Barel adalah satuan standar yang digunakan dalam perdagangan minyak dunia, dengan 1 barel minyak setara 42 galon AS atau sekitar 159 liter. Penggunaannya berawal dari industri minyak Amerika Serikat pada abad ke-19 dan kemudian berkembang menjadi standar internasional untuk harga, produksi, kontrak, serta benchmark seperti Brent dan WTI.
Barel adalah satuan standar yang digunakan dalam perdagangan minyak dunia, dengan 1 barel minyak setara 42 galon AS atau sekitar 159 liter. Penggunaannya berawal dari industri minyak Amerika Serikat pada abad ke-19 dan kemudian berkembang menjadi standar internasional untuk harga, produksi, kontrak, serta benchmark seperti Brent dan WTI.
Poin Penting
- Barel menjadi satuan utama dalam perdagangan minyak dunia sejak industri minyak Amerika Serikat berkembang pada abad ke-19.
- Satu barel minyak setara dengan 42 galon AS, atau sekitar 159 liter.
- Standardisasi barel membantu menyederhanakan perdagangan, pencatatan volume, penetapan harga, dan kontrak minyak internasional.
- Benchmark minyak seperti Brent dan West Texas Intermediate atau WTI hingga kini masih dinyatakan dalam Dolar AS per barel.
Mengapa Minyak Dunia Diukur dalam Barel?
Mengapa perdagangan minyak dunia masih menggunakan satuan “barel” ketika sebagian besar negara telah menggunakan sistem metrik? Jawabannya berawal dari sejarah industri minyak Amerika Serikat. Sebelum jaringan pipa, kapal tanker, dan fasilitas penyimpanan modern tersedia, crude oil harus disimpan dan dipindahkan menggunakan wadah yang mudah ditemukan. Salah satu wadah tersebut adalah tong kayu atau wooden barrel.
Pada awal abad ke-19, produsen minyak di Pennsylvania menggunakan berbagai jenis tong kayu untuk mengangkut crude oil dengan kereta kuda menuju fasilitas pengolahan. Pedagang kemudian menggunakan istilah “barrel” sebagai cara sederhana untuk mencatat volume transaksi. Namun, belum ada ukuran yang seragam. Satu tong di suatu wilayah dapat memiliki kapasitas berbeda dari tong di wilayah lain.
Ukuran barel saat itu berkisar antara sekitar 30 hingga 48 galon. Perbedaan tersebut membuat perbandingan harga antarpedagang menjadi lebih rumit. Kebutuhan terhadap ukuran yang konsisten akhirnya mendorong industri minyak mengembangkan standar yang dapat digunakan secara lebih luas.
Bagaimana Barel Minyak Digunakan pada Abad ke-19?
Pada awal 1800-an, crude oil umumnya disimpan dalam tong kayu buatan tangan dengan kapasitas yang berbeda-beda.
Beberapa ukuran yang digunakan saat itu antara lain:
- 30 galon: umum digunakan oleh produsen kecil.
- 36 galon: relatif mudah diangkut menggunakan kereta kuda.
- 45 galon: digunakan oleh sebagian kilang yang lebih besar.
- 48 galon: terkadang digunakan untuk pengiriman melalui laut.
Perbedaan volume tersebut menciptakan masalah dalam perdagangan.
Pembeli tidak dapat langsung membandingkan harga “satu barel” dari dua pemasok berbeda tanpa mengetahui kapasitas masing-masing tong. Pedagang bahkan perlu menggunakan konversi untuk memastikan volume minyak yang sebenarnya dibeli. Ketika jalur kereta api mulai menghubungkan wilayah penghasil minyak dengan kota dan pelabuhan ekspor, kebutuhan terhadap satu ukuran standar menjadi semakin besar.
Standardisasi bukan hanya menyederhanakan harga. Ukuran yang seragam juga membantu perencanaan transportasi, pencatatan persediaan, dan pengiriman minyak dalam jumlah besar.
Mengapa Satu Barel Minyak Setara 42 Galon?
Pada akhir 1860-an, produsen minyak utama di Amerika Serikat mulai menggunakan 42 galon AS sebagai ukuran standar satu barel minyak. Pemilihan ukuran tersebut berkaitan dengan kebutuhan praktis industri saat itu.
Salah satu alasannya adalah ketersediaan tong yang sebelumnya digunakan untuk menyimpan produk seperti wiski. Industri minyak dapat menggunakan kembali wadah yang tersedia tanpa harus membangun seluruh sistem penyimpanan dari awal. Ukuran 42 galon juga dinilai cukup efisien untuk transportasi dan pencatatan perdagangan.
Standardisasi tersebut memberikan beberapa keuntungan:
- Mempermudah transportasi karena ukuran wadah menjadi lebih seragam.
- Mengurangi biaya penyimpanan dengan memanfaatkan wadah yang sudah tersedia.
- Menyederhanakan perhitungan harga karena transaksi dapat menggunakan unit volume yang sama.
- Seiring perdagangan minyak Amerika berkembang ke pasar internasional, standar 42 galon ikut menyebar.
Ukuran tersebut kemudian tetap digunakan bahkan setelah industri beralih dari tong kayu ke kapal tanker, tangki penyimpanan, dan jaringan pipa.
Bagaimana Barel Menjadi Standar Perdagangan Minyak Dunia?
Perdagangan minyak berkembang pesat pada awal abad ke-20. Produksi dalam skala besar membuat penggunaan sistem pengukuran yang berbeda-beda semakin tidak praktis. Pembeli dan penjual membutuhkan satu bahasa perdagangan yang dapat digunakan dalam kontrak lintas negara. Barel kemudian menjadi salah satu standar tersebut.
Dengan menggunakan unit yang sama, harga minyak dari berbagai wilayah dapat dibandingkan dengan lebih mudah. Kontrak internasional juga tidak perlu mendefinisikan volume baru untuk setiap transaksi. Standardisasi tersebut kemudian menjadi fondasi bagi sistem perdagangan minyak dunia yang digunakan hingga saat ini.
Benchmark utama seperti Brent dan West Texas Intermediate atau WTI menggunakan harga dalam:
Dolar AS per barel atau USD/bbl.
Artinya, meskipun crude oil sekarang dikirim menggunakan tanker yang dapat membawa jutaan barel, unit harganya tetap menggunakan standar yang berasal dari industri minyak abad ke-19.
Apa Peran Texas Oil Boom Terhadap Standar Barel?
Penemuan minyak dalam jumlah besar di Spindletop, Texas, pada 1901 mendorong pertumbuhan cepat industri minyak Amerika Serikat. Produksi meningkat tajam sehingga perusahaan membutuhkan sistem yang lebih efisien untuk mengukur produksi, persediaan, dan penjualan. Penggunaan barel 42 galon membantu menyederhanakan proses tersebut.
Dengan satu standar, produsen dapat mencatat berapa banyak minyak yang diproduksi dari sumur, dikirim melalui jaringan transportasi, atau dijual kepada pembeli. Ketika produksi berkembang ke wilayah seperti Oklahoma dan California, penggunaan satuan barel ikut meluas. Barel tidak lagi hanya mewakili wadah fisik. Istilah tersebut berkembang menjadi unit akuntansi dan perdagangan dalam industri energi.
Apa Peran American Petroleum Institute?
American Petroleum Institute atau API didirikan pada 1919 dan memiliki peran dalam pengembangan berbagai standar industri minyak.
Standar barel dengan volume 42 galon AS kemudian menjadi referensi yang dapat digunakan dalam:
- Kontrak minyak.
- Dokumen pengiriman.
- Pencatatan persediaan.
- Asuransi.
- Proses perdagangan.
Standar yang jelas membantu mengurangi perbedaan interpretasi antara pembeli dan penjual.
Ketika perusahaan minyak Amerika semakin aktif di pasar internasional, penggunaan standar yang sama ikut berkembang ke berbagai negara. Dengan demikian, barel berubah dari kebiasaan perdagangan domestik menjadi salah satu satuan penting dalam pasar minyak dunia.
Mengapa Harga Brent dan WTI Menggunakan Barel?
Brent dan WTI merupakan dua benchmark minyak yang banyak digunakan dalam perdagangan global. Keduanya umumnya dikutip dalam Dolar AS per barel. Penggunaan unit yang sama memungkinkan pelaku pasar membandingkan harga berbagai jenis crude oil secara langsung.
Sebagai contoh, jika Brent diperdagangkan pada USD80 per barel sementara WTI berada pada USD76 per barel, trader dapat melihat adanya selisih USD4 antara kedua benchmark.
Perbandingan tersebut akan jauh lebih rumit jika setiap pasar menggunakan unit volume yang berbeda. Karena itu, barel tidak hanya berfungsi sebagai satuan fisik, tetapi juga sebagai bahasa harga bersama dalam perdagangan minyak dunia.
Bagaimana OPEC Menggunakan Satuan Barel?
Organization of the Petroleum Exporting Countries atau OPEC juga menggunakan barel sebagai dasar pengukuran produksi minyak. Produksi negara-negara penghasil minyak biasanya dilaporkan dalam barrel per day atau bpd, yaitu barel per hari. Misalnya:
- 100.000 barel per hari.
- 1 juta barel per hari.
- 10 juta barel per hari.
Satuan tersebut membantu pasar memahami perubahan supply.
Jika sebuah negara memangkas produksi sebesar 500.000 barel per hari, pelaku pasar dapat membandingkan jumlah tersebut dengan total produksi dunia untuk memperkirakan seberapa besar dampaknya terhadap keseimbangan supply-demand minyak. Karena digunakan secara konsisten selama puluhan tahun, satuan barel juga membuat data produksi dari berbagai periode lebih mudah dibandingkan.
Mengapa Barel Masih Digunakan Sampai Sekarang?
Industri minyak modern tidak lagi membutuhkan tong fisik untuk mengukur produksi. Crude oil disimpan dalam tangki besar, dipindahkan melalui jaringan pipa, dan dikirim menggunakan kapal tanker. Namun, barel tetap digunakan karena sudah menjadi standar perdagangan yang dipahami secara luas.
Mengganti satuan tersebut dengan standar lain dapat membutuhkan penyesuaian besar karena:
- Kontrak perlu disesuaikan.
- Data historis perlu dikonversi.
- Benchmark harga perlu diubah.
- Sistem perdagangan dan pelaporan perlu diperbarui.
Selain itu, pelaku pasar telah terbiasa membaca produksi dan harga minyak menggunakan satuan barel. Karena alasan tersebut, unit yang awalnya berkaitan dengan tong kayu tetap menjadi bagian dari perdagangan energi modern.
Bagaimana Barel Membantu Manajemen Risiko Minyak?
Satuan barel juga menjadi dasar berbagai instrumen yang digunakan untuk mengelola risiko perubahan harga minyak. Kontrak futures, swap, dan berbagai produk derivatif umumnya menggunakan harga minyak per barel sebagai referensi. Perusahaan dapat menggunakan instrumen tersebut untuk mengurangi ketidakpastian harga beberapa bulan sebelum transaksi fisik dilakukan.
Contohnya, perusahaan yang khawatir harga minyak akan meningkat dapat menggunakan kontrak futures sebagai bagian dari strategi hedging terhadap kenaikan biaya. Karena pasar fisik dan derivatif menggunakan unit harga yang sama, pelaku pasar dapat membandingkan:
- Harga spot.
- Harga futures.
- Biaya pengiriman.
- Biaya penyimpanan.
- Margin pengolahan.
Dengan demikian, barel tetap menjadi satuan penting bukan hanya untuk mengukur volume minyak, tetapi juga untuk membaca harga dan mengelola risiko pasar.
Bagaimana Satuan Barel Berkaitan dengan Trading CFD Oil?
Selain futures dan swap, trader ritel juga dapat memperoleh eksposur terhadap perubahan harga crude oil melalui Contract for Difference atau CFD. CFD merupakan instrumen derivatif. Artinya, trader tidak membeli, menyimpan, atau menerima pengiriman barel minyak secara fisik. Posisi diambil berdasarkan perubahan harga underlying market.
Trader dapat membuka posisi Buy atau long ketika memperkirakan harga akan naik maupun Sell atau short ketika memperkirakan harga akan turun. CFD juga menggunakan leverage, sehingga hanya sebagian dari nilai posisi yang perlu disediakan sebagai margin. Namun, leverage dapat memperbesar keuntungan sekaligus kerugian.
Di XTB Indonesia, trader dapat memperoleh eksposur terhadap dua benchmark utama crude oil melalui:
- OIL CFD, yang mengacu pada pergerakan benchmark Brent crude oil.
- OIL.WTI CFD, yaitu instrumen derivatif yang didasarkan pada kuotasi kontrak futures West Texas Intermediate atau WTI di CME.
Perbedaan benchmark tetap relevan meskipun transaksi dilakukan melalui CFD. Brent lebih banyak mencerminkan pasar minyak internasional, sementara WTI memiliki hubungan yang lebih erat dengan kondisi pasar energi Amerika Serikat.
Karena itu, trader OIL.WTI dapat memperhatikan data seperti persediaan crude oil AS dari EIA, aktivitas pengeboran, refinery activity, produksi, serta kondisi supply-demand AS. Untuk Brent, perhatian dapat lebih banyak diarahkan pada produksi OPEC+, demand global, geopolitik, dan kondisi perdagangan minyak internasional.
Harga per barel tetap membantu trader memahami skala perubahan underlying market. Namun, hasil transaksi CFD tidak ditentukan hanya oleh berapa barel minyak yang direpresentasikan oleh pasar. Ukuran posisi, perubahan harga, spread, leverage, dan biaya yang berlaku juga perlu diperhitungkan.
Kesimpulan
Asal-usul penggunaan barel dalam perdagangan minyak dunia berawal dari kebutuhan praktis industri minyak Amerika Serikat pada abad ke-19. Saat itu, crude oil disimpan menggunakan berbagai ukuran tong sehingga perdagangan membutuhkan standar yang lebih konsisten. Industri kemudian menggunakan ukuran 42 galon AS per barel, atau sekitar 159 liter. Standardisasi ini membantu menyederhanakan transportasi, pencatatan, kontrak, serta penetapan harga.
Meskipun minyak modern tidak lagi diperdagangkan menggunakan tong kayu secara fisik, standar tersebut tetap bertahan. Brent, WTI, produksi OPEC, futures, serta berbagai data pasar minyak global masih menggunakan barel sebagai satuan referensi. Barel juga tetap relevan dalam instrumen derivatif modern seperti CFD minyak karena harga Brent dan WTI masih berkaitan dengan benchmark crude oil yang dinyatakan dalam Dolar AS per barel.
FAQ
Barel adalah satuan volume yang digunakan sebagai standar dalam perdagangan minyak dunia. Satu barel minyak setara dengan 42 galon AS atau sekitar 159 liter.
Penggunaan barel berawal dari industri minyak Amerika Serikat pada abad ke-19 ketika minyak disimpan dan diangkut menggunakan tong kayu. Setelah ukuran 42 galon AS digunakan sebagai standar, barel berkembang menjadi satuan umum untuk harga, produksi, kontrak, dan perdagangan minyak internasional.
Satu barel minyak setara sekitar 159 liter. Konversi tersebut berasal dari standar 42 galon AS yang digunakan dalam industri minyak global.
Brent dan WTI menggunakan harga per barel agar pelaku pasar dapat membandingkan nilai crude oil menggunakan satuan yang konsisten. Kedua benchmark tersebut umumnya dikutip dalam Dolar AS per barel.
Ya. Meskipun crude oil saat ini dikirim melalui kapal tanker, jaringan pipa, dan fasilitas penyimpanan besar, barel tetap digunakan sebagai satuan standar untuk harga, produksi, futures, dan berbagai data pasar minyak.
Panduan Cara Investasi Gas Alam yang Cocok untuk Pemula
Palladium vs Emas: Apa Perbedaan dan Keunggulannya?
Cara Diversifikasi Portofolio Lewat Investasi Emas
Materi pemasaran ini bukan merupakan rekomendasi investasi atau saran strategi investasi. Informasi ini tidak menjamin kinerja atau hasil investasi di masa mendatang. Aktivitas trading melibatkan risiko kerugian finansial yang signifikan, termasuk kemungkinan kehilangan sebagian maupun seluruh modal yang diinvestasikan. Segala keputusan trading sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu.