Saham SpaceX benar-benar sedang melesat. Harga saham naik sekitar 5,4% hari ini ke sekitar US$167, mencatat salah satu sesi perdagangan paling kuat sejak IPO.
Momentum tersebut juga terlihat dari indikator RSI yang melonjak menuju sekitar 67 poin, setelah sebagian besar September bergerak di kisaran 50–60 poin. Ini menjadi salah satu percepatan momentum terkuat sejak saham mulai diperdagangkan.
Dalam prosesnya, harga saham berhasil menembus dua level penting: harga hari pertama perdagangan di US$151,95 dan tentu saja harga IPO di US$135.
Investor kini terlihat jelas mulai meninggalkan trading range awal setelah IPO.

Sebagai catatan menarik, kenaikan hari ini juga membawa Elon Musk ke posisi pertama dalam daftar miliarder Forbes. Sumber: Forbes
Morgan Stanley Melihat Potensi Upside Besar
Rally SpaceX mendapat dorongan dari laporan penting Morgan Stanley.
Analis Adam Jonas mempertahankan rekomendasi Overweight dengan target harga US$300.
Dibandingkan harga penutupan Jumat di US$158,96, target tersebut menunjukkan potensi kenaikan hampir 89%.
Jonas bahkan menggambarkan saham SpaceX sebagai “cheap and getting cheaper”.
Argumen utamanya adalah bahwa valuasi SpaceX saat ini seolah-olah membuat investor hanya membayar bisnis rockets dan Starlink, sementara memberikan valuasi yang relatif kecil terhadap bisnis AI.
Jonas memperkirakan bisnis rockets dan Starlink bernilai sekitar US$127 per saham, sementara bisnis AI hanya sekitar US$32 per saham.
Menariknya, ketika ia bertanya kepada sekitar 40 klien dalam sebuah pertemuan siapa yang sudah memiliki saham SpaceX, tidak satu pun mengangkat tangan.
Hal ini mengindikasikan bahwa investor institusional masih relatif berada di luar pasar.
Potensi terbesar menurut analisis tersebut berasal dari computing power.
Dengan konsensus sekitar US$17 per watt untuk kapasitas 4,1 GW, sementara kontrak jangka pendek berada lebih dekat ke US$40 per watt, setiap tambahan US$10 per watt berpotensi menambah sekitar US$41 miliar revenue tanpa perlu meningkatkan kapasitas.
Selain itu, terdapat efek sinergi antarsegmen.
Bisnis launch, Starlink, dan AI computing saling memperkuat, sehingga potensi upside SpaceX tidak hanya berasal dari satu unit bisnis, tetapi dari bagaimana seluruh ekosistem tersebut bekerja bersama.

Risiko Besar: Miliaran Saham Bisa Masuk ke Pasar
Risiko utama terhadap keberlanjutan rally justru berasal dari supply saham.
Jadwal lock-up expiry menunjukkan bahwa miliaran saham dapat mulai masuk ke pasar hingga akhir tahun.
Sebanyak 911,5 juta saham berpotensi dilepas setelah laporan earnings pertama, sementara sekitar 1,3 miliar saham dapat menyusul setelah laporan kedua.
Total saham yang sudah tidak lagi terkunci dapat mendekati sekitar 5 miliar saham pada Desember.
Ini menciptakan risiko tekanan supply yang nyata.
Investor awal dan karyawan yang memegang saham dalam jumlah besar berpotensi melakukan profit-taking, terutama setelah rally kuat sejak IPO.
Secara historis, periode lock-up expiry dalam jumlah besar dapat memperlambat momentum kenaikan saham untuk sementara.
Karena itu, laporan kuartalan berikutnya memiliki dua fungsi penting: sebagai publikasi hasil keuangan sekaligus sebagai titik ketika supply saham tambahan dapat mulai masuk ke pasar.
Ada juga beberapa risiko lain yang perlu diperhatikan, termasuk dilusi modal, pertanyaan mengenai Grok dan akses spektrum untuk layanan mobile Starlink, serta fakta bahwa divisi AI mencatat kerugian sekitar US$1,26 miliar pada kuartal terakhir.
Sumber: Bloomberg Financial LP

Fundamental SpaceX Masih Mengandalkan Pertumbuhan Agresif
Dari sisi fundamental, proyeksi pasar masih sangat agresif. Konsensus memperkirakan revenue SpaceX meningkat dari sekitar US$45,5 miliar pada 2026 menjadi lebih dari US$108 miliar pada 2027 dan mencapai sekitar US$191 miliar pada 2028.
Margin juga diperkirakan membaik secara signifikan, sementara perusahaan diharapkan beralih dari kerugian nominal tahun ini menuju profit yang solid dalam beberapa tahun berikutnya. Segmen AI diperkirakan menjadi motor utama pertumbuhan dan mencatat kenaikan revenue paling cepat dalam model proyeksi.
Sementara itu, bisnis Connectivity melalui Starlink diperkirakan memberikan profitabilitas yang lebih stabil. Segmen Space untuk saat ini masih menjadi area investasi yang membebani EBIT.
Sumber: LSEG
Nu Holdings Melonjak 13%, Pemilu Brasil Jadi Katalis
Intel Turun 4%, TSMC Masuk Terra Fab Jadi Ancaman Baru
Delta Sudah Naikkan Tarif, Bisa Bertahan Saat Minyak Turun?
US Open: Wall Street Menguat, NFP Lemah Dorong Saham Teknologi
Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.