Saham Teknologi Bangkit Setelah Pekan Terburuk Sejak Juni
Pada perdagangan Senin, indeks Nasdaq Composite menguat 1,11% dan menutup sesi di level 26.430 poin. Sementara itu, indeks semikonduktor Philadelphia Semiconductor Index (SOX) naik 1,6%, mengakhiri delapan sesi penurunan berturut-turut yang secara kumulatif mencapai 15,7%. Rentetan pelemahan tersebut merupakan yang terpanjang sejak Oktober 2008.
Investor kembali memburu saham semikonduktor dan kecerdasan buatan (AI) yang telah mengalami koreksi harga signifikan. Rebound ini terjadi setelah indeks S&P 500 dan Nasdaq mencatatkan penurunan mingguan terbesar sejak akhir Juni pada pekan sebelumnya.
Dalam periode tersebut, Nasdaq anjlok 4,5%, sementara sektor teknologi kehilangan lebih dari 6%, mencatatkan kinerja mingguan terburuk sejak April 2025.
Sejumlah pengamat Wall Street menilai bahwa tidak adanya perkembangan negatif besar selama akhir pekan memberikan ruang bagi pemulihan pasar. Kondisi teknikal yang sudah berada di area jenuh jual (oversold) juga memperkuat peluang terjadinya rebound.
Di sisi lain, beberapa analis membandingkan kondisi pasar saat ini dengan periode Black Monday pada akhir 1980-an. Namun, perdagangan Senin akhirnya ditutup dengan penguatan yang solid.
Di balik rebound tersebut, terlihat bahwa investor semakin selektif dalam memilih saham teknologi.
Saham Intel (INTC) naik 2,4% setelah memperoleh peningkatan rekomendasi dari J.P. Morgan. Advanced Micro Devices (AMD) menguat 1,8%, sementara Micron Technology (MU) naik 3%.
Pelemahan tersebut terjadi meskipun Goldman Sachs meningkatkan rekomendasi saham CoreWeave menjadi buy. Pada saat yang sama, tingkat credit default swap (CDS) perusahaan mengindikasikan bahwa risiko kredit masih menjadi perhatian serius investor.
Para manajer investasi memperingatkan bahwa narasi mengenai ketahanan investasi AI terhadap kenaikan suku bunga mulai berubah.

Pasar kini semakin selektif dalam menilai apakah perusahaan teknologi benar-benar mampu menghasilkan tingkat pengembalian investasi yang cukup untuk membenarkan besarnya utang yang digunakan dalam ekspansi infrastruktur AI.
Dengan demikian, musim laporan keuangan perusahaan AS saat ini berpotensi membentuk narasi baru bagi pasar saham, terutama terkait profitabilitas investasi AI dan keberlanjutan pertumbuhan sektor teknologi.
Katalis tambahan bagi optimisme pasar datang dari laporan bahwa Nscale sedang bernegosiasi untuk menjual kapasitas komputasi kepada Anthropic dalam kesepakatan senilai sekitar US$45 miliar.
Sementara itu, Citigroup memperkirakan bahwa sektor AI akan menyumbang hampir 70% pertumbuhan laba perusahaan secara global pada tahun depan.
Pekan ini, ujian utama bagi sentimen investor akan datang dari laporan keuangan Meta dan Tesla pada Rabu, serta SpaceX pada Selasa.
Laporan keuangan Tesla dan SpaceX menjadi perhatian di tengah meningkatnya spekulasi mengenai potensi merger antara dua perusahaan milik Elon Musk tersebut.
Di sisi lain, ketegangan geopolitik masih membayangi pasar, termasuk serangan terhadap infrastruktur energi di Rusia dan Timur Tengah. Harga minyak yang tetap tinggi turut menjaga yield obligasi pada level tinggi, sehingga berpotensi menekan valuasi saham teknologi.
Kesimpulan: Rebound Nasdaq Belum Mengonfirmasi Tren Bullish
Rebound Wall Street pada Senin menjadi indikasi bahwa pasar sebelumnya telah berada dalam kondisi jenuh jual secara teknikal. Pergerakan ini juga menunjukkan bahwa sebagian investor masih memiliki keyakinan terhadap fundamental siklus investasi AI.
Laporan keuangan Meta, Tesla, dan SpaceX pada pekan ini akan menjadi katalis penting bagi arah pergerakan pasar.
Selain itu, perkembangan terkait utang CoreWeave dan perusahaan penyedia infrastruktur cloud AI generasi baru (neocloud) juga akan memengaruhi sentimen investor terhadap keberlanjutan investasi AI.
Faktor-faktor tersebut akan menentukan apakah Nasdaq 100 mampu mempertahankan area 29.900–30.000 poin atau justru memperdalam koreksi menuju zona 28.900–28.200 poin.
Terdapat pula perkembangan menarik dari sisi posisi spekulatif investor.
Belakangan ini, sejumlah besar posisi jual spekulatif (short positions) pada kontrak futures Nasdaq 100 telah ditutup.
Aktivitas penutupan posisi short (short covering) tersebut menggeser posisi bersih spekulatif (net positioning) dari kondisi jenuh jual ekstrem menuju area jenuh beli ekstrem.
Meski demikian, korelasi antara posisi bersih spekulatif dan pergerakan indeks Nasdaq 100 sendiri masih relatif rendah.
Artinya, perubahan posisi investor belum tentu memberikan sinyal yang dapat diandalkan untuk memprediksi arah indeks berikutnya.
Kalender Ekonomi: Wall Street Diuji Earnings Netflix
Nasdaq Rebound 1%, Saham AI Diuji
Kalender Ekonomi: Nasdaq dan Laba Big Tech
Market Wrap: Nasdaq Rebound, Saham AI Kembali Disorot
Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.