Waktu membaca 7 Menit

Rumus EPS: Mengukur Laba Per Saham dengan Tepat

Rumus EPS digunakan untuk menghitung berapa laba perusahaan yang tersedia untuk setiap lembar saham biasa. Perhitungannya menggunakan laba bersih yang tersedia bagi pemegang saham biasa dan weighted average shares outstanding. EPS membantu investor membandingkan profitabilitas perusahaan, tetapi tetap perlu dibaca bersama kualitas laba, perubahan jumlah saham, dan metrik fundamental lain.

Rumus EPS digunakan untuk menghitung berapa laba perusahaan yang tersedia untuk setiap lembar saham biasa. Perhitungannya menggunakan laba bersih yang tersedia bagi pemegang saham biasa dan weighted average shares outstanding. EPS membantu investor membandingkan profitabilitas perusahaan, tetapi tetap perlu dibaca bersama kualitas laba, perubahan jumlah saham, dan metrik fundamental lain.

Rumus EPS adalah laba bersih yang tersedia bagi pemegang saham biasa dibagi dengan rata-rata tertimbang jumlah saham biasa yang beredar. Earnings Per Share atau EPS menunjukkan berapa besar laba perusahaan yang secara teoritis dapat dikaitkan dengan setiap lembar saham biasa selama suatu periode.

Secara sederhana, rumusnya adalah:

EPS = (Laba Bersih − Dividen Saham Preferen) ÷ Rata-Rata Tertimbang Saham Beredar

Angka ini membuat laba perusahaan lebih mudah dibandingkan dalam basis per saham. Namun, EPS tidak cukup dibaca hanya dari hasil akhirnya karena perubahan laba, penerbitan saham baru, buyback, maupun instrumen yang berpotensi menambah jumlah saham dapat memengaruhi hasil perhitungan.

Poin Penting

  • Rumus EPS mengukur laba perusahaan dalam basis per lembar saham biasa.
  • Pembilangnya menggunakan laba yang tersedia bagi pemegang saham biasa, bukan selalu total laba bersih.
  • Penyebutnya menggunakan weighted average shares outstanding, bukan sekadar jumlah saham pada akhir periode.
  • Basic EPS menggunakan saham biasa yang sudah beredar, sedangkan diluted EPS memperhitungkan potensi penambahan saham.
  • EPS yang naik belum tentu selalu berasal dari pertumbuhan laba karena buyback dapat mengurangi jumlah saham beredar.
  • One-time gain, impairment, dan perubahan akuntansi dapat membuat EPS terlihat lebih tinggi atau lebih rendah dari kinerja operasi sebenarnya.

Bagaimana Rumus EPS Bekerja?

Earnings Per Share atau EPS adalah rasio profitabilitas yang menunjukkan laba perusahaan dalam basis per saham. Daripada hanya melihat laba bersih sebesar miliaran atau triliunan rupiah, EPS membantu investor memahami seberapa besar laba yang tersedia untuk setiap lembar saham.

EPS juga berguna untuk membandingkan perkembangan perusahaan dari waktu ke waktu. Jika laba per saham tumbuh konsisten, hal tersebut dapat menunjukkan bahwa perusahaan menghasilkan laba yang lebih besar relatif terhadap jumlah saham yang beredar.

Namun, EPS bukan ukuran valuasi secara langsung. Angka ini lebih tepat digunakan untuk membaca profitabilitas per saham, kemudian dikombinasikan dengan metrik lain seperti pertumbuhan pendapatan, margin, arus kas, dan rasio valuasi.

Komponen Utama Rumus EPS

Rumus EPS terdiri dari dua komponen utama:

  • Laba yang tersedia bagi pemegang saham biasa. Perhitungan dimulai dari laba bersih perusahaan. Jika terdapat dividen untuk saham preferen, jumlah tersebut perlu dikurangkan karena EPS ditujukan untuk mengukur laba yang tersedia bagi pemegang saham biasa.
  • Weighted average shares outstanding. Ini adalah rata-rata tertimbang jumlah saham biasa yang beredar selama periode pelaporan. Jumlah ini mempertimbangkan kapan saham baru diterbitkan atau kapan perusahaan melakukan buyback.

Penggunaan weighted average penting karena jumlah saham perusahaan dapat berubah sepanjang tahun. Menggunakan jumlah saham pada akhir periode saja dapat menghasilkan EPS yang tidak mencerminkan kondisi selama keseluruhan periode.

Tahukah Anda?
EPS dapat meningkat meskipun laba perusahaan tidak bertambah. Jika perusahaan melakukan buyback dan mengurangi jumlah saham yang beredar, laba yang sama akan dibagi ke jumlah saham yang lebih sedikit sehingga EPS dapat naik. Karena itu, investor sebaiknya memeriksa apakah pertumbuhan EPS berasal dari kenaikan laba, penurunan jumlah saham, atau kombinasi keduanya.

Cara Menghitung EPS: Basic EPS dan Diluted EPS

Dalam laporan keuangan, investor biasanya menemukan dua jenis EPS, yaitu basic EPS dan diluted EPS. Keduanya menggunakan prinsip yang sama, tetapi berbeda dalam memperhitungkan potensi perubahan jumlah saham.

Basic EPS

Basic EPS menghitung laba per saham berdasarkan saham biasa yang benar-benar beredar selama periode tersebut.

Rumusnya:

Basic EPS = (Laba Bersih − Dividen Saham Preferen) ÷ Weighted Average Shares Outstanding

Misalnya, sebuah perusahaan menghasilkan laba bersih Rp200 miliar dan membayar dividen saham preferen Rp20 miliar. Jika weighted average saham biasa yang beredar adalah 100 juta lembar, maka:

Basic EPS = Rp180 miliar ÷ 100 juta = Rp1.800 per saham

Artinya, perusahaan menghasilkan laba sebesar Rp1.800 untuk setiap lembar saham biasa berdasarkan struktur saham selama periode tersebut.

Contoh
Misalkan PT Maju Bersama menghasilkan laba yang tersedia bagi pemegang saham biasa sebesar Rp120 miliar. Selama enam bulan pertama terdapat 10 juta saham beredar, kemudian perusahaan menerbitkan 2 juta saham baru untuk enam bulan berikutnya. Weighted average shares menjadi 11 juta saham, sehingga EPS sekitar Rp10.909 per saham, bukan Rp10.000 yang akan muncul jika hanya menggunakan 12 juta saham pada akhir periode.

Contoh tersebut menunjukkan mengapa denominator dalam rumus EPS perlu diperhatikan. Jumlah saham baru tidak seharusnya dianggap telah beredar sepanjang tahun jika penerbitannya baru terjadi di tengah periode.

Diluted EPS

Diluted EPS memperhitungkan potensi saham tambahan yang dapat muncul dari instrumen seperti stock options, warrants, atau convertible securities. Tujuannya adalah memberikan gambaran yang lebih konservatif mengenai laba per saham jika instrumen tersebut dikonversi menjadi saham biasa.

Secara umum:

  • Jika basic EPS dan diluted EPS hampir sama, potensi dilusi relatif terbatas.
  • Jika diluted EPS jauh lebih rendah, terdapat potensi peningkatan jumlah saham yang cukup signifikan.
  • Investor sebaiknya melihat keduanya, terutama pada perusahaan yang memiliki banyak stock-based compensation atau instrumen konversi.

Diluted EPS bukan berarti saham tambahan tersebut pasti diterbitkan. Angka ini menunjukkan potensi dampaknya apabila sekuritas yang bersifat dilutif berubah menjadi saham biasa.

https://www.xtb.com/id/education/price-earning-ratio-adalah-cara-membaca-valuasi-saham
 

Cara Membaca EPS dalam Analisis Saham

EPS paling berguna ketika dianalisis sebagai tren, bukan hanya sebagai satu angka. Investor dapat membandingkan EPS kuartalan atau tahunan untuk melihat apakah profitabilitas per saham berkembang, stagnan, atau menurun. Namun perubahan tersebut tetap perlu ditelusuri sumbernya.

Beberapa hal yang perlu diperiksa saat membaca EPS:

  • Pertumbuhan laba bersih. Apakah EPS naik karena bisnis menghasilkan laba lebih besar?
  • Perubahan jumlah saham. Apakah buyback atau penerbitan saham baru ikut memengaruhi EPS?
  • Basic vs diluted EPS. Apakah terdapat potensi dilusi yang besar?
  • One-time items. Apakah laba didorong penjualan aset, settlement, atau keuntungan yang tidak berulang?
  • Margin operasi. Apakah pertumbuhan EPS diikuti perbaikan profitabilitas bisnis?
  • Arus kas. Apakah laba yang dilaporkan juga tercermin dalam operating cash flow?

Pendekatan ini membantu membedakan pertumbuhan EPS yang berasal dari perkembangan bisnis dengan pertumbuhan yang lebih banyak dipengaruhi perubahan struktur modal.

Mengapa Jumlah Saham Bisa Mengubah EPS?

Jumlah saham yang beredar memiliki dampak langsung terhadap EPS karena berada di bagian penyebut rumus. Jika perusahaan menerbitkan lebih banyak saham tetapi laba tidak tumbuh sebanding, EPS dapat menurun. Kondisi ini sering disebut share dilution karena laba perusahaan dibagi ke jumlah saham yang lebih besar.

Sebaliknya, buyback dapat mengurangi jumlah saham beredar. Dengan laba yang sama, denominator yang lebih kecil dapat mendorong EPS menjadi lebih tinggi. Karena itu, pertumbuhan EPS sebaiknya selalu dibandingkan dengan pertumbuhan laba bersih dan tren share count.

Perhatian
EPS yang tinggi atau meningkat tidak otomatis berarti perusahaan memiliki fundamental yang lebih baik. One-time gain, penjualan aset, perubahan pajak, buyback, atau perubahan metode akuntansi dapat memengaruhi EPS tanpa mencerminkan peningkatan kinerja operasional yang berkelanjutan. Investor tetap perlu membaca sumber laba dan catatan laporan keuangan.

Kesalahan Umum Saat Menggunakan Rumus EPS

Salah satu kesalahan paling umum adalah membandingkan EPS perusahaan yang bergerak di industri berbeda tanpa melihat karakter bisnisnya. EPS Rp5.000 pada satu perusahaan tidak otomatis lebih baik daripada EPS Rp500 pada perusahaan lain karena jumlah saham dan harga sahamnya dapat sangat berbeda. Kesalahan lain adalah hanya melihat basic EPS. Pada perusahaan dengan banyak opsi saham atau convertible securities, diluted EPS dapat memberikan gambaran yang lebih realistis mengenai potensi laba per saham.

Investor juga perlu berhati-hati terhadap laba yang tidak berulang. Penjualan aset besar dapat meningkatkan net income dan EPS untuk satu periode, tetapi belum tentu dapat diulang pada periode berikutnya.

Untuk melakukan pengecekan, beberapa bagian laporan keuangan yang dapat diperhatikan antara lain:

  • Laporan laba rugi, untuk melihat laba bersih.
  • Laporan perubahan ekuitas, untuk memahami perubahan jumlah saham.
  • Catatan laporan keuangan, untuk mencari detail weighted average shares dan diluted securities.
  • Laporan arus kas, untuk membandingkan laba dengan kas dari aktivitas operasi.
  • Segment reporting, untuk melihat sumber pertumbuhan laba.

Dengan demikian, rumus EPS sebaiknya menjadi titik awal analisis, bukan kesimpulan akhir.

Mengapa EPS Penting untuk Valuasi Saham?

EPS sering menjadi dasar beberapa rasio valuasi, terutama Price-to-Earnings Ratio atau P/E Ratio. Rasio ini membandingkan harga saham dengan laba per saham perusahaan.

Karena itu, kualitas EPS akan ikut menentukan kualitas analisis valuasi. Jika EPS sementara meningkat akibat keuntungan non-operasional, P/E dapat terlihat lebih rendah meskipun profitabilitas normal perusahaan sebenarnya tidak berubah.

Investor juga dapat memperhatikan EPS growth untuk memahami seberapa cepat laba per saham berkembang. Namun pertumbuhan historis tidak menjamin pertumbuhan serupa akan terjadi di masa depan.

EPS menjadi lebih berguna ketika dibaca bersama revenue growth, margin, free cash flow, tingkat utang, dan prospek industri. Kombinasi beberapa metrik memberikan gambaran yang lebih utuh daripada mengandalkan satu angka.

Kesimpulan

Rumus EPS menghitung laba yang tersedia bagi pemegang saham biasa dengan membaginya terhadap weighted average jumlah saham biasa yang beredar. Metrik ini membantu investor memahami profitabilitas perusahaan dalam basis per saham dan membandingkan perkembangannya dari satu periode ke periode berikutnya.

Basic EPS menunjukkan kondisi berdasarkan saham yang saat ini beredar, sedangkan diluted EPS memasukkan potensi penambahan saham dari instrumen yang dapat dikonversi. Perbedaan keduanya dapat membantu investor mengidentifikasi potensi dilusi.

Namun EPS tidak sebaiknya digunakan sendirian. Memahami sumber laba, perubahan jumlah saham, one-time items, arus kas, dan kualitas operasional tetap penting agar angka EPS tidak menghasilkan kesimpulan yang terlalu sederhana.

Dapatkan Reward hingga $25

Ada reward khusus pengguna baru saat buka rekening, deposit & transaksi di XTB!

Ambil rewardnya!

FAQ

Rumus EPS adalah (laba bersih − dividen saham preferen) dibagi weighted average jumlah saham biasa yang beredar. Hasilnya menunjukkan laba perusahaan yang tersedia untuk setiap lembar saham biasa.

Basic EPS menggunakan jumlah saham biasa yang telah beredar, sedangkan diluted EPS memasukkan potensi tambahan saham dari instrumen seperti options, warrants, atau convertible securities. Diluted EPS biasanya sama atau lebih rendah daripada basic EPS.

Weighted average digunakan karena jumlah saham perusahaan dapat berubah selama periode pelaporan. Metode ini memperhitungkan berapa lama setiap saham beredar sehingga EPS tidak terdistorsi oleh penerbitan saham atau buyback di tengah periode.

Tidak selalu. EPS tinggi menunjukkan laba per saham yang besar, tetapi belum menjelaskan valuasi, kualitas laba, pertumbuhan, utang, atau prospek perusahaan. EPS sebaiknya dianalisis bersama metrik fundamental lainnya.

EPS dapat turun jika jumlah saham beredar meningkat lebih cepat daripada pertumbuhan laba. Penerbitan saham baru atau konversi instrumen menjadi saham biasa dapat membuat laba dibagi ke lebih banyak saham sehingga EPS menurun.

8 menit

Apakah Saham Netflix Masih Menarik saat Pertumbuhan Melambat?

14 menit

Apa Itu Analisis Fundamental? Cara Menilai Sebuah Aset

10 menit

Dividend Payout Ratio: Seberapa Aman Dividen Saham?

Materi pemasaran ini bukan merupakan rekomendasi investasi atau saran strategi investasi. Informasi ini tidak menjamin kinerja atau hasil investasi di masa mendatang. Aktivitas trading melibatkan risiko kerugian finansial yang signifikan, termasuk kemungkinan kehilangan sebagian maupun seluruh modal yang diinvestasikan. Segala keputusan trading sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu.

Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.
Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.