17.52 · 11 Agustus 2026

Brent Uji US$90, Risiko US$100 Membesar

Pasokan Ketat Membawa Brent Semakin Dekat ke US$100

Volatilitas pasar minyak hari ini kembali tinggi akibat munculnya berbagai informasi yang saling bertentangan.

Brent kembali ke sekitar US$88 per barel dan sempat menguji level US$90. Dengan fundamental pasokan yang ketat, potensi pergerakan menuju US$100 mulai semakin diperhitungkan pasar.

Laporan diplomatik yang bertolak belakang, eskalasi baru di Timur Tengah, dan hambatan logistik di Eropa kembali meningkatkan volatilitas. Namun, sejauh ini terlihat bahwa hampir semua pihak masih berusaha menghindari eskalasi penuh.

Kebuntuan Diplomatik di Selat Hormuz

Meskipun Kementerian Luar Negeri Pakistan menyampaikan pernyataan optimistis mengenai kemungkinan kesepakatan dalam waktu dekat, situasi di sekitar jalur strategis tersebut justru terlihat semakin kaku.

Donald Trump menuntut kompensasi dari Teheran atas konflik yang telah berlangsung selama beberapa dekade.

Sebagai respons, penasihat pemimpin tertinggi Iran menyatakan bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup hingga Amerika Serikat mencabut blokade laut, membuka kembali aset yang dibekukan, dan menghentikan operasi militer di kawasan.

Dampaknya mulai terlihat pada aktivitas pelayaran.

Dalam sepuluh hari pertama Agustus, tidak ada satu pun supertanker VLCC yang berlayar dari pelabuhan Kharg di Iran.

Laporan media juga menyebut bahwa Iran mengisyaratkan kemungkinan menunggu hingga 2029 untuk memulai negosiasi pembukaan Selat Hormuz, atau hingga berakhirnya masa jabatan Donald Trump.

Eskalasi Konflik dan Gangguan Logistik

Serangan terhadap infrastruktur dan jalur perdagangan semakin memberikan tekanan.

  • Yaman dan Laut Merah: Houthi melumpuhkan kilang Aramco di Jazan yang berkapasitas 400.000 barel per hari. Fasilitas tersebut diperkirakan tidak dapat beroperasi hingga September. Kelompok tersebut juga menyerang lebih banyak kapal dagang dan menyebabkan korban jiwa di antara awak tanker.
  • Libya dan gangguan kilang: National Oil Corporation Libya mengumumkan force majeure setelah serangan drone terhadap kilang Zawiya.

Persediaan Asia Menipis dan Respons OPEC

Meski terjadi berbagai blokade, produksi OPEC meningkat pada Juli sebesar 1,17 juta barel per hari menjadi 19,9 juta barel per hari.

Kenaikan terutama berasal dari Irak dan Kuwait.

Namun, pada saat yang sama, persediaan minyak di provinsi Shandong, China, turun sebanyak 35 juta barel sepanjang Juli.

Penurunan tersebut setara dengan sekitar 1,1 juta barel per hari.

Kilang independen China atau teapot refineries kini bersiap melakukan pembelian agresif minyak mentah dari Iran dan Rusia segera setelah jalur perdagangan kembali lebih jelas.

 



 
11 Agustus 2026, 18.33

Daily Summary - CPI Jadi Fokus saat Minyak dan Yield Tetap Tinggi

10 Agustus 2026, 14.47

US OPEN: Wall Street Datar, Intel Tertekan Aksi Korporasi

7 Agustus 2026, 07.44

Market Wrap: NFP Jadi Kunci saat Minyak Kembali Melonjak

5 Agustus 2026, 07.51

Market Wrap: Hormuz Belum Dibuka, Pasar Tetap Bertaruh Damai

Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.

Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.
Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.