00.33 · 22 Oktober 2026

Harga Gas Alam AS Anjlok 6%

Harga gas alam AS kontrak November turun 6% pada perdagangan hari ini, mencapai sekitar US$2,81 per MMBtu. Level tersebut merupakan yang terendah dalam tiga pekan terakhir sekaligus melanjutkan aksi jual tajam dengan penurunan mingguan dua digit sebesar 14,4%.

Setelah proses pergantian kontrak berjangka (rollover) ke kontrak Desember besok, harga akan dibuka pada level yang lebih rendah, sekitar US$3,20/MMBtu. Sementara itu, kontrak Januari, yang biasanya memiliki harga tertinggi dalam struktur kontrak berjangka karena bertepatan dengan puncak musim pemanas, saat ini diperdagangkan mendekati US$3,60/MMBtu.

Musim Gugur Hangat Menekan Permintaan Gas Alam untuk Pemanas

Faktor utama yang terus menekan harga gas alam AS adalah kondisi cuaca.

Commodity Weather Group memperkirakan suhu di atas rata-rata normal akan berlangsung di wilayah timur Amerika Serikat hingga 3 November.

National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) juga mengonfirmasi sinyal cuaca hangat di dua pertiga wilayah selatan AS selama periode 26–30 Oktober, serta di sebagian besar wilayah Pantai Timur pada pekan berikutnya.

Selain itu, pasar semakin mengkhawatirkan prediksi fenomena Super El Niño, yang diperkirakan dapat menyebabkan musim dingin lebih ringan daripada biasanya di seluruh Belahan Bumi Utara.

Dari sisi pasokan, tekanan harga sedikit tertahan oleh penurunan produksi gas alam AS menjadi 111,3 miliar kaki kubik per hari (bcfd) pada Oktober, dibandingkan rekor 113,3 bcfd pada Agustus–September.

Ekspor gas alam cair (Liquefied Natural Gas atau LNG) juga meningkat menjadi 18,1 bcfd, dari 17,9 bcfd pada September.

Namun, penurunan produksi dan peningkatan ekspor LNG tersebut belum cukup untuk mengimbangi besarnya pelemahan permintaan gas alam untuk kebutuhan pemanas.

Persediaan Gas Alam AS: Surplus Menyusut, tetapi Masih di Atas Normal

Laporan terbaru Energy Information Administration (EIA) untuk pekan yang berakhir pada 9 Oktober menunjukkan penambahan persediaan gas alam (storage injection) sebesar 67 miliar kaki kubik (bcf), dibandingkan 85 bcf pada laporan sebelumnya.

Total persediaan gas alam AS mencapai 3.567 bcf, masih 1,3% di atas rata-rata lima tahun, meskipun berada 3,9% di bawah level pada periode yang sama tahun lalu.

Laporan persediaan gas alam EIA yang akan dirilis besok menjadi faktor penting bagi arah pasar berikutnya.

Pasar membutuhkan angka penambahan persediaan yang lebih kecil serta prakiraan cuaca yang lebih dingin untuk membangun ekspektasi pengetatan keseimbangan pasokan dan permintaan, bahkan jika hanya dalam jangka pendek.

Posisi Spekulatif Gas Alam: Sentimen Bearish Mendekati Rekor

Laporan terbaru Commodity Futures Trading Commission (CFTC) menunjukkan bahwa posisi jual bersih (net short) dana spekulatif mencapai 233.578 kontrak, menempatkannya pada persentil ke-1,3 dalam distribusi historis.

Kondisi ini mencerminkan posisi pasar yang sangat berat ke satu arah, yaitu bearish.

Situasi tersebut menciptakan potensi terjadinya short squeeze yang tajam apabila muncul kejutan prakiraan cuaca dingin, bahkan dalam skala kecil.

Short squeeze terjadi ketika investor yang sebelumnya mengambil posisi jual terpaksa membeli kembali kontrak untuk menutup posisi mereka, sehingga dapat memicu kenaikan harga secara cepat.

Namun, untuk saat ini, dominasi posisi bearish tersebut masih sepenuhnya mengonfirmasi arah penurunan harga gas alam AS.

Analisis Teknikal Gas Alam AS: Tren Bearish Masih Dominan

Harga gas alam AS saat ini mendekati level US$2,80/MMBtu, yang bertepatan dengan level Fibonacci retracement 23,6%, dan diperdagangkan 5,2% di bawah Simple Moving Average 50 periode (SMA50).

Indikator Relative Strength Index (RSI) berada di level 38, mendekati wilayah jenuh jual (oversold).

Namun, indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD) dan rata-rata pergerakan harga masih menunjukkan struktur bearish yang jelas.

Area support terdekat berada pada US$2,70–2,75/MMBtu, dengan risiko penurunan lanjutan menuju US$2,65/MMBtu.

Dalam skenario aksi jual yang lebih dalam, harga gas alam berpotensi melemah hingga US$2,50/MMBtu.

Sementara itu, resistance berada pada level psikologis US$3,00/MMBtu dan US$3,15/MMBtu, yang berdekatan dengan indikator SMA50.


 
22 Oktober 2026, 04.19

Earnings Tesla Q3: Arus Kas Positif, Merger SpaceX Disorot

22 Oktober 2026, 03.37

Earnings Meta Q3: Revenue Rekor, Arus Kas Negatif

22 Oktober 2026, 01.07

Daily Summary: Nasdaq Naik, SpaceX dan Tesla Jadi Sorotan

21 Oktober 2026, 22.58

Rusia Jual Cadangan Emas 10 Bulan, Harga Emas Terancam?

Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.

Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.
Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.