Beberapa hari terakhir memberikan jawaban menarik terhadap satu pertanyaan yang sudah berulang kali muncul di Wall Street selama beberapa bulan terakhir: apa sebenarnya yang bisa menghentikan bull market? Kenaikan suku bunga? Sampai belum lama ini, jawabannya terlihat cukup jelas. Biaya pinjaman yang lebih tinggi seharusnya menekan risk appetite, membuat obligasi lebih menarik, dan memberikan tekanan terhadap harga saham.
Namun kenyataannya berbeda. European Central Bank menaikkan suku bunga, kemudian Federal Reserve mengikuti langkah serupa. Alih-alih jatuh, indeks saham justru bergerak naik. Dalam kasus ECB, reaksi tersebut sebenarnya tidak terlalu mengejutkan. Pasar sudah lama mempersiapkan diri terhadap kenaikan suku bunga dan bank sentral secara konsisten menekankan pentingnya memerangi inflasi.
Keputusan The Fed jauh lebih menarik. Sebelum pertemuan, investor memang sudah memperhitungkan probabilitas hampir 90% bahwa suku bunga akan dinaikkan. Namun kepastian tetap belum ada. Yang paling dikhawatirkan pasar adalah tekanan dari Donald Trump, yang secara terbuka menyerukan kebijakan moneter lebih longgar. Pada akhirnya, The Fed tetap menaikkan suku bunga dan mempertahankan independensinya.
Reaksi pasar langsung terlihat. Bukan sell-off yang terjadi, tetapi kenaikan harga saham. Hal tersebut menunjukkan bahwa suku bunga yang lebih tinggi saja belum cukup untuk membuat investor menyatakan bull market telah berakhir. Tentu saja, biaya uang yang lebih mahal secara bertahap akan menekan risk appetite, meningkatkan biaya pembiayaan perusahaan, dan membuat obligasi lebih kompetitif dibanding saham. Namun pasar juga sudah memperhitungkan kemungkinan adanya kenaikan suku bunga tambahan tahun ini. Karena itu, pertanyaan yang jauh lebih penting sekarang adalah: apa yang akan terjadi pada earnings perusahaan?
Bull Market Teknologi Membutuhkan Investasi yang Terus Membesar
Bull market saat ini, terutama pada sektor teknologi, membutuhkan investasi dalam skala yang terus meningkat. Data center, semikonduktor, infrastruktur energi, dan pengembangan model AI membutuhkan modal yang sangat besar. Perusahaan harus terus meningkatkan spending agar dapat mempertahankan pertumbuhan dan memenuhi ekspektasi pasar. Masalahnya, biaya pembiayaan yang lebih tinggi juga membuat manajemen perusahaan cenderung menjadi lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi.
Di sinilah mulai muncul ketegangan yang mungkin belum sepenuhnya diperhitungkan pasar. Di satu sisi, investor mengharapkan pertumbuhan revenue dan profit yang sangat tinggi, terutama dari perusahaan teknologi terbesar. Di sisi lain, untuk memenuhi ekspektasi tersebut, perusahaan harus terus menaikkan capex.
Perusahaan kemungkinan tetap akan berinvestasi. Namun kecepatannya bisa mulai melambat. Pada valuasi saat ini, bahkan sedikit perlambatan pertumbuhan dapat membawa dampak yang jauh lebih besar dibanding sekadar fakta bahwa earnings masih tumbuh.
Masalahnya Bukan Earnings Turun, Tapi Ekspektasi Terlalu Tinggi
Di sinilah bull market saat ini mungkin mulai mencapai batasnya. Pasar tidak hanya membutuhkan hasil yang bagus.
Pasar membutuhkan hasil yang melampaui ekspektasi, karena ekspektasi itulah yang sebagian besar menjadi dasar valuasi saham saat ini.
Jika earnings tetap tumbuh tetapi kecepatannya lebih lambat dari yang diperkirakan, sementara perusahaan mulai menahan laju investasi, investor dapat mulai mempertanyakan seberapa besar pertumbuhan yang masih tersedia di masa depan.
Hal ini menjadi semakin penting dalam konteks artificial intelligence. Skala investasi AI saat ini sangat besar, dan pasar mengharapkan investasi tersebut menghasilkan pertumbuhan revenue dan profit yang sangat cepat. Semakin tinggi ekspektasi, semakin kecil ruang untuk mengecewakan pasar. Perusahaan masih dapat meningkatkan revenue, mengembangkan teknologi, dan menginvestasikan miliaran dolar. Namun jika pertumbuhannya lebih lambat daripada asumsi pasar, valuasi saat ini akan semakin sulit dipertahankan.
Risiko Terbesar Bukan The Fed, Tapi Earnings
Karena itu, pertanyaan mengenai kapan rally saat ini akan berakhir sebaiknya tidak hanya difokuskan pada kapan The Fed akan kembali menaikkan suku bunga. Yang jauh lebih penting adalah apakah perusahaan-perusahaan AS dapat menghasilkan earnings yang cukup kuat untuk membenarkan valuasi saat ini. Pertanyaan berikutnya adalah apakah mereka mampu mempertahankan tingkat investasi yang dibutuhkan untuk menopang bull market teknologi.
Suku bunga tinggi sendiri mungkin belum cukup untuk menghentikan rally. Risiko yang lebih besar justru muncul ketika ekspektasi pasar terus naik lebih cepat daripada pertumbuhan earnings perusahaan.
Jika perusahaan mulai memperlambat investasi dan hasil keuangan gagal memenuhi standar yang terus meningkat, bull market akan mulai kehilangan sumber bahan bakarnya yang paling penting. Pada titik tersebut, masalah utamanya bukan lagi berapa tinggi suku bunga. Masalahnya adalah apakah perusahaan masih mampu menghasilkan pertumbuhan yang cukup besar untuk membenarkan kenaikan harga saham berikutnya.
Daily Summary: Yield 5% Belum Mampu Matikan Rally Teknologi
US OPEN: Wall Street Mixed, Saham Teknologi Unggul
BREAKING: Data Industri AS Melemah, Dolar Tetap Kuat
BoJ Naik Bunga, Risiko Carry Trade Kembali
Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.