Harga minyak mentah melanjutkan koreksi yang cukup tajam.
WTI turun ke bawah US$90 per barel, mencatat penurunan untuk sesi kelima berturut-turut, sementara Brent kembali bergerak di bawah US$100 per barel.
Tekanan harga terutama datang dari membaiknya prospek suplai Arab Saudi serta spekulasi bahwa ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran mulai membuka ruang untuk deeskalasi.
East-West Pipeline Kembali Beroperasi
Salah satu faktor utama yang meredakan kekhawatiran suplai adalah dimulainya kembali operasi East-West Pipeline Arab Saudi, yang sebelumnya dihentikan setelah serangan drone.
Pipeline tersebut memiliki kapasitas maksimum sekitar 7 juta barel per hari dan menghubungkan ladang minyak di wilayah timur Saudi dengan pelabuhan Yanbu di Laut Merah.
Infrastruktur ini sangat penting karena memungkinkan Arab Saudi mengekspor minyak tanpa harus melewati Selat Hormuz.
Laporan pasar menunjukkan Saudi Aramco telah memberi tahu sejumlah pembeli Asia bahwa perusahaan siap kembali melakukan loading minyak dari Yanbu.
Perkembangan tersebut secara langsung menurunkan premi risiko yang sebelumnya masuk ke harga minyak.
Selain itu, Arab Saudi juga dilaporkan mengekspor hampir 3 juta barel per hari melalui Selat Hormuz selama sepekan terakhir.

Harga minyak fisik mulai turun, sementara harga benchmark Dubai berhenti naik. Kondisi ini dapat menjadi sinyal bahwa tekanan ekstrem pada pasar pengiriman cepat mulai mereda. Sumber: Bloomberg Finance LP, XTB

Calendar spread di pasar minyak turun dari kisaran US$4–5 per barel, menunjukkan tekanan pada pasar fisik mulai berkurang. Sumber: Bloomberg Finance LP, XTB
Spekulasi Diplomatik dan Hormuz Masih Belum Jelas
Katalis tambahan bagi penurunan harga berasal dari laporan media, termasuk Kyodo dan Reuters, yang mengutip sumber diplomatik Iran.
Menurut laporan tersebut, Tehran disebut menawarkan pembukaan kembali Selat Hormuz dalam tujuh hari dengan syarat tekanan militer AS dikurangi dan blokade terhadap pelabuhan Iran dicabut.
Namun kantor berita resmi Iran, Fars News Agency, kemudian membantah laporan tersebut dan menyebutnya tidak sesuai dengan posisi resmi Tehran.
Menariknya, bantahan itu hanya memicu rebound kecil pada harga minyak.
Pasar tampaknya masih memperhitungkan peluang bahwa Sidang Umum PBB di New York dapat membuka ruang untuk terobosan diplomatik, mengingat delegasi Iran juga hadir.

Meski harga minyak turun, tekanan di pasar bahan bakar belum sepenuhnya hilang. Hal ini terlihat dari crack spread yang masih melebar. Sumber: Bloomberg Finance LP, XTB
Penurunan Minyak Beri Ruang bagi Pasar
Penurunan harga minyak langsung memberikan sedikit kelegaan bagi pasar finansial karena membantu meredakan kekhawatiran inflasi.
Yield US Treasury tenor 10 tahun ikut turun, sementara indeks saham utama tetap relatif stabil.
Namun agar harga minyak bisa bertahan secara konsisten di bawah US$100 per barel, pasar masih membutuhkan bukti yang lebih kuat.
Dua faktor penting yang perlu diperhatikan adalah:
- apakah jalur pengiriman benar-benar kembali normal secara permanen;
- apakah AS dan Iran dapat mencapai kesepakatan diplomatik formal.
Tanpa kedua hal tersebut, premi risiko geopolitik masih dapat kembali dengan cepat.
Market Wrap: AI Dorong Nasdaq, Minyak dan Emas Tetap Jadi Fokus
Market Wrap: Yield Tinggi, Minyak Turun
BoJ Hike 25 bps, Tapi Pesannya Setengah Hati
Ueda Tegaskan BoJ Belum Selesai Naikkan Bunga
Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.