Tembaga Makin Langka, Tiga Saham Ini Jadi Sorotan
Tembaga baru saja mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di atas US$6,70 per pon pada awal Agustus 2026. Namun, yang menarik bukan sekadar level harganya.
Cerita terbesar justru berada di sisi pasokan: supply global sedang tertekan dari berbagai arah secara bersamaan dan belum terlihat tanda bahwa tekanan tersebut akan mereda dalam waktu dekat.
Pada pekan pertama Agustus saja, muncul tiga kejutan supply sekaligus.
- Pertama, Republik Demokratik Kongo, produsen tembaga terbesar kedua di dunia, secara mendadak melarang ekspor konsentrat tembaga dan kobalt. Kebijakan tersebut bertujuan mendorong pengolahan domestik, tetapi dampaknya langsung terasa pada pasar global.
- Kedua, di Chile, sebagian operasi tambang El Teniente milik Codelco, produsen tembaga terbesar dunia, berpotensi berhenti hingga dua tahun.
- Ketiga, Amerika Serikat sedang menimbun tembaga dalam jumlah besar.
Lebih dari 200.000 ton tembaga masuk ke pelabuhan AS sepanjang Juli, menjadi volume bulanan terbesar sejak 2014, sebagai antisipasi terhadap potensi tarif impor dari pemerintahan Trump. Akibatnya, stok tembaga di gudang LME turun ke level terendah dalam lima bulan. Secara global, persediaan diperkirakan hanya cukup untuk memenuhi sekitar 15 hari permintaan. Angka tersebut sangat tipis untuk komoditas sepenting tembaga. Dari sisi permintaan, ceritanya tidak kalah kuat. Elektrifikasi kendaraan, pembangunan infrastruktur energi terbarukan, dan ekspansi data center untuk AI terus menyerap tembaga dalam volume besar. Pertanyaan bagi investor sekarang bukan lagi apakah tembaga memiliki prospek jangka panjang, tetapi saham mana yang menawarkan eksposur paling menarik terhadap tren tersebut.
Tiga Raksasa Tembaga, Tiga Karakter Berbeda
Southern Copper (SCCO): Si Paling Efisien
Southern Copper merupakan salah satu produsen tembaga paling efisien. Pada Q2 2026, perusahaan mencetak rekor pendapatan sebesar US$4,29 miliar, sementara laba bersih melonjak 72% menjadi US$1,67 miliar. Hal paling mencolok adalah struktur biayanya. Setelah memperhitungkan kredit dari produk sampingan seperti molibdenum dan seng, cash cost per pon tembaga hanya sekitar US$0,05. Angka tersebut nyaris mendekati nol. Artinya, bahkan jika harga tembaga berada sedikit di atas US$1 per pon, SCCO secara teoritis masih memiliki ruang untuk menghasilkan keuntungan.
Tidak banyak perusahaan tambang di dunia yang memiliki struktur biaya serendah itu. Namun, terdapat ironi besar. Meskipun earnings mencetak rekor, rata-rata 18 analis yang meliput saham tersebut memberikan rating Sell, dengan target harga sekitar US$168. Target itu sekitar 15% di bawah harga saham saat ini yang berada di kisaran US$197.
Valuasi memang sudah premium. P/E ratio SCCO sekitar 28,9 kali, jauh di atas median historis lima tahun sebesar 21,8 kali. Artinya, pasar sudah memasukkan banyak kabar positif ke dalam harga saham. SCCO juga memiliki pipeline pertumbuhan yang menarik. Proyek Tía María di Peru telah sekitar 42% selesai dan ditargetkan mulai berproduksi pada akhir 2027. Namun, ada satu hal penting yang perlu diperhatikan. Produksi tembaga perusahaan justru turun 3,5% secara tahunan pada Q2. Artinya, rekor laba lebih banyak didorong oleh kenaikan harga tembaga daripada pertumbuhan volume produksi.
Freeport-McMoRan (FCX): Si Raksasa Volume
Jika SCCO unggul dalam efisiensi, Freeport-McMoRan unggul dari sisi skala. Freeport merupakan salah satu produsen tembaga publik terbesar di dunia, dengan pendapatan Q2 2026 sebesar US$7,03 miliar dan adjusted net income sebesar US$1,1 miliar. Bagi investor Indonesia, FCX memiliki relevansi khusus. Tambang Grasberg di Papua merupakan salah satu aset paling penting milik perusahaan dan termasuk salah satu sumber tembaga serta emas terbesar di dunia. Saat ini, Freeport sedang menjalani proses perpanjangan izin operasi Grasberg dengan pemerintah Indonesia. Kelemahannya terletak pada biaya produksi. Biaya produksi FCX jauh lebih tinggi dibandingkan SCCO, dengan rata-rata sekitar US$1,97 per pon pada Q2 2026. Artinya, margin keuntungan FCX lebih sensitif terhadap perubahan harga tembaga.
Jika harga tembaga mengalami koreksi tajam, tekanan terhadap laba FCX berpotensi terasa lebih cepat dibandingkan SCCO. Wall Street juga relatif lebih positif terhadap FCX dibandingkan SCCO. Sejumlah analis, termasuk Barclays dan Wells Fargo, memberikan rating Overweight dengan target harga di kisaran US$70–US$80. Saham FCX saat ini diperdagangkan sekitar US$63–US$65, sehingga masih dinilai memiliki potensi upside.
BHP Group (BHP): Eksposur Tembaga dengan Jaring Pengaman
BHP dapat menjadi pilihan bagi investor yang ingin mendapat eksposur terhadap reli tembaga tanpa menempatkan seluruh risiko pada satu komoditas. Sebagai salah satu perusahaan pertambangan terbesar dunia, sekitar 40% pendapatan BHP berasal dari tembaga. Sisanya berasal dari bijih besi, potash, dan berbagai komoditas lainnya.
Keunggulannya jelas: diversifikasi.
Ketika harga tembaga terkoreksi, pendapatan dari komoditas lain dapat menjadi penyangga. BHP juga menawarkan dividen yang lebih besar, dengan dividend yield di atas 5%, jauh lebih tinggi dibandingkan SCCO maupun FCX. BHP memiliki tambang Escondida di Chile, tambang tembaga terbesar di dunia, serta Olympic Dam di Australia. Perusahaan juga terus mengalokasikan modal dalam jumlah besar untuk memperluas kapasitas produksi tembaga. Hal tersebut menjadikan BHP salah satu kandidat kuat untuk mendapatkan eksposur jangka panjang terhadap tren tembaga.
Jadi, Pilih yang Mana?
Jawabannya bergantung pada profil risiko dan tujuan masing-masing investor.
SCCO lebih cocok bagi investor yang memperkirakan harga tembaga akan tetap tinggi atau terus naik. Biaya produksinya yang sangat rendah membuat perusahaan memiliki kemampuan menghasilkan margin besar selama harga tembaga bertahan kuat. Namun, valuasinya sudah premium dan mayoritas analis melihat potensi downside dari level harga saat ini.
FCX lebih menarik bagi investor yang menginginkan leverage lebih besar terhadap volume produksi dan tertarik pada cerita pertumbuhan Grasberg. Valuasinya relatif lebih terjangkau dibandingkan SCCO dan sejumlah analis masih melihat ruang kenaikan.
BHP merupakan pilihan yang lebih konservatif. Bagi investor yang menginginkan eksposur terhadap tembaga tetapi tidak nyaman menempatkan seluruh posisi pada satu komoditas, diversifikasi bisnis dan dividen BHP memberikan bantalan tambahan yang tidak dimiliki dua nama lainnya.
Yang jelas, ketiga saham tersebut sudah mengalami reli signifikan. Investor yang tertarik sebaiknya tetap mempertimbangkan risiko mengejar harga setelah kenaikan besar. Koreksi harga tembaga tetap dapat terjadi kapan saja, terutama apabila ketegangan tarif mereda atau permintaan global melambat. Tembaga memang memiliki cerita struktural jangka panjang yang kuat. Namun, cerita investasi yang menarik tidak selalu berarti harga saham saat ini menawarkan titik masuk yang sama menariknya.
Daily Summary: Yield Naik, Saham Chip Tertekan
Moderna Punya Katalis Baru, tapi Saham Berbalik Turun
Arista Jadi Tulang Punggung Infrastruktur AI
US Open: Guidance Lemah Picu Aksi Jual Saham
Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.