Pada 15 September 2025, Alphabet, induk perusahaan Google, untuk pertama kalinya melampaui kapitalisasi pasar $3 triliun dalam sejarahnya, menjadi perusahaan teknologi ketiga yang mencapai tonggak ini, bersama Apple dan Microsoft. Pencapaian ini bukan sekadar simbol kesuksesan pasar, melainkan cerminan keyakinan investor terhadap arah strategis perusahaan di bidang kecerdasan buatan (AI), infrastruktur cloud, dan layanan digital.
Salah satu katalis utama di balik pertumbuhan kuat ini adalah putusan pengadilan AS yang menolak kemungkinan pemecahan Alphabet menjadi entitas yang lebih kecil, yang sebelumnya bisa berdampak pada produk seperti browser Chrome dan sistem operasi Android. Keputusan ini ditafsirkan sebagai sinyal stabilisasi bagi investor, memungkinkan perusahaan melanjutkan ekspansi tanpa risiko mengorbankan integritas ekosistem teknologinya.
Fondasi kedua dari valuasi rekor ini terletak pada kinerja keuangan kuartalan Alphabet yang terus membaik serta perkembangan pesat layanan berbasis AI. Pendorong pentingnya adalah kemajuan berkelanjutan dari model bahasa Gemini, yang semakin dipandang sebagai alternatif layak bagi ChatGPT. Alphabet telah berhasil mengintegrasikan Gemini ke dalam produk dan layanan utama, termasuk mesin pencari, suite produktivitas Workspace, platform iklan, dan solusi cloud.
Antara awal 2023 hingga kuartal kedua 2025, pendapatan Alphabet meningkat dari sekitar $70 miliar menjadi lebih dari $95 miliar. Pada saat yang sama, laba bersih naik dari kurang dari $20 miliar menjadi hampir $35 miliar pada Q1 2025, mencetak rekor tertinggi perusahaan. Di Q2, laba bersih tetap solid, bertahan di sekitar $30 miliar. Perusahaan juga menunjukkan peningkatan profitabilitas yang konsisten.
Margin operasional melampaui 30% pada akhir 2023 dan bertahan di kisaran 34–35% pada 2025. Lebih mencolok lagi, margin laba bersih mencapai hampir 38% di Q1 2025—artinya Alphabet mampu mengubah hampir empat dari setiap sepuluh dolar pendapatan menjadi laba murni.
Data jangka panjang mengkonfirmasi keberlanjutan perbaikan ini. Perusahaan mempertahankan efisiensi modal tinggi dengan rasio EV/EBITDA sebesar 21,15 dan biaya modal (WACC) yang relatif rendah, stabil di bawah 10% dalam beberapa kuartal terakhir. Praktiknya, Alphabet mampu menghasilkan laba semakin tinggi dengan risiko investasi relatif rendah—faktor penting bagi investor institusional dan jangka panjang.
Alphabet juga memberikan imbal hasil luar biasa bagi pemegang saham. Sejak awal 2020, return kumulatif Alphabet telah melampaui 250%, setara dengan Microsoft dan Apple. Ketiganya jauh mengungguli indeks Nasdaq 100, yang hanya naik sedikit di atas 150% pada periode yang sama. Hal ini menunjukkan bahwa Alphabet tidak hanya mampu bersaing dengan para kompetitornya, tetapi juga terus membangun posisinya sebagai salah satu penerima manfaat utama dari transformasi digital.
Namun, penting dicatat bahwa Alphabet saat ini bukan perusahaan teknologi terbesar di dunia. Gelar tersebut kini dipegang Nvidia, dengan kapitalisasi pasar melampaui $4 triliun. Sebagai penyedia infrastruktur kritis untuk model AI—termasuk GPU dan solusi pusat data—Nvidia telah menjadi pilar revolusi digital baru. Laju pertumbuhannya menempatkan Nvidia sebagai penantang utama para pemimpin pasar sebelumnya. Meski Alphabet tetap menjadi pemain kuat, perusahaan kini menghadapi dominasi Nvidia yang semakin besar dalam perlombaan kepemimpinan AI.
Pada akhirnya, kesuksesan Alphabet bukan hanya hasil dari antusiasme pasar sesaat, melainkan proses transformasi jangka panjang. Perusahaan telah berevolusi dari sekadar mesin pencari menjadi platform teknologi multidimensi, mencakup kecerdasan buatan, komputasi awan, sistem mobile, media digital, solusi enterprise dan konsumen, hingga proyek masa depan seperti kendaraan otonom dan komputasi kuantum. Jika mampu mempertahankan kecepatan inovasi saat ini serta mengelola tantangan regulasi dan persaingan di sektor AI, Alphabet berpotensi tetap menjadi pilar utama ekonomi digital untuk dekade mendatang.
Daily summary: Data Lemah AS Tekan Wall Street, Logam Turun Lagi
Datadog Cetak Rekor Q4, Prospek 2026 Solid
US Open: Wall Street Naik Meski Data Lemah
Coca-Cola Earnings: Mampukah CEO Baru Hadapi Tekanan?