20.40 · 21 Mei 2026

"Sell in May? Pasar Tidak Membaca Kalender"

Memasuki bulan Mei 2026, pasar keuangan global dihadapkan pada situasi yang jauh dari tenang. Konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran masih membayangi, harga minyak mentah Brent sempat menyentuh USD 126 per barel, dan jalur pelayaran kritis di Selat Hormuz terganggu. Emas mencetak rekor di atas USD 4.900 per ons, sementara Federal Reserve memilih diam dengan menahan suku bunga. Di tengah semua ini, satu pertanyaan klasik kembali beredar di kalangan investor: haruskah kita benar-benar "sell in May and go away"?

Yang menarik, jawaban dari pasar justru datang lebih cepat dari perkiraan siapapun.

April 2026 menjadi bulan yang penuh kontradiksi. Bukan di tengah ketenangan, melainkan di tengah krisis energi dan ketegangan geopolitik yang aktif, Nasdaq-100 membukukan kenaikan 15,7% dan mencatat kinerja bulanan terbaik dalam lebih dari 23 tahun. S&P 500 naik 10,5%, menyelesaikan reli 13 hari beruntun, dan ditutup pada level rekor 7.173,91 pada 24 April. Russell 2000 ikut menguat 12,3%. Semua ini terjadi ketika Brent masih di atas USD 100 dan kapal tanker enggan melintas Selat Hormuz. Di sisi fundamental, pertumbuhan EPS S&P 500 tercatat +27,1% secara year-over-year, menandai laju pertumbuhan laba tercepat sejak kuartal IV 2021 dan kuartal keenam berturut-turut dengan pertumbuhan double-digit. Pasar, singkatnya, menolak untuk takut.

Lalu, apakah frasa "Sell in May" memiliki dasar? Secara historis, memang ada. Sejak 1945 hingga April 2026, S&P 500 mencatat rata-rata kenaikan sekitar 2% dari Mei hingga Oktober, jauh di bawah rata-rata 7% yang biasa terjadi pada setiap periode November hingga April setiap tahunnya. Selisih ini nyata, tapi sering disalahartikan sebagai sinyal untuk keluar dari pasar sepenuhnya. Berdasarkan hasil riset tim XTB Indonesia, selama 50 tahun terakhir, pasar justru mencatat return positif pada bulan Mei–Oktober pada 38 dari 50 tahun kalender, dengan rata-rata return +4,25%. Investor yang menempatkan USD 1.000 ke S&P 500 pada 1976 dan sekedar menahan posisi hingga 2025 akan memiliki USD 294.795. Mereka yang keluar setiap April dan masuk kembali tiap November? Hanya USD 46.351. Adagium ini bukan hanya lemah secara statistik, tapi juga mahal jika diikuti secara mekanis.

Tahun 2026 justru menawarkan setup yang secara historis mendukung kenaikan lanjutan. Ketika S&P 500 memasuki Mei dengan year-to-date gains di atas 4%, rata-rata return enam bulan berikutnya secara historis meningkat dari 2,1% menjadi 4,4%. Itulah kondisi yang terjadi saat ini. Goldman Sachs memang memperkirakan Brent akan rata-rata di USD 90 per barel di kuartal IV jika ekspor Teluk tidak pulih hingga akhir Juni, dan ini tetap menjadi variabel risiko yang perlu dipantau. Namun, pada awal Mei, indeks-indeks utama kembali melonjak lebih dari 1% setelah harapan perdamaian mendorong harga minyak turun lebih dari 7%, sementara AMD naik 18% pasca earnings yang solid. Mereka yang sudah keluar sejak April kemungkinan besar hanya duduk di pinggir sambil menyaksikan reli berlanjut.

Inilah inti dari perdebatan ini. Dengan globalisasi, perdagangan digital 24 jam, dan arus berita yang tidak pernah berhenti, anomali musiman dengan mudah dikalahkan oleh kekuatan yang jauh lebih besar: kebijakan moneter, data ekonomi, dan tentu saja geopolitik. Keluar dari pasar pada momen yang salah berarti melewatkan hari-hari terbaik yang sering kali datang tanpa peringatan, bahkan pada bulan-bulan yang dianggap "lemah" secara musiman. Dalam lingkungan seperti tahun 2026, ketika konflik, harga minyak, dan keputusan Federal Reserve dapat berubah dalam hitungan hari, frasa kalender bukanlah kompas yang bisa diandalkan. Fundamental dan manajemen risiko tetap menjadi panduan yang jauh lebih solid.

 

Tentang XTB Indonesia 

PT XTB Indonesia Berjangka (XTB Indonesia) adalah bagian dari Grup Global XTB dan beroperasi di bawah regulasi dan pengawasan BAPPEBTI, OJK, dan Bank Indonesia (BI). XTB Indonesia berfokus pada investasi jangka panjang dengan menyediakan akses ke saham AS, ETF global, dan Investment Plan untuk investasi yang terstruktur dan berbasis tujuan. Melalui aplikasi investasi XTB, investor Indonesia dapat membangun portofolio yang terdiversifikasi, berinvestasi secara global dengan mudah, dan mengelola investasi mereka dalam lingkungan yang aman dan teregulasi. Didukung oleh keahlian global dan disesuaikan untuk investor lokal, XTB Indonesia membantu individu mengendalikan masa depan keuangan mereka melalui transparansi, teknologi, dan akses pasar yang terpercaya. 

Investasi selalu mengandung risiko. Artikel ini bersifat informatif dan bukan merupakan rekomendasi investasi.

21 Mei 2026, 21.10

US OPEN: Wall Street Dibayangi Iran dan Volatilitas AI

21 Mei 2026, 20.50

Ketika Dunia Bergejolak, Dompet Kita Ikut Terdampak

21 Mei 2026, 15.19

AMD Gelontorkan USD 10 Miliar untuk Infrastruktur AI

21 Mei 2026, 14.15

NextEra dan Dominion Bentuk Raksasa Energi AI

Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.

Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.
Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.