Faktor utama yang mendorong volatilitas pasar hari ini adalah pidato hawkish dari Fed Governor Christopher Waller, yang memberi sinyal bahwa satu lagi pembacaan inflasi tinggi akan diperlakukan sebagai sinyal nyata, bukan sekadar noise statistik. Waller menekankan bahwa ekspektasi inflasi yang tetap terjaga tidak berarti bank sentral dapat mengabaikan angka inflasi di atas target, dan bahwa aturan kebijakan moneter yang serius akan mengarah pada kenaikan suku bunga dalam situasi seperti ini. Pernyataan tersebut sepenuhnya membalik narasi pasar dalam beberapa pekan terakhir, ketika investor sebelumnya mengharapkan pelonggaran kebijakan lebih lanjut. Probabilitas kenaikan suku bunga pada Juli naik dari sekitar 34% pada Minggu menjadi 46,5% pada Senin, menurut CME FedWatch Tool.
Dari sisi geopolitik, perkembangan utama adalah keputusan Presiden Donald Trump untuk memberlakukan kembali blokade pelabuhan Iran di Selat Hormuz dan mengenakan pungutan 20% atas seluruh kargo yang melewati jalur tersebut. Para ahli memandang langkah ini sangat kontroversial, karena Amerika Serikat dalam beberapa pekan terakhir belum mampu menjamin perjalanan kapal yang aman. Selain itu, koalisi yang dipimpin Saudi melaporkan bahwa mereka telah mencegat rudal balistik yang ditembakkan oleh Houthi ke wilayah selatan negara tersebut, yang menyebabkan penghentian lalu lintas udara di Bandara Abha. Ketegangan di kawasan ini membuat lalu lintas tanker global melalui Selat Hormuz tetap berada pada level yang sangat rendah, turun sekitar 60% dibandingkan pekan sebelumnya.
Dari sisi data makroekonomi, perlu dicermati rincian pembacaan CPI Mei di AS, ketika harga energi naik hingga 23,5% secara tahunan, sementara headline figure berada di 4,1% dan core inflation, yang mengecualikan makanan dan energi, bertahan di sekitar 2,9%. Pasar kini menunggu pembacaan CPI Juni yang akan dirilis pada Selasa, dengan ekonom yang disurvei Dow Jones memperkirakan inflasi tahunan turun ke 3,8% dari 4,2% pada Mei. Namun, Barclays memperingatkan bahwa tekanan inflasi sudah mulai meluas melampaui harga energi saja, dengan menunjuk kenaikan harga chip dan server yang didorong oleh perkembangan artificial intelligence.
Indeks pasar saham bereaksi terhadap eskalasi ketegangan dengan penurunan. US100 melemah 1,85%, sementara JP225 Jepang turun hingga 2,54%. EU50 Eropa melemah 0,41%, SPA35 Spanyol turun 0,77%, dan DE40 Jerman terkoreksi 0,22%, sementara W20 Polandia tetap berada di zona positif dengan kenaikan 0,27%. Indeks S&P 500 AS turun 0,6% dan Nasdaq Composite melemah 1,2% sebagai respons terhadap pernyataan Trump terkait blokade Selat Hormuz.
Di segmen ekuitas, perusahaan teknologi mencatat penurunan paling tajam. Saham SK Hynix yang tercatat di AS turun 8% setelah debut spektakuler di Nasdaq pada Jumat, sementara sahamnya yang tercatat di Seoul anjlok lebih dari 15%, menandai sesi perdagangan terburuk dalam sejarah perusahaan. Perusahaan energi seperti Exxon Mobil dan Chevron menguat sebagai respons terhadap kenaikan harga minyak, sementara saham perbankan melemah menjelang musim earnings kuartalan.
Saham SpaceX turun untuk hari kedua berturut-turut, membawa perusahaan Elon Musk tersebut semakin dekat ke harga penawaran umum perdana di $135. Harga saham juga turun di bawah harga debutnya di $150 pada 12 Juni.
Di pasar valuta asing, dolar AS menguat terhadap sebagian besar mata uang utama, dengan USDJPY naik 0,46% dan indeks dolar USDIDX menguat 0,23%. Sebaliknya, EURUSD dan GBPUSD masing-masing turun 0,14% dan 0,17%, mencerminkan peningkatan permintaan terhadap dolar sebagai aset safe haven di tengah ketidakpastian geopolitik.
Komoditas menjadi pusat perhatian ketika WTI crude melonjak lebih dari 6% ke atas $75 per barel, sementara Brent naik dengan margin serupa dan menembus level $80, sebagai respons terhadap keputusan Trump untuk memblokir Selat Hormuz. Sementara itu, emas turun hampir 3% ke sekitar $3.998 per ons, sedangkan perak anjlok hingga 3,55%, karena nada hawkish Waller menekan permintaan terhadap logam mulia sebagai aset yang berkorelasi terbalik dengan dolar AS. Natural gas juga melemah 1,46%.
Emas Anjlok Usai Sinyal Hawkish The Fed
Minyak Melonjak, Nasdaq Tertekan
Minyak Melonjak Usai Pernyataan Trump soal Hormuz
US OPEN: Futures Wall Street Melemah, Minyak dan Energi Menguat
Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.