Harga emas dan perak mencatatkan kenaikan spektakuler dalam 10 tahun terakhir. Belum lama ini, lonjakan harga emas bahkan sempat melampaui imbal hasil indeks S&P 500, sebelum indeks ini akhirnya menembus rekor tertinggi baru. Meski begitu, dalam 10 tahun terakhir, return pasar emas tercatat lebih dari 190%, dengan kenaikan 27% sepanjang tahun ini. Di sisi lain, harga perak naik 152%, termasuk 21% kenaikan sejak awal tahun ini. Sebagai perbandingan, indeks S&P 500 tumbuh hampir 200% selama periode yang sama, namun hanya 6% sepanjang tahun ini.
Perlu diingat, kenaikan besar di pasar logam mulia ini tak lepas dari koreksi pasca-2011, yang kala itu dipicu ekspektasi kenaikan suku bunga signifikan di AS. Namun kini, situasinya sangat berbeda. Emas justru menguat di tengah periode suku bunga tinggi oleh The Fed — menandakan peran emas sebagai safe haven makin kuat. Berbagai peristiwa global membuat investor mencari perlindungan aset. Tak kalah penting, bank sentral juga aktif membeli emas demi diversifikasi cadangan di tengah kekhawatiran stabilitas dolar AS. Salah satu pembeli terbesar adalah Bank Sentral Polandia. Dalam 3 tahun terakhir, bank sentral membeli lebih dari 1000 ton emas per tahun, atau lebih dari 20% dari total permintaan global. Diperkirakan 2025 akan kembali mencatatkan pembelian di atas 1000 ton. Setelah stagnasi beberapa tahun, ETF juga mulai aktif membeli emas kembali, dengan skema hedging yang mewajibkan pembelian emas fisik di pasar.
Perak tidak dibeli oleh bank sentral dan memiliki struktur permintaan yang berbeda. Mayoritas permintaan perak berasal dari sektor industri, terutama teknologi baru. Pasar perak mencatatkan defisit dalam beberapa tahun terakhir. Dengan mulai aktifnya segmen investasi, defisit ini diperkirakan akan semakin melebar.
Karena keduanya dianggap sebagai logam mulia, korelasi harga emas dan perak cukup kuat. Saat ini, rasio emas-perak berada di level 88, jauh di atas rata-rata 10 tahun yang berada di 80. Bahkan, rata-rata jangka panjangnya di 53. Dengan asumsi harga emas stabil atau naik, harga perak masih punya potensi kenaikan besar. Terlebih, harga perak saat ini masih jauh dari level tertinggi sepanjang masa. Pada Januari 1980, harga perak pernah menyentuh hampir $50 per ounce karena kekhawatiran ketersediaan pasokan. Jika tren teknologi dan permintaan investasi terus berkembang, skenario serupa tidak bisa dikesampingkan.
Rasio Harga Emas-Perak Mulai Turun. Jika harga emas stabil dan rasio harga turun menuju rata-rata 10 tahunnya, maka target jangka pendek perak bisa mencapai $40–42 per ounce. Source: Bloomberg Finance LP, XTB
Harga perak cenderung mengikuti volatilitas harga emas dalam beberapa tahun terakhir. Kenaikan harga perak tetap memungkinkan, bahkan saat harga emas hanya konsolidasi. Namun, skenario terbaik bagi perak adalah saat harga emas naik secara moderat. Sebaliknya, lonjakan tajam harga emas kerap dikaitkan dengan risiko pasar yang berlebihan — kondisi ini kurang ideal bagi perak karena struktur permintaannya. Source: xStation5
Daily Summary: Silver Anjlok 9%, Wall Street Tertekan
Morning Wrap (12.02.2026)
Daily Summary: NFP Kuat Tunda Rate Cut The Fed
US Open: Payrolls Kuat, Rate Cut Tertunda?