Pekan lalu ditandai oleh lonjakan tajam harga minyak, sementara pasar saham Amerika Serikat mulai memperhitungkan laporan keuangan perusahaan yang pertama kali dirilis pada musim laporan laba kali ini. Inflasi konsumen AS (CPI) tercatat lebih tinggi dari perkiraan, tetapi kekhawatiran investor terhadap situasi geopolitik juga meningkat, sehingga imbal hasil obligasi turun di tengah menguatnya sentimen penghindaran risiko (risk aversion). Memasuki pekan baru, perhatian utama pasar akan tertuju pada dimulainya publikasi laporan keuangan perusahaan teknologi. Selain itu, data inflasi Inggris juga akan dirilis dan berpotensi memberikan dampak signifikan terhadap prospek suku bunga. Mengingat gejolak harga minyak yang terjadi belakangan ini, investor juga akan mencermati data persediaan minyak mentah Amerika Serikat. Dengan mempertimbangkan faktor-faktor tersebut, tiga instrumen yang layak mendapat perhatian pada pekan mendatang adalah US100 (futures Nasdaq 100), dan OIL (minyak mentah Brent).
US100 (Futures Nasdaq 100)
Pekan mendatang menjadi salah satu periode terpenting dalam musim laporan keuangan bagi indeks Nasdaq dan kontrak futures US100. Pada Selasa, Netflix dijadwalkan merilis laporan keuangannya, disusul pada Rabu oleh dua perusahaan anggota kelompok Magnificent Seven, yaitu Meta Platforms dan Tesla. Pasar memperkirakan Tesla akan melaporkan laba per saham (earnings per share/EPS) sekitar US$0,43, sementara EPS Meta diproyeksikan mencapai sekitar US$6,79. Namun, bagi kedua perusahaan tersebut, faktor penentu utama kemungkinan bukan hanya angka kinerja keuangan, melainkan komentar manajemen mengenai rencana belanja investasi lanjutan yang berkaitan dengan kecerdasan buatan (AI). Pekan lalu menjadi periode penurunan pertama setelah empat pekan kenaikan berturut-turut, sehingga investor kini mengharapkan laporan keuangan yang kuat dari perusahaan teknologi. Hasil keuangan yang solid dan proyeksi bisnis optimistis dapat dengan cepat membalikkan sentimen negatif serta mendorong indeks Nasdaq 100 kembali menguat. Sebaliknya, hasil yang mengecewakan, terutama terkait tingginya biaya pengembangan AI, berpotensi memperdalam aksi jual yang terjadi belakangan ini.
OIL (Minyak Brent)
Minyak mentah menjadi pusat perhatian pasar sepanjang pekan lalu setelah mencatat kenaikan harga yang signifikan, meskipun Presiden Donald Trump berupaya menekan harga bahan bakar. Pada Rabu, Departemen Energi Amerika Serikat dijadwalkan mempublikasikan data mingguan persediaan minyak mentah AS. Data sebelumnya menunjukkan penurunan persediaan sekitar 8,6 juta barel, sehingga laporan terbaru berpotensi memperkuat atau justru meredam momentum kenaikan harga minyak saat ini. Apabila persediaan kembali turun secara signifikan, kondisi tersebut dapat memperkuat keyakinan pasar bahwa pasokan minyak global masih ketat dan mendorong harga naik lebih tinggi. Sebaliknya, setelah lonjakan harga yang begitu tajam, sebagian investor mungkin mulai melakukan aksi ambil untung (profit taking), yang secara alami dapat membatasi kenaikan lanjutan. Meski demikian, perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah diperkirakan tetap menjadi faktor paling dominan dalam menentukan arah pergerakan harga minyak Brent ke depan.
IPO Anthropic Ditunda, Saham AI Diuntungkan?
Daily Summary: Wall Street Turun, Harga Minyak Melonjak
US Open: Dow Naik, Saham AI Tertekan
Harga Gas Alam AS Turun, Sinyal Rebound?
Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.