Harga emas turun lebih dari 4% pada Senin, menembus sejumlah level support penting dan jatuh di bawah US$4.200 per ons ke level terendah dalam hampir dua bulan.
Aksi jual di pasar logam mulia merupakan hasil dari kombinasi tekanan akibat kenaikan yield US Treasury dan kembali meningkatnya kekhawatiran inflasi setelah harga minyak melonjak.
Mengikuti pergerakan emas, logam mulia lainnya juga turun tajam. Harga perak bahkan sempat melemah hingga 4,97% ke US$61,03 per ons.
Yield Obligasi dan Harga Minyak Menekan Aset Tanpa Imbal Hasil
Kondisi di pasar obligasi tetap menjadi faktor utama yang mendorong harga logam mulia turun.
Yield US Treasury tenor 10 tahun naik pada Senin ke 5,2045% atau menguat 0,85%, tetap berada dekat level tertinggi sejak 2007. Sementara itu, yield Treasury tenor 2 tahun melonjak 1,11% menjadi 4,9056%.
Kenaikan suku bunga bebas risiko secara signifikan meningkatkan opportunity cost untuk memegang emas karena aset ini tidak menghasilkan bunga maupun dividen. Sumber: Bloomberg Financial LP.
Kenaikan harga energi juga memberikan tekanan terhadap pasar obligasi. Penolakan Gedung Putih terhadap proposal Iran untuk membuka kembali jalur lalu lintas melalui Selat Hormuz dan mengakhiri pertempuran kembali memicu kenaikan harga minyak.
WTI naik 2,20% pada hari ini ke US$94,46 per barel, sementara Brent menguat 1,89% menjadi US$99,24.
Kenaikan harga minyak turut memengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan moneter Federal Reserve.
Investor khawatir biaya energi yang lebih tinggi akan membuat tekanan inflasi semakin bertahan dalam perekonomian AS dan memaksa The Fed melanjutkan siklus pengetatan kebijakan moneter.
Pasar saat ini memperhitungkan probabilitas hampir 68% bahwa The Fed akan kembali menaikkan suku bunga pada pertemuan Oktober.
Harga Minyak: Ekspor Pulih, Kenapa Brent Masih Dekat US$100?
Market Wrap: Wall Street Koreksi, Yield Bertahan Tinggi
Minyak Turun saat Negosiasi AS-Iran Berlanjut
Kalender Ekonomi: Trump-Xi Tanpa Terobosan
Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.