19.26 · 15 Oktober 2026

Harga Nikel Anjlok, INSG Proyeksikan Surplus hingga 2027

Harga Nikel Anjlok, INSG Proyeksikan Surplus hingga 2027

Harga nikel melanjutkan penurunan pada perdagangan hari ini dan mencapai level terendah sejak akhir Desember 2025, menyusul proyeksi terbaru dari International Nickel Study Group (INSG). Organisasi tersebut memperkirakan pasar nikel global akan menutup 2026 dengan surplus pasokan moderat yang diproyeksikan semakin melebar pada 2027. Proyeksi ini menandai perubahan signifikan dibandingkan April, ketika INSG masih memperkirakan pasar nikel akan mengalami defisit pasokan pada 2026.

  • Permintaan nikel primer global diperkirakan mencapai sekitar 3,85 juta ton pada 2026, meningkat 7,6% dibandingkan tahun sebelumnya, sementara produksi diproyeksikan mencapai sekitar 3,87 juta ton.

  • Kondisi tersebut diperkirakan menghasilkan surplus pasokan nikel sekitar 19.000 ton pada 2026, berbanding terbalik dengan proyeksi defisit 32.000 ton yang dirilis pada April. Jika proyeksi sebelumnya terealisasi, pasar akan mencatat kekurangan pasokan tahunan pertama sejak 2021.

  • Dalam proyeksi sebelumnya, INSG memperkirakan permintaan nikel pada 2026 sebesar 3,75 juta ton dan produksi mencapai 3,72 juta ton. Revisi terbaru menunjukkan bahwa konsumsi maupun pasokan nikel global tumbuh lebih cepat dibandingkan perkiraan awal.

Meskipun INSG memperkirakan permintaan nikel dari sektor baja tahan karat (stainless steel) akan terus meningkat pada paruh kedua 2026 dan sepanjang 2027, penggunaan nikel dalam baterai kendaraan listrik sejauh ini tumbuh lebih lambat dari ekspektasi. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya persaingan dari teknologi baterai LFP (lithium iron phosphate) yang tidak menggunakan nikel. Indonesia, sebagai produsen nikel terbesar di dunia, telah menyetujui kuota produksi bijih nikel untuk 2026 yang lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, pengajuan kuota produksi nikel untuk 2027 dapat dilakukan hingga 15 November.

Untuk 2027, INSG memperkirakan permintaan dan pasokan nikel global akan terus meningkat, tetapi surplus pasar diproyeksikan melebar menjadi sekitar 70.000 ton. Konsumsi nikel global diperkirakan mencapai sekitar 4 juta ton, sementara produksi diproyeksikan sebesar 4,07 juta ton. Dari perspektif harga nikel, proyeksi tersebut memberikan sinyal bearish karena pertumbuhan permintaan diperkirakan masih dapat dipenuhi oleh peningkatan produksi yang lebih cepat. Oleh karena itu, Indonesia akan tetap menjadi faktor penentu utama bagi pasar nikel global, khususnya terkait kebijakan kuota pertambangan pada periode mendatang.

15 Oktober 2026, 17.51

Gold Naik 1%, Bank Sentral Jadi Penopang Besar

15 Oktober 2026, 12.40

Market Wrap: AI Sell-Off Makin Dalam, Gold Naik Saat Yield Turun

15 Oktober 2026, 01.20

Daily Summary: CPI AS Panas, Wall Street dan Gold Tertekan

14 Oktober 2026, 23.44

US Open: Wall Street Merah, CPI Panas dan Saham Chip Ambruk

Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.

Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.
Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.