-
Konflik di Teluk Persia semakin memanas. Israel bersama Amerika Serikat melanjutkan serangan rudal terhadap Iran dalam Operasi “Epic Fury.” Sebagai respons, Iran menembaki pangkalan militer AS di Timur Tengah dan mengancam instalasi minyak di negara-negara Teluk.
-
Presiden Donald Trump menyatakan bahwa operasi berjalan sesuai rencana dan menambahkan bahwa aksi militer dapat berlangsung antara empat hingga lima minggu, dengan serangan terbesar disebut masih akan terjadi.
-
Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz. Secara formal, selat tersebut masih terbuka, dan Amerika Serikat menekankan bahwa Iran tidak memiliki kapasitas nyata untuk memblokirnya. Namun, kapal-kapal mulai menghindari kawasan tersebut, meningkatkan ketegangan di pasar minyak dan mengganggu logistik pengiriman minyak mentah.
-
Dampak konflik Teluk Persia meluas hingga Wall Street. Indeks utama AS mencatat penurunan signifikan. Pada saat penulisan, S&P 500 turun 1,1%, Nasdaq 1,2%, dan Dow Jones sekitar 1%. Sebelumnya, penurunan sempat melebihi 2% sebelum sebagian kerugian terpangkas.
-
Pasar Eropa juga terdampak gelombang risk-off. Seluruh indeks utama ditutup melemah tajam. FTSE 100 Inggris turun lebih dari 2,7%, CAC 40 Prancis hampir 3,5%, DAX Jerman 3,6%, dan IBEX 35 Spanyol lebih dari 4,5%.
-
Menurut laporan terbaru, Spanyol menolak memberikan akses pangkalan militernya kepada AS untuk operasi terhadap Iran. Sebagai respons, presiden AS mengumumkan penghentian hubungan dagang dengan Spanyol.
-
Di pasar valuta asing, dolar AS terus menguat terhadap mata uang utama lainnya. Sebagai aset safe haven, dolar menarik arus modal di tengah meningkatnya ketidakpastian. Sentimen “cash is king” kembali terlihat jelas ketika pasar mencari keamanan dan likuiditas dalam dolar.
-
Data terbaru menunjukkan inflasi tahunan zona euro meningkat menjadi 1,9% pada Februari, melampaui ekspektasi pasar sebesar 1,7%. Inflasi inti HICP juga naik menjadi 2,4% secara tahunan (dibandingkan perkiraan 2,2%), mencerminkan tekanan harga yang masih bertahan. Secara bulanan, HICP naik 0,7% dan inflasi inti 0,8%, sementara pasar sebelumnya memperkirakan penurunan.
-
Logam mulia berada di bawah tekanan berat. Pada saat penulisan, emas turun hampir 4% dan menguji level $5.100 per ons. Perak merosot hampir 7% ke sekitar $83 per ons. Palladium turun 6,2% ke $1.650 per ons, sementara platinum melemah lebih dari 8,5% ke sekitar $2.100 per ons.
-
Sebaliknya, minyak mentah menguat seiring eskalasi konflik. Kontrak Brent naik sekitar 4% dan menguji level $80 per barel, sementara WTI naik sekitar 4,5% ke $74 per barel. Pada puncak sesi hari ini, kenaikan sempat melampaui 5%.
-
Jika konflik semakin dalam dan menyebabkan gangguan pasokan nyata di kawasan tersebut, harga minyak berpotensi menembus level psikologis $100 per barel, yang dapat memperburuk tekanan inflasi dan meningkatkan risiko terhadap pertumbuhan ekonomi global.
-
Pasar kripto juga tertekan. Bitcoin turun sekitar 1% dan diperdagangkan di bawah $69.000. Ethereum melemah lebih dari 2,8% dan turun di bawah level $2.000.
Morning Wrap (03.03.2026)
Daily summary: Pasar Tak Gentar, Valuasi Menyesuaikan
Konflik Iran Tekan Wall Street
Tiga Pasar yang Perlu Dipantau Minggu Depan (27.02.2026)