Harga perak mengalami tekanan signifikan setelah Federal Reserve (The Fed) memutuskan mempertahankan suku bunga pada kisaran 3,75–4,00%, meskipun dua anggota pembuat kebijakan memberikan suara untuk mendukung kenaikan suku bunga secara langsung. Pasar semakin memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan pada Desember, sehingga memberikan tekanan lebih lanjut terhadap sentimen di seluruh pasar logam mulia.
Data ekonomi makro AS turut memperbesar tekanan tersebut. GDP AS tumbuh 3,4% secara tahunan yang disetahunkan (annualized) pada kuartal III, melampaui ekspektasi sebesar 3,2%. Sementara itu, inflasi PCE September meningkat menjadi 3,6% secara tahunan (YoY). Kombinasi pertumbuhan ekonomi yang tangguh dan inflasi yang meningkat membatasi ruang bagi The Fed untuk memangkas suku bunga serta mendukung yield obligasi Treasury AS tetap berada pada level tinggi. Kondisi ini menciptakan lingkungan yang kurang menguntungkan bagi aset yang tidak memberikan imbal hasil bunga (non-yielding assets), seperti emas dan perak.
Harga perak turun lebih tajam dibandingkan harga emas, sebagian karena tingginya keterkaitan perak dengan aktivitas industri. Pergerakan harga perak tidak hanya merespons ekspektasi suku bunga, tetapi juga prospek aktivitas ekonomi global dan permintaan komoditas. Dalam kondisi pasar yang volatil saat ini, memburuknya sentimen investor dapat memicu fluktuasi harga perak yang lebih besar.
Dari perspektif analisis teknikal harga perak, area US$52 per ounce kini menjadi level penting yang perlu diperhatikan. Jika harga mampu bertahan di atas level tersebut, peluang stabilisasi masih terbuka. Namun, penembusan berkelanjutan di bawah US$52 akan meningkatkan risiko koreksi yang lebih dalam. Selama data ekonomi AS masih mendukung ekspektasi kebijakan moneter yang ketat (restrictive monetary policy), harga perak kemungkinan akan kesulitan mendapatkan kembali momentum kenaikan yang signifikan.

Sumber: XTB Research
Daily Summary: Nasdaq Picu Sell-Off
AWS Melesat, Belanja AI Jadi Risiko
Intel Rilis Earnings Q3
Market Wrap: Saham AI Tertekan, Fed Jadi Sorotan
Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.