09.00 · 19 Oktober 2026

IPO Anthropic Ditunda, Saham AI Diuntungkan?

Rencana penawaran saham perdana (initial public offering/IPO) Anthropic pada November berpotensi menjadi salah satu peristiwa paling menarik dalam sejarah pasar keuangan. Namun, tekanan terhadap perusahaan pengembang model AI Claude tersebut terus meningkat. Salah satunya datang dari Comptroller New York, Mark Levine, yang mengelola dana pensiun bernilai lebih dari US$325 miliar dan menyerukan penangguhan IPO Anthropic atas dasar kekhawatiran keamanan. Menariknya, potensi penundaan IPO ini justru dapat menjadi skenario terbaik, baik bagi Anthropic sendiri maupun bagi keseluruhan sektor kecerdasan buatan (AI) di pasar saham.

Pertumbuhan Finansial Pesat, tetapi Mulai Muncul Kekhawatiran

Angka pertumbuhan bisnis Anthropic sebagai pengembang model Claude tergolong luar biasa. Didirikan pada 2021, perusahaan membutuhkan waktu kurang dari enam tahun untuk mencapai pendapatan kuartalan sebesar US$16,8 miliar pada kuartal III 2026, setara dengan tingkat pendapatan tahunan berdasarkan laju saat ini (annual revenue run-rate) sebesar US$67 miliar. Sebagai perbandingan, Alphabet dan Meta membutuhkan sekitar 15–16 tahun untuk mencapai skala pendapatan serupa. Anthropic juga telah menyampaikan kepada investor bahwa perusahaan mencatat profitabilitas yang telah disesuaikan (adjusted profitability), arus kas bebas positif (positive free cash flow), margin laba kotor disesuaikan sebesar 85%, serta tingkat retensi pendapatan bersih (net revenue retention/NRR) yang sangat tinggi, mencapai 900%.

Meski demikian, di balik pertumbuhan tersebut, estimasi valuasi Anthropic dilaporkan telah direvisi turun dari US$2 triliun menjadi sekitar US$1,5 triliun. Penyebabnya adalah perubahan persepsi investor terhadap laju pertumbuhan perusahaan. Pada kuartal II, pendapatan Anthropic meningkat lebih dari dua kali lipat, dari US$4,7 miliar menjadi US$11,6 miliar. Namun, pertumbuhan sebesar 45% pada kuartal III justru dianggap sebagian pelaku pasar sebagai tanda perlambatan. Dengan komitmen belanja infrastruktur yang mencapai US$518 miliar selama satu dekade, terutama untuk layanan cloud Amazon dan Google, investor mulai menghitung secara lebih cermat kapan belanja modal (capital expenditure/capex) yang sangat besar tersebut akan menghadapi batas alami pertumbuhan permintaan.

Teknologi AI yang Melampaui Batas Pengamanan

Faktor kedua yang mulai meredam antusiasme investor adalah kemampuan model AI modern yang berkembang jauh melampaui fungsi chatbot konvensional. Teknologi ini kini menjadi perangkat yang sangat kuat, tetapi dalam situasi tertentu juga semakin sulit diprediksi dan dikendalikan.

  • Model Mythos dan risiko gangguan operasional: Model Mythos yang tersedia bagi sejumlah institusi terpilih dilaporkan memiliki kemampuan sangat tinggi dalam mendeteksi dan berpotensi mengeksploitasi kerentanan lama pada kode perangkat lunak. Kemampuan tersebut disebut mendorong Bank of America merekrut 1.000 konsultan eksternal untuk mendukung 3.000 spesialis internal dalam memperbaiki celah keamanan sistem. Langkah ini dilaporkan menelan biaya ratusan juta dolar hanya dalam satu kuartal.

  • Ancaman replikasi mandiri AI: Dalam riset terbarunya, Anthropic memperingatkan bahwa model AI berukuran kecil mungkin hanya membutuhkan beberapa bulan lagi untuk mampu mereplikasi dirinya secara otomatis ke perangkat Internet of Things (IoT) rumah tangga, seperti perangkat Android TV atau oven pintar. Dengan membagi dirinya menjadi fragmen-fragmen kecil (shards), sistem AI terdistribusi yang menyerupai worm tersebut tidak lagi membutuhkan pusat data mahal dan akan sangat sulit dihentikan melalui satu titik kendali terpusat.

  • Insiden operasional AI: Kompleksitas pengendalian model AI canggih juga terlihat dari laporan insiden ketika model Claude secara mandiri mengirimkan laporan palsu mengenai kasus pembunuhan yang belum terpecahkan kepada kepolisian Philadelphia. Anthropic disebut baru menyadari kejadian tersebut sekitar dua bulan kemudian.

Mengapa Penundaan IPO Anthropic Bisa Menguntungkan Reli Saham AI?

Persimpangan antara valuasi yang sangat tinggi dan meningkatnya risiko teknologi menciptakan paradoks bagi investor. Dari perspektif pasar saham secara keseluruhan, penundaan IPO Anthropic dapat memberikan ruang bagi sektor AI untuk mempertahankan momentum pertumbuhannya. Langkah tersebut akan mengikuti pendekatan OpenAI yang, menurut laporan dalam artikel ini, menunda IPO hingga 2027 setelah insiden pada musim panas yang melibatkan agen AI keluar dari lingkungan pengamanan (sandbox) serta peretasan platform HuggingFace. Secara umum, terdapat tiga potensi manfaat utama bagi pasar apabila IPO Anthropic ditunda.

1. Menunda titik kejenuhan pasar saham AI: Pencatatan saham perusahaan dengan valuasi US$1,5–2 triliun ketika perusahaan infrastruktur AI seperti CoreWeave sedang menghadapi tekanan di pasar utang, sementara rencana IPO perusahaan lain seperti SB Energy juga tertunda, berpotensi menyerap likuiditas dalam jumlah sangat besar dari pasar saham. Kondisi tersebut dapat menandai puncak sementara euforia investasi AI. Selama perusahaan AI raksasa masih berstatus privat, modal investor di pasar saham cenderung terus mengalir menuju perusahaan pemasok infrastruktur pendukung (pick-and-shovel suppliers), seperti produsen semikonduktor, penyedia layanan cloud, dan perusahaan energi. IPO yang terlalu cepat dengan valuasi sangat besar berisiko mempercepat kejenuhan pasar serta menggeser fokus investor dari ekspektasi pertumbuhan jangka panjang menuju evaluasi ketat terhadap setiap dolar pendapatan dan laba yang dihasilkan.

Pendapatan perusahaan pemasok utama infrastruktur AI, seperti Nvidia, Broadcom, Micron, dan Arista, meningkat sejalan dengan pertumbuhan belanja modal hyperscaler serta pengeluaran perusahaan neocloud. Tren tersebut dapat menjadi faktor pendukung kepercayaan investor terhadap prospek sektor AI. Sumber: XTB Research, Bloomberg Finance L.P., XTB.

2. Melindungi neraca keuangan perusahaan Big Tech: Amazon dan Alphabet telah mencatat keuntungan investasi yang belum direalisasikan (unrealized gains) bernilai puluhan miliar dolar akibat kenaikan valuasi kepemilikan mereka di Anthropic. Pada kuartal II saja, kenaikan nilai surat berharga tersebut dilaporkan meningkatkan laba bersih Amazon lebih dari US$53 miliar dan Alphabet hampir US$100 miliar. Apabila Anthropic dipaksa melaksanakan IPO dengan valuasi lebih rendah ketika sentimen pasar sedang rapuh, perubahan penilaian investasi tersebut dapat langsung memberikan tekanan terhadap laba yang dilaporkan kedua perusahaan teknologi raksasa pada periode mendatang.

3. Memberikan waktu untuk kematangan operasional dan regulasi: Penundaan IPO akan memberikan kesempatan bagi Anthropic untuk menstabilkan tingkat pertumbuhan pendapatan pada skala bisnis yang sudah sangat besar, sekaligus membuktikan bahwa profitabilitas yang telah disesuaikan dapat berkembang menjadi laba bersih yang berkelanjutan setelah perusahaan mencatat kerugian sebesar US$42 miliar pada 2025. Lebih penting lagi, tambahan waktu tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperkuat sistem pengamanan terhadap insiden yang melibatkan tindakan otonom model AI. Apabila pelanggaran keamanan serius terjadi tidak lama setelah IPO, dampaknya berpotensi memicu kepanikan investor institusional dan menekan keseluruhan sektor teknologi selama berbulan-bulan.

Dalam persaingan mencapai valuasi tertinggi di pasar saham, memperlambat langkah terkadang justru menjadi strategi yang lebih menguntungkan. Dengan memberikan tambahan waktu beberapa kuartal sebelum menjadi perusahaan publik, Anthropic tidak hanya berpotensi melindungi investor dari risiko membeli saham ketika volatilitas berada di puncaknya, tetapi juga dapat memperpanjang keberlanjutan siklus investasi AI di Wall Street.

17 Oktober 2026, 00.55

Daily Summary: Wall Street Turun, Harga Minyak Melonjak

16 Oktober 2026, 23.21

Nasdaq dan Minyak Jadi Sorotan

16 Oktober 2026, 22.00

Saham AS Jelang Rilis Laba Oktober

16 Oktober 2026, 21.04

US Open: Dow Naik, Saham AI Tertekan

Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.

Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.
Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.