membeli kembali saham, menciptakan efek bola salju yang mendorong harga semakin tinggi.
Sepanjang sejarah, beberapa perusahaan terkenal terdampak short squeeze. Beberapa contoh yang paling terkenal meliputi:
- Volkswagen (2008) – Sempat menjadi perusahaan paling bernilai di dunia akibat short squeeze yang dipicu oleh peningkatan kepemilikan Porsche pada perusahaan tersebut.
- Tesla (2020) – Kenaikan tajam pada saham Tesla memaksa banyak short seller menutup posisi mereka, memperkuat momentum kenaikan saham.
- GameStop (2021) – Gerakan investor ritel di Reddit r/WallStreetBets memicu salah satu short squeeze paling terkenal dalam sejarah, melambungkan harga saham lebih dari 100 kali lipat hanya dalam beberapa minggu.
Short squeeze biasanya terjadi ketika suatu saham memiliki posisi short yang tinggi dan tiba-tiba mengalami momentum harga yang tak terduga. Untuk melihat potensi short squeeze, pertimbangkan:
- Rasio short interest – Persentase saham yang di-short dibanding total float dapat menjadi sinyal risiko squeeze.
- Volume perdagangan yang tidak biasa – Lonjakan volume mendadak bisa menunjukkan trader sedang menutup posisi short mereka.
- Jumlah saham yang tersedia (float) rendah – Jika saham yang tersedia untuk diperdagangkan lebih sedikit, dampak penutupan posisi short terhadap harga bisa jauh lebih besar.
Short squeeze lebih mungkin terjadi pada saham dengan short interest tinggi dan jumlah saham yang tersedia terbatas. Secara teori, saham apa pun dapat mengalami short squeeze, tetapi saham dengan likuiditas lebih rendah, keterlibatan investor ritel yang kuat, atau berita positif tak terduga cenderung lebih rentan. Saham dengan kepemilikan institusi besar dan kinerja stabil cenderung lebih kecil kemungkinan mengalami pergerakan harga ekstrem seperti ini.
Durasi short squeeze bervariasi tergantung beberapa faktor, termasuk jumlah posisi short, ketersediaan saham untuk menutup posisi, dan sentimen pasar secara keseluruhan. Beberapa short squeeze hanya berlangsung beberapa jam atau hari, sementara yang lain dapat berlangsung selama beberapa minggu. Namun, begitu tekanan beli mereda dan short seller telah keluar dari posisi mereka, saham sering kembali ke level harga yang lebih stabil.
Meskipun tidak mungkin memprediksi short squeeze dengan kepastian, trader dapat mencari tanda peringatan seperti short interest tinggi, low float (saham yang tersedia untuk diperdagangkan sedikit), peningkatan volume beli, dan kenaikan harga saham secara tiba-tiba meskipun tidak ada berita besar. Memantau metrik seperti short interest ratio (SIR) dan days-to-cover dapat membantu mengukur kemungkinan terjadinya squeeze. Namun, short squeeze bisa sangat tidak terduga dan berisiko bagi investor posisi long maupun short.