-
Headline CPI AS mencapai 3,7% dan core CPI 2,6%, keduanya di atas ekspektasi.
-
Probabilitas rate hike The Fed pada Oktober melonjak menjadi sekitar 50% dari hanya 20% sehari sebelumnya.
-
Treasury yield 10 tahun sempat menyentuh 5,33% sebelum stabil di sekitar 5,27%.
-
S&P 500 turun 0,8% dan Nasdaq 100 melemah 1,1%, sementara dolar AS menguat.
-
Data retail sales September berikutnya akan menjadi indikator penting untuk menilai ketahanan konsumen dan peluang kenaikan suku bunga lebih lanjut.
-
Headline CPI AS mencapai 3,7% dan core CPI 2,6%, keduanya di atas ekspektasi.
-
Probabilitas rate hike The Fed pada Oktober melonjak menjadi sekitar 50% dari hanya 20% sehari sebelumnya.
-
Treasury yield 10 tahun sempat menyentuh 5,33% sebelum stabil di sekitar 5,27%.
-
S&P 500 turun 0,8% dan Nasdaq 100 melemah 1,1%, sementara dolar AS menguat.
-
Data retail sales September berikutnya akan menjadi indikator penting untuk menilai ketahanan konsumen dan peluang kenaikan suku bunga lebih lanjut.
Rilis makroekonomi yang paling dinantikan pekan ini akhirnya keluar: data inflasi CPI AS September.
Baik headline CPI sebesar 3,7% maupun core CPI sebesar 2,6% memberikan surprise ke atas, mendorong lonjakan tajam ekspektasi pasar bahwa The Fed dapat melanjutkan siklus pengetatan moneter secepat Oktober.
Probabilitas yang tersirat di pasar untuk langkah tersebut kini berada di sekitar 50%, naik tajam dari hanya sekitar 20% yang dipricing oleh futures sehari sebelumnya.
Gambar 1: Inflasi CPI AS dan Pertumbuhan Upah (2021–2026)
Sumber: XTB Research, 14.10.2026
Secara alami, perkembangan ini mendorong kenaikan US Treasury yield.
Yield benchmark tenor 10 tahun sempat menyentuh 5,33%, sebelum kemudian stabil di sekitar 5,27%.
Gambar 2: US Treasury Yield 10 Tahun dan WTI Crude Oil (06.2026–10.2026)
Sumber: XTB Research, 14.10.2026
Kenaikan yield tersebut tidak membantu pasar saham. S&P 500 turun 0,8%, sementara Nasdaq 100 melemah 1,1%.
Sedikit Lebih Dalam soal Data
Meski pasar fokus pada kenaikan headline dan core CPI yang lebih tinggi dari ekspektasi, pembuat kebijakan The Fed sebenarnya memperhatikan detail lain.
Pada September, momentum core inflation tiga bulan kembali naik di atas target inflasi The Fed.
Gambar 3: Momentum Core CPI AS (14.10.2026)
Sumber: XTB Research, 14.10.2026
Selain itu, harga lebih dari 52% produk naik dengan laju di atas 3%, sementara 35% produk mengalami kenaikan lebih dari 4%.
Tekanan harga yang seluas ini terakhir kali terlihat pada Mei.
Perlu dicatat bahwa kedua indikator tersebut sebelumnya disebut oleh Kevin Warsh sebagai pertimbangan penting dalam pengambilan keputusan kebijakan moneter.
Apakah Oktober Akan Membawa Rate Hike?
Meski begitu, pasar masih bisa bersikap sedikit skeptis terhadap peluang pengetatan moneter lanjutan pada Oktober.
Salah satu alasannya adalah rapat tersebut akan berlangsung hanya beberapa waktu sebelum midterm elections, yang akan menentukan arah politik AS untuk dua tahun berikutnya.
Jika Partai Republik kehilangan kendali atas kedua kamar Kongres, Donald Trump masih akan memiliki ruang yang cukup besar dalam kebijakan luar negeri.
Namun, kemampuan pemerintah untuk mendanai berbagai agenda akan menjadi lebih terbatas karena kontrol terhadap anggaran berada di tangan Kongres.
Data konsumsi akan menjadi penting bagi The Fed dalam beberapa hari mendatang.
Rilis utama berikutnya adalah retail sales September, yang dijadwalkan keluar besok.
Setiap tanda pelemahan konsumen AS berpotensi mengurangi selera pasar terhadap skenario rate hike lebih lanjut.
Namun untuk saat ini, indikasi pelemahan baru terlihat terutama pada soft survey indicators, dan bahkan sinyal tersebut belum muncul secara merata.
Gambar 4: Retail Sales AS dan Consumer Sentiment (2021–2026)
Sumber: XTB Research, 14.10.2026
NGAS, Gold, Oil: Outlook Komoditas
Kalender Ekonomi: Earnings Bank AS dan CPI Jadi Fokus Pasar
Market Wrap: Kospi Anjlok 7%, AI dan Oil Tekan Pasar
Brent US$106, Logistik Jadi Risiko Utama
Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.