Selama beberapa pekan terakhir, wacana mengenai larangan ekspor diesel dari Amerika Serikat selama sekitar 90 hari kembali muncul dalam perdebatan publik AS.
Tujuannya cukup jelas.
Pemerintah ingin mengurangi tekanan pada pasar bahan bakar domestik menjelang pemilu yang sangat penting bagi pemerintahan saat ini.
Harga Minyak saat Labor Day di AS [2000–2026]
Situasi ini cukup serius bagi Partai Republik dan ekonomi AS karena tingginya ketergantungan negara tersebut terhadap konsumsi bahan bakar.
Harga bahan bakar berada di sekitar rekor tertinggi, sementara laporan mengenai kekurangan fisik beberapa produk minyak mulai semakin sering muncul.
Dengan midterm election semakin dekat, harga fuel menjadi isu penting.
Meskipun kebijakan larangan ekspor termasuk langkah yang sangat agresif, sebagian pelaku pasar tetap menilai opsi tersebut belum bisa sepenuhnya dikesampingkan.
Kenapa Diesel?
Industri minyak memiliki struktur yang cukup kompleks.
Salah satu poin terpenting saat ini adalah bahwa defisit utama bukan berada pada crude oil, tetapi pada kapasitas refinery.
Di antara produk hasil refinery, kekurangan paling besar saat ini berada di pasar diesel.
Perang di Teluk Persia telah mengurangi beberapa hingga belasan persen kapasitas refinery global dari pasar, tergantung jenis produknya.
Tekanan suplai juga datang dari Rusia.
Pada tahun lalu, Rusia menyumbang sekitar 5% dari suplai global diesel.
Serangkaian serangan terhadap infrastruktur refinery Rusia yang semakin besar dan efektif telah mengurangi sebagian besar kapasitas ekspornya.
Kekurangan diesel menjadi semakin penting karena bertepatan dengan musim panen, ketika konsumsi bahan bakar untuk transportasi dan aktivitas pertanian biasanya tinggi.
Meskipun Donald Trump sempat memberikan komentar positif terhadap opsi larangan ekspor, kebijakan tersebut masih belum menjadi skenario utama.
Sejumlah pejabat lain di pemerintahan bahkan membantah bahwa larangan tersebut akan diterapkan.
Namun jika skenario terburuk benar-benar terjadi, apakah Eropa akan menghadapi situasi seburuk yang dikhawatirkan sebagian komentator?
Transit Minyak melalui Selat Hormuz
Penting untuk kembali menekankan bahwa kekurangan saat ini berada di sisi refinery, bukan extraction.
Pelepasan strategic crude oil reserves sejak awal konflik telah membantu menutup sebagian besar kekurangan suplai crude.
Selain itu, semakin banyak data menunjukkan bahwa kapal-kapal yang tetap melewati Selat Hormuz mampu membawa keluar crude oil dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi permintaan global.
Dengan kata lain, masalah utama saat ini bukan minyak mentah.
Masalahnya ada pada fuel yang sudah diproses.
Dan struktur pasar fuel di Eropa maupun global terlihat cukup berbeda.
Intensitas Konsumsi Minyak terhadap GDP [2000–2025]
Sumber: Bloomberg Finance
Baik dunia maupun Eropa saat ini memiliki tingkat konsumsi fuel per unit GDP yang jauh lebih rendah dibanding beberapa dekade lalu.
Tren global menuju pengurangan penggunaan bahan bakar fosil kemungkinan akan semakin cepat akibat konflik di kawasan Teluk.
Impor Bahan Baku dan Energi Uni Eropa [1997–2023]
Sumber: Eurostat
Ketergantungan terbesar Eropa saat ini bukan pada crude oil atau diesel, melainkan pada natural gas.
Meskipun menghadapi berbagai kesulitan, suplai gas masih masuk ke Eropa dari beberapa sumber seperti Norwegia dan Amerika Serikat.
Eropa mengimpor sekitar 95% kebutuhan crude oil, tetapi hanya sekitar 10% diesel.
Untuk gasoline, Eropa bahkan merupakan net exporter.
Karena itu, jika AS benar-benar melarang ekspor diesel, dampaknya bagi Eropa akan terasa, tetapi kemungkinan bukan dalam bentuk krisis suplai besar.
Eropa Tidak Terpapar Secara Merata
Dampak potensial juga tidak akan sama di seluruh Eropa.
Negara-negara Eropa Tengah dan Timur cenderung lebih terekspos terhadap perubahan harga dan keseimbangan suplai.
Salah satu alasannya adalah keterlambatan relatif dalam memenuhi target kebijakan lingkungan Uni Eropa, yang membuat penggunaan bahan bakar fosil di beberapa negara masih lebih tinggi.
Akibatnya, kenaikan harga diesel dapat lebih cepat masuk ke inflasi di kawasan tersebut.
Namun untuk saat ini, risiko kekurangan fisik belum menjadi skenario utama.
Impor Diesel Rusia [2019]
Sumber: Bloomberg Finance LP
Apa Artinya bagi Pasar?
Wacana pembatasan ekspor diesel AS menunjukkan bahwa tekanan terbesar di pasar energi global sekarang mulai bergeser.
Masalahnya bukan lagi sekadar apakah dunia memiliki cukup crude oil.
Yang menjadi bottleneck adalah apakah kapasitas refinery global cukup untuk mengubah crude menjadi produk seperti diesel, gasoline, dan jet fuel.
Bagi AS, larangan ekspor dapat membantu meningkatkan suplai domestik dalam jangka pendek.
Namun bagi pasar global, kebijakan tersebut akan memperketat suplai fuel dan berpotensi mendorong harga produk refinery lebih tinggi di luar AS.
Bagi Eropa, dampaknya kemungkinan akan lebih terlihat melalui harga dan inflasi, bukan kekurangan fisik.
Negara-negara dengan konsumsi diesel yang lebih tinggi dan transisi energi yang lebih lambat akan menjadi yang paling sensitif.
Karena itu, investor perlu memantau bukan hanya harga Brent atau WTI, tetapi juga perkembangan diesel crack spreads, kapasitas refinery, dan arus perdagangan produk olahan.
Ketiga faktor tersebut kemungkinan akan menjadi indikator yang lebih penting bagi inflasi energi dalam beberapa bulan ke depan.
PMI AS Kuat Dorong Yield, Nasdaq Tertekan
Daily Summary: Yield Tembus 5%, Wall Street Kembali Tertekan
US Open: Wall Street Turun Saat Yield Tembus 5%
Diplomasi AS-Iran Tekan Harga Minyak
Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.