-
Yield US Treasury 30 tahun sempat mencapai level tertinggi sejak 2002, sementara tenor 10 tahun kini turun ke sekitar 5,23%.
-
Nikkei 225 naik lebih dari 2%, dipimpin saham AI dan semikonduktor seperti Tokyo Electron dan SoftBank.
-
Brent turun ke sekitar US$96 setelah sebagian kapasitas East-West Pipeline Arab Saudi kembali beroperasi.
-
Emas berkonsolidasi di sekitar US$4.200 per ons seiring meredanya tekanan dari harga minyak dan yield obligasi.
-
Data PCE AS menjadi fokus utama karena dapat mengubah ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober.
-
Yield US Treasury 30 tahun sempat mencapai level tertinggi sejak 2002, sementara tenor 10 tahun kini turun ke sekitar 5,23%.
-
Nikkei 225 naik lebih dari 2%, dipimpin saham AI dan semikonduktor seperti Tokyo Electron dan SoftBank.
-
Brent turun ke sekitar US$96 setelah sebagian kapasitas East-West Pipeline Arab Saudi kembali beroperasi.
-
Emas berkonsolidasi di sekitar US$4.200 per ons seiring meredanya tekanan dari harga minyak dan yield obligasi.
-
Data PCE AS menjadi fokus utama karena dapat mengubah ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober.
Perdagangan Selasa kembali diwarnai aksi jual di pasar obligasi, dengan yield US Treasury 30 tahun mencapai level tertinggi sejak 2002 di 5,56%. Namun, pada hari terakhir kuartal ini, sentimen pasar terlihat membaik.
Pasar saham Asia mencatat hari terbaik dalam tiga minggu, dipimpin Nikkei 225 Jepang yang naik lebih dari 2% berkat aksi beli kuat pada saham AI dan semikonduktor. Yield US Treasury 10 tahun turun tipis ke 5,23%, memberikan sedikit ruang bagi saham dan emas untuk pulih.
Perhatian pasar kini beralih ke rilis data PCE AS Agustus hari ini, indikator inflasi pilihan Federal Reserve.
Saham
Bursa Tokyo mencatat sesi yang kuat hari ini, dengan Nikkei 225 naik lebih dari 2% dan mendekati level 67.000.
Kenaikan dipimpin sektor AI dan semikonduktor. Penguatan indeks SOXX pada Selasa turut terbawa ke perdagangan Tokyo dan mendorong Tokyo Electron naik 4,8%. SoftBank Group, yang merupakan investor OpenAI, juga menguat 6,4%.
Sentimen turut membaik setelah kekhawatiran terhadap pasokan energi mereda seiring pulihnya aliran melalui East-West Pipeline Arab Saudi. Perkembangan tersebut ikut menekan harga minyak mentah.
Gambar 1: Nikkei 225 (2026)
Sumber: XTB Research, 30.09.2026
Optimisme regional juga didukung aliran modal menjelang akhir kuartal.
Di luar Jepang, Taiex Taiwan naik 1%, ASX 200 Australia menguat 1,1%, dan Shanghai SE Composite China naik 0,5% setelah didukung data PMI yang solid. Hang Seng relatif tidak berubah, sementara Kospi Korea Selatan turun tipis 0,1%.
Futures S&P 500 naik 0,2% setelah penurunan pada Selasa akibat kenaikan yield Treasury jangka panjang.
Dari sisi perusahaan, Anthropic memperingatkan dalam prospektus IPO bahwa teknologinya membawa “risiko katastrofik atau eksistensial terhadap umat manusia”. Meski demikian, perusahaan tetap berencana menghabiskan ratusan miliar dolar untuk pengembangan lebih lanjut.
Komoditas
Harga minyak mentah melemah setelah kenaikan dalam beberapa sesi terakhir. Brent diperdagangkan di sekitar US$96 per barel, sementara WTI berada sedikit di bawah US$90.
Tekanan turun muncul setelah Arab Saudi membuka kembali sebagian East-West Pipeline yang penting, sehingga sekitar separuh kapasitas normal kembali tersedia.
Estimasi terpisah dari JPMorgan dan Goldman Sachs juga menunjukkan ekspor crude Timur Tengah mulai kembali mendekati level sebelum konflik, meskipun risiko terhadap aktivitas pengiriman di kawasan masih bertahan.
Meski demikian, harga Brent masih sekitar 70% lebih tinggi dibandingkan sebelum konflik dimulai, yang kini telah memasuki bulan kedelapan.
Gambar 2: Minyak Brent dan WTI (2026)
Sumber: XTB Research, 30.09.2026
Rilis API kemarin menunjukkan persediaan crude AS naik 1 juta barel. Stok bensin juga bertambah 3 juta barel, sementara persediaan distilat turun 0,3 juta barel.
Logam Mulia
Harga emas berkonsolidasi di sekitar US$4.200 per ons.
Kenaikan tipis pada pagi hari didukung oleh penurunan harga minyak, yang meredakan kekhawatiran terhadap inflasi akibat energi sekaligus mendorong yield obligasi AS turun.
Yield Treasury 30 tahun kemarin sempat mencapai 5,61%, level tertinggi sejak 2002.
Gambar 3: Emas (2026)
Sumber: XTB Research, 30.09.2026
Data Makroekonomi dan Kebijakan Moneter
Selasa diwarnai berbagai komentar dari pejabat Federal Reserve AS.
Pernyataan paling menonjol datang dari Presiden New York Fed John Williams, yang mengindikasikan bahwa kenaikan suku bunga tambahan tahun ini masih mungkin terjadi.
Namun, Williams menekankan bahwa kenaikan tersebut dapat terjadi “pada akhir tahun ini”. Pernyataan tersebut, bersama penurunan harga minyak, mendorong pasar mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga pada Oktober, yang berlangsung tepat menjelang pemilu sela AS.
Gambar 4: Ekspektasi Pasar terhadap Suku Bunga AS (2026–2027)
Sumber: XTB Research, 30.09.2026
CATATAN: Proyeksi empat minggu lalu menggunakan baseline yang lebih rendah, yaitu level sebelum kenaikan suku bunga September.
Fokus utama hari ini adalah rilis PCE AS Agustus, indikator inflasi pilihan FOMC. Baik headline maupun core PCE diperkirakan mengalami akselerasi secara bulanan.
Data yang lebih tinggi dari ekspektasi dapat memperkuat sikap hawkish The Fed dan mendukung kemungkinan pengetatan lebih lanjut.
Sebaliknya, data yang lebih lemah dapat mengurangi alasan untuk menaikkan suku bunga pada Oktober.
Selanjutnya, perhatian pasar akan beralih ke laporan tenaga kerja AS NFP pada Jumat.
Semalam, data PMI China yang solid mendukung narasi pemulihan ekonomi setelah stimulus pemerintah sebelumnya.
Kondisi tersebut berbeda dengan Jepang, di mana produksi industri turun selama dua bulan berturut-turut akibat dampak kerusakan gempa bumi dan gangguan terkait konflik Iran.
Market Wrap: Yield dan Minyak Tekan Pasar Global
Daily summary: Yield AS Tembus Level Tertinggi Sejak 2007
Harga Emas Turun 4% Saat Yield AS Naik
US Open: Yield AS Tembus 5,28% dan Minyak Dekati US$100
Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.