Saham Boeing (BA.US) anjlok hampir 10% pada perdagangan Selasa, mencatat salah satu sesi perdagangan terburuk sejak awal pandemi. Penurunan tajam tersebut terjadi setelah perusahaan kedirgantaraan Amerika Serikat ini memangkas target pengiriman pesawat dan melaporkan kerugian per saham kuartal III 2026 yang lebih besar daripada perkiraan analis.
Boeing melaporkan kerugian per saham yang disesuaikan (adjusted loss per share) sebesar US$0,34, lebih besar daripada ekspektasi pasar yang memperkirakan kerugian US$0,21 per saham. Sementara itu, pendapatan meningkat sekitar 4% secara tahunan (year-on-year atau YoY) menjadi US$24,19 miliar, sedikit melampaui konsensus analis sebesar US$23,84 miliar.
Kekecewaan terhadap kinerja laba terutama berasal dari segmen pesawat komersial, yang mencatat kerugian operasional sebesar US$697 juta dengan margin negatif 6,5%. Sebagai perbandingan, divisi pertahanan dan kedirgantaraan membukukan margin 6,2%, sementara segmen layanan global mencatat margin 18,3%.
Namun, faktor utama di balik anjloknya saham Boeing adalah pemangkasan target pengiriman pesawat. Keputusan tersebut melemahkan kepercayaan investor terhadap kecepatan perusahaan dalam memulihkan kapasitas produksi ke tingkat normal. Target produksi pesawat Boeing 737 berada di 47 unit per bulan, sementara produksi Boeing 787 tetap stabil di 8 pesawat per bulan.
Di sisi lain, laporan keuangan Boeing juga menunjukkan sejumlah perkembangan positif. Arus kas operasional meningkat sekitar sepertiga menjadi US$1,5 miliar, sementara arus kas bebas (free cash flow) tercatat positif sebesar US$464 juta. Selain itu, model Boeing 737-7 memperoleh sertifikat tipe yang direvisi dari Federal Aviation Administration (FAA), disusul oleh model 737-10 pada Oktober. Boeing juga terpilih oleh Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy) untuk merancang dan memasok pesawat tempur generasi baru. Total nilai pesanan yang belum dipenuhi (order backlog) Boeing mencapai US$745 miliar.
Dari perspektif analisis teknikal saham Boeing, penurunan tajam pada perdagangan Selasa telah mendorong harga keluar ke bawah rentang konsolidasi beberapa bulan yang menjadi area perdagangan saham BA hampir sepanjang 2025 dan 2026. Rentang tersebut berada di sekitar US$190–250, dengan titik tengah mendekati US$220. Harga saham kini juga berada jauh di bawah exponential moving average (EMA) 200 sesi di sekitar US$210, setelah menembus sejumlah moving average penting sekaligus dalam satu pergerakan.
Indikator volume profile menunjukkan bahwa konsentrasi volume perdagangan terbesar berada jauh di atas harga saat ini, yakni pada rentang US$210–240, dengan area terpadat di sekitar US$220. Kondisi ini menunjukkan bahwa sebagian besar investor sebelumnya membangun posisi pada harga yang lebih tinggi dan kini menghadapi kerugian yang belum direalisasikan. Akibatnya, keseluruhan zona tersebut berpotensi menjadi area tekanan jual (supply zone) yang dapat menghambat upaya pemulihan harga saham Boeing. Di bawah level harga saat ini, volume perdagangan relatif lebih tipis, sehingga rentang US$150–160 menjadi satu-satunya area support yang cukup signifikan.
Sementara itu, indikator Relative Strength Index (RSI) turun ke sekitar 26, jauh memasuki wilayah jenuh jual (oversold). Kondisi tersebut mengonfirmasi bahwa tekanan jual saham Boeing didorong oleh kepanikan pasar. Meski demikian, penembusan ke bawah level support penting yang disertai berita fundamental negatif belum dapat dianggap sebagai sinyal pembalikan arah harga (reversal). Dengan demikian, meskipun kondisi oversold dapat membuka peluang pemulihan teknikal jangka pendek, risiko penurunan lanjutan pada saham BA masih perlu diperhatikan investor.
Nasdaq 100 Naik 1%! Saham AI Reli, Siap Tembus 31.000?
US Open: Nasdaq Naik, Broadcom Reli 3% Jelang FOMC
Emas Jebol US$4.000, Perak Anjlok 2%!
Volume Naik 14%, Laba Nucor 2 Kali Lipat?
Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.