17.44 · 20 Oktober 2026

Saham Netflix Turun 20%, Bisakah Earnings Jadi Penyelamat?

Selama bertahun-tahun, Netflix merupakan salah satu perusahaan yang relatif mudah dimaafkan investor ketika sesekali melakukan kesalahan strategi. Investor hanya perlu melihat besarnya perubahan yang dibawa Netflix terhadap industri hiburan serta keberhasilannya mengubah popularitas produksi konten secara global menjadi pertumbuhan pendapatan.

Investor tidak sekadar membeli saham sebuah platform streaming, tetapi juga berinvestasi pada bisnis yang tampaknya terus mampu mendefinisikan ulang batas pertumbuhannya sendiri.

Namun, kondisi saat ini mulai berbeda. Saham Netflix (NFLX) telah turun sekitar 20% sejak awal tahun (year-to-date atau YTD), sementara pasar semakin menilai perusahaan sebagai bisnis media yang telah memasuki fase matang.

Dalam kondisi tersebut, Netflix dituntut untuk terus menghasilkan pertumbuhan, mengendalikan biaya, dan secara konsisten memberikan alasan bagi penonton untuk mempertahankan langganan mereka.

Hal ini bukan berarti Netflix tiba-tiba berubah menjadi perusahaan dengan fundamental lemah. Permasalahannya jauh lebih kompleks.

Pertumbuhan pendapatan dua digit dan profitabilitas tinggi masih menjadi pencapaian yang mengesankan. Namun, kedua faktor tersebut mungkin tidak lagi cukup untuk meyakinkan investor agar bersedia membayar valuasi saham yang lebih mahal.

Pasar sudah memahami kekuatan Netflix dari sisi jangkauan global, merek yang dikenal luas, dan bisnis iklan yang terus berkembang.

Kini, investor ingin mengetahui sumber pertumbuhan berikutnya. Jawabannya tidak bisa hanya berupa keyakinan bahwa Netflix akan terus menjalankan model bisnis yang sama seperti sebelumnya.

Ekspektasi Utama Pasar terhadap Netflix

  • Pendapatan Q3 2026: Sekitar US$12,9 miliar.

  • Proyeksi pertumbuhan pendapatan YoY: Sekitar 11,7%.

  • Proyeksi margin operasional: Sekitar 33,2%.

  • Proyeksi pertumbuhan pendapatan 2027: Sekitar 11,2%.

  • Laba per saham (EPS): US$0,82.

  • Anggaran belanja konten 2026: Sekitar US$20 miliar.

  • Pertanyaan utama: Mampukah Netflix kembali meningkatkan keterlibatan penonton, mempertahankan pertumbuhan bisnis iklan, dan terus memperbaiki margin keuntungan secara bersamaan?

Pendapatan Netflix Tumbuh, tetapi Bagaimana dengan Jumlah Penonton?

Ekspektasi terhadap laporan keuangan Netflix Q3 2026 masih tergolong solid. Pertumbuhan pendapatan sekitar 12% dan margin operasional 33% akan mengonfirmasi bahwa Netflix tetap mampu menggabungkan skala bisnis yang besar dengan profitabilitas tinggi.

Namun, pencapaian tersebut belum menjawab pertanyaan yang lebih penting: berapa lama Netflix dapat mempertahankan laju pertumbuhan ini tanpa kehilangan kemampuannya untuk memberikan kejutan positif kepada pasar?

Konsensus analis untuk 2027 menunjukkan proyeksi pertumbuhan pendapatan sekitar 11% dengan margin operasional mendekati 33,5%.

Angka tersebut mencerminkan prospek bisnis yang sehat, tetapi belum menawarkan katalis yang jelas bagi kenaikan harga saham Netflix.

Dengan penurunan harga saham sekitar 20% sejak awal tahun, investor akan mencari alasan untuk meyakini bahwa pasar terlalu pesimistis terhadap masa depan Netflix, bukan sekadar mendapatkan konfirmasi bahwa kinerja perusahaan sesuai ekspektasi.

Salah satu sumber kekhawatiran terbesar adalah penurunan jumlah penonton dan aktivitas menonton.

Pada kuartal ketiga, total jam tayang untuk judul-judul yang masuk dalam daftar Top 10 Netflix turun sekitar 11% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, jumlah penonton mengalami penurunan lebih tajam, yakni sekitar 17%.

Perbandingan tahunan tersebut memang cukup menantang karena Netflix memiliki jajaran konten yang sangat kuat pada tahun sebelumnya, termasuk KPop Demon Hunters, Happy Gilmore 2, musim kedua Wednesday, dan musim ketiga Squid Game.

Produksi konten tahun ini tetap berhasil menarik perhatian penonton, tetapi belum mampu menyamai skala kesuksesan judul-judul tersebut.

Satu kuartal dengan performa penonton yang lebih lemah tidak selalu menandakan masalah jangka panjang.

Pertanyaan sebenarnya adalah apakah Netflix mampu secara konsisten menghasilkan serial dan film yang menjangkau audiens di luar basis pelanggan utamanya serta berkembang menjadi fenomena budaya global.

Memiliki perpustakaan konten yang luas saja tidak cukup untuk menciptakan keunggulan kompetitif semacam itu.

Konten yang paling bernilai adalah produksi yang mampu menarik pengguna baru, mempertahankan pelanggan lama, dan menjaga Netflix tetap menjadi bagian dari percakapan sehari-hari.

Perbandingan pertumbuhan tahunan yang lebih mudah serta jajaran konten yang lebih kuat pada kuartal keempat berpotensi memperbaiki jumlah penonton.

Namun, kedua faktor tersebut tidak dapat menggantikan kebutuhan akan bukti bahwa Netflix masih mampu menciptakan tayangan populer berskala global.

Anggaran Produksi Netflix Meningkat, Risiko Semakin Besar

Perubahan kepemimpinan pada divisi konten Netflix dapat menjadi sinyal bahwa perusahaan akan memberikan perhatian lebih besar pada produksi berkualitas tinggi dengan anggaran yang lebih mahal.

Pada 2026, Netflix mengalokasikan sekitar US$20 miliar untuk belanja konten, meningkat 10% dibandingkan tahun sebelumnya.

Pengeluaran tersebut berpotensi kembali meningkat dengan laju serupa, atau bahkan lebih cepat, pada tahun depan.

Strategi tersebut dapat memberikan hasil positif apabila produksi baru berhasil meningkatkan jumlah penonton dan membantu mempertahankan pelanggan.

Namun, anggaran produksi yang lebih besar tidak selalu menjamin kesuksesan konten yang lebih tinggi.

Peningkatan belanja juga berarti arus kas keluar yang lebih besar serta kenaikan biaya amortisasi konten, sehingga berpotensi membatasi ruang perbaikan margin keuntungan Netflix.

Perusahaan perlu meyakinkan investor bahwa peningkatan anggaran bukan sekadar pengeluaran tambahan, melainkan investasi yang benar-benar mampu menghasilkan film dan serial yang diminati penonton.

Bisnis iklan tetap menjadi sumber pertumbuhan penting lainnya.

Peningkatan kemampuan penargetan iklan (ad targeting) dan ekspansi ke pasar baru berpotensi mendorong pendapatan tanpa harus sepenuhnya bergantung pada biaya berlangganan.

Pada kuartal keempat, Netflix juga akan menghadirkan sejumlah konten yang berpotensi menarik audiens besar, termasuk pertandingan NFL serta peluncuran film dan serial unggulan.

Namun, pertumbuhan bisnis iklan tidak akan sepenuhnya menyelesaikan masalah apabila jumlah penonton terus melemah.

Pengiklan membayar untuk mendapatkan perhatian audiens. Karena itu, Netflix harus terlebih dahulu mampu menarik dan mempertahankan perhatian penonton sebelum memonetisasinya melalui iklan.

Inilah alasan mengapa strategi produksi konten dan upaya monetisasi Netflix perlu dinilai sebagai dua faktor yang saling berkaitan, bukan sebagai dua sumber optimisme yang berdiri sendiri.

Netflix Harus Kembali Mampu Mengejutkan Investor

Netflix masih memiliki fondasi bisnis yang kuat, mulai dari jangkauan global, merek yang dikenal luas, profitabilitas tinggi, hingga kemampuan investasi yang sulit ditandingi oleh kompetitor lebih kecil.

Namun, kekuatan tersebut tidak menjamin bahwa pertumbuhan pada tahun-tahun mendatang akan semudah periode ketika ekspansi industri streaming secara alami mendorong peningkatan jumlah pelanggan.

Kini, Netflix harus menjalankan tiga prioritas secara bersamaan: mempertahankan disiplin keuangan, memperluas bisnis iklan, dan membiayai produksi konten yang mampu menarik audiens dalam jumlah besar.

Laporan keuangan Q3 2026 masih berpotensi menunjukkan hasil yang kuat, sementara proyeksi kinerja menjelang akhir tahun dapat memberikan keyakinan tambahan kepada investor.

Namun, bagi pergerakan saham Netflix, faktor yang lebih penting adalah apakah manajemen mampu menyampaikan prospek pertumbuhan 2027 yang meyakinkan.

Dengan anggaran konten yang terus meningkat, investor ingin memahami dari mana pertumbuhan laba berikutnya akan berasal dan apakah Netflix mampu kembali secara konsisten menghasilkan tayangan populer.

Netflix tidak harus berubah menjadi perusahaan yang buruk agar harga sahamnya mengecewakan investor.

Perusahaan hanya perlu tumbuh sesuai dengan ekspektasi yang sudah diperhitungkan dalam valuasi pasar, tanpa memberikan kejutan positif tambahan.

Setelah aksi jual saham sepanjang tahun ini, pertanyaan utama bukan lagi sekadar apakah Netflix mampu mencapai target keuangannya.

Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah Netflix masih memiliki kemampuan untuk melampaui ekspektasi dan kembali mengejutkan investor.

Kinerja keuangan yang kuat dapat menopang fundamental bisnis Netflix. Namun, untuk memulihkan harga saham, perusahaan membutuhkan narasi pertumbuhan baru yang mampu kembali mendapatkan kepercayaan pasar.

 

Sumber: XTB Research

20 Oktober 2026, 20.38

US Open: Nasdaq Tertekan, Saham AI Dijual

20 Oktober 2026, 18.04

Harga Gas Alam Anjlok 9,56%, Siap Rebound?

20 Oktober 2026, 13.32

Nasdaq Rebound, Saham AI Bangkit! Tren Naik Terancam?

20 Oktober 2026, 13.30

Saham Netflix di Titik Kritis Jelang Earnings

Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.

Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.
Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.