- Konsensus memperkirakan inflasi utama mencapai level tertinggi sejak 2023.
- Namun, fokus utama pasar tetap pada inflasi inti (core inflation).
- Pasar memperkirakan peluang sekitar 30% untuk kenaikan suku bunga AS sebelum akhir tahun.
- Dolar AS menguat di tengah meningkatnya sentimen risk-off investor.
- Konsensus memperkirakan inflasi utama mencapai level tertinggi sejak 2023.
- Namun, fokus utama pasar tetap pada inflasi inti (core inflation).
- Pasar memperkirakan peluang sekitar 30% untuk kenaikan suku bunga AS sebelum akhir tahun.
- Dolar AS menguat di tengah meningkatnya sentimen risk-off investor.
Rilis data inflasi CPI AS untuk bulan April dijadwalkan diumumkan hari ini pukul 13:30. Konsensus pasar memperkirakan kenaikan signifikan pada inflasi utama (headline) ke sekitar 3,7%, level tertinggi sejak September 2023, serta kenaikan moderat pada inflasi inti (core) menjadi 2,7%.
Pasar akan lebih fokus pada data inflasi inti, yang mengecualikan komponen paling volatil seperti makanan dan energi sehingga memberikan gambaran yang lebih akurat mengenai tekanan harga jangka panjang. Kenaikan pada indikator ini dapat membuat FOMC lebih condong untuk memperketat kebijakan moneter. Saat ini, pasar memperkirakan probabilitas sekitar 30% untuk kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun. Jika inflasi inti jauh melampaui konsensus, pasar kemungkinan akan melakukan repricing hawkish yang dapat mendorong penguatan dolar AS.
Gambar 1: Proyeksi suku bunga FOMC berbasis ekspektasi pasar (2026 - 2027)
Sumber: Bloomberg, 12/05/2026
Namun, perlu diingat bahwa konsumen umumnya merasakan tekanan inflasi bukan dari inflasi inti, melainkan dari inflasi nominal, terutama harga bahan bakar dan makanan. Karena itu, kenaikan inflasi utama di atas ekspektasi 3,7% juga dapat menjadi sinyal positif bagi dolar AS. Meskipun secara teori hal ini belum tentu menjadi alasan untuk menaikkan suku bunga karena dianggap bersifat sementara, kondisi tersebut dapat mendorong kenaikan ekspektasi inflasi, yang sangat diperhatikan oleh The Fed. Pada akhirnya, hal ini dapat memicu pertumbuhan upah dan konsumsi yang lebih tinggi di masa depan, menciptakan apa yang dikenal sebagai efek putaran kedua (second-round effects).
Gambar 2: Inflasi CPI dan PCE AS (2000 - 2026)
Sumber: XTB Research, 12/05/2026
Bulan lalu, sebagian besar kenaikan indeks inflasi bulanan didorong oleh lonjakan tarif penerbangan akibat naiknya harga bahan bakar, yang menyumbang sekitar 20–30% biaya operasional dan lebih dari setengah biaya variabel maskapai. Selain itu, harga memory card dan CPU juga menjadi perhatian karena biaya produksinya meningkat signifikan akibat konflik yang masih berlangsung antara AS dan Iran. Di sisi lain, penyesuaian metodologi diperkirakan akan mendorong kenaikan biaya sewa, yang dalam beberapa bulan terakhir cenderung terukur terlalu rendah akibat gangguan dari penutupan pemerintahan terpanjang dalam sejarah AS. Oleh karena itu, kenaikan moderat inflasi inti sekitar 0,3% secara bulanan sebenarnya sudah diperhitungkan pasar dan seharusnya tidak menimbulkan kekhawatiran besar.
Gambar 3: Kontribusi utama terhadap perubahan inflasi CPI AS bulanan (2023 - 2026)
Sumber: XTB Research, 12/05/2026
Dolar AS terlihat menguat menjelang rilis data, meskipun sulit untuk mengaitkannya sepenuhnya dengan spekulasi terhadap inflasi April. Mata uang AS juga mendapat dukungan dari sentimen risk-off akibat kebuntuan negosiasi antara AS dan Iran. Kenaikan kembali harga komoditas energi serta repricing hawkish suku bunga di ekonomi utama dunia turut memperkuat kondisi ini. Lingkungan pasar seperti ini cenderung menguntungkan mata uang safe haven dan negara eksportir energi bersih, di mana dolar AS termasuk dalam kedua kategori tersebut.
BREAKING: Inflasi AS Naik, Pasar Pantau Sikap The Fed
Unity Software Q1 2026: Pendapatan AI Dorong Pertumbuhan
Kalender Ekonomi: Fokus Pasar ke Data Inflasi AS
Harga Emas Melemah Jelang Data Inflasi AS
Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.