Baca selengkapnya
Waktu membaca 12 Menit

DCF: Panduan Sederhana Valuasi Saham untuk Investor

Discounted Cash Flow (DCF) adalah metode valuasi absolut yang menghitung nilai intrinsik perusahaan berdasarkan proyeksi arus kas bebas masa depan yang didiskontokan ke nilai kini. Artikel ini membahas konsep dasar DCF, cara menghitung FCF, WACC, dan terminal value, panduan langkah demi langkah membangun model DCF, contoh praktis valuasi perusahaan teknologi, kesalahan umum dalam penerapannya, serta perbandingannya dengan metode valuasi lain.

Discounted Cash Flow (DCF) adalah metode valuasi absolut yang menghitung nilai intrinsik perusahaan berdasarkan proyeksi arus kas bebas masa depan yang didiskontokan ke nilai kini. Artikel ini membahas konsep dasar DCF, cara menghitung FCF, WACC, dan terminal value, panduan langkah demi langkah membangun model DCF, contoh praktis valuasi perusahaan teknologi, kesalahan umum dalam penerapannya, serta perbandingannya dengan metode valuasi lain.

Dapatkan Saham Gratis

Mulai berinvestasi di XTB dengan saham gratis

Cek promonya

Apa yang benar-benar membedakan investor jangka panjang yang sukses dari mereka yang sekadar beruntung? Sering kali jawabannya adalah pemahaman mendalam tentang intrinsic value, dan di sinilah Discounted Cash Flow (DCF) memainkan peran sentralnya. Ini bukan tentang menebak; ini tentang menganalisa potensi masa depan secara sistematis.

Dalam artikel ini akan dibahas konsep dasar dan alasan DCF lebih powerful dari metrik valuasi relatif, komponen utama DCF termasuk Free Cash Flow, WACC, dan terminal value, panduan langkah demi langkah membangun model DCF dari awal, contoh praktis valuasi perusahaan teknologi fiktif, kesalahan umum dalam analisa DCF dan cara menghindarinya, serta perbandingan DCF dengan metode valuasi lain seperti multiples dan DDM.

Daya Tarik Intrinsic Value

Bayangkan membeli jam tangan mewah dengan harga jauh di bawah nilai keahlian dan material aslinya. Itulah impian setiap value investor. Di pasar saham, intrinsic value adalah nilai sejati tersebut, yaitu nilai kini dari semua arus kas masa depan yang diharapkan dihasilkan perusahaan. Ini adalah fondasi di mana keputusan investasi yang solid dibangun.

Ketika pasar volatile seperti di awal pandemi, banyak saham anjlok. Perusahaan dengan fundamental yang kuat dan arus kas yang dapat diprediksi yang diperdagangkan pada harga tertekan menawarkan peluang beli yang luar biasa bagi mereka yang memahami intrinsic value-nya.

Apa Itu Discounted Cash Flow (DCF)?

DCF adalah metode valuasi yang digunakan untuk mengestimasi nilai investasi berdasarkan proyeksi arus kas masa depannya. Konsepnya sederhana: satu dollar yang diterima di masa depan bernilai lebih sedikit dari satu dollar yang diterima hari ini. Mengapa? Karena nilai waktu uang, inflasi, dan opportunity cost dari menginvestasikan dollar tersebut di tempat lain. Maka arus kas masa depan tersebut "didiskontokan" kembali ke nilai kininya.

Bayangkan seseorang menawarkan $100 hari ini atau $100 setahun lagi. Tentu saja ambil hari ini. Bisa diinvestasikan dan menghasilkan bunga, atau digunakan sekarang. DCF membawa semua "janji" kas masa depan itu kembali ke nilai yang relevan bagi investor hari ini.

Mengapa DCF Lebih Powerful dari Rasio P/E

Banyak investor mengandalkan metrik sederhana seperti P/E ratio atau Price-to-Sales. Meskipun berguna untuk perbandingan cepat, ini adalah metrik valuasi relatif. Mereka memberitahu seberapa mahal sebuah saham dibandingkan dengan perusahaan sejenis atau historisnya sendiri, namun tidak memberitahu nilai absolutnya yang berdiri sendiri.

DCF adalah metode valuasi absolut. Ia mencoba menentukan nilai fundamental sebuah bisnis, terlepas dari perbandingan pasar. Ini sangat powerful karena membantu mengidentifikasi situasi di mana pasar salah menilai sebuah aset. Beberapa peluang terbaik dalam investasi sering datang dari situasi di mana persepsi pasar sangat berbeda dari apa yang disarankan model DCF yang ketat.

Komponen Utama DCF

Free Cash Flow (FCF): Inti dari Valuasi

FCF adalah input paling kritis dalam model DCF apapun. Ia merepresentasikan kas yang dihasilkan perusahaan setelah memperhitungkan pengeluaran kas untuk mendukung operasinya dan memelihara aset modalnya. Ini adalah kas yang benar-benar "bebas" untuk didistribusikan kepada investor atau diinvestasikan kembali untuk pertumbuhan masa depan.

Ada beberapa cara menghitung FCF. Pendekatan yang umum adalah:

FCF = Net Income + Beban Non-Kas (Depresiasi & Amortisasi) − Capital Expenditures − Perubahan Modal Kerja

Pendekatan lain, khususnya untuk Unlevered FCF yang biasa digunakan dalam model DCF untuk menilai keseluruhan bisnis sebelum mempertimbangkan struktur modalnya, adalah:

FCF = EBIT × (1 − Tax Rate) + Depresiasi & Amortisasi − Capital Expenditures − Perubahan Modal Kerja

Unlevered FCF ini merepresentasikan kas yang dihasilkan oleh operasi bisnis yang tersedia untuk semua penyedia modal, baik utang maupun ekuitas. Ini adalah ukuran kinerja operasional yang lebih bersih.

Discount Rate: Mencerminkan Risiko dan Peluang

Di sinilah aspek "discounted" dari DCF berperan. Discount rate adalah tingkat yang digunakan untuk membawa arus kas masa depan kembali ke nilai kininya. Ini bukan angka yang dipilih secara acak; ia secara cermat merepresentasikan profil risiko perusahaan dan opportunity cost bagi investor. Perusahaan yang lebih berisiko atau yang beroperasi di industri yang volatil akan memiliki discount rate yang lebih tinggi, yang menghasilkan nilai kini yang lebih rendah untuk arus kas masa depan yang sama.

Weighted Average Cost of Capital (WACC)

Untuk unlevered DCF yang menilai keseluruhan perusahaan, discount rate yang tepat adalah WACC. WACC merata-ratakan biaya sumber pembiayaan perusahaan baik ekuitas maupun utang, dibobot berdasarkan proporsi masing-masing dalam struktur modal perusahaan.

Rumus WACC:

WACC = (Cost of Equity × % Ekuitas) + (Cost of Debt × (1 − Tax Rate) × % Utang)

Komponen-komponen WACC:

Cost of Equity biasanya dihitung menggunakan Capital Asset Pricing Model (CAPM):

Cost of Equity = Risk-Free Rate + Beta × Market Risk Premium

Risk-free rate umumnya adalah yield obligasi pemerintah jangka panjang seperti U.S. Treasury 10-tahun. Beta mengukur volatilitas saham relatif terhadap pasar. Market risk premium adalah return pasar yang diharapkan di atas risk-free rate, sering diestimasi antara 5-7%.

Cost of Debt adalah suku bunga yang dibayar perusahaan atas pinjamannya, disesuaikan untuk tax shield karena pembayaran bunga dapat dikurangkan dari pajak:

Cost of Debt (after-tax) = Suku Bunga × (1 − Tax Rate)

% Ekuitas dan % Utang adalah nilai pasar ekuitas dan utang relatif terhadap total nilai pasar modal perusahaan.

Perlu diingat bahwa kesalahan hanya 1% dalam WACC bisa mengubah valuasi sebesar 10-20%, tergantung pada panjang periode proyeksi dan besarnya arus kas.

Terminal Value: Melihat Melampaui Cakrawala

Perusahaan diasumsikan beroperasi tanpa batas, namun memproyeksikan FCF selama 30 tahun atau lebih tidak praktis dan sangat tidak pasti. Di sinilah Terminal Value (TV) berperan. Ia merepresentasikan nilai semua arus kas setelah periode proyeksi eksplisit biasanya 5-10 tahun hingga perpetuitas. Terminal Value sering mencakup porsi yang signifikan, terkadang 50-80%, dari total intrinsic value.

Metode yang paling umum adalah Gordon Growth Model:

Terminal Value = FCF tahun terakhir × (1 + g) / (WACC − g)

Di mana "g" adalah tingkat pertumbuhan perpetual yang merepresentasikan tingkat pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan dari arus kas perusahaan. "g" ini harus berupa tingkat pertumbuhan yang moderat, umumnya tidak melebihi tingkat pertumbuhan jangka panjang ekonomi secara keseluruhan, sekitar 2-3% untuk ekonomi yang sudah berkembang. Sebuah perusahaan tidak bisa tumbuh lebih cepat dari ekonomi selamanya tanpa pada akhirnya menjadi seluruh ekonomi itu sendiri. Bersikaplah realistis dengan "g" karena tingkat pertumbuhan yang terlalu optimistis bisa mendistorsi valuasi secara signifikan.

Panduan Langkah demi Langkah Membangun Model DCF

Langkah 1: Proyeksikan Free Cash Flow

Ini adalah bagian yang paling menantang dan subjektif dari model. Proyeksikan item-item kunci dari laporan keuangan perusahaan untuk 5-10 tahun ke depan.

  • Pertumbuhan revenue: Teliti tren industri, panduan manajemen, dan kinerja historis. Untuk perusahaan yang sudah matang, tingkat pertumbuhan 3-5% mungkin tepat, sementara perusahaan software yang berkembang pesat bisa mencapai 20-30% atau lebih.
  • Operating margin: Seberapa efisien perusahaan? Apakah margin diharapkan melebar atau menyempit akibat persaingan, economies of scale, atau peluncuran produk baru?
  • Capital Expenditures: Berapa banyak yang perlu dikeluarkan perusahaan untuk memelihara dan menumbuhkan basis asetnya? Lihat CapEx historis sebagai persentase dari revenue.
  • Modal Kerja: Analisa tren pada piutang usaha, inventaris, dan utang usaha. Apakah perusahaan semakin efisien dalam mengelola aset dan liabilitas jangka pendeknya?

Jangan sekadar memasukkan rata-rata historis. Cari tren, rencana manajemen, dan pergeseran kompetitif.

Langkah 2: Hitung Discount Rate (WACC)

Berikut pendekatan praktis untuk mendapatkan angka yang dibutuhkan:

  • Risk-Free Rate: Cari yield terkini pada obligasi pemerintah 10-tahun. Misalnya, jika yield U.S. Treasury 10-tahun adalah 4,0%, gunakan angka tersebut.
  • Market Risk Premium: Asumsikan 5,5% berdasarkan data yang tersedia dari sumber seperti Damodaran Online oleh NYU Stern.
  • Beta: Temukan beta perusahaan di penyedia data keuangan. Misalkan beta perusahaan kita adalah 1,2.
  • Cost of Equity (CAPM): 4,0% + (1,2 × 5,5%) = 4,0% + 6,6% = 10,6%
  • Cost of Debt: Misalkan perusahaan membayar 6,0% atas utangnya.
  • Tax Rate: Gunakan effective tax rate perusahaan dari laporan keuangannya. Asumsikan 22%.
  • After-Tax Cost of Debt: 6,0% × (1 − 0,22) = 4,68%
  • Pembobotan: Misalkan Ekuitas $500 juta dan Utang $200 juta, Total Modal $700 juta. % Ekuitas = 71,4%, % Utang = 28,6%
  • WACC: (10,6% × 0,714) + (4,68% × 0,286) = 7,57% + 1,34% = 8,91%

Langkah 3: Estimasikan Terminal Value

Misalkan periode proyeksi eksplisit adalah 5 tahun dan FCF di Tahun 5 diproyeksikan $100 juta. Dengan tingkat pertumbuhan perpetual konservatif sebesar 2,5%:

Terminal Value = $100 juta × (1 + 0,025) / (0,0891 − 0,025) = $102,5 juta / 0,0641 = $1.599 juta

Langkah 4: Hitung Enterprise Value

Diskontokan FCF yang diproyeksikan untuk setiap tahun dan Terminal Value kembali ke nilai kini menggunakan WACC 8,91%:

  • FCF Tahun 1: $70 juta / (1,0891)¹ = $64,27 juta
  • FCF Tahun 2: $80 juta / (1,0891)² = $67,36 juta
  • FCF Tahun 3: $90 juta / (1,0891)³ = $69,75 juta
  • FCF Tahun 4: $95 juta / (1,0891)⁴ = $67,57 juta
  • FCF Tahun 5: $100 juta / (1,0891)⁵ = $65,05 juta
  • PV Terminal Value: $1.599 juta / (1,0891)⁵ = $1.038,56 juta

Total Enterprise Value (TEV) = $64,27 + $67,36 + $69,75 + $67,57 + $65,05 + $1.038,56 = $1.372,56 juta

Langkah 5: Hitung Equity Value dan Harga Per Saham

Enterprise Value merepresentasikan nilai seluruh bisnis yang dapat diklaim oleh pemegang utang dan ekuitas. Untuk mendapatkan Equity Value yang merupakan milik pemegang saham:

Equity Value = Enterprise Value − Total Utang + Kas & Setara Kas

Dengan asumsi utang $200 juta dan kas $50 juta:

Equity Value = $1.372,56 juta − $200 juta + $50 juta = $1.222,56 juta

Dengan 100 juta saham beredar:

Intrinsic Value Per Saham = $1.222,56 juta / 100 juta saham = $12,23 per saham

Jika harga pasar saat ini adalah $10,00, model DCF mengindikasikan saham undervalued sebesar $2,23 per saham, merepresentasikan potensi upside sebesar 22,3%. Inilah insight inti yang diberikan DCF.

Contoh Praktis: Valuasi "InnovateTech Inc."

Bayangkan "InnovateTech Inc.", perusahaan software kelas menengah dengan moat yang kuat melalui algoritma AI yang dipatenkan dan pertumbuhan revenue 15% year-over-year. Harga saham saat ini $30 dengan 50 juta saham beredar.

Asumsi:

  • FCF tumbuh dari $50 juta di Tahun 1 hingga $110 juta di Tahun 5
  • WACC: 9,5% (mencerminkan risiko pertumbuhan yang lebih tinggi)
  • Tingkat pertumbuhan jangka panjang untuk terminal value: 2,0%

Perhitungan:

  • PV FCF Tahun 1 ($50 juta): ~$45,66 juta
  • PV FCF Tahun 5 ($110 juta): ~$70,19 juta
  • Terminal Value di Tahun 5: ($110 juta × 1,02) / (0,095 − 0,02) = $112,2 juta / 0,075 = $1.496 juta
  • PV Terminal Value: $1.496 juta / (1,095)⁵ = $950,4 juta
  • Total Enterprise Value setelah menjumlahkan semua PV FCF: ~$1.200 juta

Penyesuaian: InnovateTech memiliki utang $100 juta dan kas $75 juta.

Equity Value = $1.200 juta − $100 juta + $75 juta = $1.175 juta

Per Saham: $1.175 juta / 50 juta saham = $23,50 per saham

Dalam contoh ini, model DCF mengindikasikan intrinsic value InnovateTech adalah $23,50 per saham, secara signifikan lebih rendah dari harga pasar $30. Ini mengindikasikan saham berpotensi overvalued.

Kesalahan Umum dalam Analisa DCF

Proyeksi yang Terlalu Optimistis

Ini mungkin kesalahan yang paling sering terjadi. Analis, sering dipengaruhi oleh outlook optimistis manajemen atau antusiasme mereka sendiri, cenderung memproyeksikan tingkat pertumbuhan revenue yang tidak realistis atau ekspansi margin jauh ke masa depan. Perlu diingat bahwa gravitasi juga berlaku bagi pertumbuhan bisnis. Sebagai aturan umum, asumsikan bahwa dalam jangka panjang tingkat pertumbuhan perusahaan akan mengarah ke tingkat pertumbuhan GDP di pasar operasionalnya.

Discount Rate yang Tidak Tepat

Perubahan kecil dalam WACC bisa memiliki dampak yang sangat besar pada valuasi. Meremehkan risiko dengan menggunakan WACC yang lebih rendah menghasilkan valuasi yang terlalu tinggi. Sebaliknya, melebih-lebihkan risiko bisa menghasilkan undervaluation. Pastikan WACC mencerminkan profil risiko spesifik perusahaan yang dianalisa, bukan sekadar rata-rata industri.

Mengabaikan Sensitivity Analysis

Model DCF bukan jawaban tunggal yang definitif; ia adalah sebuah rentang. Selalu lakukan sensitivity analysis dengan mengubah variabel kunci seperti pertumbuhan revenue, operating margin, discount rate, dan tingkat pertumbuhan terminal untuk melihat bagaimana pengaruhnya pada valuasi akhir. Misalnya, perubahan 1% pada terminal growth rate bisa mengubah valuasi sebesar 15-20%.

Mengabaikan Faktor Kualitatif

Meskipun DCF bersifat kuantitatif, jangan lupakan aspek kualitatif bisnis. Tim manajemen yang kuat, merek yang powerful, keunggulan kompetitif, angin segar atau hambatan industri, dan perubahan regulasi semuanya dapat berdampak signifikan pada arus kas masa depan perusahaan meskipun tidak secara eksplisit muncul dalam spreadsheet. Model DCF hanya sebaik asumsi yang dimasukkan ke dalamnya.

DCF vs Metode Valuasi Lainnya

DCF vs Multiples (P/E, EV/EBITDA)

DCF menggunakan metodologi valuasi absolut berbasis proyeksi FCF, discount rate, dan terminal growth. Fundamental, forward-looking, dan kurang dipengaruhi sentimen pasar, namun sangat sensitif terhadap asumsi dan kompleks untuk diterapkan pada perusahaan tahap awal. Paling cocok untuk perusahaan matang dengan arus kas stabil dan analisa M&A.

Multiples menggunakan metodologi valuasi relatif yang membandingkan perusahaan dengan peers menggunakan data earnings, EBITDA, atau revenue. Cepat, mudah dihitung, dan mencerminkan sentimen pasar, namun bergantung pada sentimen pasar dan mengasumsikan perusahaan pembanding benar-benar sebanding. Paling cocok untuk screening cepat dan benchmark valuasi perusahaan swasta.

DCF vs Dividend Discount Model (DDM)

DDM adalah bentuk spesifik dari DCF yang khusus cocok untuk perusahaan yang membayar dividen secara konsisten dan dapat diprediksi. Ia mendiskontokan dividen masa depan yang diharapkan ke nilai kini. Namun banyak perusahaan growth yang tidak membayar dividen atau hanya membayar sedikit, membuat DDM tidak cocok untuk kasus tersebut. Untuk perusahaan-perusahaan ini, FCF adalah ukuran penciptaan nilai yang jauh lebih baik.

Kapan Menggunakan DCF dan Kapan Tidak

Gunakan DCF ketika:

  • Menilai perusahaan yang sudah matang dengan arus kas yang stabil dan dapat diprediksi seperti utilitas, consumer staples, dan industrial blue-chip
  • Melakukan valuasi perusahaan swasta di mana multiples bisa langka atau kurang andal
  • Menganalisa potensi akuisisi untuk menentukan berapa yang bisa dibayar berdasarkan kemampuan menghasilkan kas masa depan
  • Berinvestasi dengan horizon jangka panjang yang selaras dengan perspektif fundamental

Gunakan dengan hati-hati atau hindari DCF ketika:

  • Menilai startup tahap awal atau perusahaan dengan FCF negatif karena proyeksi menjadi sangat spekulatif
  • Perusahaan berada di industri yang sangat volatil atau berubah cepat di mana prediksi arus kas jangka panjang menjadi tebakan
  • Perusahaan sedang dalam restrukturisasi besar atau akuisisi di mana pola historis tidak relevan
  • Perusahaan memiliki struktur modal yang kompleks atau arus kas yang tidak teratur

Pertimbangan Regulasi

Meskipun DCF adalah alat analisis internal bagi investor, perusahaan yang diperdagangkan secara publik dan institusi keuangan beroperasi di bawah lingkungan regulasi yang ketat. Standar pelaporan keuangan seperti GAAP dan IFRS memastikan konsistensi dalam pencatatan revenue, beban, dan capital expenditures, yang pada gilirannya menyediakan data mentah untuk perhitungan FCF. Memahami standar-standar ini sangat penting untuk model DCF yang robust.

"Investor yang cerdas adalah seorang realis yang menjual kepada optimis dan membeli dari pesimis." — Benjamin Graham, bapak value investing

Kesimpulan

Di dunia di mana algoritma berdagang dengan kecepatan cahaya dan berita membangkitkan respons emosional, menguasai DCF memberikan keunggulan strategis. Ia memungkinkan untuk menembus kebisingan pasar, mengidentifikasi nilai mendasar perusahaan, dan membuat keputusan investasi berdasarkan analisa yang solid bukan spekulasi.

Meskipun pasar mungkin berfluktuasi dalam jangka pendek, intrinsic value perusahaan yang dikelola dengan baik dengan arus kas yang kuat cenderung menegaskan dirinya sendiri dari waktu ke waktu. DCF membantu menemukan peluang-peluang tersebut. Ini bukan tentang benar 100% sepanjang waktu, melainkan tentang secara konsisten membuat keputusan yang terinformasi dan logis yang meningkatkan peluang keberhasilan jangka panjang.

Dapatkan Saham Gratis

Mulai berinvestasi di XTB dengan saham gratis

Cek promonya

FAQ

DCF adalah metode valuasi absolut yang mengestimasi intrinsic value perusahaan berdasarkan proyeksi arus kas masa depan, terlepas dari perbandingan pasar. P/E ratio adalah metrik valuasi relatif yang membandingkan harga saham dengan laba per saham, menunjukkan seberapa mahal saham relatif terhadap perusahaan sejenis. DCF memberikan gambaran nilai fundamental yang lebih menyeluruh, sementara P/E berguna untuk perbandingan cepat.

Umumnya 5-10 tahun untuk periode proyeksi eksplisit. Setelah itu, terminal value digunakan untuk mengestimasi nilai semua arus kas berikutnya hingga perpetuitas. Semakin jauh proyeksi, semakin besar ketidakpastiannya. Untuk perusahaan yang sangat stabil dan dapat diprediksi, proyeksi 10 tahun mungkin tepat; untuk yang lebih dinamis, 5 tahun dengan asumsi yang lebih konservatif bisa lebih andal.

Karena terminal value merepresentasikan nilai semua arus kas dari akhir periode proyeksi eksplisit hingga selamanya. Bahkan dengan discount rate yang cukup tinggi, nilai perpetuitas dari arus kas yang terus tumbuh secara moderat bisa sangat besar. Inilah mengapa pemilihan tingkat pertumbuhan perpetual "g" yang realistis dan konservatif sangat krusial dalam model DCF.

Sensitivity analysis adalah proses mengubah asumsi-asumsi kunci dalam model DCF, seperti growth rate, WACC, dan terminal growth rate, untuk melihat bagaimana perubahan tersebut mempengaruhi valuasi akhir. Ini penting karena model DCF sangat sensitif terhadap inputnya. Dengan melakukan sensitivity analysis, bisa dipahami rentang kemungkinan hasil dan asumsi mana yang paling berdampak pada valuasi.

Dengan sangat hati-hati. Startup dengan FCF negatif dan jalur pertumbuhan yang sangat tidak pasti membuat proyeksi arus kas menjadi sangat spekulatif, yang pada akhirnya mengurangi keandalan model DCF. Untuk perusahaan semacam ini, metrik operasional spesifik seperti customer acquisition cost, recurring revenue, dan burn rate sering lebih informatif daripada DCF.

5 menit

Pelajari lebih lanjut tentang Investasi Aktif dan Pasif

18 menit

Cara Memulai Investasi di Saham Media

16 menit

Keuntungan dan Kerugian Investasi Jangka Panjang

Materi pemasaran ini bukan merupakan rekomendasi investasi atau saran strategi investasi. Informasi ini tidak menjamin kinerja atau hasil investasi di masa mendatang. Aktivitas trading melibatkan risiko kerugian finansial yang signifikan, termasuk kemungkinan kehilangan sebagian maupun seluruh modal yang diinvestasikan. Segala keputusan trading sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu.

Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.
Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.