- Harga gas alam berada di level US$2,998 per MMBtu setelah mencatatkan penurunan mingguan sebesar 9,56%.
- Persediaan gas alam Amerika Serikat naik 67 miliar kaki kubik, lebih rendah dari konsensus analis.
- Investor spekulatif memegang posisi jual bersih sebesar 233.578 kontrak, menciptakan risiko short squeeze.
- Harga gas alam berada di level US$2,998 per MMBtu setelah mencatatkan penurunan mingguan sebesar 9,56%.
- Persediaan gas alam Amerika Serikat naik 67 miliar kaki kubik, lebih rendah dari konsensus analis.
- Investor spekulatif memegang posisi jual bersih sebesar 233.578 kontrak, menciptakan risiko short squeeze.
Natural Gas
Harga gas alam (NGAS) saat ini berada di level US$2,998 per MMBtu, mencatatkan penurunan mingguan sebesar 9,56%. Namun, dalam satu bulan terakhir, harga masih menguat 3,59%.
Secara kumulatif sejak awal tahun (year-to-date atau YTD), harga gas alam telah turun 17,68%, sementara dalam periode 12 bulan terakhir mencatatkan pelemahan sebesar 13,92%.
Indikator Relative Strength Index (RSI) berada pada level netral di sekitar 45 poin. Sementara itu, indikator Simple Moving Average (SMA) dan Moving Average Convergence Divergence (MACD) memberikan sinyal bearish, harga saat ini masih berada di bawah rata-rata pergerakan 20 periode (MA20).
Area support teknikal jangka pendek berada di kisaran US$2,85–2,90/MMBtu, dengan level psikologis US$3,00/MMBtu yang sedang diuji pasar. Sementara itu, resistance utama berada di sekitar puncak lokal US$3,20–3,28/MMBtu.
Sumber: xStation
Fundamental dan Kondisi Pasar Gas Alam
Data resmi Energy Information Administration (EIA) Amerika Serikat menunjukkan bahwa penambahan persediaan gas alam ke fasilitas penyimpanan bawah tanah mencapai 67 miliar kaki kubik (billion cubic feet atau bcf) untuk pekan yang berakhir pada 9 Oktober.
Angka tersebut lebih rendah dibandingkan penambahan 85 bcf pada laporan sebelumnya.
Kenaikan persediaan sebesar 67 bcf juga berada di bawah konsensus analis yang memperkirakan peningkatan 76 bcf, serta lebih rendah dibandingkan rata-rata musiman lima tahun sebesar 90 bcf untuk periode yang sama.
Total persediaan gas alam Amerika Serikat mencapai 3,567 triliun kaki kubik (trillion cubic feet atau tcf). Jumlah ini berada 3,9% di bawah periode yang sama tahun sebelumnya, tetapi masih 1,3% lebih tinggi dibandingkan rata-rata musiman beberapa tahun terakhir.
Produksi gas alam di 48 negara bagian utama Amerika Serikat (Lower 48) turun menjadi rata-rata 110,8 bcf per hari pada Oktober, dibandingkan rekor produksi 113,3 bcf per hari yang tercatat pada Agustus dan September.
Namun, produksi saat ini mulai menunjukkan pemulihan, sehingga kembali memberikan tekanan terhadap harga gas alam.
Gangguan operasional akibat badai, deklarasi force majeure pada sejumlah jalur pipa utama, serta kegiatan pemeliharaan terjadwal maupun darurat telah membatasi pasokan gas alam domestik AS.
Sementara itu, rata-rata aliran gas untuk kebutuhan ekspor LNG (feedgas) ke terminal utama Amerika Serikat melemah menjadi 17,5 bcf per hari, turun dari 17,9 bcf per hari pada September.
Prakiraan cuaca jangka pendek menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah Amerika Serikat akan mengalami suhu yang lebih hangat dibandingkan kondisi normal setidaknya hingga 29 Oktober.
Kondisi tersebut berpotensi menunda peningkatan permintaan gas untuk pemanas ruangan (heating demand) dan membatasi konsumsi langsung dari sektor pembangkit listrik.
Di pasar Asia, harga kargo LNG spot telah melampaui US$30 per juta BTU akibat meningkatnya risiko pelayaran dan logistik di Timur Tengah. Situasi ini turut mendorong kenaikan premi risiko transportasi energi secara global.
Sementara itu, pasar gas Eropa dan Amerika Serikat mulai menghadapi peningkatan struktural permintaan listrik dari infrastruktur komputasi dan pusat data (data center).
Perkembangan ini menciptakan sumber permintaan listrik jangka panjang yang relatif tidak elastis, termasuk kebutuhan pembangkitan listrik berbahan bakar gas alam.

Dalam jangka pendek, suhu yang sedikit lebih tinggi dari normal diperkirakan terjadi di sejumlah negara bagian wilayah tengah AS, yang merupakan kawasan dengan konsumsi gas alam untuk pemanas cukup besar. Sumber: NOAA

Persediaan gas alam saat ini berada di sekitar rata-rata lima tahun, tetapi harga mulai kembali mengalami pelemahan. Meski demikian, periode dimulainya penarikan gas dari fasilitas penyimpanan (inventory withdrawal), yang biasanya terjadi pada pertengahan November, akan menjadi faktor penting dalam menentukan arah harga berikutnya. Sumber: EIA, XTB
Valuasi Historis (Z-Score) dan Posisi Spekulan CFTC
Analisis standar deviasi menunjukkan bahwa harga gas alam masih diperdagangkan di bawah rata-rata historis beberapa tahun terakhir.
Hal ini tercermin dari indikator Z-score berikut:
-
Z-score 1 tahun (Z1Y): -0,46
-
Z-score 2 tahun (Z2Y): -0,72
-
Z-score 5 tahun (Z5Y): -0,40
Pergerakan Z-score lima tahun menunjukkan tren pemulihan bertahap dalam beberapa bulan terakhir.
Enam bulan lalu, indikator ini berada di level -0,60, kemudian meningkat menjadi -0,55 pada tiga bulan lalu. Sebulan sebelumnya, deviasi negatif menyempit menjadi -0,47, sebelum akhirnya stabil pada posisi saat ini di -0,40.
Perubahan tersebut mencerminkan normalisasi valuasi secara perlahan dan menunjukkan bahwa pasar mulai keluar dari kondisi undervaluasi yang lebih dalam.

-
Berdasarkan data Commodity Futures Trading Commission (CFTC) tertanggal 13 Oktober 2026, investor spekulatif memegang posisi jual bersih (net short) sebesar 233.578 kontrak.
-
Posisi tersebut menghasilkan Z-score ekstrem sebesar -2,02, dengan persentil historis hanya 1,3%. Sementara itu, porsi posisi beli (long positions) dalam portofolio dana investasi hanya mencapai 35,2%.
-
Dalam sepekan terakhir, perubahan posisi spekulatif relatif kecil, dengan penambahan bersih 2.861 kontrak yang mengurangi eksposur net short.

- Jika kedua indikator tersebut digabungkan, terlihat adanya perbedaan yang cukup mencolok.
- Posisi modal spekulatif menunjukkan sentimen bearish yang sangat ekstrem, tetapi kondisi tersebut belum sepenuhnya mencerminkan perbaikan valuasi yang terlihat dari kenaikan Z-score lima tahun.
- Ketidakseimbangan ini menciptakan risiko pergerakan harga yang asimetris, terutama potensi penutupan posisi jual secara cepat oleh investor institusional (short covering), yang dapat memicu short squeeze.
- Dengan porsi posisi long yang sangat rendah, gangguan pasokan atau perubahan cuaca menjadi lebih dingin berpotensi mendorong kenaikan harga gas alam secara cepat akibat penutupan paksa posisi short.
Skenario Harga Gas Alam: Bullish dan Bearish
Skenario Bullish: Gas Alam Berpotensi Rebound
Skenario kenaikan harga gas alam bergantung pada masuknya massa udara Arktik ke wilayah tengah dan timur Amerika Serikat pada awal November.
Penurunan suhu secara signifikan berpotensi meningkatkan permintaan gas untuk pemanas, terutama apabila produksi di wilayah Lower 48 tetap berada di bawah 111 bcf per hari.
Katalis tambahan dapat muncul apabila permintaan feedgas dari terminal LNG kembali meningkat hingga melampaui 18 bcf per hari.
Kombinasi kenaikan permintaan, keterbatasan produksi, dan penutupan posisi short oleh dana spekulatif berpotensi mendorong harga gas alam menembus level US$3,10/MMBtu.
Dalam kondisi tersebut, penembusan resistance teknikal di US$3,20/MMBtu dapat membuka peluang kenaikan menuju target kuartalan model di US$3,28/MMBtu.
Jika momentum bullish terus berlanjut, harga gas alam berpotensi menguji zona resistance berikutnya pada US$3,45–3,50/MMBtu.
Skenario Bearish: Risiko Penurunan Gas Alam Berlanjut
Skenario pelemahan lebih lanjut dapat terjadi apabila suhu yang lebih hangat dibandingkan rata-rata musiman bertahan hingga paruh pertama November.
Kondisi tersebut akan menekan permintaan gas untuk pemanas dan berpotensi meningkatkan penambahan persediaan di atas tingkat normal, sehingga memperbesar surplus stok dibandingkan rata-rata lima tahun.
Tekanan pasokan juga dapat meningkat apabila produksi gas alam AS pulih dengan cepat menuju kapasitas penuh seperti pada akhir musim panas, yakni sekitar 113 bcf per hari.
Selain itu, gangguan operasional berkepanjangan pada fasilitas pencairan LNG Amerika Serikat dapat membatasi ekspor dan meningkatkan ketersediaan gas di pasar domestik.
Dari sisi teknikal, penembusan ke bawah support psikologis US$2,90/MMBtu yang disertai penutupan sesi secara konsisten di bawah level tersebut akan mengonfirmasi dominasi sinyal bearish dari indikator moving average.
Apabila skenario ini terjadi, harga gas alam berpotensi turun menuju US$2,75/MMBtu.
Dalam kondisi tekanan jual yang lebih ekstrem, risiko pelemahan lanjutan dapat membawa harga ke area US$2,60/MMBtu.
Dengan demikian, arah harga gas alam dalam beberapa pekan mendatang akan sangat bergantung pada perubahan cuaca Amerika Serikat, laju produksi domestik, aktivitas ekspor LNG, dan respons investor spekulatif terhadap perubahan fundamental pasar.
Market Wrap: Nasdaq Rebound, Minyak US$110
Nasdaq Rebound 1%, Saham AI Diuji
Market Wrap: Nasdaq Rebound, Saham AI Kembali Disorot
Market Wrap: Wall Street Memulih, Minyak Turun
Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.