Baca selengkapnya
Waktu membaca: 12 Menit

Cara Berinvestasi Saat Resesi – Panduan Pemula untuk Imbal Hasil yang Lebih Aman

Resesi tidak selalu berarti panik. Faktanya, periode ini bisa menjadi strategic entry point bagi investor yang sabar. Panduan ramah pemula ini membantu kamu memahami ide investasi yang tahan resesi, termasuk sektor defensif, saham dividen, dan strategi jangka panjang. Baik kamu tipe investor berhati-hati maupun yang penasaran, kami akan menunjukkan cara melewati masa sulit dan melindungi modal dengan keputusan yang lebih cerdas.
Resesi tidak selalu berarti panik. Faktanya, periode ini bisa menjadi strategic entry point bagi investor yang sabar. Panduan ramah pemula ini membantu kamu memahami ide investasi yang tahan resesi, termasuk sektor defensif, saham dividen, dan strategi jangka panjang. Baik kamu tipe investor berhati-hati maupun yang penasaran, kami akan menunjukkan cara melewati masa sulit dan melindungi modal dengan keputusan yang lebih cerdas.

Resesi bukan akhir dari investasi—resesi adalah ujian sebenarnya. Pasar tidak hanya digerakkan oleh angka. Pasar dibentuk oleh siklus—optimisme dan ketakutan, pertumbuhan dan kontraksi. Resesi adalah salah satu fase berulang yang membentuk ritme sejarah ekonomi. Kadang datang perlahan, kadang dengan guncangan tiba-tiba, menggoyahkan kepercayaan, mengubah proyeksi, dan menguji keyakinan setiap investor—baik pemula maupun berpengalaman.

Meski sering digambarkan sebagai periode kerugian dan penarikan diri, masa penurunan ekonomi juga bisa menjadi jendela transformasi. Harga-harga kembali ke titik wajar. Risiko dinilai ulang. Peluang jangka panjang muncul diam-diam ketika berita utama dipenuhi kepanikan.

Artikel ini dirancang untuk membantu kamu memahami resesi—bukan sebagai grafik abstrak, tetapi sebagai periode nyata yang mempengaruhi pekerjaan, tabungan, harga aset, hingga emosi. Artikel ini membahas apa itu resesi, bagaimana pengaruhnya terhadap pasar, dan bagaimana investor profesional menghadapinya dengan strategi yang jelas, bukan sekadar menebak.

Apakah kamu baru memulai perjalanan investasi atau ingin memperkuat portofolio dari ketidakpastian, panduan ini menyatukan wawasan historis, tips praktis, dan prinsip abadi untuk menavigasi pasar saat resesi.

Saat awan gelap ekonomi berkumpul, pasar kehilangan ritmenya, dan berita menebarkan ketakutan, banyak investor memilih diam. Namun sejarah menunjukkan bahwa penurunan—meski tidak nyaman—bukanlah hal baru. Ini hanyalah satu bab dalam kisah panjang yang terus berulang. Dan seperti bab lainnya, selalu ada pelajaran yang bisa dipetik.

Panduan ini menjelaskan apa itu resesi, mengapa resesi penting bagi investor, bagaimana membangun portofolio yang lebih aman di masa tidak pasti, serta strategi profesional yang terbukti tahan terhadap badai ekonomi. Ini adalah roadmap bukan untuk mengalahkan siklus, tetapi untuk melewatinya dan memahaminya.

Poin Penting

  • Resesi adalah perlambatan ekonomi luas yang ditandai penurunan PDB, naiknya pengangguran, dan turunnya belanja konsumen.

  • Harga aset, terutama saham, biasanya turun selama resesi karena ekspektasi pertumbuhan melemah.

  • Sektor defensif dan diversifikasi berperan penting dalam manajemen risiko saat penurunan.

  • Strategi seperti All-Weather Portfolio dirancang untuk mengatasi berbagai kondisi ekonomi.

  • Berinvestasi saat resesi adalah tentang menjaga modal, bersabar, dan disiplin—bukan menebak arah pasar.

Apa Itu Resesi?

Resesi adalah penurunan aktivitas ekonomi yang berlangsung cukup lama, biasanya diukur melalui dua kuartal berturut-turut dengan pertumbuhan PDB negatif. Namun resesi bukan sekadar angka. Ini adalah periode ketika:

  • Bisnis memperlambat perekrutan atau melakukan PHK

  • Konsumen mengurangi pengeluaran

  • Akses kredit mengetat

  • Kepercayaan menurun

Resesi adalah bagian alami dari siklus ekonomi, mengikuti masa ekspansi dan sering kali membuka jalan bagi pemulihan. Penyebabnya beragam—pasar yang terlalu panas, guncangan eksternal, pengetatan moneter, hingga krisis keuangan.

Berinvestasi saat resesi bukan tentang bereaksi—melainkan tentang bersiap, beradaptasi, dan bertahan. Resesi adalah padanan cuaca badai dalam dunia finansial—tidak nyaman, mengganggu, dan tak terhindarkan akibat fluktuasi permintaan-penawaran serta sifat kondisi ekonomi global yang tidak dapat diprediksi.

Psikologi dalam Siklus Pasar

Pria muda duduk di sofa menganalisis data keuangan di laptop, melambangkan stres dan ketidakpastian dalam berinvestasi saat perlambatan ekonomi.

Memahami pola psikologis yang mendominasi perilaku pasar selama resesi sama pentingnya dengan menganalisis laporan keuangan. Saat pasar turun, rasa takut, pesimisme, dan ketidakpastian sering kali mengalahkan logika.

Investor sering mengalami:

  • Kapitulasi (menjual pada waktu terburuk),

  • Hope rallies (rebound sementara yang keliru dianggap sebagai pemulihan), dan

  • Kelelahan emosional (hingga akhirnya menarik diri dari pasar).

Bagaimana Cara Berinvestasi Saat Resesi? 5 Hal yang Harus Diketahui

  1. Keamanan finansial adalah prioritas — Jangan investasikan uang yang mungkin segera kamu butuhkan.

  2. Fokus pada kualitas — Pilih perusahaan kuat, bukan saham yang digerakkan oleh hype.

  3. Diversifikasi — Sebar risiko ke berbagai sektor dan kelas aset.

  4. Hindari mencoba menebak “titik terbawah” — Kamu hampir pasti akan meleset.

  5. Tetap disiplin secara emosional — Ketakutan membuat penilaian bias.

Tanda-Tanda Awal Resesi: 5 Indikator Utama yang Perlu Dipantau

 Tangan memegang kompas dengan latar belakang kota modern, melambangkan arah strategis bagi investor dalam menghadapi resesi.

Mengenali resesi sejak awal seperti melihat awan gelap pertama sebelum badai datang. Kamu mungkin tidak tahu kapan hujan turun, tetapi kamu bisa bersiap sebelum portofolio “basah kuyup”.

Meskipun resesi tidak selalu dapat diprediksi, sejarah memberi petunjuk. Ekonom, pembuat kebijakan, dan investor berpengalaman mengandalkan serangkaian sinyal peringatan dini—indikator yang secara konsisten muncul sebelum penurunan ekonomi. Memahami tanda-tanda ini membantu investor menyesuaikan risiko, menata ulang alokasi aset, dan mengelola ekspektasi sebelum kondisi terburuk tiba. Berikut lima indikator resesi terpenting yang perlu kamu pantau dengan cermat:

1. Melemahnya Laba Perusahaan — Terutama dari Perusahaan Pemimpin Industri

Salah satu tanda paling awal dari perlambatan ekonomi adalah penurunan laba perusahaan, khususnya perusahaan besar yang sensitif terhadap kondisi ekonomi. Mengapa? Karena perusahaan-perusahaan ini biasanya beroperasi secara global, memiliki basis konsumen luas, dan mencerminkan kesehatan permintaan, investasi bisnis, dan rantai pasokan.

Ketika raksasa seperti FedEx (logistik), Walmart atau Target (ritel), Intel (semikonduktor), atau UPS (transportasi industri) melaporkan penurunan pendapatan, revisi proyeksi turun, atau margin yang menyusut, hal itu dapat menandakan melemahnya permintaan konsumen dan perusahaan mulai menekan biaya. Perusahaan-perusahaan ini sering dianggap sebagai “canary in the coal mine” — indikator awal yang mencerminkan kondisi ekonomi luas.

Yang perlu dipantau:

  • Beberapa kuartal berturut-turut pendapatan meleset dari ekspektasi

  • Revisi turun pada proyeksi laba

  • Penyusutan margin keuntungan lintas sektor

  • Perlambatan pendapatan iklan (contoh: Meta, Alphabet)

2. Sahm Rule — Sinyal Cerdas dari Pasar Tenaga Kerja

Sahm Rule, dikembangkan ekonom Claudia Sahm, merupakan alat yang sangat akurat untuk mengidentifikasi awal resesi melalui tren pengangguran. Aturannya menyatakan bahwa jika rata-rata tingkat pengangguran tiga bulan naik 0,5 persen poin atau lebih dari level terendah dalam 12 bulan terakhir, kemungkinan resesi sudah dimulai.

Tidak seperti indikator yang lebih terlambat, Sahm Rule menggunakan data tenaga kerja real-time, dan telah menandai setiap resesi AS sejak 1970-an.

Contoh: Jika pengangguran terendah adalah 3,5%, lalu naik ke rata-rata 4,0% selama tiga bulan, aturan ini aktif.

3. Kurva Yield Terbalik — Peringatan Klasik dari Pasar Obligasi

Kurva yield terbalik adalah salah satu indikator paling diikuti dan paling konsisten dalam memprediksi resesi.

Secara normal, obligasi jangka panjang (10 tahun) menawarkan yield lebih tinggi dibanding obligasi jangka pendek (2 tahun). Namun ketika yield jangka pendek melampaui yield jangka panjang, pasar sedang mengantisipasi pemotongan suku bunga—biasanya karena perlambatan ekonomi.

Inilah yang disebut yield curve inversion, dan fenomena ini telah mendahului hampir semua resesi AS dalam 50 tahun terakhir.

Sinyal yang paling diperhatikan: Spread Treasury 2 tahun vs 10 tahun. Ketika spread menjadi negatif, pasar obligasi pada dasarnya berkata: “Masalah di depan.”

Catatan penting: Kurva yield terbalik tidak berarti resesi terjadi segera. Jeda waktunya bisa antara 6–18 bulan.

Grafik historis kurva yield AS dengan periode resesi dan inversi suku bunga dari 1975 hingga 2025, digunakan untuk perencanaan ekonomi dan investasi.

Sumber: XTB Research, Bloomberg Finance

Informasi ini tidak menjamin kinerja atau hasil investasi di masa mendatang. Segala keputusan trading sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu.

4. Kenaikan Klaim Pengangguran – Pasar Tenaga Kerja Mulai Retak

Meskipun tingkat pengangguran adalah indikator lagging, data klaim pengangguran mingguan dapat memberikan gambaran cepat dan real-time mengenai pelemahan awal di pasar tenaga kerja. Kenaikan berkelanjutan pada klaim tunjangan pengangguran menunjukkan bahwa perusahaan mulai melakukan PHK dan mungkin mengalami tekanan finansial.

Bahkan kenaikan kecil namun konsisten selama beberapa minggu dapat mengisyaratkan pergeseran momentum—terutama jika disertai penurunan perekrutan atau turunnya partisipasi angkatan kerja.

Yang perlu diperhatikan:

  • Klaim mingguan secara konsisten naik di atas 250.000

  • Klaim lanjutan meningkat (menggambarkan pengangguran jangka panjang)

  • PHK yang terkonsentrasi pada sektor tertentu (misalnya teknologi atau real estat)

Data ini biasanya dirilis setiap hari Kamis oleh Departemen Tenaga Kerja AS dan sering menjadi indikator awal melemahnya belanja dan kepercayaan konsumen.

5. Melemahnya Kepercayaan Konsumen & Penurunan Belanja Ritel

Resesi hampir selalu dimulai dari penurunan sentimen konsumen. Wajar saja—belanja konsumen menyumbang hampir 70% dari PDB AS. Ketika rumah tangga mulai cemas tentang pekerjaan, inflasi, atau utang, mereka menahan pengeluaran—terutama untuk kebutuhan non-esensial seperti perjalanan, restoran, atau barang mewah.

Beberapa indikator utama yang melacak kepercayaan konsumen:

  • Conference Board Consumer Confidence Index

  • University of Michigan Consumer Sentiment Index

Jika kepercayaan konsumen turun selama beberapa bulan dan diikuti penurunan penjualan ritel, itu sering menjadi sinyal kuat resesi. Penurunan ini biasanya pertama kali terlihat pada pengeluaran kartu kredit, penjualan mobil, dan pembelian terkait perumahan.

Tanda bahaya tambahan:

  • Meningkatnya kredit macet (credit delinquencies)

  • Pertumbuhan ritel tahunan yang melambat

  • Penurunan tajam volume e-commerce atau logistik

Kesimpulan

Tidak ada satu pun indikator yang dapat memprediksi resesi secara sempurna—tetapi ketika banyak indikator bergerak selaras, sinyalnya menjadi lebih jelas. Pasar tenaga kerja yang melemah, konsumen yang berhati-hati, penurunan laba perusahaan, dan kurva yield terbalik bersama-sama membentuk peringatan yang kuat.

Bagi investor, pengenalan dini memberikan lebih banyak waktu untuk:

  • Mengevaluasi ulang risiko portofolio

  • Memperkuat cadangan kas

  • Menggeser alokasi ke sektor defensif

  • Menghindari keputusan emosional

Bersiap, bukan menebak, adalah aset terbesar saat menghadapi ketidakpastian ekonomi.

Resesi vs. Valuasi Aset

Selama resesi, valuasi menyesuaikan—dan biasanya tidak secara halus. Ketika estimasi laba diturunkan, harga saham sering mengikuti.

  • Saham pertumbuhan (growth stocks), yang dihargai berdasarkan optimisme masa depan, biasanya jatuh lebih dalam.

  • Saham nilai (value stocks),  terutama yang berada di sektor esensial, cenderung bertahan lebih stabil.

  • Imbal hasil obligasi sering turun ketika investor mencari aset aman.

  • Real asset seperti emas kadang naik saat kepercayaan terhadap mata uang melemah.

Namun valuasi yang lebih rendah juga berarti kesempatan masa depan—jika kamu tahu apa yang harus dicari.

 Infografik yang menjelaskan indikator resesi utama dan komponen pembangun portofolio tahan resesi, termasuk kas, kesehatan, utilitas, dan consumer staples.
 

Mengapa Resesi Buruk bagi Saham?

Saham mencerminkan ekspektasi laba. Dalam resesi:

  • Laba perusahaan turun karena permintaan melemah.

  • PHK dan perlambatan perekrutan menurunkan kepercayaan konsumen.

  • Biaya pinjaman meningkat, berdampak pada konsumen dan bisnis.

  • Sentimen pasar memburuk, meningkatkan volatilitas.

Meskipun tren jangka panjang pasar cenderung naik, resesi sering mengganggu perjalanan tersebut—memicu kecemasan sekaligus membuka peluang bagi investor yang siap.

Saham Dividen Saat Resesi: Tempat Aman atau Perangkap Berisiko?

Saham dividen sering dianggap lebih aman selama resesi—tetapi tidak semua dividen sama kuatnya. Dalam bagian ini, penting untuk memahami:

  • Perbedaan antara saham dividen defensif (seperti utilitas, consumer staples) dan saham high-yield di sektor siklikal.

  • Pentingnya dividend coverage ratio, arus kas bebas (free cash flow), dan keberlanjutan pembayaran dividen.

  • Tanda bahaya yang menunjukkan potensi pemotongan dividen, bahkan dari perusahaan large-cap.

Cara Membangun Portofolio yang Aman Saat Resesi

Tidak ada portofolio yang benar-benar “kebal resesi”. Namun, portofolio yang tahan resesi sangat mungkin dibuat.

  • Diversifikasi lintas sektor: Hindari penumpukan di industri siklikal seperti perjalanan atau ritel non-esensial.

  • Tingkatkan eksposur ke sektor defensif: Kesehatan, utilitas, dan consumer staples sering lebih stabil.

  • Pegang cadangan kas: Likuiditas memberi kekuatan saat pasar jatuh.

  • Tambahkan obligasi berkualitas tinggi atau surat utang pemerintah jangka pendek.

  • Hindari perusahaan spekulatif atau tidak menguntungkan, yang paling terpukul saat pasar ketat.

Bayangkan ini seperti membangun rumah yang terinsulasi baik sebelum musim dingin tiba.

Apa Itu Strategi ‘All-Weather’?

Dirancang oleh investor legendaris Ray Dalio, All-Weather Portfolio dibuat untuk bertahan dalam kondisi ekonomi apa pun: inflasi, deflasi, pertumbuhan, atau stagnasi.

Struktur tipikal:

  • 30% Saham

  • 40% Obligasi Treasury Jangka Panjang

  • 15% Obligasi Jangka Menengah

  • 7,5% Emas

  • 7,5% Komoditas

Tujuannya bukan memaksimalkan keuntungan jangka pendek, tetapi menyeimbangkan risiko agar tidak ada satu kondisi ekonomi yang mendominasi hasil portofolio.

Investasi yang Berpotensi Mengungguli Saat Resesi

Tidak ada jaminan, tetapi sejarah menunjukkan beberapa sektor dan aset cenderung lebih tangguh:

  • Consumer Staples — orang tetap membeli makanan, produk kebersihan, kebutuhan rumah tangga.

  • Utilities (Utilitas) — listrik, air, dan pemanas tetap dibutuhkan.

  • Healthcare (Kesehatan) — kebutuhan medis tidak berhenti saat ekonomi melemah.

  • Emas — dipandang sebagai penyimpan nilai saat ketidakpastian.

  • Obligasi Treasury AS — dianggap sebagai aset aman global.

Aset-aset ini fokus pada pelestarian nilai, bukan spekulasi—pergeseran penting dalam masa resesi.

Pola Historis: Pelajaran dari Resesi-Resesi Terdahulu

Bagian ini dapat mengulas perbandingan beberapa resesi besar:

  • Dot-Com Bust (2000–2001)

  • Global Financial Crisis (2008–2009)

  • COVID-19 Shock (2020)

7 Tips Teratas untuk Investor Saat Resesi

  1. Kenali sektornya — Sektor siklikal jatuh lebih dalam; sektor defensif lebih bertahan.

  2. Evaluasi neraca keuangan perusahaan — Hindari perusahaan dengan utang besar.

  3. Cari laba yang konsisten — Volatilitas membenci ketidakpastian.

  4. Jangan mengejar yield tinggi — Beberapa dividen tidak berkelanjutan saat ekonomi melemah.

  5. Pertimbangkan dollar-cost averaging — Sebar risiko dari waktu ke waktu.

  6. Waspadai value trap — Harga murah tidak selalu berarti peluang.

  7. Fokus pada jangka panjang — Pasar bisa jatuh, tetapi juga pulih.

Investasi di Masa Resesi: Cara Menghindari Bias Psikologis yang Paling Umum

 

1. Bias Menghindari Kerugian (Loss Aversion)

Kita lebih takut rugi daripada menikmati keuntungan—sering berujung jual panik.

Solusi: Fokus pada fundamental jangka panjang, bukan rasa sakit jangka pendek.

2. Bias Terlalu Fokus pada Tren Terbaru (Recency Bias)

Mengira tren terbaru (misalnya crash) akan terus berlanjut selamanya.

Solusi: Pelajari siklus masa lalu. Pasar turun—dan naik lagi.

3. Bias Mencari Informasi yang Menguatkan Pendapat (Confirmation Bias)

Hanya membaca berita yang sesuai dengan ketakutan kita.

Solusi: Cari sudut pandang yang beragam dan kredibel. Terinformasi, bukan kewalahan.

4. Bias Ikut-Arus Pasar (Herd Mentality)

Mengikuti kerumunan tanpa analisis dapat berakhir mahal dan terlambat.

Solusi: Tetap pada rencana. Jangan berdagang karena judul berita atau sentimen massa.

5. Bias Percaya Diri Berlebihan (Overconfidence Bias)

Terlalu percaya diri mencoba menebak puncak atau dasar pasar.

Solusi: Fokus pada manajemen risiko, bukan menebak waktu pasar.

5 Strategi Investasi Resesi ala Profesional yang Digunakan Legenda Wall Street

1. Ray Dalio – Portofolio All-Weather

Diversifikasi berdasarkan kondisi ekonomi, bukan sekadar kelas aset. Minimalkan korelasi antar instrumen.

2. Warren Buffett – Beli Bisnis Hebat Saat Diskon

Cari perusahaan dengan kas kuat, economic moat yang kokoh, dan kesabaran dalam menunggu valuasi menarik.

3. Peter Lynch – “Know What You Own”

Investasikan pada perusahaan yang benar-benar kamu pahami, dengan pertumbuhan berkelanjutan dan manajemen baik.

4. Howard Marks – Prioritaskan Manajemen Risiko

Fokus pada kualitas kredit, valuasi yang masuk akal, dan hindari spekulasi berlebihan.

5. Benjamin Graham – Nilai Nomor Satu

Gunakan metrik nyata, analisis konservatif, dan aturan ketat untuk margin of safety.

Fakta Menarik tentang Investasi Saat Resesi

  1. Rata-rata resesi AS berlangsung sekitar 10 bulan.

  2. Pasar sering menyentuh titik terendahnya sebelum resesi berakhir.

  3. Harga emas naik lebih dari 25% selama resesi 2001.

  4. Sektor utilitas menjadi salah satu top performer pada 2008.

  5. Crash COVID-19 adalah bear market tercepat dalam sejarah.

  6. Saham dividen sering mengungguli rata-rata pasar saat resesi.

  7. Strategi Ray Dalio lahir dari studi terhadap data finansial ratusan tahun.

  8. Menyimpan kas memberi optionality—kebebasan bergerak saat investor lain tak bisa.

  9. Banyak inovasi besar lahir saat resesi: Airbnb, Uber, WhatsApp.

  10. Kesalahan perilaku investor biasanya lebih merugikan daripada penurunan pasar itu sendiri.

Sejarah Singkat & Milestones

  • 1929–1933: The Great Depression

  • 1973–1975: Guncangan minyak & stagflasi

  • 2001: Dot-com crash & reset teknologi

  • 2008–2009: Global Financial Crisis

  • 2020: Resesi COVID-19 — kejatuhan tercepat dalam catatan modern

Ringkasan

Investasi saat resesi bukan tentang menebak kapan pasar mencapai dasar atau mengejar rebound cepat—ini tentang memahami siklus, mengelola risiko, dan menjaga disiplin ketika ketidakpastian berada di puncaknya. Resesi memang tidak nyaman, terutama bagi investor pemula, tetapi juga membuka peluang: sektor defensif yang lebih tangguh, aset berkualitas yang dihargai lebih rendah, dan kekuatan strategi jangka panjang.

Dalam panduan ini, kita telah membahas penyebab resesi, bagaimana pasar merespons, serta strategi dari para profesional yang terbukti tahan badai. Beberapa tema besar muncul:

  • Diversifikasi menjadi jauh lebih penting.

  • Kontrol emosi sama pentingnya dengan analisis finansial.

  • Sektor defensif dan aset berkualitas biasanya tampil lebih baik.

  • Likuiditas (kas) adalah ruang bernapas strategis, bukan kelemahan.

Legenda seperti Ray Dalio dan Warren Buffett bukan unggul karena menebak arah pasar—melainkan karena mereka mempersiapkan diri, fokus pada fundamental, dan mengikuti kerangka kerja yang disiplin.

Jika ada satu pelajaran utama dari investasi saat resesi, ini dia: Tujuan investor bukan menghindari badai—melainkan melewatinya dengan arah yang jelas, keseimbangan, dan rencana jangka panjang.

Materi pemasaran ini bukan merupakan rekomendasi investasi atau saran strategi investasi. Informasi ini tidak menjamin kinerja atau hasil investasi di masa mendatang. Aktivitas trading melibatkan risiko kerugian finansial yang signifikan, termasuk kemungkinan kehilangan sebagian maupun seluruh modal yang diinvestasikan. Segala keputusan trading sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu.

Gambar berulang yang menampilkan kata ‘FAQ’, menekankan pertanyaan yang sering diajukan.

FAQ

Resesi umumnya didefinisikan sebagai dua kuartal berturut-turut dengan pertumbuhan PDB negatif, tetapi lebih dari itu. Resesi melibatkan perlambatan yang luas dalam aktivitas ekonomi, termasuk kehilangan pekerjaan, penurunan produksi industri, dan penurunan pengeluaran konsumen. Hal ini menandakan fase kontraksi dalam siklus ekonomi.

 

Tidak. Resesi bervariasi dalam penyebab, kedalaman, dan durasinya. Beberapa dipicu oleh krisis keuangan (2008), yang lain oleh guncangan eksternal (pandemi 2020), atau oleh kebijakan bank sentral yang bertujuan mengendalikan inflasi. Setiap resesi memerlukan pendekatan yang berbeda untuk dianalisis.

Saham mencerminkan ekspektasi. Ketika perusahaan memperkirakan penurunan laba dan pertumbuhan, atau ketika ketidakpastian meningkat, investor menyesuaikan harga aset. Aversi risiko meningkat, dan bahkan perusahaan yang kuat pun dapat mengalami penurunan valuasi, meskipun hanya sementara.

 

Bear market = penurunan indeks >20%.
Resesi = kontraksi ekonomi luas.
Keduanya sering berhubungan, tetapi tidak selalu.

 

Tidak selalu. Banyak peluang jangka panjang justru muncul saat resesi. Alih-alih keluar total, banyak investor menyeimbangkan ulang portofolio atau meningkatkan eksposur ke sektor defensif.

 

Ya—dalam porsi yang sehat. Kas memberi stabilitas dan fleksibilitas untuk membeli aset ketika valuasi membaik.

 

Consumer staples, utilities, dan healthcare—karena permintaan tetap stabil meski ekonomi melambat.

 

Bisa—tetapi biasanya melalui kesabaran dan strategi jangka panjang, bukan keuntungan cepat.

 

Value trap = saham tampak murah tetapi fundamentalnya lemah. Banyak saham jatuh saat resesi—tetapi tidak semua akan pulih.

 

Sering kali, ya. Pasar bersifat forward-looking dan dapat pulih sebelum data ekonomi membaik.

 

Pahami bahwa volatilitas adalah hal normal. Jangan cek portofolio setiap hari. Fokus pada rencana jangka panjang dan ingat bahwa siklus pasar selalu berulang.

 

23 menit

Bagaimana Cuaca Mempengaruhi Pasar Biji-bijian Global?

16 menit

Bagaimana Cara Mengendalikan Emosi Saat Berinvestasi?

15 menit

Apa Itu Financial Leverage? Memahami Perannya dalam Trading & Investasi

Bergabunglah dengan lebih dari 2.000.000 investor XTB dari seluruh dunia

Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.
Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.