Menjelang rilis data makroekonomi penting dari Amerika Serikat dan putusan Mahkamah Agung AS terkait tarif, sentimen terhadap indeks saham AS terlihat jauh dari optimistis. Meskipun data CPI kemarin tergolong mendukung, pasar cenderung mengabaikannya dan indeks saham AS ditutup melemah. Kontrak berjangka Nasdaq 100 (US100) turun lebih dari 0,5%, sementara indeks volatilitas VIX naik sekitar 3%. Apabila US100 gagal kembali menembus level 25.800 dalam waktu dekat, pelaku pasar bullish berpotensi kesulitan mempertahankan momentum kenaikan dalam jangka pendek. Indeks ini telah empat kali tertahan di area sekitar 26.000 dan kini turun di bawah dua exponential moving average (EMA) penting, yakni EMA 50 dan EMA 200. Indikator RSI juga terus turun mendekati level 35, meskipun belum memasuki area oversold.
Pasca rilis laporan keuangan, saham Wells Fargo melemah hampir 1,5%, sementara Bank of America bergerak sedikit lebih tinggi. Secara umum, hasil kinerja bank-bank besar sejauh ini dinilai kurang memuaskan oleh Wall Street—JPMorgan tercatat turun lebih dari 4% pada sesi sebelumnya. Perhatian pasar kini tertuju pada pukul 12:30 GMT, saat data PPI dan penjualan ritel AS akan dirilis, serta pada sore hari sekitar pukul 14:00 GMT, ketika Mahkamah Agung AS berpotensi menyampaikan putusannya terkait tarif. Selain itu, pasar juga dapat bereaksi sangat sensitif terhadap skenario apa pun yang melibatkan intervensi AS di Iran, yang akan meningkatkan risiko geopolitik secara keseluruhan dan berpotensi mendorong harga minyak dalam jangka pendek. Kondisi tersebut dapat memperumit langkah Federal Reserve ke depan dan memperkuat argumen untuk mempertahankan suku bunga tetap tinggi lebih lama. Sebaliknya, apabila indeks mampu kembali menembus area 28.000, hal tersebut berpotensi memicu fase kenaikan berikutnya.
Sumber: xStation5
Morning Wrap (12.02.2026)
Daily Summary: NFP Kuat Tunda Rate Cut The Fed
US Open: Payrolls Kuat, Rate Cut Tertunda?
Morning Wrap: Wall Street Tunggu NFP