Meskipun indeks S&P 500 dan Nasdaq 100 diperdagangkan sangat dekat dengan level tertinggi sepanjang masa dan telah mencatat kenaikan dua digit sejak awal tahun, analisis fundamental menunjukkan kondisi yang cukup tidak biasa. Berlawanan dengan persepsi bahwa pasar saham AS sudah “mahal”, beberapa indikator finansial justru menunjukkan valuasi saham AS saat ini berada di level terendah dalam beberapa tahun.
Fenomena tersebut terlihat dari perbandingan sejumlah indikator utama pasar. Harga saham memang terus naik, tetapi pertumbuhan laba perusahaan berlangsung lebih cepat sehingga secara relatif beberapa rasio valuasi justru mengalami penurunan.
Jika melihat siklus pasar saat ini secara keseluruhan, belum terlihat euforia luas yang biasanya menjadi karakteristik speculative bubble. Saat ini, hanya 27 perusahaan dalam indeks S&P 500 yang diperdagangkan dengan forward P/E di atas 40x. Jumlah tersebut hampir setara dengan level yang terlihat ketika pasar mengalami kepanikan pada 2020 dan saat bear market mencapai titik terendah pada 2022.
Kondisi ini menunjukkan investor masih cukup berhati-hati dalam memberikan valuasi tinggi kepada perusahaan. Dengan kata lain, kenaikan indeks menuju rekor belum diikuti ekspansi valuasi ekstrem secara merata di seluruh pasar.
Faktor utama di balik kondisi tersebut adalah pertumbuhan kinerja keuangan yang lebih cepat dibanding kenaikan harga saham. Untuk melihat fenomena ini lebih jelas, terdapat dua indikator menarik yang dapat diperhatikan.
1. PEG Ratio S&P 500 Berada di Level Terendah dalam Beberapa Tahun
PEG atau Price/Earnings-to-Growth ratio menyesuaikan rasio P/E tradisional dengan ekspektasi pertumbuhan laba perusahaan. Untuk pasar saham AS secara luas, PEG ratio saat ini berada di sekitar 0,9x.
Secara historis, angka di bawah 1,0x menunjukkan bahwa ekspektasi pertumbuhan earnings per share (EPS) relatif tinggi dibanding valuasi yang diberikan pasar. Artinya, meskipun harga saham naik, pertumbuhan laba yang mendasarinya berlangsung lebih cepat.
Reli indeks saham AS saat ini karena itu bukan semata-mata berasal dari investor yang bersedia membayar valuasi semakin tinggi. Sebagian besar kenaikan juga didukung oleh peningkatan profitabilitas perusahaan AS yang membuat rasio valuasi relatif gagal mengejar pertumbuhan fundamentalnya.
2. Valuasi Nasdaq 100 Mengalami Kompresi
Perubahan struktural serupa juga terlihat pada sektor teknologi. Grafik kedua menunjukkan perkembangan forward P/E Nasdaq 100, yang justru mengalami kompresi meskipun indeks tersebut telah mencatat kenaikan signifikan.
Forward P/E Nasdaq 100 kini turun ke sekitar 23x. Rasio tersebut telah menembus ke bawah moving average 126 hari dan bergerak menuju batas bawah standar deviasi.
Kondisi tersebut menunjukkan laba bersih perusahaan teknologi utama tumbuh lebih cepat dibanding kapitalisasi pasar mereka. Dengan kata lain, kenaikan harga saham teknologi masih tertinggal dibanding pertumbuhan fundamental yang dihasilkan perusahaan.
Pada saat yang sama, deviasi Nasdaq 100 terhadap exponential moving average (EMA) 200 hari telah kembali normal ke sekitar 7,6%. Kondisi ini mengurangi indikasi bahwa indeks sedang mengalami overheating ekstrem dalam jangka pendek.
Kesimpulan dan Risiko
Dari perspektif fundamental, bull market saat ini memiliki karakteristik yang berbeda dibanding episode 1999 maupun 2021. Kenaikan pasar kali ini lebih banyak ditopang pertumbuhan laba perusahaan, sementara beberapa indikator valuasi justru mengalami kompresi meskipun indeks berada dekat rekor tertinggi.
Dengan kata lain, indeks yang berada di all-time high tidak otomatis berarti saham AS semakin mahal. Jika laba perusahaan tumbuh lebih cepat daripada harga saham, rasio valuasi seperti forward P/E dan PEG tetap dapat turun meskipun indeks terus mencetak level tertinggi baru.
Namun, perlu ditekankan bahwa rasio dan multiple valuasi hanyalah model analitis, bukan jaminan return di masa depan. Proyeksi laba dapat berubah drastis ketika kondisi makroekonomi, suku bunga, inflasi, atau prospek bisnis perusahaan berubah.
Valuasi yang terlihat murah secara relatif juga tidak memberikan perlindungan terhadap koreksi pasar. Jika ekspektasi pertumbuhan laba diturunkan, yield obligasi meningkat, atau sentimen investor berubah, multiple valuasi dapat kembali tertekan sekalipun fundamental perusahaan masih relatif kuat.
Karena itu, pesan utama dari indikator saat ini bukan bahwa Wall Street sudah pasti murah atau reli akan terus berlanjut. Yang lebih tepat adalah bahwa kenaikan S&P 500 dan Nasdaq 100 sejauh ini masih memiliki dukungan pertumbuhan laba yang kuat, sehingga reli belum menunjukkan karakteristik ekspansi valuasi ekstrem seperti yang terlihat pada beberapa bubble sebelumnya.
Stock of the Week: Broadcom Targetkan Revenue AI US$230 Miliar pada 2028
US Open: Wall Street Melemah, Yield US Treasury Dekati 5%
Micron Diuntungkan Kelangkaan Memory akibat Ledakan AI
Ketika Semua Raksasa AI Harus Mengantri di Satu Pabrik
Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.