Mulai hari ini, Treasury AS menggandakan buyback obligasi tenor panjang dari US$2 miliar menjadi minimal US$4 miliar per operasi. Langkah ini muncul ketika tekanan di pasar obligasi AS meningkat, dan justru di situlah masalah utamanya.
Yield di Titik Kritis, Treasury Turun Tangan
Pengumuman ini muncul setelah periode yang brutal bagi pasar obligasi.
Pada 18 Agustus, yield Treasury 30 tahun menembus 5,33%, level tertinggi sejak Juni 2007, sementara yield 10 tahun naik ke 4,72%.
Pada minggu yang sama, utang nasional AS menembus US$40 triliun.
Defisit selama 10 bulan pertama FY2026 sudah mencapai US$1,8 triliun, melampaui total FY2025. Sementara itu, beban bunga utang mencapai US$1,4 triliun dalam 12 bulan terakhir, bahkan lebih besar dibandingkan anggaran pertahanan.
Ketika Treasury Secretary Scott Bessent mengumumkan penggandaan buyback pada 19 Agustus, yield 30 tahun langsung turun sekitar 9 basis poin menjadi 5,196%.
Namun, reaksi tersebut tidak bertahan lama. Sehari kemudian, yield kembali bergerak naik.

Data yield per TradingEconomics; data fiskal per U.S. Treasury & CBO
Bukan QE, dan Pasar Tahu Itu
Buyback ini bukan quantitative easing atau QE.
Treasury membeli kembali obligasi tenor panjang yang sudah beredar dan membiayainya dengan menerbitkan T-bills jangka pendek. Tidak ada pencetakan uang baru dan langkah tersebut tidak mengubah total utang pemerintah.
Bessent menyebut strategi ini sebagai "Treasury Twist", merujuk pada Operation Twist pada era Presiden Kennedy pada 1961.
Sementara itu, analis Evercore ISI Krishna Guha menyebutnya sebagai "weak form of Operation Twist", dengan potensi dampak yang relatif terbatas.
Masalah struktural pasar obligasi AS tetap sama: defisit fiskal yang besar, supply Treasury yang terus meningkat, dan persaingan mendapatkan modal dari penerbitan obligasi korporasi, termasuk perusahaan teknologi.
Barclays menilai kenaikan yield belakangan juga tidak hanya berkaitan dengan inflasi.
Term premium menjadi semakin penting, yaitu kompensasi tambahan yang diminta investor untuk memegang obligasi pemerintah AS berjangka panjang di tengah meningkatnya ketidakpastian fiskal.
Yang Harus Diantisipasi Investor
Mulai hari ini, program buyback yang lebih besar memasuki ujian pasar sesungguhnya.
Program tersebut akan menargetkan obligasi dengan tenor 10–20 tahun dan 20–30 tahun hingga 4 November.
Namun, kondisi pasar justru semakin kompleks.
Data payroll Agustus yang kuat, dengan 162 ribu pekerjaan baru dibandingkan ekspektasi 56 ribu, meningkatkan kembali ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada September.
Yield Treasury 10 tahun pun kembali naik ke sekitar 4,79%.
Data CPI dan PPI AS pekan ini dapat menjadi katalis berikutnya. Jika inflasi kembali menunjukkan tekanan yang tinggi, ekspektasi suku bunga dapat meningkat dan mengimbangi efek positif buyback terhadap pasar obligasi.
Deutsche Bank melihat langkah tersebut sebagai indikasi meningkatnya kekhawatiran pemerintah terhadap kenaikan yield. Sejumlah analis bahkan menilainya sebagai bentuk ringan dari financial repression.
Apa pun istilah yang digunakan, buyback tetap merupakan alat taktis, bukan solusi struktural.
Selama defisit fiskal masih berada di atas 5% PDB dan pemerintah terus membutuhkan penerbitan utang dalam jumlah besar, tekanan terhadap yield Treasury tenor panjang berpotensi tetap bertahan.
Takeaway untuk Investor
Buyback Treasury dapat memberikan dukungan terhadap likuiditas pasar obligasi dalam jangka pendek, tetapi tidak mengubah fundamental yang menjadi sumber tekanan utama.
Defisit tetap besar, supply obligasi terus meningkat, dan investor meminta kompensasi lebih tinggi untuk menanggung risiko memegang utang AS berdurasi panjang.
Jika realisasi buyback dianggap pasar kurang agresif, yield dapat kembali bergerak naik. Kondisi ini penting bagi investor saham karena kenaikan yield Treasury dapat meningkatkan discount rate dan memberikan tekanan terhadap valuasi, terutama pada saham growth dan teknologi.
Fokus berikutnya berada pada data CPI AS pekan ini dan keputusan The Fed pada 17 September, yang berpotensi menentukan arah yield Treasury sekaligus sentimen pasar saham AS.
Daily Summary: Wall Street Melemah, Minyak Dekati US$100
US Open: Wall Street Kembali, Inflasi Jadi Ujian The Fed
Harga Minyak Dekati US$100, Risiko Geopolitik Makin Tinggi
Market Wrap: Saham Chip Asia Naik, Minyak Tembus US$98
Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.