-
Sesi pertama pekan ini ditandai lonjakan volatilitas, terutama dipicu oleh pecahnya perang di Iran. Kepanikan awal tampaknya dengan cepat berganti menjadi optimisme yang lebih berhati-hati. Russell memimpin kenaikan, dengan futures indeks naik sekitar 0,7% menjelang penutupan. Indeks utama Wall Street lainnya bergerak di sekitar level penutupan sebelumnya.
-
Meskipun terjadi normalisasi harga secara bertahap sepanjang sesi, konflik tersebut jelas memengaruhi arus modal. Saham terkait perjalanan berada di bawah tekanan: maskapai, operator kapal pesiar, dan agen perjalanan. Sebaliknya, perusahaan yang diuntungkan dari produksi dan distribusi minyak serta produsen sistem persenjataan mencatat kenaikan.
-
Di AS, data PMI dan ISM manufaktur dirilis. Sentimen didukung oleh angka yang melampaui ekspektasi. PMI tercatat 51,6 dibandingkan perkiraan 51,2. ISM naik ke 52,4 dibandingkan ekspektasi 51,7. Namun, kekhawatiran utama adalah lonjakan komponen harga industri yang sangat inflasioner, yang naik ke 70,5.
-
Donald Trump memberikan komentar terkait operasi militer pada malam hari. Ia mengumumkan eskalasi serangan udara terhadap Iran dan menegaskan kembali bahwa AS “tidak menutup kemungkinan” invasi darat.
-
-
Di Eropa, investor mengalami salah satu sesi terburuk dalam beberapa bulan terakhir, dengan seluruh indeks utama turun lebih dari 1%. Penurunan terdalam terjadi di Jerman, di mana DAX sempat merosot hingga 2,4%.
-
Dampak konflik Timur Tengah jauh lebih keras bagi Eropa dibandingkan AS. Masalahnya bukan hanya harga minyak dan gas yang lebih tinggi. Teluk Persia merupakan salah satu pusat utama pemrosesan aluminium dunia, dan logam ini sangat penting bagi basis industri Eropa.
-
Data PMI juga dirilis di Eropa. Angka melampaui ekspektasi di Swedia (56,1), Jerman (50,9), Prancis (50,1), dan Italia (50,6). Hasil mengecewakan datang dari Polandia (47,1), Inggris (51,7), dan Swiss. Angka Spanyol relatif sesuai ekspektasi (50,0).
-
Di Jerman, data penjualan ritel menunjukkan perlambatan lebih dalam dari perkiraan. Pada Januari (disesuaikan musiman), penjualan turun 0,9% dibandingkan ekspektasi penurunan 0,4%.
-
-
Ketidakpastian geopolitik yang meningkat serta ekspektasi pembelian minyak dan gas AS yang lebih tinggi mendorong dolar menguat 0,7% terhadap euro, 0,8% terhadap yen, dan 1,5% terhadap franc Swiss. Euro juga melemah lebih dari 0,5% terhadap pound.
-
Di komoditas pertanian, pergerakan akhir pekan lalu mulai terkoreksi. Gandum turun 3%, sementara kakao naik 3%.
-
Aktivitas militer skala penuh di sekitar Selat Hormuz mendorong harga minyak ke level tertinggi sejak Operasi “Midnight Hammer” pada pertengahan 2025. Lonjakan awal lebih dari 10% kemudian menyusut menjadi 5–6%. Futures gas alam juga memangkas kenaikan dari 7% menjadi 3%.
-
Pada logam mulia, aksi ambil untung terlihat pada perak yang turun lebih dari 5%. Emas naik 1%.
-
Ketegangan di Timur Tengah justru mendukung pasar kripto. Hampir seluruh token mencatat kenaikan signifikan. Bitcoin naik 5% dan menembus $68.000. Ethereum juga naik 5% dan kembali di atas $2.000. Solana menguat lebih dari 5% dan diperdagangkan di sekitar $87 menjelang penutupan.
Materi pemasaran ini bukan merupakan rekomendasi investasi atau saran strategi investasi. Informasi ini tidak menjamin kinerja atau hasil investasi di masa mendatang. Aktivitas trading melibatkan risiko kerugian finansial yang signifikan, termasuk kemungkinan kehilangan sebagian maupun seluruh modal yang diinvestasikan. Segala keputusan trading sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu.
Konflik Iran Tekan Wall Street
⛔ Tarif Trump Ilegal: Akankah Ada Refund Miliaran?
Shutdown Pemerintah AS Terulang: Apa Dampaknya Kali Ini?
US OPEN: Pergeseran Sikap Trump Dongkrak Sentimen Wall Street