Menurut laporan Bloomberg, NATO sedang mempertimbangkan dukungan bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz yang saat ini terblokir apabila jalur tersebut tidak dibuka kembali pada awal Juli. Bagi pasar keuangan, ini merupakan sinyal penting karena Hormuz tetap menjadi salah satu jalur transit utama dunia untuk ekspor minyak mentah dan LNG. Gangguan berkepanjangan apa pun akan meningkatkan premi risiko geopolitik pada harga energi, sementara prospek keterlibatan NATO dapat memicu kekhawatiran terkait eskalasi konflik yang lebih luas.
Proposal tersebut dilaporkan mendapat dukungan dari beberapa anggota NATO, meskipun hingga saat ini belum ada kesepakatan bulat, sehingga belum ada keputusan operasional yang difinalisasi. Pertemuan para pemimpin NATO di Ankara pada 7–8 Juli berpotensi menjadi agenda penting khususnya bagi pasar minyak, perusahaan pelayaran global, dan mata uang negara-negara pengimpor energi.
Pertanyaan utama bagi investor adalah apakah diskusi tersebut akan menghasilkan misi pengawalan angkatan laut secara nyata atau hanya menjadi bentuk tekanan diplomatik semata. Minyak saat ini diperdagangkan di dekat level USD 110 per barel dan sejauh ini belum menunjukkan reaksi signifikan terhadap laporan tersebut.

Sumber: xStation5
Gelombang Ketiga AI: CPU Mulai Menjadi Kunci Revolusi AI
Home Depot Beri Sinyal Konsumen AS Masih Tahan
Harga Nikel Lonjak Usai Isu Pembatasan Ekspor RI
Preview Earnings Nvidia: Bisakah Menyelamatkan Reli Pasar?
Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.