13.28 · 21 Oktober 2026

Market Wrap: Dow Naik, Inflasi Asia Disorot

  • Wakil Gubernur Reserve Bank of Australia (RBA), Andrew Hauser, menyatakan bahwa prospek inflasi Australia lebih buruk dibandingkan perkiraan sebelumnya, dengan inflasi inti (underlying inflation) kemungkinan lebih tinggi dari ekspektasi. Keterbatasan kapasitas produksi (capacity constraints) juga tampaknya memberikan tekanan inflasi yang lebih kuat dari perkiraan, sehingga peluang kenaikan suku bunga kelima pada November masih terbuka. Goldman Sachs telah merevisi proyeksinya dan kini memperkirakan RBA akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 4,85% pada 3 November.
  • Hauser memberikan perhatian khusus pada inflasi trimmed mean Q3, yang menurutnya berpotensi melampaui proyeksi RBA. Oleh karena itu, data Indeks Harga Konsumen (CPI) September yang dijadwalkan dirilis pada 28 Oktober akan menjadi indikator penting menjelang keputusan kebijakan moneter pada November.
  • Wakil Gubernur Bank of Japan (BOJ), Ryozo Himino, memperingatkan bahwa penundaan penyesuaian kebijakan moneter terlalu lama dapat membuat risiko inflasi semakin nyata. Inflasi inti Jepang saat ini sudah mendekati target 2%, sementara kondisi keuangan masih akomodatif. Pasar memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga pada Oktober relatif rendah, tetapi telah memperhitungkan peluang sekitar 75% untuk kenaikan suku bunga berikutnya pada Desember.
  • Menteri Keuangan Jepang, Satsuki Katayama, menyatakan bahwa Jepang semakin mendekati siklus inflasi berkelanjutan yang didorong oleh pertumbuhan upah, bukan semata-mata akibat kenaikan biaya impor.
  • Ekspor Jepang meningkat 16,7% secara tahunan (year-over-year atau YoY) pada September, menandai pertumbuhan selama 13 bulan berturut-turut. Permintaan terkait semikonduktor dan kecerdasan buatan (AI) tetap menjadi pendorong utama, sementara ekspor ke Amerika Serikat meningkat 22,9%. Defisit perdagangan Jepang menyempit, meskipun sebagian perbaikan tersebut mencerminkan penundaan impor minyak dan berpotensi berbalik pada Oktober.
  • Penjualan rumah tertunda (pending home sales) di Amerika Serikat turun 7,3% pada September, jauh lebih buruk dibandingkan ekspektasi penurunan 0,5%, sehingga mendorong indeks tersebut ke level terendah sepanjang sejarah. Data pembangunan rumah baru (housing starts) juga lebih lemah dari perkiraan, meskipun izin mendirikan bangunan (building permits) melampaui ekspektasi. Tingginya biaya pinjaman jelas memberikan tekanan pada sektor perumahan, salah satu sektor ekonomi yang paling sensitif terhadap perubahan suku bunga.
  • Indeks Dow Jones menguat sekitar 1% menjelang akhir sesi perdagangan AS, sementara Russell 2000 naik hampir 1,8%. Di sisi lain, Nasdaq bergerak relatif datar. Penurunan yield obligasi jangka panjang memberikan dukungan bagi perusahaan berkapitalisasi kecil (small-cap stocks). Rotasi pasar ini menunjukkan bahwa investor masih bersedia mengambil risiko, tetapi semakin selektif dalam memilih saham.
  • Pendiri Citadel, Ken Griffin, menyatakan bahwa AI "hampir pasti" berada dalam kondisi gelembung (bubble), meskipun ia mengakui bahwa teknologi tersebut memiliki potensi transformasional yang besar.
  • Menurut sejumlah laporan, Nvidia (NVDA) sedang mempertimbangkan investasi senilai ratusan juta dolar AS pada Firmus, penyedia layanan cloud AI asal Australia, setelah perusahaan tersebut membatalkan rencana penawaran saham perdana (initial public offering atau IPO).
  • SpaceX melaporkan pendapatan kuartalan sekitar US$14,6 miliar, dengan segmen AI menyumbang lebih dari separuh total pendapatan. Elon Musk menyatakan bahwa kapasitas komputasi AI masih sangat terbatas dan mengindikasikan bahwa bahkan chip Nvidia generasi lama masih disewakan dengan harga yang sangat tinggi.
20 Oktober 2026, 20.38

US Open: Nasdaq Tertekan, Saham AI Dijual

20 Oktober 2026, 18.04

Harga Gas Alam Anjlok 9,56%, Siap Rebound?

20 Oktober 2026, 12.32

Kalender Ekonomi: Wall Street Diuji Earnings Netflix

20 Oktober 2026, 12.18

Market Wrap: Nasdaq Rebound, Minyak US$110

Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.

Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.
Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.