Baca selengkapnya
15.55 · 8 Mei 2026

Sell in May? Pasar Global Tidak Membaca Kalender

Memasuki bulan Mei 2026, pasar keuangan global dihadapkan pada situasi yang jauh dari tenang. Konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran masih membayangi, harga minyak mentah Brent sempat menyentuh $126 per barel, dan jalur pelayaran kritis di Selat Hormuz terganggu. Emas mencetak rekor di atas $4.900 per ons, sementara Federal Reserve memilih diam dan menahan suku bunga. Di tengah semua ini, satu pertanyaan klasik kembali beredar di kalangan investor: haruskah kita benar-benar "sell in May and go away"?

Yang menarik, jawaban dari pasar justru datang lebih cepat dari perkiraan siapapun.

April 2026 menjadi bulan yang penuh kontradiksi. Bukan di tengah ketenangan, melainkan di tengah krisis energi dan ketegangan geopolitik yang aktif, Nasdaq-100 membukukan kenaikan 15,7% dan mencetak kinerja bulanan terbaiknya dalam lebih dari 23 tahun. S&P 500 naik 10,5%, menyelesaikan reli 13 hari beruntun, dan ditutup di level rekor 7.173,91 pada 24 April. Russell 2000 ikut menguat 12,3%. Semua ini terjadi saat Brent masih di atas $100 dan kapal tanker enggan melintas Selat Hormuz. Di sisi fundamental, pertumbuhan EPS S&P 500 tercatat +27,1% secara year-over-year, menandai laju pertumbuhan laba tercepat sejak Q4 2021 dan kuartal keenam berturut-turut dengan pertumbuhan double-digit. Pasar, singkatnya, menolak untuk takut.

Lalu apakah frasa "Sell in May" punya dasar? Secara historis, ada. Sejak 1945 hingga April 2026, S&P 500 mencatat rata-rata kenaikan sekitar 2% dari Mei hingga Oktober, jauh di bawah rata-rata 7% yang biasa terjadi di periode November hingga April. Selisih ini nyata, tapi sering disalahartikan sebagai sinyal untuk keluar dari pasar sepenuhnya. Faktanya, selama 50 tahun terakhir, pasar justru mencatat return positif di bulan Mei–Oktober pada 38 dari 50 tahun kalender, dengan rata-rata return +4,25%. Investor yang menempatkan $1.000 ke S&P 500 pada 1976 dan sekadar menahan posisi hingga 2025 akan memiliki $294.795. Mereka yang keluar setiap April dan masuk kembali tiap November? Hanya $46.351. Adagium ini bukan hanya lemah secara statistik, tapi juga mahal jika diikuti secara mekanis.

2026 justru menawarkan setup yang secara historis mendukung kenaikan lanjutan. Ketika S&P 500 memasuki Mei dengan year-to-date gains di atas 4%, rata-rata return enam bulan berikutnya secara historis meningkat dari 2,1% menjadi 4,4%. Itulah kondisi yang ada sekarang. Goldman Sachs memang memperkirakan Brent akan rata-rata di $90 per barel di kuartal keempat jika ekspor Teluk tidak pulih hingga akhir Juni, dan ini tetap menjadi variabel risiko yang perlu dipantau. Namun di awal Mei, indeks-indeks utama kembali melonjak lebih dari 1% setelah harapan perdamaian mendorong minyak turun lebih dari 7%, sementara AMD naik 18% pasca earnings yang solid. Mereka yang sudah keluar sejak April kemungkinan besar duduk di pinggir sambil menyaksikan reli berlanjut.

Inilah inti dari perdebatan ini. Dengan globalisasi, perdagangan digital 24 jam, dan arus berita yang tidak pernah berhenti, anomali musiman dengan mudah dikalahkan oleh kekuatan yang jauh lebih besar: kebijakan moneter, data ekonomi, dan tentu saja geopolitik. Keluar dari pasar di momen yang salah berarti melewatkan hari-hari terbaik yang sering kali datang tanpa peringatan, dan justru di bulan-bulan yang dianggap "lemah" secara musiman. Dalam lingkungan seperti 2026, di mana konflik, harga minyak, dan keputusan Fed bisa berubah dalam hitungan hari, frasa kalender bukan kompas yang bisa diandalkan. Fundamental dan manajemen risiko tetap menjadi panduan yang jauh lebih solid.

 

Investasi selalu mengandung risiko. Artikel ini bersifat informatif dan bukan merupakan rekomendasi investasi.


 
8 Mei 2026, 15.50

Ketika Dunia Bergejolak, Keuangan Kita Ikut Tertekan

8 Mei 2026, 14.55

XTB Gandeng SSC Napoli untuk Edukasi Finansial Global

8 Mei 2026, 13.05

Penipuan Telepon Makin Canggih, XTB Hadirkan Verifikasi Panggilan Real-Time

4 Mei 2026, 23.29

Konflik Hormuz Picu Lonjakan Harga Minyak

Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.

Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.
Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.