09.00 · 25 Juli 2026

Apakah Guncangan Inflasi 2022 Terulang?

Bisakah guncangan inflasi seperti pada 2022 kembali terjadi ketika Selat Hormuz masih tetap diblokir?

Dengan mengamati indikator ekonomi yang tepat, kita dapat melihat munculnya krisis energi secara perlahan, serupa meskipun tidak sepenuhnya identik dengan kondisi yang terjadi pada 2022.

Kembalinya inflasi pada tahap ini tampaknya hanya tinggal menunggu waktu. Namun, struktur dan skalanya kemungkinan akan sangat berbeda.

Mengubah Minyak Menjadi Bahan Bakar

Apakah mungkin tingginya permintaan bahan bakar justru menahan kenaikan harga minyak? Sebagian jawabannya adalah ya.

Penting untuk memahami bahwa hambatan terbesar dalam pasar hidrokarbon global saat ini bukan minyak mentah, melainkan kapasitas penyulingan. Data menunjukkan hal tersebut dengan cukup jelas.

Margin Penyulingan NYMEX 3-2-1, 2025–2026

 

Sumber: Bloomberg Finance

Porsi margin penyulingan dalam satu barel minyak saat ini berada di level tertinggi sepanjang sejarah, dan belum ada tanda bahwa kondisi tersebut akan segera berubah.

Memahami sumber fenomena ini dalam konteks saat ini membantu menjelaskan apa yang disebut sebagai elastisitas pasokan.

Pasokan minyak mentah dapat ditingkatkan relatif cepat, baik melalui kenaikan produksi maupun pelepasan cadangan strategis.

Langkah tersebut menekan harga minyak mentah. Namun, minyak mentah tidak dapat langsung digunakan untuk mengisi tangki mobil, pesawat, atau kapal.

Minyak tersebut harus diproses terlebih dahulu. Berbeda dengan produksi minyak, kilang tidak dapat meningkatkan kapasitas dalam waktu singkat.

Artinya, ketika cadangan minyak dilepas sementara kekurangan bahan bakar masih terjadi, kilang dapat dibanjiri minyak mentah yang tidak mampu mereka proses dan akhirnya mengurangi pembelian.

Hasilnya adalah situasi yang tampak tidak masuk akal, yaitu minyak mentah menjadi lebih murah meskipun terjadi kelangkaan, sementara harga bahan bakar justru meningkat meskipun harga minyak mentah turun.

Dunia memiliki cadangan minyak dan kemampuan untuk meningkatkan produksi secara moderat, tetapi tidak memiliki kapasitas penyulingan tambahan yang memadai.

Tingkat Utilisasi Industri Penyulingan Minyak di AS, China, dan Rusia

 

Saat ini, lebih dari belasan persen kapasitas penyulingan global terisolasi di balik Selat Hormuz.

Di Amerika Serikat dan Eropa, kilang telah beroperasi pada kapasitas penuh dan belum terlihat prospek ekspansi maupun investasi baru.

Kilang di Rusia sebelumnya memiliki cadangan kapasitas produksi yang besar, tetapi kapasitas tersebut kini telah berkurang hingga hampir nol akibat serangan drone.

Kondisi kilang di China masih menjadi tanda tanya. Namun, negara tersebut kemungkinan memegang salah satu kunci untuk memahami situasi pasar saat ini.

Apakah China Mengendalikan Pasar dari Balik Layar?

Pertama, berikut beberapa fakta penting.

  • Cadangan minyak dan bahan bakar China tidak diketahui secara pasti. Namun, sejumlah estimasi dan publikasi terbatas menunjukkan bahwa cadangan tersebut kemungkinan merupakan yang terbesar di dunia.
  • China telah mengurangi impor minyak hampir setengah sejak awal perang di Iran.
  • Artinya, sekitar 20 juta ton minyak mentah telah menghilang dari pasar, setara dengan sekitar 5%–10% permintaan global.
  • Dalam dua tahun terakhir, China membeli minyak dalam jumlah rekor dari pasar.
  • Julukan “pabrik dunia” bukan muncul tanpa alasan. China sendiri menyumbang sekitar 30% produksi industri global pada 2025.
  • China tidak mampu memenuhi seluruh kebutuhan minyaknya secara mandiri. Namun, kapasitas penyulingannya kini hampir mencukupi seluruh kebutuhan dalam negeri dan bahkan mengindikasikan adanya potensi ekspor.

China mengurangi impor dan memberikan ruang aman yang besar bagi pasar minyak. Pada saat yang sama, negara tersebut menggunakan cadangan minyak dan bensinnya untuk melindungi perekonomian dari inflasi harga.

Dengan cara tersebut, China turut mengekspor disinflasi karena memasok barang dan produk ke pasar tanpa tambahan biaya bahan bakar yang terlalu besar.

Semua faktor tersebut penting untuk memahami mengapa peristiwa dengan dampak sangat besar seperti pemblokiran Selat Hormuz hanya memberikan pengaruh yang relatif terbatas terhadap data dan valuasi saat ini.

Namun, faktor-faktor yang menekan harga tersebut hanya bersifat sementara. Sementara itu, faktor yang mendorong kenaikan inflasi lebih lanjut sulit dihindari.

Api Inflasi?

Api membutuhkan bahan bakar, panas, dan oksigen untuk terus menyala. Inflasi bekerja dengan cara yang serupa.

Episode spiral inflasi yang terlihat pada 2022 memiliki tiga komponen utama. Apabila salah satunya hilang, mekanismenya tidak dapat bekerja dengan cara yang sama.

Faktor pasokan: penutupan pabrik dan pelabuhan, disertai sanksi, mengganggu pasar dan membatasi jumlah barang yang tersedia.

Faktor permintaan: stimulus fiskal, tingginya tabungan konsumen, dan kondisi keuangan perusahaan yang kuat menciptakan ruang besar bagi kenaikan harga.

Kedua faktor tersebut kemudian menciptakan faktor ketiga.

Pricing power, atau kemampuan menentukan harga. Perusahaan tidak hanya dapat meneruskan kenaikan biaya kepada pelanggan, tetapi juga meningkatkan margin karena kondisi pasar memungkinkan hal tersebut.

Saat ini, dua dari tiga faktor tersebut tidak tersedia. Lalu, apa penyebabnya dan apa dampaknya?

Faktor pasokan masih berada dalam kondisi relatif baik. Blokade Selat Hormuz dan konflik berkelanjutan di Ukraina membuat pasar komoditas tetap tegang, tetapi belum menciptakan kekurangan pasokan secara penuh.

Pergerakan harga masih relatif lambat. Harga $90 per barel memang berada di atas rata-rata, tetapi belum dapat disebut sebagai level krisis.

Pada saat yang sama, inflasi di negara maju masih berada di kisaran 3%–4%.

Kondisi tersebut terjadi karena faktor permintaan dan pricing power sebagian besar tidak tersedia.

Mekanisme pasar ini akan mulai memengaruhi inflasi ketika kenaikan harga bahan bakar semakin dekat ke konsumen.

Dalam konteks tersebut, kenaikan inflasi terlihat sebagai fenomena yang tertunda tetapi hampir tidak dapat dihindari.

Namun, apakah skala kenaikan harga akan sama seperti pada 2022? Banyak tanda menunjukkan bahwa jawabannya kemungkinan tidak.

Lemahnya Konsumen dan Pricing Power

Faktor permintaan mencerminkan kemauan dan kemampuan konsumen untuk membelanjakan uang. Kondisi konsumen saat ini lemah dan di beberapa wilayah bahkan sangat buruk.

 

Konsumen sebenarnya telah mulai melemah sejak 2024 hingga 2025, dan tekanannya cukup nyata.

Namun, kondisi tersebut sebelumnya tertutupi oleh tabungan dan kredit.

Sumber tersebut kini telah semakin terkuras, sementara pertumbuhan ekonomi tidak banyak diterjemahkan menjadi kenaikan upah bagi sebagian besar tenaga kerja.

Sebaliknya, pasar mulai menghadapi peningkatan pengangguran.

Skala kenaikan tersebut tertutupi oleh kualitas data yang rendah, turunnya tingkat partisipasi tenaga kerja, dan semakin meluasnya pekerjaan berbasis gig economy.

Dalam kondisi seperti ini, pricing power perusahaan menjadi jauh lebih terbatas.

Konsumsi cenderung stagnan dan di sejumlah wilayah mulai menurun. Cadangan tabungan telah berkurang, sementara kondisi pasar tenaga kerja masih diragukan.

Tekanan dari produksi berbiaya rendah di China juga semakin memperlemah kemampuan perusahaan untuk mengendalikan harga.

Pandangan Pasar

Apa yang terjadi ketika biaya bahan baku, energi, dan transportasi meningkat, tetapi konsumen akhir tidak memiliki ruang dalam anggaran untuk membayar lebih mahal?

Margin perusahaan akan tertekan.

Banyak perusahaan mengalami peningkatan margin yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam beberapa tahun terakhir dan secara teori memiliki bantalan yang dapat dikorbankan.

Masalahnya, tidak semua perusahaan menggunakan periode inflasi untuk meningkatkan margin.

Sektor yang kali ini berpotensi mengalami tekanan terbesar, terutama sektor konsumen, juga tidak memiliki kemampuan meningkatkan margin sebaik sektor energi, keuangan, atau teknologi.

Siapa yang Paling Diuntungkan dan Dirugikan?

Tidak semua perusahaan akan mengalami kerugian, setidaknya tidak dalam skala yang sama.

Berbagai segmen pasar dan model bisnis memiliki tingkat kesiapan yang berbeda dalam menghadapi kondisi yang akan datang.

Perusahaan dengan kontrol biaya yang lebih baik dan kemampuan lebih kuat untuk mempertahankan margin kemungkinan akan tampil lebih baik.

Kelompok tersebut antara lain:

  • Ritel yang berfokus pada kebutuhan pokok dan skala ekonomi, seperti Walmart
  • Perusahaan penyulingan minyak, seperti Chevron dan Valero
  • Perusahaan kendaraan bekas dan pemeliharaannya, seperti AutoZone

Sementara itu, perusahaan dengan eksposur terbesar dan paling tidak fleksibel terhadap segmen yang berisiko kemungkinan akan mengalami tekanan lebih besar.

Kelompok tersebut antara lain:

  • Maskapai berbiaya rendah, terutama segmen harga murah seperti Frontier Group
  • Perusahaan pembiayaan yang berfokus pada segmen subprime, seperti CRMT
  • Restoran, terutama casual dining seperti Dine Brands

Namun, perlu diperhatikan bahwa ini hanya salah satu skenario yang mengasumsikan tidak ada perubahan besar dalam kondisi makroekonomi.

25 Juli 2026, 00.55

Daily Summary: Dow Menguat, Saham Chip Masih Tertekan

24 Juli 2026, 23.06

Minyak Turun saat Diplomasi Kembali Muncul

24 Juli 2026, 15.08

Minyak Bertahan Tinggi di Tengah Konflik

24 Juli 2026, 14.29

Market Wrap: Konflik Iran dan Tarif Tekan Pasar Global

Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.

Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.
Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.