Perdagangan pagi ini ditandai oleh global flight from risk, dengan pusat tekanan berada di Asia sepanjang sesi overnight.
Sell-off sektor teknologi di Wall Street menyebar ke pasar Korea dan Jepang, sementara futures indeks utama memasuki sesi Eropa dalam zona negatif.
Penurunan paling tajam terlihat pada JP225 yang turun 2,59%, terbebani aksi jual pada saham produsen memory dan semiconductor equipment.
Indeks teknologi US100 juga melemah 1,07%, sementara indeks yang lebih luas seperti US500 turun 0,32%, EU50 melemah 0,50%, dan DE40 turun 0,18% menunjukkan tekanan yang relatif lebih ringan.
Gambaran ini mencerminkan sesi perdagangan ketika perusahaan yang paling sensitif terhadap biaya pendanaan ekspansi AI mendapat tekanan terbesar.
Di sisi lain, logam mulia justru menjadi salah satu aset dengan performa terbaik.
GOLD naik 0,93% dan memperkuat posisinya sebagai safe haven di sekitar US$4.142 per ounce, sementara SILVER menguat 1,38%.
Penguatan logam mulia didukung oleh dolar yang lebih lemah dan penurunan bond yield.
Dollar index atau USDIDX turun 0,40% setelah sebelumnya mencapai level tertinggi beberapa bulan.
Kondisi ini memberikan dukungan terhadap major currency pairs.
Menariknya, harga Oil justru turun meskipun ketegangan di Selat Hormuz masih tinggi.
OIL turun 2,05%, sementara OIL.WTI melemah 1,38%.
Pasar mengaitkan penurunan tersebut dengan laporan mengenai kemungkinan pelonggaran sanksi terhadap shadow fleet.

Rilis makroekonomi terpenting masih akan datang.
Pada 14:30, pasar akan menerima rangkaian data AS yang mencakup PPI September, retail sales, dan weekly unemployment insurance claims.
Setelah CPI yang lebih panas dari ekspektasi pada Selasa, data-data ini berpotensi kembali mengubah keseimbangan ekspektasi terhadap The Fed.
Pasar saat ini memperkirakan peluang sekitar 29% untuk rate hike pada Oktober.
Investor juga akan memantau rangkaian pidato pejabat The Fed di Bangkok, termasuk Ketua Federal Reserve Kevin Warsh.
Dari sisi earnings, TSMC memberikan sinyal positif bagi sektor AI.
Perusahaan mencatat kuartal keenam berturut-turut dengan rekor net profit, dengan laba naik 68,7% YoY menjadi sekitar US$23,7 miliar dan guidance revenue 2026 kembali dinaikkan.
Hasil tersebut menjadi counterargument yang kuat terhadap meningkatnya kekhawatiran mengenai profitabilitas belanja AI.
Namun untuk saat ini, earnings TSMC yang kuat masih belum cukup untuk membalikkan sentimen defensif yang mendominasi pasar global pagi ini.
Inflasi PPI AS Melonjak 6,3%, Penjualan Ritel Lampaui Estimasi
Gold Naik 1%, Bank Sentral Jadi Penopang Besar
Sell-Off Chip Meluas, Pasar Mulai Kurangi Eksposur AI
Market Wrap: AI Sell-Off Makin Dalam, Gold Naik Saat Yield Turun
Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.