12.26 · 28 September 2026

Market Wrap: Wall Street Koreksi, Yield Bertahan Tinggi

Perkembangan geopolitik: Presiden AS Donald Trump menolak proposal Iran mengenai gencatan senjata bersyarat dan pembukaan kembali Selat Hormuz dalam tujuh hari. Trump mengumumkan bahwa serangan akan kembali dilanjutkan setelah pemilu November. Ketegangan di Timur Tengah semakin meningkat. Laporan menunjukkan Iran menembakkan rudal jelajah di Selat Hormuz, sementara kelompok Houthi Yaman menargetkan Riyadh hingga mengganggu operasional bandara. Trump–Xi Summit di Washington, D.C. yang telah berakhir juga hanya menghasilkan perkembangan terbatas, termasuk perpanjangan trade truce selama dua bulan serta kesepakatan awal mengenai pemangkasan tarif dan dialog kecerdasan buatan.

Ekonomi: Laba industri China hanya tumbuh 4,2% YoY pada Agustus, menjadi pertumbuhan terlemah sepanjang tahun ini dan mencerminkan tekanan dari lemahnya permintaan serta tingginya biaya energi. Sementara itu di Jepang, inflasi harga produsen (PPI) melonjak menjadi 3,7% pada Agustus, laju tercepat dalam lebih dari dua tahun. Data tersebut bertepatan dengan publikasi risalah rapat Bank of Japan (BoJ) Juli, yang menunjukkan bahwa sejumlah pembuat kebijakan melihat risiko inflasi yang lebih tinggi dan mendukung kenaikan suku bunga yang lebih cepat.

Pergerakan utama pasar: Futures saham AS, termasuk Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq-100, diperdagangkan melemah menjelang pembukaan pasar dan menghapus sebagian kenaikan pekan lalu. Pergerakan ini menjadi respons langsung terhadap lonjakan yield US Treasury. Yield obligasi tenor 10 tahun mencapai 5,17–5,23%, level tertinggi sejak 2007. Naiknya biaya modal terutama menekan sentimen terhadap perusahaan teknologi yang terlibat dalam pengembangan infrastruktur AI karena biaya pembayaran utang menjadi semakin mahal.

Pasar Asia: Sesi perdagangan di kawasan Asia-Pasifik didominasi pelemahan akibat eskalasi konflik Timur Tengah dan kenaikan yield obligasi AS. Nikkei Jepang menghapus kenaikan pada pagi hari dan kini diperdagangkan sedikit melemah, terbebani aksi jual pada futures Nasdaq AS. Setelah libur panjang, Kospi Korea Selatan anjlok 2,36% akibat tekanan jual pada perusahaan teknologi besar. Indeks CSI 300 China juga turun 1,4% setelah rilis data industri yang lemah. Hong Kong menjadi salah satu dari sedikit pasar yang menguat, dengan Hang Seng naik sekitar 0,6–0,7% berkat performa kuat sektor energi.

Komoditas: Harga minyak melonjak setelah AS menarik diri dari kesepakatan dengan Iran. Brent naik 2,7% hingga mendekati US$100 per barel, sementara WTI menguat 1,8% ke sekitar US$94. Di sisi lain, penguatan pasar obligasi memberikan tekanan besar terhadap logam mulia karena meningkatkan opportunity cost untuk memegang aset tanpa imbal hasil. Emas menembus level support teknikal penting dan turun ke bawah US$4.200 per ons atau melemah 2,16%, sementara perak turun hampir 3,75%.

Perusahaan: Saham perusahaan Australia Northern Star melonjak lebih dari 9% setelah dewan direksinya menolak tawaran akuisisi senilai US$27 miliar dari Gold Fields karena menilai valuasi yang ditawarkan terlalu rendah. Di AS, perhatian tertuju pada SpaceX yang sedang mempersiapkan uji terbang ke-14 roket Starship dengan target untuk pertama kalinya mencapai orbit. Pemerintah AS juga mempertimbangkan larangan ekspor bahan bakar diesel selama 90 hari. Menurut analis Goldman Sachs, kebijakan tersebut dapat menurunkan harga diesel domestik, tetapi pada saat yang sama berpotensi meningkatkan harga bensin bagi konsumen AS dan menekan margin perusahaan kilang.

Kripto: Pasar aset digital ikut terdampak tren risk-off yang lebih luas akibat kenaikan yield. Bitcoin turun lebih dari 1,6% pagi ini dan melemah ke kisaran US$83.220.

Outlook hari ini: Pasar diperkirakan terus merespons gejolak geopolitik dan tekanan dari pasar obligasi sepanjang hari ini. Memasuki pertengahan pekan, katalis penting bagi investor adalah laporan keuangan Micron pada Rabu yang dapat menentukan sentimen sektor semikonduktor, serta sejumlah data makroekonomi penting AS. Rilis indikator inflasi pilihan The Fed, PCE, pada Rabu dan laporan tenaga kerja AS pada Jumat diperkirakan menjadi faktor penting dalam menentukan ekspektasi arah suku bunga berikutnya.

Volatilitas saat ini terlihat pada beberapa instrumen pilihan. GOLD mencatat performa sangat lemah dengan penurunan lebih dari 2%, sementara SILVER turun hampir 4%. Sumber: XTB.

28 September 2026, 16.00

Trump–Xi Summit: 8 Kesepakatan, Tapi Damai Hanya Dua Bulan?

28 September 2026, 13.46

Kalender Ekonomi: Fokus ke Lagarde, The Fed, dan BoJ

26 September 2026, 00.54

Daily summary: Wall Street Tetap Naik Meski Yield Tembus 5%

26 September 2026, 00.03

Minyak Turun saat Negosiasi AS-Iran Berlanjut

Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.

Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.
Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.