23.52 · 26 Agustus 2026

Harga Minyak Turun, tapi Risiko Oversupply 2027 Mulai Muncul

Koreksi harga minyak baru-baru ini, yang sempat mencapai hingga 8% minggu ini, didorong oleh meredanya emosi jangka pendek terkait Timur Tengah, bukan oleh solusi permanen terhadap krisis yang sedang berlangsung dan sebelumnya diperkirakan dapat diselesaikan hanya dalam beberapa minggu. Pasar bereaksi terhadap berbagai headline mengenai potensi deeskalasi situasi, tetapi pada akhirnya belum terjadi perubahan yang benar-benar berarti.

Sementara itu, aktivitas ekonomi tetap berjalan dan berbagai solusi mulai diterapkan, tidak hanya untuk menjaga kelangsungan perdagangan di pasar minyak, tetapi juga untuk mengurangi risiko terulangnya situasi serupa di masa depan. Meskipun fundamental seperti permintaan dan pasokan menjadi faktor utama harga minyak dalam jangka panjang, dalam jangka pendek pergerakan harga lebih banyak ditentukan oleh headline media yang telah disebutkan sebelumnya. Lalu, apa saja faktor penting di balik penurunan harga terbaru?

  • Pembukaan diplomatik di Teheran: Pertemuan antara Menteri Luar Negeri Oman Badr al-Busaidi dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi meningkatkan harapan akan terbentuknya koridor pelayaran sementara di Selat Hormuz. Namun, kemudian muncul informasi negatif dari Iran mengenai minimnya prospek pembicaraan serta kabar bahwa sebuah tanker India berbalik arah.
  • "Economic D-Day" yang lebih ringan: Paket sanksi yang diumumkan Menteri Keuangan AS Scott Bessent ditafsirkan trader sebagai bentuk tekanan negosiasi, bukan blokade total. Di sisi lain, Iran masih menghadapi kesulitan besar dalam mengekspor minyak, sementara Donald Trump kembali berbicara mengenai upaya mengisolasi Iran lebih jauh.
  • Kenaikan persediaan minyak mentah AS: Laporan API menunjukkan kenaikan stok minyak AS sebesar 4,2 juta barel, dibandingkan ekspektasi kenaikan 1,8 juta barel, sehingga sempat mengurangi tekanan di pasar lokal. Namun, laporan tersebut kemudian dibantah oleh data DOE yang menunjukkan kenaikan stok minyak mentah yang relatif kecil serta penurunan tajam persediaan produk minyak.
  • Arus minyak diam-diam dari Teluk: Meski retorika perang tetap tinggi, semakin banyak minyak mentah yang secara fisik keluar dari Teluk Persia melalui jalur alternatif dan rute yang mendapat pengawalan. Meski secara resmi terdapat blokade ganda, dalam 24 jam terakhir sedikitnya tujuh kapal berhasil melewati Selat Hormuz dengan transponder aktif, sementara kemungkinan jumlah yang melewati jalur tersebut secara tersembunyi beberapa kali lebih besar.

Hedging Produsen yang Agresif dan Risiko Kekurangan Pembeli pada 2027

Ketika pasar spot masih didominasi headline media, perubahan fundamental penting sedang berlangsung di bagian paling jauh dari forward curve. Kenaikan harga kontrak 2027 hingga sekitar US$80 untuk Brent dan sekitar US$75 untuk WTI telah memicu gelombang hedging dari perusahaan produksi, terutama sektor E&P secara luas.

  • Mengamankan Return on Assets atau ROA 7–10%: Harga US$80 memungkinkan produsen di AS, terutama Permian, serta Brasil dan Afrika Barat untuk menjamin tingkat pengembalian aset yang stabil sekaligus mengunci revenue untuk satu tahun penuh. Perusahaan minyak sering disebut sangat agresif dalam meningkatkan aktivitas pengeboran, dan jika mereka dapat membiayainya dengan dana sendiri sambil tetap terlindungi melalui hedging, potensi kenaikan produksi dapat menjadi signifikan.
  • Peningkatan Belanja Modal: Proyek-proyek yang awalnya direncanakan dengan asumsi harga minyak US$60–65 per barel, seperti yang terlihat pada akhir 2025 dan awal 2026, kini dapat didanai penuh ketika harga berada di sekitar US$80 per barel.
  • Potensi Pertumbuhan Produksi Minyak: AS, Kanada, Brasil, negara-negara lain di kawasan Amerika, serta beberapa negara Afrika berpotensi meningkatkan produksi hingga 1 juta barel per hari tahun depan berkat kemampuan mengunci harga di sekitar US$80 per barel. Marginal cost untuk tambahan satu barel dari proyek baru umumnya berada di kisaran US$55–60. Bahkan produksi berbiaya tinggi seperti shale maupun oil sands masih dapat menghasilkan keuntungan pada harga US$80 per barel.
  • Ancaman Kekurangan Pembeli pada 2027: Jika konflik di Timur Tengah akhirnya terselesaikan, produksi baru akan bertemu dengan harga tinggi yang telah dikunci produsen melalui hedging. Akibatnya, pasar fisik pada 2027 dapat menghadapi situasi ketika tidak cukup banyak pembeli yang bersedia membeli minyak dengan harga setinggi itu, sehingga berpotensi memicu aksi jual yang dalam.

Evolusi Kurva Brent: Maret, Juli, dan Agustus 2026

Grafik term structure Brent yang dikombinasikan dengan indikator margin penyulingan menunjukkan dengan jelas perbedaan antara shock jangka pendek dan valuasi jangka panjang.

  • Kurva Maret 2026 (garis ungu): Menunjukkan kondisi backwardation yang ekstrem, ketika harga spot diperdagangkan mendekati US$110. Namun, mulai pertengahan 2027, kurva tersebut terus menurun dan tertahan tepat di kisaran US$70–80. Kurva ini cukup baik menggambarkan di mana kontrak Oktober saat ini seharusnya diperdagangkan.
  • Kurva Juli 2026 (garis biru): Menggeser valuasi kontrak jangka pendek lebih tinggi secara signifikan akibat berlanjutnya pemblokiran Selat Hormuz, yang juga mendorong kenaikan margin penyulingan.
  • Kurva Agustus 2026 (garis hitam): Dimulai di sekitar US$88 dan menurun perlahan menuju US$70–75. Perlu dicatat bahwa meskipun bagian jangka pendek kurva saat ini hampir sejajar dengan kurva Maret, pada paruh kedua 2027 terlihat pergeseran turun yang cukup jelas. Hal ini bukan hanya berasal dari harga spot saat ini yang lebih rendah, tetapi juga dari meningkatnya aktivitas hedging oleh produsen.

Forward curve pada Maret, Juli, dan Agustus. Sumber: Bloomberg Finance LP, XTB

Nilai Prediktif dari Bagian Datar Kurva Futures

Ketenangan pada kontrak futures jangka panjang dan rendahnya calendar spread bukan digunakan untuk menebak harga spot secara tepat pada suatu hari tertentu dua tahun dari sekarang. Namun, keduanya memberikan informasi struktural yang sangat berharga bagi pasar.

  • Menentukan Marginal Cost: Bagian paling jauh dari kurva mencerminkan marginal cost jangka panjang untuk memproduksi satu barel tambahan, di bawah level tersebut investasi pada ladang minyak baru mulai kehilangan keekonomisannya.
  • Gravitasi Pasar Spot: Ketika faktor shock geopolitik atau gangguan kilang yang menumpuk mulai menghilang, harga fisik komoditas pada akhirnya cenderung bergerak kembali menuju bagian kurva yang lebih datar.
  • Tidak Ada Defisit Struktural: Calendar spread yang rendah pada kontrak jangka panjang menunjukkan bahwa investor institusional masih menilai bull market yang dipicu perang dan gangguan logistik saat ini sebagai fenomena sementara.

Semuanya Masih Bergantung pada Trump (Fake it, till you make it)

Meskipun ketika membahas Donald Trump kita sangat sering menggunakan akronim seperti TACO, NACHO, atau bahkan TAMALES, pada akhirnya sebagian besar volatilitas masih terjadi sebagai respons terhadap pernyataannya. Pada pertengahan pekan terakhir Agustus, Donald Trump menyatakan bahwa Selat Hormuz telah terbuka dan sekitar 10 juta barel minyak per hari telah melewatinya dalam beberapa waktu terakhir.

Meski sekilas terdengar positif, perlu diingat bahwa stabilisasi pasar minyak sebagian besar terjadi karena tindakan pasar dan institusi internasional, bukan semata karena Donald Trump. Selain itu, pasar semakin mulai meragukan pernyataan dan jaminannya. Hal tersebut terlihat dari perubahan sentimen di pasar minyak setelah pembukaan pasar saham AS, ketika harga Brent kembali naik hingga sekitar US$88 per barel. Kenaikan tersebut juga didukung laporan DOE yang sepenuhnya menetralkan dampak sebelumnya dari laporan API.

Akibatnya, jika tidak ada perubahan berarti dalam waktu dekat, penurunan terbaru di pasar minyak bisa kembali terbukti terbatas. Premium di pasar bahan bakar juga berpotensi kembali dengan kekuatan yang lebih besar dan mencetak level tertinggi historis baru.

 


 
26 Agustus 2026, 19.58

PCE AS Tetap Tinggi, Belanja Riil Konsumen Stagnan di Juli

25 Agustus 2026, 21.10

Iran Tak Lagi Bikin Minyak Panik

25 Agustus 2026, 00.24

Perang Dagang AS-Kanada Memanas, USMCA Mulai Terancam

24 Agustus 2026, 14.17

Kalender Ekonomi: Nvidia, PCE AS, dan Jackson Hole Jadi Fokus

Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.

Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.
Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.