10.01 · 5 September 2026

Lululemon Anjlok 20%, Michael Burry Justru Membeli

Inti pembahasan
Inti pembahasan
  • Saham Lululemon turun hampir 20% dan menyentuh level terendah dalam delapan tahun.
  • Revenue Q2 FY2026 turun 4,3%, sementara comparable sales merosot 9%.
  • Penjualan di Amerika Utara dan China sama-sama melemah, menunjukkan tekanan global terhadap brand.
  • Guidance FY2026 kembali dipangkas drastis, termasuk proyeksi EPS dan revenue kuartal ketiga.
  • Michael Burry mengambil posisi berlawanan dengan pasar dan menjadikan Lululemon posisi terbesar dalam portofolionya.

Saham Lululemon Athletica (LULU) jatuh hampir 20% pada Jumat dan menyentuh level terendah dalam delapan tahun setelah produsen pakaian olahraga asal Kanada tersebut memangkas proyeksi tahunannya untuk kedua kalinya tahun ini serta melaporkan penurunan comparable sales secara bersamaan di seluruh pasar utamanya untuk pertama kalinya.

Perusahaan yang baru dua tahun lalu masih menjadi salah satu favorit Wall Street itu kini diperdagangkan di sekitar US$100 per saham, atau sekitar 81% di bawah level tertinggi sepanjang masanya.

Hasil yang Membuat Pasar Panik

Pada kuartal fiskal kedua 2026, revenue Lululemon turun 4,3% secara tahunan menjadi US$2,42 miliar, lebih rendah dari ekspektasi analis sebesar US$2,46 miliar. Comparable sales atau comp sales terkontraksi 9%, jauh lebih buruk dibandingkan konsensus yang memperkirakan penurunan 6,2%.

Adjusted earnings per share tercatat sebesar US$2,06 setelah penyesuaian pengembalian tarif, melampaui ekspektasi US$1,79. Namun, pasar mengabaikan kejutan positif dari sisi margin dan justru fokus pada masalah yang lebih fundamental: pelanggan mulai menjauh dari brand Lululemon.

Amerika Utara, pasar terbesar perusahaan, mencatat penurunan revenue sebesar 8%, sementara comparable sales anjlok 12%. Mainland China, yang sebelumnya menjadi mesin pertumbuhan dengan momentum +24% setahun lalu, justru mencatat penurunan 8% secara constant currency, dibandingkan ekspektasi pasar yang memperkirakan pertumbuhan hampir 8%.

Artinya, performa China memburuk sekitar 2.100 basis poin hanya dalam satu kuartal.

Legging Tidak Lagi Menjual Dirinya Sendiri

Interim CEO Meghan Frank mengakui dalam earnings call bahwa penjualan global legging wanita, yang menyumbang lebih dari 20% revenue perusahaan, turun 20% selama kuartal tersebut.

Koleksi baru mendapat respons yang disebut “tidak konsisten” dari pelanggan, sementara beberapa kategori produk utama mulai kehilangan daya tarik.

Perlu dicatat bahwa legging wanita merupakan produk unggulan Lululemon dan masih menyumbang lebih dari 20% total revenue. Kontribusinya bahkan pernah lebih tinggi ketika perusahaan masih berfokus hampir sepenuhnya pada kategori tersebut.

“Respons keseluruhan terhadap peluncuran produk kami masih tidak konsisten, dan kami terus melihat tekanan terhadap brand di dua pasar terbesar kami,” ujar Frank.

Manajemen menunjuk beberapa faktor yang melemahkan brand. Di antaranya adalah sentimen negatif di media sosial terkait proxy battle dengan pendiri Chip Wilson, investigasi Jaksa Agung Texas mengenai kandungan PFAS dalam produk perusahaan, serta kontroversi kampanye pemasaran di China.

Kampanye tersebut menampilkan pertunjukan drum taiko Jepang di Tembok Besar China dan memicu gelombang kritik dari konsumen China.

Guidance Dipangkas Drastis

Lululemon memangkas proyeksi untuk tahun fiskal 2026 secara signifikan:

  • Revenue diperkirakan sebesar US$10,35–US$10,50 miliar, atau turun sekitar 5–7%, dari guidance sebelumnya sebesar US$11,0–US$11,15 miliar.
  • Earnings per share diproyeksikan sebesar US$9,48–US$9,73, turun dari guidance sebelumnya sebesar US$10,95–US$11,15.
  • Untuk Q3, revenue diperkirakan turun 10–11%, sementara EPS hanya diproyeksikan sebesar US$0,93–US$0,98, sekitar 60% di bawah konsensus pasar sebesar US$2,37.

Sedikitnya 12 perusahaan broker memangkas target harga saham Lululemon pada Jumat.

Burry Justru Melawan Arus

Di tengah kepanikan pasar, Michael Burry justru mengambil posisi yang berlawanan.

Investor yang terkenal karena bertaruh melawan pasar subprime mortgage pada 2008 dan kisahnya diabadikan dalam film The Big Short tersebut mengungkapkan bahwa Lululemon kini menjadi posisi terbesar dalam portofolionya.

Burry juga menyatakan akan membeli saham LULU secara agresif jika harganya turun di bawah US$100.

“Lululemon adalah si penipu dalam portofolio saya. Kali ini si penipu adalah posisi terbesar saya, dan tampaknya benar-benar ingin membawa saya ke tempat yang bahkan putri duyung pun takut datangi,” tulis Burry di blognya.

Ia membandingkan posisi tersebut dengan investasinya sebelumnya di Tailored Brands, yang pada akhirnya berakhir dengan kebangkrutan perusahaan.

Burry juga menyampaikan bahwa salah satu skenario jangka panjang untuk Lululemon adalah akuisisi oleh private equity.

Untuk perusahaan dengan brand yang masih kuat tetapi menghadapi kelemahan dalam pengelolaan operasional, skenario seperti itu bukan sesuatu yang belum pernah terjadi di industri.

CEO Baru Masuk ke Tengah Krisis

CEO baru Heidi O’Neill akan resmi mengambil alih posisi tersebut pekan depan, tepat ketika perusahaan menghadapi salah satu periode paling menantang dalam sejarahnya.

Analis memperkirakan O’Neill akan segera mempresentasikan rencana turnaround. Namun, mereka juga memperingatkan bahwa membangun kembali brand premium merupakan proses yang membutuhkan beberapa kuartal, bukan beberapa minggu.

“Lulu adalah brand yang kuat tetapi sudah terlalu melebar,” ujar Simeon Siegel dari Guggenheim.

“Perusahaan perlu kembali kepada hal yang dulu membuatnya spesial. Namun itu sulit, karena mencoba menarik semua orang berarti meninggalkan hal yang sebelumnya membuat brand tersebut begitu spesifik.”

Analis Morningstar David Swartz memperkirakan perusahaan akan memperlambat ekspansi toko, memangkas biaya, dan kemungkinan melakukan “operational realignment”.

Lululemon juga harus merebut kembali pelanggan yang telah beralih ke kompetitor seperti Alo Yoga dan Skims.

Valuasi Terlihat Murah, tetapi Risikonya Tetap Tinggi

Pada harga saat ini, Lululemon diperdagangkan pada rasio price-to-earnings sekitar 11,5x, jauh di bawah Nike sebesar 20,8x dan Adidas sebesar 13,4x.

Bagi value investor seperti Burry, valuasi tersebut dapat terlihat sebagai peluang.

Namun bagi pasar secara keseluruhan, valuasi rendah juga dapat menjadi sinyal bahwa terdapat masalah fundamental yang serius.

Pertanyaan utamanya kini adalah apakah penurunan comparable sales hanya merupakan masalah sementara yang bisa diperbaiki oleh manajemen baru, atau justru awal dari penurunan permanen terhadap nilai premium brand Lululemon.

Ketika brand premium mulai mencatat comparable sales negatif, pasar biasanya mulai memperhitungkan kemungkinan penurunan nilai brand secara permanen.

Narasi seperti itu jauh lebih sulit untuk dibalik dibandingkan sekadar memperbaiki margin atau menekan biaya.

Saham Lululemon hampir tidak pernah mengalami gelombang aksi jual dengan momentum sebesar ini sepanjang sejarahnya.

Harga sekitar US$100 per saham terakhir kali terlihat pada 2018.

Sumber: xStation

5 September 2026, 10.10

Daily Summary: NFP Kuat Tekan Pasar, Risiko Suku Bunga Naik

5 September 2026, 10.05

Nasdaq, Emas, dan Inflasi AS Jadi Sorotan

4 September 2026, 20.55

US OPEN: Wall Street Tertekan Usai NFP Kuat, Nasdaq Masih Bertahan

4 September 2026, 17.14

Adobe Ganti CEO di Tengah Tekanan AI, Apa yang Bisa Berubah?

Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.

Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.
Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.