21.07 · 29 Oktober 2026

US Open: Nasdaq Anjlok 1,3%, Alphabet Jadi Beban

Wall Street diperkirakan akan dibuka melemah pada perdagangan Kamis. Nasdaq turun sekitar 1,3%, sementara S&P 500 melemah 0,3% dan Dow Jones turun 0,2%. Data ekonomi Amerika Serikat yang kuat belum mampu mengangkat sentimen pasar. Investor kini berfokus pada laporan keuangan perusahaan teknologi besar, terutama Alphabet, yang sahamnya anjlok setelah merilis hasil kuartalan.

GDP AS tumbuh 3,4% secara tahunan yang disetahunkan (annualized) pada kuartal III, melampaui perkiraan sebesar 3,2%. Sementara itu, inflasi PCE secara umum sesuai ekspektasi, tetapi belum memberikan alasan kuat bagi Federal Reserve (The Fed) untuk menjadi lebih optimistis. Inflasi tahunan meningkat menjadi 3,6% dari 3,4% pada bulan sebelumnya. Perekonomian AS masih tumbuh dengan laju yang solid, tetapi tekanan harga tetap persisten. Kombinasi ini mempersulit The Fed untuk kembali melanjutkan pemangkasan suku bunga.

Keputusan The Fed kemarin untuk mempertahankan suku bunga sudah diperkirakan secara luas oleh pasar. Namun, perbedaan pandangan di antara anggota Federal Open Market Committee (FOMC) ternyata lebih signifikan dibandingkan keputusan itu sendiri, dengan dua pejabat mendukung kenaikan suku bunga. Ketika pertumbuhan ekonomi tetap kuat dan inflasi masih tinggi, peralihan cepat menuju pelonggaran kebijakan moneter menjadi semakin sulit dibenarkan. Bagi Wall Street, kondisi ini berarti biaya pinjaman berpotensi bertahan tinggi lebih lama dibandingkan perkiraan sebagian pelaku pasar.

Alphabet menjadi sumber tekanan terbesar bagi saham teknologi AS. Laporan keuangannya mengecewakan investor, sementara belanja besar untuk pengembangan kecerdasan buatan (AI) kembali memunculkan pertanyaan mengenai kapan investasi dalam skala masif tersebut akan menghasilkan laba yang lebih tinggi dan arus kas yang lebih kuat. Peningkatan pengeluaran saja tidak lagi cukup untuk meyakinkan investor bahwa bisnis perusahaan bergerak ke arah yang tepat. Dengan valuasi saham yang sudah tinggi, ekspektasi terhadap perusahaan teknologi terbesar tetap besar, sehingga ruang untuk hasil yang mengecewakan menjadi semakin terbatas.

Microsoft menunjukkan kinerja yang jauh lebih kuat, didukung pertumbuhan solid bisnis cloud Azure. Perbedaan reaksi pasar terhadap laporan keuangan kedua perusahaan tersebut menegaskan bahwa investor kini semakin selektif dalam menilai perusahaan yang mengembangkan AI. Modal investor tidak lagi mengalir ke sektor AI hanya berdasarkan satu narasi pertumbuhan yang sama. Faktor yang kini menjadi perhatian utama adalah kinerja aktual, pertumbuhan pendapatan, dan bukti nyata bahwa investasi infrastruktur mampu menghasilkan tingkat pengembalian yang memadai.

Karena itu, aksi jual Nasdaq hari ini bukan sekadar dampak dari satu laporan keuangan yang mengecewakan. Ekspektasi tinggi terhadap Big Tech kini berhadapan dengan meningkatnya biaya pengembangan AI, sementara data ekonomi makro yang kuat memperkuat prospek kebijakan moneter The Fed yang tetap ketat. Amazon dijadwalkan merilis laporan keuangannya setelah penutupan pasar. Hasil tersebut akan menjadi ujian berikutnya untuk melihat apakah investor masih bersedia membayar valuasi premium demi pertumbuhan AI, atau mulai menuntut bukti profitabilitas yang lebih jelas.

Sumber: XTB Research

Berita Perusahaan

Microsoft membukukan hasil keuangan yang kuat, menegaskan bahwa permintaan terhadap kecerdasan buatan (AI) dan layanan cloud masih menjadi pendorong pertumbuhan. Pendapatan dan laba per saham melampaui ekspektasi analis, sementara pertumbuhan Azure yang berkelanjutan tetap menjadi sorotan utama. Hasil ini penting bagi investor karena Microsoft mengalokasikan sumber daya besar untuk pusat data dan infrastruktur AI. Pasar kini semakin berfokus pada apakah investasi tersebut benar-benar menghasilkan peningkatan pendapatan dan laba.

Hasil Keuangan Utama:

  • Pendapatan: US$92,28 miliar, dibandingkan US$77,6 miliar setahun sebelumnya, naik 19%.

  • Laba bersih: US$36,63 miliar, dibandingkan US$27,75 miliar setahun sebelumnya, naik 32%.

  • EPS: US$4,92 berdasarkan standar akuntansi GAAP.

  • Konsensus pasar: Pendapatan sekitar US$90,63 miliar dan EPS US$4,73.

  • Pendapatan Microsoft Cloud: US$63,9 miliar, naik 30% secara tahunan (YoY).

  • Pertumbuhan Azure: 48% YoY.

  • Margin operasional: Sekitar 50%.

Azure tetap menjadi pendorong utama pertumbuhan Microsoft, menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan masih meningkatkan pengeluaran untuk layanan cloud dan solusi AI. Microsoft memperoleh keuntungan dari ekosistem layanan perusahaan (enterprise services) yang luas, sehingga memudahkan monetisasi teknologi baru. Dalam beberapa kuartal mendatang, investor akan memperhatikan apakah pertumbuhan pendapatan AI lebih lanjut mampu mempertahankan profitabilitas yang tinggi ketika belanja modal (CapEx) terus meningkat.

Alphabet mengecewakan investor meskipun mencatat pertumbuhan pendapatan yang kuat dan kinerja Google Cloud yang sangat solid. Saham perusahaan turun sekitar 12%, karena pasar lebih berfokus pada pelemahan laba dan meningkatnya belanja modal. Alphabet mengalokasikan dana besar untuk pengembangan AI dan pusat data, tetapi investor semakin mempertanyakan kapan pengeluaran tersebut akan menghasilkan laba lebih tinggi dan arus kas yang lebih stabil.

Hasil Keuangan Utama:

  • Pendapatan: US$127,58 miliar, dibandingkan US$102,35 miliar setahun sebelumnya, naik 25%.

  • Laba bersih: US$26,17 miliar, dibandingkan US$34,98 miliar setahun sebelumnya, turun 25%.

  • EPS: US$2,12 berdasarkan standar akuntansi GAAP.

  • Pendapatan Google Cloud: US$30,71 miliar, naik 103% secara tahunan (YoY).

  • Pendapatan iklan: US$82,01 miliar, di bawah ekspektasi analis.

  • Belanja modal (CapEx): US$51,36 miliar.

  • Arus kas bebas (Free Cash Flow): Negatif US$9,07 miliar.

Google Cloud tetap menjadi kekuatan utama Alphabet, didukung meningkatnya permintaan terhadap infrastruktur AI. Tantangan terbesar terletak pada besarnya skala investasi yang menekan arus kas, serta ketidakpastian mengenai masa depan bisnis periklanannya. Teknologi pencarian berbasis AI berpotensi mengubah model pendapatan perusahaan yang selama ini telah mapan, sehingga monetisasi solusi baru secara efektif menjadi semakin penting. Investor kini tidak hanya berfokus pada pertumbuhan pendapatan, tetapi juga pada kemampuan Alphabet mempertahankan profitabilitas dan menghasilkan arus kas positif.

Amazon akan menjadi pusat perhatian pasar hari ini menjelang rilis laporan keuangan kuartal III. Investor terutama akan mencermati kinerja Amazon Web Services (AWS), divisi komputasi cloud perusahaan, serta pembaruan mengenai rencana belanja infrastruktur AI. Amazon mendapat manfaat dari meningkatnya permintaan kapasitas komputasi, tetapi skala investasinya membuat pasar semakin ketat dalam mengevaluasi tingkat pengembalian. Setelah aksi jual saham teknologi baru-baru ini, investor mengharapkan lebih dari sekadar hasil keuangan yang solid. Mereka ingin melihat bukti konkret bahwa belanja AI mampu menghasilkan pengembalian investasi yang memadai.

Ekspektasi Laporan Keuangan:

  • Pendapatan: Sekitar US$202,26 miliar, naik 12,2% secara tahunan (YoY).

  • EPS: Sekitar US$1,96.

Pertumbuhan AWS akan menjadi indikator utama, mengingat divisi tersebut menyumbang porsi signifikan terhadap laba operasional Amazon dan tetap menjadi salah satu penerima manfaat utama dari perkembangan AI. Investor juga akan mengevaluasi panduan belanja modal (CapEx) dan dampaknya terhadap arus kas bebas (Free Cash Flow). Jika Amazon mampu menunjukkan bahwa peningkatan pengeluaran menghasilkan pertumbuhan cloud yang lebih cepat dan perbaikan profitabilitas, pasar berpotensi memberikan respons positif. Namun, apabila investasi terus meningkat tanpa bukti jelas mengenai peningkatan efisiensi, bahkan hasil keuangan utama yang kuat sekalipun mungkin tidak cukup untuk mendorong kenaikan harga saham.

 

29 Oktober 2026, 14.25

Kalender Ekonomi: PCE AS, GDP, dan Earnings Amazon

29 Oktober 2026, 13.43

Market Wrap: Saham AI Tertekan, Fed Jadi Sorotan

29 Oktober 2026, 13.40

AI Intel Melesat, Tapi Foundry Merugi

29 Oktober 2026, 03.37

Laba Alphabet Anjlok, Saham Google Turun 8%!

Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.

Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.
Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.