Menafsirkan data pasar tenaga kerja Amerika Serikat menjadi tugas yang semakin menantang, baik bagi analis maupun investor. Laporan terbaru bukanlah pengecualian. Lalu, apa sebenarnya yang dapat disimpulkan dari rilis NFP terkini?
Sekilas, laporan ini terlihat positif dan mengindikasikan ketahanan pasar tenaga kerja AS di akhir 2025. Namun, jika dicermati lebih dalam, fokus pada angka utama saja berisiko mengaburkan nuansa serta tren yang sedang berkembang.
-
Perubahan jumlah tenaga kerja non-pertanian (Non-Farm Payrolls/NFP) tercatat meningkat sebesar 50.000, di bawah ekspektasi pasar sebesar 60.000, serta lebih rendah dibandingkan pembacaan sebelumnya di 56.000. Angka ini memang tidak bisa disebut lemah secara absolut, namun mencerminkan kelanjutan tren perlambatan pertumbuhan lapangan kerja. Sebagai perbandingan, rilis NFP pada Januari (Desember) 2024 dan 2023 berada di kisaran 200.000. Ini menunjukkan penurunan pertumbuhan tahunan sekitar 70% pada indikator tersebut.
-
Temuan ini dikonfirmasi oleh laporan BLS. Sepanjang 2025, total kenaikan lapangan kerja hanya mencapai 584.000, jauh di bawah peningkatan pada 2024 yang mencapai sekitar 2 juta.
-
Revisi data juga menjadi faktor penting. Data Oktober direvisi turun sebesar 68.000, sementara November direvisi turun 56.000. Artinya, perekonomian AS menciptakan lebih dari 100.000 lapangan kerja lebih sedikit dibandingkan perkiraan pasar sebulan lalu. Hal ini mengindikasikan adanya kecenderungan estimasi awal yang terlalu optimistis terhadap kondisi ketenagakerjaan.
-
Sebagian besar perhatian pasar tertuju pada indikator pengangguran yang relatif sederhana dan umum digunakan. Tingkat pengangguran turun pada Desember 2025 dari 4,5% menjadi 4,4%, yang secara teori mencerminkan perbaikan kondisi pasar tenaga kerja. Kesimpulan ini tidak sepenuhnya salah, namun mengabaikan detail penting.
-
BLS menggunakan beberapa agregat pengangguran, dengan tingkat resmi merujuk pada agregat “U-4” yang mencakup penganggur dan pekerja yang putus asa. Sementara itu, agregat “U-6”, yang lebih luas dan mencakup pekerja paruh waktu yang terpaksa, naik menjadi 8,7% pada Oktober dan masih berada di level tinggi 8,4% pada Desember.
-
“Gajah di dalam ruangan” pasar tenaga kerja AS tetap berada pada berbagai bentuk pekerjaan sementara, yang dikenal sebagai gig economy. Berdasarkan data, jumlah pekerjaan jenis ini meningkat hingga 980.000 sepanjang 2025. Namun, pertumbuhan tersebut tidak merata dan hampir seluruhnya terkonsentrasi pada paruh kedua 2025.
-
Fenomena pekerjaan sementara juga menjelaskan rendahnya klaim tunjangan pengangguran. Sistem tunjangan pengangguran AS menawarkan dukungan yang sangat terbatas dan dibatasi oleh persyaratan formal yang berbeda di setiap negara bagian. Akibatnya, banyak individu memilih pekerjaan sementara atau paruh waktu, sepenuhnya melewati sistem bantuan pengangguran yang dinilai tidak efisien.
-
Data lain yang mendukung tesis pasar tenaga kerja yang semakin ketat adalah klaim lanjutan tunjangan pengangguran (continuing claims). Angka ini kembali melampaui ekspektasi dan naik menjadi 1,19 juta. Dikombinasikan dengan penurunan klaim awal, kondisi ini menunjukkan bahwa individu yang telah masuk ke sistem tunjangan pengangguran cenderung tetap menganggur lebih lama.
-
Data yang paling menimbulkan keraguan berasal dari sektor swasta. Pertumbuhan lapangan kerja di sektor ini hanya sebesar 37.000, jauh di bawah ekspektasi 64.000. Secara teori, ini dapat mengindikasikan bahwa sektor publik menjadi pendorong utama pertumbuhan tenaga kerja, meskipun terjadi penutupan pemerintahan dan pemutusan hubungan kerja massal. Namun, dugaan ini tidak sepenuhnya dikonfirmasi oleh laporan BLS.
-
Penting untuk dicatat bahwa dampak pengangguran tidak dirasakan secara merata oleh seluruh kelompok masyarakat. Justru sebaliknya, kelompok usia muda mengalami tekanan paling besar. Tingkat pengangguran remaja mencapai 15,7%, sementara kelompok usia 16–24 tahun berada di level 10,4%.
-
Sektor dengan pertumbuhan lapangan kerja tertinggi pada Desember adalah ritel dan gastronomi. Namun, hal ini tidak mencerminkan kesehatan struktural sektor tersebut, karena keduanya juga mencatat kehilangan lapangan kerja bersih terbesar secara tahunan. Pertumbuhan yang lebih konsisten justru terlihat pada sektor perawatan dan layanan kesehatan.
Jika meninjau keseluruhan data pasar tenaga kerja selama setahun terakhir, khususnya menjelang akhir tahun, sejumlah kesimpulan pesimistis dapat ditarik.
-
Konsensus analis dan komentator menyatakan bahwa pasar tenaga kerja masih relatif kuat, meskipun tingkat pengangguran berada di level tertinggi dalam hampir 10 tahun terakhir, di luar periode anomali pandemi COVID.
-
Namun, bahkan penilaian ini belum sepenuhnya mencerminkan kondisi riil, mengingat dampak pekerjaan paruh waktu yang memang memberikan pendapatan, tetapi tidak cukup untuk menopang kemandirian finansial.
-
Situasi generasi muda di pasar tenaga kerja terus memburuk dan mulai bersifat struktural.
-
Tren ketenagakerjaan juga mencerminkan penuaan populasi AS, di mana porsi ekonomi yang semakin besar dialokasikan untuk perawatan lansia. Selain investasi di bidang kecerdasan buatan, kontribusi terbaru terhadap pertumbuhan PDB AS semakin didominasi oleh sektor kesehatan.
-
Dalam konteks ini, arah kebijakan suku bunga AS saat ini belum sepenuhnya mencerminkan kondisi riil pasar tenaga kerja. Ruang manuver The Fed semakin terbatas akibat inisiatif pro-inflasi dari pemerintahan presiden, seperti tarif, serta dampak kecerdasan buatan terhadap struktur pasar tenaga kerja.
Daily Summary: Silver Anjlok 9%, Wall Street Tertekan
Daily Summary: NFP Kuat Tunda Rate Cut The Fed
Morning Wrap: Wall Street Tunggu NFP
Kalender Ekonomi: Indeks dan EURUSD Menanti Data Retail Sales AS