Saham preferen adalah instrumen hybrid dengan dividen tetap atau floating, prioritas dividen, dan klaim aset di atas saham biasa. Artikel ini membahas cara kerja, fitur penting, perbandingan dengan saham biasa dan obligasi, potensi melawan inflasi, langkah due diligence, pilihan instrumen, kesalahan umum, serta FAQ.
Saham preferen adalah instrumen hybrid dengan dividen tetap atau floating, prioritas dividen, dan klaim aset di atas saham biasa. Artikel ini membahas cara kerja, fitur penting, perbandingan dengan saham biasa dan obligasi, potensi melawan inflasi, langkah due diligence, pilihan instrumen, kesalahan umum, serta FAQ.
Saham Preferen: “Hidden Gem” dalam Portofolio?
Selama lebih dari 15 tahun mengamati pasar keuangan, berbagai tren investasi datang dan pergi. Namun, ada satu kelas aset yang kerap tampil solid karena ketahanan dan kemampuannya menghasilkan pendapatan, khususnya saat ketidakpastian ekonomi meningkat dan inflasi menguat: saham preferen. Ketika indeks S&P 500 naik 23% pada 2023, banyak pelaku pasar mengejar pertumbuhan cepat. Di sisi lain, strategi yang kuat juga memerlukan pilar stabilitas dan arus kas, terutama ketika inflasi kembali menjadi faktor dominan.
Inflasi dapat menggerus daya beli lebih cepat dari yang disadari banyak investor. Dalam beberapa tahun terakhir, harga konsumen sempat melonjak, dengan CPI mencapai 9,1% (year-over-year) pada Juni 2022. Dalam kondisi seperti ini, menahan kas menjadi strategi yang melemahkan nilai riil aset, sementara sebagian investasi obligasi tradisional juga kesulitan menjaga imbal hasil riil. Di sinilah peran saham preferen menjadi relevan: tidak setajam saham pertumbuhan dalam sorotan, tetapi dapat berfungsi sebagai penopang pendapatan yang membantu menjaga daya beli di tengah tekanan inflasi.
Dalam artikel ini akan dibahas definisi saham preferen, cara kerja dan karakteristik utamanya, perbandingan dengan saham biasa dan obligasi, potensi saham preferen dalam menghadapi inflasi, langkah memulai investasi (termasuk due diligence dan diversifikasi), kesalahan umum yang perlu dihindari, langkah lanjutan membangun portofolio, serta FAQ.
Apa Itu Saham Preferen?
Saham preferen dapat dipahami sebagai instrumen hybrid, menggabungkan unsur saham biasa dan obligasi. Saham preferen merepresentasikan kepemilikan dalam perusahaan seperti saham biasa, tetapi juga menawarkan dividen tetap yang mirip kupon obligasi. Posisi ini membuat saham preferen menempati tempat unik dalam struktur permodalan perusahaan.
Berbeda dengan saham biasa, saham preferen umumnya tidak memberikan hak suara. Sebagai kompensasi, pemegang saham preferen memperoleh perlakuan preferensial, termasuk prioritas dividen dan prioritas klaim atas aset dibanding pemegang saham biasa. Dalam sejumlah kondisi pasar, imbal hasil dari instrumen berbasis saham preferen dapat lebih tinggi dibanding banyak dana obligasi konvensional, terutama ketika investor mencari pendapatan yang relatif stabil.
Bagaimana Saham Preferen Bekerja?
Ketika perusahaan menerbitkan saham preferen, perusahaan menjual porsi kepemilikan dengan syarat yang berbeda dari saham biasa. Saham preferen memiliki tingkat dividen yang telah ditentukan, biasanya dinyatakan sebagai persentase dari nilai nominal (par value).
Contoh:
Jika saham preferen bernilai nominal $25 dan memiliki tingkat dividen 6%, maka dividen tahunan adalah $1,50 per saham (dihitung sebagai $25 × 0,06). Pembayaran umumnya dilakukan per kuartal atau per semester.
Kunci utamanya adalah prioritas. Jika perusahaan menghadapi tekanan keuangan dan tidak mampu membayar seluruh dividen, pemegang saham preferen dibayar terlebih dahulu sebelum pemegang saham biasa. Jika perusahaan bangkrut, pemegang saham preferen juga memiliki klaim lebih tinggi atas aset dibanding pemegang saham biasa, walaupun tetap berada di bawah pemegang obligasi.
Ini tidak menjadikan saham preferen bebas risiko, tetapi menambah lapisan proteksi dibanding saham biasa.
Karakteristik Utama dan Mengapa Ini Penting
Untuk memahami peran saham preferen secara praktis, karakteristiknya perlu dipahami secara spesifik. Fitur-fitur ini menentukan perilakunya dalam portofolio dan dapat menjadi sumber keunggulan maupun risiko jika diabaikan.
Prioritas Dividen: Arus Pendapatan yang Lebih Stabil
Prioritas dividen adalah salah satu daya tarik terbesar saham preferen, terutama untuk investor berorientasi pendapatan. Pemegang saham preferen memiliki prioritas di atas pemegang saham biasa dalam pembagian dividen.
Pada saham preferen kumulatif, jika perusahaan melewatkan pembayaran dividen, pembayaran yang tertunda harus dilunasi terlebih dahulu sebelum perusahaan dapat membagikan dividen kepada pemegang saham biasa. Hal ini membuat pendapatan dari saham preferen cenderung lebih prediktif dibanding dividen saham biasa.
Contoh perhitungan:
Misalkan sebuah perusahaan memiliki 1.000.000 saham biasa dan 100.000 saham preferen kumulatif dengan dividen $2,00 per tahun. Jika perusahaan menunda dividen saham preferen selama satu tahun, perusahaan memiliki kewajiban $200.000 kepada pemegang saham preferen dan tidak dapat membayar dividen saham biasa sebelum kewajiban ini dilunasi.
Dividen Tetap vs Saham Preferen Floating-Rate
Sebagian besar saham preferen menawarkan dividen tetap, sehingga pembayaran tidak berubah meskipun suku bunga pasar bergerak. Ini menguntungkan saat suku bunga turun, tetapi dapat menjadi kelemahan saat suku bunga naik.
Ada juga saham preferen floating-rate, yaitu dividen yang menyesuaikan secara periodik mengikuti benchmark suku bunga (misalnya SOFR sebagai pengganti LIBOR) atau prime rate.
Saham preferen fixed-rate
-
Memberikan stabilitas dan pendapatan yang lebih mudah diproyeksikan
-
Cocok saat suku bunga relatif stabil atau menurun
-
Nilai pasar dapat tertekan ketika suku bunga naik tajam
Saham preferen floating-rate
-
Dividen berpotensi meningkat saat suku bunga naik
-
Lebih adaptif untuk lingkungan suku bunga meningkat
-
Pendapatan bisa lebih fluktuatif jika benchmark suku bunga volatil
Dalam konteks inflasi, floating-rate preferred sering dianggap lebih efektif sebagai pelindung karena bank sentral biasanya menaikkan suku bunga untuk menahan tekanan harga.
Konversi dan Callability
Dua fitur yang sering menentukan kualitas dan risiko saham preferen adalah konversi dan callability.
-
Saham preferen konversi (Convertible Preferred Shares)
Saham ini memberi opsi bagi investor untuk mengonversi saham preferen menjadi sejumlah saham biasa berdasarkan rasio atau harga konversi tertentu. Fitur ini membuka peluang ikut menikmati kenaikan harga saham biasa, sambil mempertahankan karakter pendapatan yang lebih stabil. -
Saham preferen callable (Callable Preferred Shares)
Banyak saham preferen bersifat callable, artinya penerbit berhak membeli kembali saham tersebut pada harga tertentu (umumnya di nilai nominal) setelah tanggal tertentu. Perusahaan cenderung melakukan call ketika suku bunga turun agar dapat menerbitkan ulang dengan biaya dividen lebih rendah.
Implikasinya untuk investor: jika saham preferen dengan yield tinggi dipanggil, investor menerima kembali pokok investasi tetapi kehilangan arus pendapatan yang menarik. Karena itu, tanggal call dan harga call harus diperiksa sebelum membeli. Mengincar yield tertinggi tanpa menilai fitur call adalah salah satu kesalahan paling umum.
Preferensi Likuidasi: Lapisan Proteksi Tambahan
Dalam skenario likuidasi, pemegang saham preferen memiliki klaim lebih tinggi dibanding pemegang saham biasa. Mereka dibayar lebih dahulu daripada pemegang saham biasa, namun tetap berada di bawah kreditur seperti pemegang obligasi.
Fitur ini tidak menghilangkan risiko, tetapi meningkatkan peluang pemulihan dibanding pemegang saham biasa dalam kondisi terburuk.
Perbandingan Saham Preferen vs Saham Biasa vs Obligasi
1. Kepemilikan dan Klaim
-
Saham biasa: Ekuitas murni dengan klaim residu. Pemegang saham biasa memiliki sisa klaim atas aset dan laba setelah seluruh kewajiban lain dipenuhi
-
Saham preferen: Ekuitas dengan fitur mirip obligasi, lebih senior dari saham biasa. Memiliki posisi klaim di atas saham biasa, terutama terkait dividen dan likuidasi, namun tetap di bawah kreditur
-
Obligasi korporasi: Utang dengan klaim kreditur. Pemegang obligasi adalah kreditur dan memiliki klaim lebih senior dibanding seluruh pemegang ekuitas
2. Hak Suara
-
Saham biasa: Umumnya ada. Memberikan hak suara atas keputusan strategis perusahaan
-
Saham preferen: Umumnya tidak. Fokus pada pendapatan dan prioritas klaim, bukan kontrol
-
Obligasi korporasi: Tidak ada. Tidak memiliki hak suara karena statusnya sebagai kreditur, bukan pemilik
3. Sumber Pendapatan
-
Saham biasa: Dividen variabel (jika ada) dan capital gain. Pendapatan tidak dijamin; potensi return besar datang dari apresiasi harga
-
Saham preferen: Dividen tetap atau floating dengan prioritas. Pendapatan lebih terstruktur karena pembayaran dividen biasanya sudah ditetapkan dan didahulukan
-
Obligasi korporasi: Kupon tetap. Pendapatan berasal dari pembayaran bunga berkala sesuai ketentuan obligasi
4. Prioritas Pendapatan
-
Saham biasa: Paling akhir. Dividen dibayarkan hanya jika perusahaan memutuskan membayar dan setelah kewajiban lain terpenuhi
-
Saham preferen: Di atas saham biasa, di bawah obligasi. Umumnya harus dibayar sebelum saham biasa dapat menerima dividen
-
Obligasi korporasi: Paling awal. Kupon merupakan kewajiban kontraktual dan dibayar sebelum pembagian kepada pemegang ekuitas
5. Potensi Capital Gain
-
Saham biasa: Potensi tinggi. Harga bisa naik signifikan jika perusahaan tumbuh dan valuasi meningkat
-
Saham preferen: Potensi terbatas. Harga cenderung mendekati nilai nominal; apresiasi biasanya tidak sebesar saham biasa, kecuali ada fitur konversi
-
Obligasi korporasi: Sangat terbatas. Perubahan harga terutama dipengaruhi suku bunga dan persepsi risiko kredit, bukan pertumbuhan bisnis
6. Profil Risiko
-
Saham biasa: Risiko tertinggi. Paling sensitif terhadap volatilitas pasar dan kinerja perusahaan, serta tidak ada jaminan pendapatan
-
Saham preferen: Risiko menengah. Terpapar risiko suku bunga, risiko kredit penerbit, dan call risk, namun punya prioritas dibanding saham biasa
-
Obligasi korporasi: Relatif lebih rendah. Risiko utama umumnya suku bunga dan kredit, dengan posisi klaim yang lebih senior
7. Perlindungan terhadap Inflasi
-
Saham biasa: Campuran. Sebagian perusahaan bisa meneruskan kenaikan biaya (pricing power), tetapi banyak juga yang margin-nya tertekan
-
Saham preferen: Lebih baik untuk floating-rate; fixed-rate bisa tertekan. Floating-rate cenderung lebih adaptif saat suku bunga naik, sedangkan fixed-rate berisiko turun harga
-
Obligasi korporasi: Cenderung lemah. Pembayaran kupon tetap dapat tergerus nilainya ketika inflasi meningkat
Instrumen Mana yang Paling Sesuai?
Saham preferen berada di ceruk yang unik. Instrumen ini cenderung menawarkan stabilitas pendapatan yang lebih baik dibanding saham biasa dan pada banyak kondisi dapat memberikan yield lebih tinggi dibanding obligasi investment-grade. Namun, saham preferen umumnya tidak menawarkan potensi capital gain sebesar saham biasa, serta membawa risiko yang tidak selalu ada pada obligasi berkualitas tinggi.
Untuk investor yang mengutamakan pendapatan konsisten dan preservasi modal pada sebagian portofolio, saham preferen dapat menjadi alat yang efektif, khususnya ketika saham biasa terasa terlalu volatil dan pendapatan obligasi tidak memadai untuk menjaga imbal hasil riil. Sejumlah institusi besar seperti JP Morgan dan Goldman Sachs juga menerbitkan saham preferen sebagai bagian dari strategi pendanaan.
Potensi Saham Preferen dalam Mengungguli Inflasi
Dalam lingkungan inflasi yang bertahan di atas target bank sentral, menahan aset pada instrumen berimbal hasil rendah berisiko menghasilkan return riil negatif. Prinsipnya sederhana: yang dibutuhkan adalah return setelah memperhitungkan inflasi.
Mengapa Dividen Reguler Menjadi Krusial
Saham preferen biasanya menawarkan dividen yang lebih tinggi dan lebih stabil, sehingga arus kas dapat membantu mengimbangi kenaikan biaya hidup. Misalnya, yield 5%–7% dari perusahaan yang solid, ketika inflasi berada di kisaran 3%–4%, masih berpotensi menghasilkan return riil positif.
Strategi reinvestasi dividen juga relevan. Dengan reinvestasi, basis kepemilikan meningkat secara bertahap, sehingga pendapatan dividen berikutnya juga bertambah. Efek compounding ini kerap diremehkan, padahal dalam periode inflasi, pertumbuhan pendapatan yang konsisten dapat berperan besar dalam menjaga daya beli.
Peran Floating-Rate Preferred Saat Inflasi Tinggi
Dalam fase ketika bank sentral menaikkan suku bunga untuk meredam inflasi, floating-rate preferred menjadi semakin menarik. Karena dividen terikat pada benchmark suku bunga, kenaikan suku bunga dapat mendorong peningkatan dividen.
Contoh hipotetis:
Skenario 1: Saham preferen fixed-rate
-
Nilai nominal: $25
-
Dividen tetap: 6%
-
Dividen tahunan: $1,50
-
Inflasi: 4%
-
Perkiraan yield riil: 2% (6% - 4%)
Skenario 2: Saham preferen floating-rate (SOFR + 3%)
-
Nilai nominal: $25
-
SOFR awal: 1,0%
-
Tingkat tahunan awal: 4,0% (1% + 3%)
-
Dividen tahunan awal: $1,00 ($25 × 4%)
-
Jika SOFR naik menjadi 4,0%
-
Tingkat tahunan baru: 7,0% (4% + 3%)
-
Dividen tahunan baru: $1,75 ($25 × 7%)
-
Inflasi: 4%
-
Perkiraan yield riil: 3% (7% - 4%)
Dalam contoh ini, floating-rate preferred memberikan return riil yang lebih baik ketika suku bunga naik seiring inflasi.
Memulai Investasi Saham Preferen
Jika saham preferen terlihat relevan untuk portofolio, langkah berikutnya bukan memilih yield tertinggi, melainkan menerapkan pendekatan yang terstruktur.
Riset dan Due Diligence: Hal yang Perlu Dinilai
Berikut aspek yang umumnya menjadi fokus evaluasi:
-
Kualitas kredit penerbit
Prioritas pembayaran hanya bernilai jika perusahaan memiliki kekuatan finansial. Peringkat kredit dari lembaga seperti S&P, Moody’s, atau Fitch dapat menjadi referensi. Secara umum, peringkat BBB- atau lebih tinggi sering dianggap investment-grade. -
Dividend yield dan riwayat pembayaran
Bandingkan yield terhadap instrumen sejenis dan dividen saham biasa perusahaan. Evaluasi konsistensi dividen serta apakah pernah ada penangguhan. Untuk saham preferen kumulatif, periksa apakah ada dividen tertunggak. -
Fitur call
Periksa kapan saham dapat dipanggil dan pada harga berapa. Jika saham diperdagangkan di atas harga call dan periode call sudah dekat, risiko call meningkat. Analisis yield-to-call (YTC) biasanya lebih relevan daripada sekadar current yield. -
Floating vs fixed
Pastikan struktur dividen sesuai dengan pandangan terhadap arah suku bunga dan tujuan portofolio. -
Likuiditas
Sebagian seri saham preferen individual bisa kurang likuid dibanding saham biasa, sehingga spread dapat lebih lebar. Jika likuiditas menjadi perhatian, ETF saham preferen dapat menjadi alternatif.
Diversifikasi: Prinsip yang Tidak Bisa Ditawar
Diversifikasi tetap menjadi pilar manajemen risiko. Penyebaran eksposur ke beberapa penerbit dan beberapa sektor menurunkan risiko spesifik perusahaan atau sektor. ETF dapat membantu diversifikasi dengan lebih cepat, namun diversifikasi juga dapat dilakukan melalui kepemilikan beberapa seri dari penerbit berbeda.
Instrumen Investasi: ETF, Reksa Dana, atau Seri Individual?
Saham preferen individual
Memberikan kontrol yang lebih presisi dan berpotensi yield lebih tinggi karena tidak ada biaya pengelolaan dana. Namun membutuhkan due diligence yang mendalam dan meningkatkan risiko spesifik penerbit.
ETF dan reksa dana saham preferen
Menawarkan diversifikasi instan dan likuiditas yang lebih baik. Umumnya lebih efisien biaya dibanding reksa dana aktif. Contoh ETF yang sering dirujuk antara lain iShares Preferred and Income Securities ETF (PFF) atau Invesco Preferred ETF (PGX). Kepemilikan yang tersebar membantu mengurangi risiko konsentrasi pada satu penerbit.
Reksa dana saham preferen yang dikelola aktif
Mengandalkan seleksi manajer investasi. Bisa menargetkan outperformance, namun biasanya memiliki expense ratio lebih tinggi. Evaluasi rekam jejak dan value proposition menjadi penting.
Saran visual (sesuai naskah): diagram pie alokasi portofolio yang menampilkan saham biasa, obligasi, dan saham preferen sebagai ilustrasi diversifikasi.
Kesalahan Umum dalam Investasi Saham Preferen
Mengabaikan Risiko Suku Bunga
Ini adalah kesalahan paling sering, khususnya pada saham preferen fixed-rate. Ketika suku bunga naik, instrumen dengan pembayaran tetap cenderung turun harga karena investor menuntut yield yang lebih tinggi. Periode kenaikan suku bunga 2022–2023 memberi contoh nyata bagaimana instrumen pendapatan tetap bisa mengalami depresiasi signifikan.
Jika suku bunga diperkirakan naik, floating-rate preferred atau seri dengan karakter tertentu (misalnya dekat call date) dapat dipertimbangkan dengan analisis yang tepat.
Mengabaikan Kualitas Kredit Penerbit
Yield tinggi sering mencerminkan risiko lebih tinggi. Perusahaan yang rapuh secara finansial lebih mungkin menunda atau menghentikan dividen. Memeriksa peringkat kredit dan kualitas neraca adalah langkah dasar, terutama untuk strategi income yang mengutamakan stabilitas.
Mengabaikan Call Risk
Call risk sering “menghukum” investor yang membeli pada harga premium. Ketika saham dipanggil di harga nominal, investor mungkin kehilangan premium yang dibayar dan kehilangan arus pendapatan. Karena itu, call date, call price, dan yield-to-call harus dihitung.
Kurangnya Diversifikasi
Menempatkan seluruh alokasi saham preferen pada satu atau dua penerbit, atau satu sektor saja (misalnya hanya perbankan), meningkatkan risiko yang tidak perlu. Diversifikasi dapat dilakukan melalui ETF atau penyebaran kepemilikan pada beberapa penerbit lintas sektor.
Langkah Lanjutan: Membangun Portofolio yang Lebih Tahan Guncangan
Jika mekanisme dan risiko sudah dipahami, tahap berikutnya adalah implementasi yang disiplin:
-
Evaluasi tujuan investasi
Saham preferen lebih dominan sebagai instrumen pendapatan dan preservasi modal. -
Ukur toleransi risiko
Walau relatif lebih stabil dari saham biasa, saham preferen tetap membawa risiko suku bunga, kredit, dan call. -
Mulai bertahap
Bagi investor baru, pendekatan bertahap sering lebih rasional, misalnya mengalokasikan porsi kecil terlebih dahulu sebelum menambah eksposur. -
Pertimbangkan ETF saham preferen
Sering menjadi titik masuk yang lebih sederhana karena diversifikasi dan likuiditas.
Konsultasi dengan Penasihat Keuangan
Edukasi mandiri penting, tetapi integrasi saham preferen ke dalam rencana finansial menyeluruh sering membutuhkan perspektif profesional, khususnya terkait pajak, horizon waktu, dan komposisi aset yang sesuai profil risiko.
Catatan (sesuai naskah): konten ini bersifat informatif dan bukan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa depan. Konsultasikan dengan penasihat keuangan berlisensi sebelum mengambil keputusan investasi.
Materi pemasaran ini bukan merupakan rekomendasi investasi atau saran strategi investasi. Informasi ini tidak menjamin kinerja atau hasil investasi di masa mendatang. Aktivitas trading melibatkan risiko kerugian finansial yang signifikan, termasuk kemungkinan kehilangan sebagian maupun seluruh modal yang diinvestasikan. Segala keputusan trading sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu.
FAQ
Saham preferen umumnya dianggap lebih defensif dibanding saham biasa karena memiliki prioritas dividen dan preferensi likuidasi. Dalam kondisi tekanan finansial perusahaan, pemegang saham preferen berada di atas pemegang saham biasa dalam urutan klaim. Meski demikian, saham preferen tetap bukan instrumen bebas risiko karena masih membawa risiko pasar, risiko kredit penerbit, dan risiko suku bunga, serta tetap berada di bawah pemegang obligasi.
Secara umum, potensi capital gain saham preferen lebih terbatas dibanding saham biasa. Harga saham preferen cenderung bergerak mendekati nilai nominal, meskipun tetap dapat berubah karena pergerakan suku bunga, perubahan persepsi risiko kredit penerbit, dan dinamika permintaan pasar. Untuk saham preferen konversi, potensi capital gain bisa meningkat jika saham biasa underlying naik signifikan dan investor memilih opsi konversi.
Risiko utama mencakup:
- Risiko suku bunga: terutama pada saham preferen fixed-rate, harga bisa turun ketika suku bunga naik
- Risiko kredit: risiko penerbit menunda dividen atau mengalami gagal bayar dalam skenario ekstrem
- Call risk: penerbit dapat menebus saham pada harga tertentu, sering kali ketika suku bunga turun, yang dapat menghentikan arus pendapatan dan membatasi potensi return
Saham preferen dapat membantu menghadapi inflasi terutama melalui dividen yang relatif konsisten dan sering kali lebih tinggi dibanding banyak instrumen pendapatan tetap berkualitas tinggi. Arus kas ini dapat membantu menutup kenaikan biaya hidup. Floating-rate preferred biasanya lebih efektif karena dividen dapat naik ketika benchmark suku bunga naik, yang kerap terjadi saat inflasi tinggi dan bank sentral memperketat kebijakan.
Ya. Harga saham preferen dapat turun karena kenaikan suku bunga, penurunan kualitas kredit penerbit, atau tekanan likuiditas. Kerugian juga dapat terjadi jika investor membeli di atas nilai nominal dan saham kemudian dipanggil (call) pada harga nominal, sehingga premium yang dibayar tidak kembali. Seperti instrumen pasar lainnya, saham preferen tetap memiliki risiko.
Banyak investor menggunakan saham preferen sebagai komponen portofolio pendapatan karena dividen yang relatif stabil dan lebih prediktif dibanding dividen saham biasa. Namun, kesesuaian bergantung pada profil risiko, kebutuhan likuiditas, serta toleransi terhadap risiko suku bunga dan kredit. Diversifikasi dan pemilihan penerbit yang kuat menjadi kunci jika tujuan utamanya adalah pendapatan yang konsisten.
- Kumulatif: jika dividen tidak dibayar, dividen tersebut menjadi tunggakan dan harus dibayar di masa depan sebelum pemegang saham biasa dapat menerima dividen
- Non-kumulatif: jika dividen dilewatkan, pembayaran tersebut umumnya hilang dan tidak menjadi kewajiban yang harus dilunasi
Bagi investor berorientasi pendapatan, saham preferen kumulatif biasanya memberikan perlindungan lebih baik.