14.15 · 20 Agustus 2026

AI Race: China Tak Perlu Jadi Nomor Satu untuk Menang

Model AI buatan China mungkin belum menyalip Amerika Serikat di puncak benchmark. Namun, di lapangan, tempat developer memilih model dan perusahaan menghitung biaya, China sudah mulai mendominasi. Dan itu mungkin jauh lebih penting. Selama bertahun-tahun, narasi mengenai perlombaan AI antara Amerika Serikat dan China terdengar sederhana: AS memimpin jauh, sementara China mengejar dari belakang.

Model seperti GPT dari OpenAI dan Claude dari Anthropic secara konsisten berada di posisi teratas benchmark global, sementara model China sering dipandang sebagai alternatif yang lebih murah dengan kualitas lebih rendah. Narasi tersebut kini mulai berubah. Bloomberg dalam laporan terbarunya menunjukkan adanya pergeseran besar yang terjadi dalam 18 bulan terakhir. Berdasarkan data Stanford AI Index 2026, selisih performa antara model AI terbaik AS dan China menyempit dari sekitar 17 hingga 31 poin pada 2023 menjadi hanya 2,7 poin per Maret 2026. Pada saat yang sama, penggunaan model China telah melampaui model AS berdasarkan volume token global. Persaingan ini bukan lagi hanya soal siapa yang memiliki model paling pintar. Pertanyaan yang semakin penting adalah siapa yang paling banyak digunakan.

Gap yang Dulu Lebar, Kini Nyaris Hilang

Grafik Artificial Analysis Intelligence Index menggambarkan perubahan tersebut dengan cukup jelas. Pada 2023, model AS seperti GPT-3.5 Turbo masih berada jauh di atas model China. Composite score yang mengukur kemampuan coding, scientific reasoning, dan kemampuan umum menunjukkan selisih yang cukup besar. Model China terbaik saat itu, Qwen Chat 14B, masih tertinggal belasan hingga puluhan poin.

Composite benchmark AI yang mengukur coding, scientific reasoning, dan general ability. Bintang menunjukkan model frontier yang secara signifikan melampaui model terbaik sebelumnya dari negara yang sama. Sumber: Bloomberg / Artificial Analysis

Kemudian DeepSeek muncul. Pada awal 2025, model reasoning buatan China tersebut berhasil mendekati performa model AS terbaik dan menjadi titik balik penting bagi industri. Namun, perkembangan setelah DeepSeek justru lebih signifikan.

Model China mulai bermunculan dengan kecepatan tinggi, termasuk GLM-5 dari Zhipu, Qwen 3.7 Max dari Alibaba, dan Kimi K3 dari Moonshot AI, model open-weight dengan 2,8 triliun parameter yang diklaim sebagai salah satu model open-source terbesar di dunia.

Grafik menunjukkan bahwa garis China yang sebelumnya jauh tertinggal kini semakin mendekati AS, bahkan pada beberapa titik mencapai level performa yang hampir sama.

Yang membuat perkembangan ini semakin menarik adalah perbedaan skala investasi. Menurut Stanford HAI, investasi AI swasta di AS mencapai US$285,9 miliar pada 2025, sementara China hanya sekitar US$12,4 miliar. Rasionya sekitar 23 banding 1. Dengan investasi swasta yang secara resmi jauh lebih kecil, China tetap berhasil menghasilkan model dengan performa yang hanya terpaut sedikit dari model terbaik AS. Namun, angka investasi China tersebut hanya mencakup pendanaan swasta dan belum sepenuhnya memperhitungkan dukungan pemerintah, yang menurut estimasi Société Générale kemungkinan jauh lebih besar.

Murah, Terbuka, dan Sudah Digunakan di Mana-mana

China tidak mencoba memenangkan persaingan AI menggunakan strategi yang sama dengan Amerika. Jika perusahaan AS banyak mengandalkan model tertutup, harga premium, dan ekosistem tools yang terintegrasi, China mengambil pendekatan berbeda: model open-weight yang dapat digunakan lebih bebas, harga API sangat rendah, dan distribusi seluas mungkin. Strategi tersebut mulai terlihat hasilnya dalam data penggunaan.

​​​​​​​

Pangsa token bulanan berdasarkan negara asal model di OpenRouter. Catatan: OpenRouter hanya mencerminkan sebagian penggunaan AI global. Sumber: Bloomberg / OpenRouter

Pada awal 2025, sekitar 80% token yang diproses melalui OpenRouter berasal dari model AS, sementara model China hanya menguasai sekitar 5% hingga 10%. Menjelang pertengahan 2026, situasinya berubah drastis. Model China menguasai sekitar 60% volume token, sementara model AS turun ke sekitar 30%. OpenRouter memang hanya mencerminkan sebagian dari penggunaan AI global. Namun, perubahan sebesar ini tetap menunjukkan adanya pergeseran yang signifikan dalam pilihan developer. Salah satu alasan utamanya adalah harga.

DeepSeek V4 Pro mengenakan biaya sekitar US$0,87 per 1 juta output token, sementara Claude Opus 4.8 berada di sekitar US$25 dan GPT-5.6 Sol sekitar US$30. Untuk workload yang sama, model China dapat menawarkan biaya hingga puluhan kali lebih murah. Dalam satu ilustrasi, menjalankan 50 juta token per bulan melalui Claude Opus 4.8 membutuhkan biaya sekitar US$5.000, sementara DeepSeek V4 Flash hanya sekitar US$28.

Perbedaannya bukan sekadar diskon harga. Hal tersebut mencerminkan struktur biaya yang berbeda, mulai dari arsitektur model yang lebih efisien, biaya komputasi yang lebih rendah, hingga strategi bisnis yang lebih memprioritaskan adopsi dibandingkan margin. CNBC melaporkan bahwa sejak Februari 2026, model open-source China menguasai lebih dari 30% token yang diproses perusahaan AS melalui OpenRouter setiap minggu dan sempat mencapai 46%. Menariknya, hampir setengah pengguna OpenRouter berasal dari AS. Artinya, developer Amerika sendiri mulai menggunakan model China dalam jumlah yang signifikan. OpenAI juga dilaporkan mempertimbangkan pemotongan harga yang besar sebagai respons, menunjukkan bahwa tekanan harga dari model China mulai menjadi faktor kompetitif yang serius.

Menang Benchmark, Tapi Kalah Distribusi?

Ada satu dimensi lain yang tidak kalah penting: aplikasi mobile. Di sini, persaingan antara AS dan China memberikan gambaran yang berbeda. Data Sensor Tower menunjukkan bahwa AS masih mendominasi secara besar di pasar aplikasi AI konsumen.

​​​​​​​

Download bulanan aplikasi AI assistant dari App Store dan Google Play, tidak termasuk China. Sumber: Bloomberg / Sensor Tower

ChatGPT tetap menjadi salah satu aplikasi AI paling banyak diunduh secara global, disusul Gemini yang mengalami lonjakan download setelah fitur editing gambar viral. Claude, Grok, Copilot, dan Perplexity berada pada lapisan berikutnya. Total download aplikasi AI AS sempat menembus sekitar 200 juta per bulan.

Sementara itu, aplikasi China seperti DeepSeek, Cici/Dola, dan Kimi masih memiliki skala yang jauh lebih kecil di luar pasar domestik. DeepSeek sempat mencapai sekitar 25 juta download ketika debut pada Januari 2025, tetapi masih jauh di bawah skala aplikasi AI terbesar dari AS.

Kondisi ini menciptakan paradoks. Di level API dan infrastruktur developer, China mulai mendominasi volume penggunaan berkat harga murah dan model open-weight. Namun, di level consumer apps, tempat brand recognition, user experience, dan distribusi melalui app store menjadi faktor utama, AS masih unggul jauh.

Dengan kata lain, China semakin kuat di backend, sementara AS masih mendominasi frontend. Persaingan AI pada 2026 bukan lagi sekadar soal siapa yang mencetak skor tertinggi di leaderboard. Yang terjadi sekarang adalah benturan dua strategi industri.

Amerika mengandalkan modal besar, platform premium, model tertutup, dan ekosistem konsumen yang kuat. China mengandalkan biaya rendah, model open-weight, serta distribusi yang luas untuk mempercepat adopsi. Amerika masih unggul pada benchmark dan consumer apps. China semakin unggul dalam penggunaan developer dan volume token.

Bagi investor, pertanyaan yang lebih penting bukan sekadar siapa yang memiliki model AI paling pintar, tetapi siapa yang teknologinya paling banyak digunakan. Karena dalam industri teknologi, produk terbaik secara teknis tidak selalu menjadi pemenang. Skala distribusi, biaya, dan ekosistem sering kali jauh lebih menentukan.

18 Agustus 2026, 12.07

Market Wrap: AI Masih Kuat, Tapi Yield dan Minyak Mulai Menekan

11 Agustus 2026, 18.33

Daily Summary - CPI Jadi Fokus saat Minyak dan Yield Tetap Tinggi

4 Agustus 2026, 19.04

Daily Summary: Nasdaq Naik 3%, AMD Hadapi Ujian Besar

4 Agustus 2026, 14.19

Palantir Naik 15%, tapi Valuasinya Ekstrem

Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.

Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.
Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.