-
Pekan perdagangan berakhir dengan ketegangan yang meningkat setelah Mahkamah Agung AS memutuskan untuk membatalkan sebagian tarif yang sebelumnya diberlakukan terhadap sejumlah negara.
-
Donald Trump memulai konferensi pers untuk mengomentari keputusan tersebut.
-
Presiden Donald Trump mempertimbangkan penerapan tarif umum baru terhadap mitra dagang AS setelah putusan Mahkamah Agung yang membatalkan sebagian besar tarif berbasis IEEPA. Menurut New York Times, pemerintahan berencana menggunakan regulasi perdagangan lain untuk menghindari dampak keputusan tersebut dan mempertahankan tekanan terhadap impor. Trump menegaskan bahwa alternatif lain akan digunakan untuk tarif dan menyebutkan Trade Expansion Act of 1962 (Section 232 terkait keamanan nasional), menandakan kelanjutan kebijakan proteksionis meskipun menghadapi hambatan hukum dan meningkatnya ketidakpastian pasar.
-
Trump mengusulkan tarif 10% setelah Mahkamah Agung membatalkan tarif sebelumnya.
-
Ia mengumumkan tarif global 10% yang akan diberlakukan selama lima bulan, di luar tarif lain yang masih berlaku berdasarkan Section 232 dan 301.
-
Trump menyatakan tarif 10% tersebut dapat berlaku dalam tiga hari.
-
Ia juga mengancam tarif 15–30% terhadap mobil impor guna melindungi industri otomotif AS, serta tarif 20% atas impor dari China terkait isu fentanyl. Pengumuman ini merupakan bagian dari strategi lebih luas untuk mengatasi putusan Mahkamah Agung melalui instrumen hukum perdagangan lainnya.
-
Ketika ditanya mengenai kewajiban pengembalian miliaran dolar dari tarif yang dibatalkan, Trump menyatakan bahwa proses hukum dapat berlangsung bertahun-tahun. Importir kemungkinan akan menggugat di Pengadilan Perdagangan AS, sementara pemerintah dapat menunda proses melalui jalur administratif atau klaim kekebalan kedaulatan, menciptakan periode ketidakpastian hukum yang panjang.
-
Meskipun demikian, Wall Street mencatat kenaikan, sementara dolar AS tetap berada di bawah tekanan dan menjadi salah satu mata uang dengan kinerja terburuk. Dolar Australia menunjukkan penguatan signifikan.
-
Pertumbuhan ekonomi AS melambat tajam pada kuartal keempat 2025, turun dari 4,4% menjadi 1,4%. Sekilas, perlambatan ini disertai kejutan inflasi dapat mengindikasikan risiko stagflasi. Namun, rincian laporan BEA menunjukkan fondasi yang masih cukup solid meskipun kebijakan perdagangan Gedung Putih menjadi sorotan.
-
Data PMI juga lebih lemah dari ekspektasi, memperkuat kombinasi pertumbuhan melambat dan inflasi yang lebih persisten. Namun, sebagian pelemahan ini kemungkinan dipengaruhi faktor sementara seperti penutupan pemerintahan, bukan kondisi fundamental ekonomi secara menyeluruh.
-
SIlver naik 5% dan menembus 82,7 USD per ons, sementara emas menguat 1,4% dan bertahan di atas USD 5.000 per ons. Ketegangan geopolitik terkait Iran, negosiasi Ukraina–Rusia yang buntu, serta ketidakstabilan global mendorong investor beralih ke aset lindung nilai.
-
Di Eropa, indeks PMI komposit zona euro naik ke 51,9 pada Februari, tertinggi dalam tiga bulan. Sektor manufaktur mencapai level tertinggi dalam 44 bulan (50,8), menjadi pendorong pertumbuhan. Pesanan meningkat, meskipun lapangan kerja sedikit menurun. Biaya produksi naik pada laju tercepat dalam hampir tiga tahun, sementara harga jual melambat dan optimisme bisnis membaik.
-
Saham Moncler melonjak 13% setelah hasil keuangan melampaui ekspektasi. Pertumbuhan didorong oleh Asia (+11%) dan kinerja kuat merek Moncler serta Stone Island. Pendapatan (€3,13 miliar) dan dividen (€1,40) melebihi perkiraan, meningkatkan sentimen di sektor barang mewah Eropa seperti LVMH dan Hermes.
Tiga Pasar Kunci Pekan Depan (20.02.2026)
Trump Akan Gelar Konferensi Pers Terkait Putusan Tarif Mahkamah 💡
PDB AS Melambat, Inflasi Kembali Menguat 🇺🇸
BREAKING: Supreme Court Batalkan Tarif Global Trump 🚨