Nvidia mendapat hampir seluruh perhatian sebagai wajah dari AI boom. Namun di belakang layar, Cisco mulai muncul sebagai salah satu penerima manfaat yang lebih tidak terduga.
Alasannya cukup sederhana. GPU saja tidak cukup. Ribuan chip di dalam data center AI harus bisa terhubung satu sama lain dengan kecepatan sangat tinggi. Di sinilah bisnis lama Cisco, seperti switching, routing, dan optics, kembali menjadi infrastruktur penting dalam era artificial intelligence.
AI Butuh Networking, Bukan Hanya GPU
Data center AI modern menghubungkan puluhan ribu GPU dalam satu cluster. Strukturnya jauh lebih padat dibanding data center enterprise tradisional. Semakin besar cluster AI, semakin besar pula volume data yang harus berpindah antarchip dan antar data center. Hal ini memaksa hyperscaler meningkatkan kapasitas backbone jaringan mereka.
Cisco memposisikan Silicon One untuk switching dan Acacia untuk coherent optics sebagai bagian penting dari arsitektur jaringan generasi baru. Menurut manajemen, traffic AI dengan pola “scale-across” antar data center dapat mencapai sekitar 14 kali lebih besar dibanding data center interconnect tradisional.
Implikasinya cukup besar. Bottleneck berikutnya dalam AI infrastructure mungkin tidak lagi hanya soal apakah perusahaan memiliki cukup GPU. Pertanyaannya mulai bergeser menjadi: apakah semua GPU tersebut bisa dihubungkan dan berkomunikasi secara efisien?
Jika benar, maka networking menjadi salah satu bagian paling penting dalam siklus capex AI berikutnya.
Angka Sudah Mulai Mendukung Cerita
Pada fiscal year 2026 yang berakhir Juli 2026, Cisco menerima sekitar US$9,3 miliar order infrastruktur AI dari hyperscaler. Angka tersebut sekitar 4,5 kali lebih besar dibanding FY2025. Dari total order tersebut, sekitar US$4 miliar sudah masuk sebagai revenue di FY2026. Manajemen juga memperkirakan revenue dari infrastruktur AI dapat meningkat menjadi sekitar US$7,5 miliar pada FY2027. Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa AI networking sudah mulai menjadi kontributor nyata terhadap bisnis Cisco, bukan lagi sekadar narasi jangka panjang.
Gambar 1: Pertumbuhan Infrastruktur AI Cisco
Sumber: Cisco Q4 FY2026 earnings release
Demand Bukan Cuma dari Hyperscaler
Salah satu detail paling penting dalam laporan Cisco adalah bahwa pertumbuhan order tidak hanya berasal dari hyperscaler.
Pada Q4 FY2026:
- networking product orders naik sekitar 40% YoY;
- pertumbuhan double-digit sudah berlangsung selama delapan kuartal berturut-turut;
- total product orders naik sekitar 35%;
- bahkan tanpa hyperscaler, product orders masih tumbuh sekitar 25%.
Demand tambahan juga datang dari:
- neocloud;
- sovereign cloud;
- enterprise.
Kontribusi dari kelompok di luar hyperscaler tersebut bahkan sudah melampaui US$1 miliar per tahun. Ini penting karena menunjukkan demand networking AI mulai menyebar ke lebih banyak jenis pelanggan. Artinya, Cisco tidak sepenuhnya bergantung pada satu atau dua hyperscaler besar. Jika tren tersebut berlanjut, peluang pertumbuhan Cisco akan lebih luas daripada sekadar mengikuti capex Microsoft, Meta, Amazon, atau Google.
Cisco Tidak Perlu Mengalahkan Nvidia
Core thesis-nya cukup sederhana. Cisco tidak perlu menjadi produsen GPU. Perusahaan hanya perlu memastikan bahwa semakin banyak GPU yang dibeli dapat terhubung, berkomunikasi, dan beroperasi secara efisien dalam skala besar.
Jika data center AI terus membesar, kompleksitas jaringan ikut meningkat. Dan semakin kompleks jaringan tersebut, semakin besar kebutuhan terhadap switching, routing, dan optical connectivity.
Dalam konteks ini, Cisco bisa menjadi penerima manfaat sekunder dari AI boom. Bukan karena perusahaan membuat chip AI utama, tetapi karena seluruh ekosistem AI membutuhkan jaringan yang lebih cepat dan lebih padat.
Tapi Margin Jadi Risiko
Meski ceritanya menarik, ada risiko yang perlu diperhatikan. Gross margin Cisco pada Q4 turun sekitar 210 basis poin. Salah satu penyebabnya adalah mix hardware AI yang semakin besar. Produk infrastruktur AI cenderung memiliki margin yang lebih tipis dibanding rata-rata bisnis Cisco. Artinya, pertumbuhan revenue yang cepat belum tentu langsung menghasilkan pertumbuhan profit dengan kecepatan yang sama. Bagi investor, ini menjadi trade-off penting: AI dapat mempercepat pertumbuhan Cisco, tetapi juga bisa menekan margin jika kontribusi hardware terus meningkat.
Valuasi Sudah Tidak Murah
Risiko kedua adalah valuasi. Saham Cisco sudah rally cukup jauh dalam satu tahun terakhir dan saat ini diperdagangkan di sekitar 22x forward earnings. Multiple tersebut menunjukkan bahwa pasar sudah mulai memasukkan ekspektasi pertumbuhan AI ke dalam harga saham. Karena itu, tolerance terhadap kekecewaan menjadi lebih rendah. Jika order growth mulai melambat atau revenue AI tidak sesuai guidance, sentimen terhadap saham bisa berubah dengan cepat.
Takeaway
Cisco mungkin tidak menjadi nama pertama yang muncul ketika membicarakan AI. Namun justru di situlah daya tarik ceritanya. Semakin besar cluster AI, semakin besar kebutuhan terhadap jaringan yang menghubungkan seluruh compute tersebut.
Cisco tidak perlu mengalahkan Nvidia. Perusahaan cukup menjadi salah satu penyedia infrastruktur yang memastikan seluruh ekosistem AI dapat bekerja dalam skala besar.
Dengan order AI infrastructure mencapai US$9,3 miliar dan revenue yang diproyeksikan naik ke US$7,5 miliar pada FY2027, bisnis networking Cisco terlihat semakin relevan.
Namun investor tetap perlu memperhatikan dua hal utama: apakah pertumbuhan order bisa bertahan, dan apakah Cisco bisa mempertahankan margin ketika kontribusi hardware AI semakin besar.
Jika jawabannya positif, bisnis lama Cisco yang selama ini dianggap matang justru bisa menjadi salah satu sumber pertumbuhan baru di era AI.
Shopify Buka Akses Muse, Amazon Pilih Menutup
Daily Summary: Nasdaq Unggul Saat Minyak Turun Tajam
AWS Dapat Lampu Hijau NATO, Defense Jadi Pasar Baru
AMD Tembus US$1 Triliun, Ekspektasi Ikut Naik
Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.