Pengumuman Donald Trump pada 9 Januari 2026 memicu gelombang kecemasan besar di Wall Street, meskipun sebelumnya investor tampak sudah terbiasa menghadapi pasar yang diguncang pernyataan dari Gedung Putih.
Kali ini, sektor perbankan dan keuangan menjadi pihak yang paling tertekan. Presiden mengusulkan penerapan batas maksimum suku bunga kartu kredit sebesar 10%, yang direncanakan berlaku mulai 20 Januari. Namun, ia tidak menjelaskan jalur hukum maupun mekanisme penegakannya. Banyak analis berupaya untuk tidak menganggap serius proposal ini, tetapi meremehkan determinasi Donald Trump bisa menjadi kesalahan.
Pasar, bagaimanapun, tidak perlu menunggu detail lebih lanjut setelah pernyataan seperti ini. Dalam hitungan hari setelah pengumuman tersebut, sektor keuangan kehilangan puluhan miliar dolar dalam kapitalisasi pasar. Institusi yang paling terpukul adalah mereka yang sangat bergantung pada kartu kredit: Capital One mencatat penurunan harga saham dua digit, sementara Citigroup dan American Express masing-masing kehilangan sekitar 7%. Dampaknya juga merembet ke raksasa pembayaran seperti Visa dan Mastercard, yang mengalami penurunan sekitar 5%.
V.US (D1)

Informasi ini tidak menjamin kinerja atau hasil investasi di masa mendatang. Segala keputusan trading sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu.
Sumber: xStation5
Saat ini, rata-rata suku bunga kartu kredit di AS telah melampaui 20%, dan untuk nasabah premium, tingkat terendahnya mendekati 12%. Proposal Trump dengan demikian berarti pemangkasan administratif harga kredit hingga setengahnya di segmen yang menghasilkan sekitar USD 160 miliar pendapatan bunga per tahun. Total utang kartu kredit AS kini telah melampaui USD 1,2 triliun, dan porsi kredit bermasalah terus meningkat.
Sulit untuk merinci seluruh masalah dari pernyataan ini. Pertama dan terutama, perlu dicatat bahwa presiden tidak memiliki jalur legislatif untuk secara legal menerapkan langkah tersebut. Proposal yang sangat kontroversial ini hampir pasti tidak akan lolos Kongres, dan perintah eksekutif akan segera digugat serta kemungkinan besar dibatalkan dalam jangka waktu tertentu. Namun, Donald Trump telah menunjukkan dengan jelas bahwa meskipun suatu kebijakan mustahil diterapkan, ilegal, atau merugikan semua pihak, hal itu bukanlah penghalang bagi pemerintahan saat ini.
Apa Selanjutnya?
Pasar kini berada dalam kebuntuan. Tidak ada yang dapat memprediksi seberapa serius niat pemerintahan ini, atau dalam format apa mereka berencana memaksakan penurunan suku bunga.
CEO JPMorgan Chase menyoroti inti permasalahan. Ia memperingatkan bahwa pembatasan harga dapat menyebabkan berkurangnya ketersediaan kredit, terutama bagi nasabah termiskin, dan dalam jangka panjang justru meningkatkan biaya pembiayaan di seluruh perekonomian. Suku bunga kredit bukanlah angka sewenang-wenang, melainkan hasil dari fungsi kompleks antara profit dan risiko. Untuk menurunkan suku bunga, fundamental pasar harus berubah; upaya menetapkan harga dari atas ke bawah berpotensi berakhir pada pembatasan akses modal atau bahkan krisis keuangan.
Segmen yang paling terancam adalah konsumen dengan riwayat kredit lemah. Estimasi industri menunjukkan bahwa puluhan juta warga Amerika dapat sepenuhnya kehilangan akses ke kartu kredit atau melihat batas kredit mereka dipangkas secara drastis. Bagi bank, ini berarti menutup portofolio paling berisiko, karena pada suku bunga 10% mereka tidak mampu mengkompensasi kerugian dari kewajiban yang tidak dibayar. Pada saat yang sama—dan ini penting—porsi konsumsi masyarakat yang dibiayai oleh kartu kredit terus meningkat. Menurunkan suku bunga tidak akan memperbaiki situasi kelompok ini; sebaliknya, justru menghilangkan sarana bertahan hidup mereka.
Dari sudut pandang institusi keuangan, potensi pukulan terhadap profitabilitas sangat besar. Analis memperkirakan batas bunga tersebut dapat memangkas hingga setengah laba yang dihasilkan dari bisnis kartu kredit, dan bagi penerbit khusus, hal ini bisa berarti perusakan model bisnis secara permanen.
Pembatasan tajam terhadap akses instrumen ini juga dapat mengurangi pertumbuhan ekonomi hingga beberapa persepuluh persen per tahun, terutama saat perlambatan ekonomi. Ada pula risiko mendorong peminjam ke bentuk pembiayaan yang jauh lebih mahal dan kurang diatur, seperti pinjaman payday atau pinjaman berbasis aset. Dalam skenario tersebut, konsumen yang seharusnya dilindungi oleh batas bunga justru akan terjebak dalam sumber utang yang lebih mahal dan berisiko.
Jika Trump memutuskan untuk memaksakan batas bunga melalui tekanan politik atau upaya menghindari Kongres, hasilnya kemungkinan berupa litigasi bertahun-tahun dan pembekuan lebih lanjut atas keputusan investasi di sektor keuangan.
Bagi perekonomian, hal ini tidak berarti kredit yang lebih murah, melainkan modal yang lebih mahal, selera risiko yang menurun, konsumsi yang melemah, dan tambahan risiko sistemik.
Pada akhirnya, ancaman terbesar bukanlah angka 10% itu sendiri, melainkan sinyal bahwa aturan permainan dapat diubah dalam semalam—dan inilah faktor yang selalu dihargai paling tinggi oleh pasar keuangan.
US OPEN: Pergeseran Sikap Trump Dongkrak Sentimen Wall Street
Daily Summary: “Sell America” Dorong Aset AS Terjun Bebas (20.01.2026)
Daily summary: Ketakutan Muncul, Tapi Belum Panik. Trump Kembali Guncang Pasar 📉
Daily summary: Wall Street Ditopang Bank dan Teknologi, Industri AS Tetap Solid